Category Archives: Community

Bahagia di Vidafest Bekasi

20161022_123222

Sabtu 22 Oktober 2016 kemarin, saya melangkahkan kaki ke sebuah lokasi perumahan baru yang letaknya hanya sepelemparan batu dari rumah saya. Sebenarnya saya sudah sering lewat depan gerbang perumahan tersebut karena jalur menuju kantor memang lewat sana. Gampang banget lho untuk mencapai kawasan ini. Letaknya di Jalan Raya Narogong dengan akses mudah ke Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor, khususnya Cileungsi dan Cibubur. Kawasan ini juga letaknya tidak jauh dari dua pintu tol yakni Jatiasih dan Bekasi Timur, sehingga jika ingin kemari dari Jakarta dan sekitarnya praktis banget. Gak perlulah kita sampai tersesat di jalan trus nanya-nanya ke penduduk setempat. πŸ˜€ Eh, perumahan apa sih?

Continue reading Bahagia di Vidafest Bekasi

Dibuang Sayang

Pada Sabtu (13/Juni) sore yang cerah di minggu lalu, bertempat di Auditorium Microsoft Indonesia di Gedung BEI, Komunitas Blogger Depok (deBlogger) merayakan ulang tahunnya yang ke-6. Tak terasa sudah 6 tahun sejak kita mulai mengarungi blogosphere Indonesia di tahun 2009 yang ditandai dengan peluncurannya di Margo City Depok pada tanggal 31 Mei 2009.

Nah, untuk gelaran pada tahun ini, deBlogger mengadakan acara lain dari yang lain yakni “Dibuang Sayang”. Konsep acaranya sederhana; pastilah banyak orang yang punya barang di rumah yang disimpan-simpan tanpa pernah digunakan dan tidak tahu juga akan dikemanakan barang itu. Jadi kami berinisiatif membantu menjualnya melalui acara tersebut dan melelangnya jika peminatnya banyak. Sambutannya? Wow, meriah. Memang tidak semua barang laku, tapi ada beberapa hot items yang menjadi incaran banyak orang dan diperebutkan pada saat lelang. Benda-benda remeh seperti kompor portabel, modem, bahkan speaker mini senilai cuma goceng bisa laku keras! Sesi jualan dan lelang berlangsung meriah dengan para peminat yang riuh menyebutkan alasan paling mengharukan untuk mendapatkan barang tersebut. Hehehehe.

Continue reading Dibuang Sayang

Dapet Salam dari Tomyam Kelapa!

Lama tak terdengar kabarnya, tau-tau mahasiswa cungkring yang dahulu saya kenal di Malaysia kini sudah punya usaha. Baha namanya; asli Cilacap yang kemudian merantau ke Selangor untuk bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi merangkap kuliah. Setelah pulang ke tanah air dan tinggal agak lama di kampung, Baha lalu memutuskan datang ke Jakarta untuk bekerja, dan akhirnya sekarang berusaha kuliner di bilangan Sudimara, Tangerang Selatan.

Bertempat di lokasi yang bernama Saung Ibu di gerbang perumahan Villa Bintaro Indah, Tangerang Selatan, Baha membuka kedai Tomyam Kelapa. Awalnya saya agak ragu mencoba, maklum saya memang kurang cocok dengan rasa asam khas makanan Thailand. Namun setelah diyakinkan bahwa hidangannya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia, saya lalu mengiyakan. Maka bertandanglah saya dengan KCL Bekasi-Sudimara via Manggarai & Tanah Abang di Minggu siang. Tidak sulit mencarinya (peta akan saya lampirkan di paling bawah). Tiba di lokasi, saya sudah ditunggu kawan-kawan lama blogger Anazkia, Darul, dan kawan baru bernama Indri.

Untuk selanjutnya biarkan saya bercerita berdasarkan gambar ya.

b2 Continue reading Dapet Salam dari Tomyam Kelapa!

Motion: The Bloggers’ Way

I often miss the good old days where bloggers from all walks of life would happily ditch their work or studies to travel across the islands for a fun gathering. The joy of having heated discussions, sampling the local delicacies, and forging friendships. It’s always a dynamic environment and some of the motions can be captured below. Of course, we did it the bloggers’ way. πŸ˜€

motion1
Genting Highlands, Pahang, Malaysia
Akarena Beach, Makassar, Indonesia

===

More takes on this week’s challenge can be found here.

Catatan Akhir #PerangPostinganBlog

Awal tahun kok malah bikin catatan akhir?

Ya kebetulan aja sih saya bikin catatan akhir karena berkaitan dengan sebuah event yang baru saja berakhir. Event itu adalah #PerangPostinganBlog. Bagi yang pernah membaca tulisan pada pembukaan event ini di September lalu (yang tulisannya sekarang lenyap bersamaan dengan hosting company yang ngajak ribut), tentu paham bahwa ini adalah ide ‘gila’ yang keluar begitu saja dari kepala beberapa punggawa blogger Flobamora dari Nusa Tenggara Timur; bolehlah saya sebut di sini Tuteh dan Ilham. Ide itu lalu disambut oleh teman-teman komunitas Blogfam yang menjadikan event akhir tahun ini bersifat sangat ‘longgar’, yakni peraturan yang sederhana dan tidak mengikat, lalu tidak pula ada hadiah. Loh?!

ppb

Memang begitu. Seperti dikutip dari kicauan Tuteh, niat mulianya sederhana: menguji diri sebagai blogger berupa kesanggupan menulis/mengupdate blog; mengingatkan blogger untuk kembali ke fitrah – berbagi cerita; dan mempertanyakan konsistensi kita ngeblog jika tanpa hadiah. Periode ‘lomba’ dari September 2013 dan berakhir di 31 Desember 2013. Sambutannya? Ada 10 orang berpartisipasi menulis dengan laju yang mereka atur sendiri. Tanpa target, semua sesuai hati. Asyik kan?

Ketika akhirnya lomba ini berakhir dan Tuteh mengumumkan pemenangnya, ada perasaan lega dan sedih. Lega karena satu lagi milestone tercapai, namun sedih juga karena tidak ada lagi target yang dikejar. Kalau sudah begini, rasanya ingin memacu diri untuk meraih tantangan lain lagi dan menguji diri di level lebih berat lagi.

Tips Konsistensi di Blog

Ada beberapa yang bertanya pada saya melalui Twitter kemarin pasal ini. Jawaban ngawur saya adalah: sering-sering begadang. πŸ˜› Masuk akal sih, karena sehari-hari waktu kita sudah tersita oleh kesibukan luar biasa sehingga yang cukup logis adalah mengurangi waktu tidur untuk dipakai menulis. Namun ada alasan lebih penting kalau saya: langsung menuliskan ide yang terlintas di kepala. Apa maksudnya?

Jadi gini, ketika saya misalnya sedang bepergian ke luar kota atau sedang duduk termenung di depan televisi, kadang sesuatu melintas di kepala dan saya lalu berpikir: ‘Ah, gue pengen ngeblog soal ini deh.’ Namun kalau ide itu kita endapkan begitu saja dengan harapan akan kita gali lagi kala bertemu laptop, percaya deh, ide itu tidak akan kita temukan lagi. Oleh karena itu saya mencoba disiplin dalam memasukkan 1 kalimat ide tulisan tadi ke aplikasi Memo di telepon genggam saya, seberapapun banyak dan anehnya ide tersebut. Jadi ketika sudah bersiap untuk menulis, saya tinggal membuka daftar topik di telepon tersebut dan mengeksekusi salah satu idenya. Jadi semacam To-Blog-List gitu deh. πŸ˜€ Bagi saya cara ini sangat membantu karena pikiran saya langsung fokus ke tulisan dan tidak habis waktu termenung-menung memikirkan ide menulis.

Saya ucapkan banyak terima kasih pada para penggagas ide gila ini. Heran deh, justru ketiadaan hadiah menjadi pemicu saya menulis dengan semangat nothing to lose dan hadiah kecil yang dijanjikan oleh ‘panitia’nya menjadi kejutan menyenangkan yang membuat pemenangnya girang duluan, tak peduli apapun hadiahnya dan berapa lama akan dikirim. Gosipnya sih awal Februari akan dikirim; mungkin menunggu Tuteh gajian dulu. πŸ˜€

Terus siapa pemenangnya? Aduh, siapa ya? *amnesia sementara*

#wcjog: Catatan dari WordCamp Indonesia 2013

Meski sudah lewat lebih dari seminggu, saya tergerak juga untuk menuangkan apa yang saya pikirkan saat menghadiri ajang WordCamp Indonesia 2013 yang berlangsung di Rasamala Ballroom, Gowongan Inn Hotel, Yogyakarta, pada 18-20 Oktober 2013 lalu. Mengapa saya datang? Terus terang saya tertarik dengan ajang kumpul-kumpul pengguna WordPress ini sejak lama karena saya konsisten menggunakan WordPress sebagai engine blog saya sejak 2010 lalu. Namun dengan berbagai alasan maka saya belum pernah menghadiri ajang WordCamp di Indonesia. Oleh karena itu, ajang yang keempat kalinya digelar di Indonesia ini sangat saya nantikan.

Saya datang tanpa beban dan tidak berharap banyak. Kenapa? Sejak awal saya sudah menduga bahwa percakapan akan didominasi oleh topik-topik teknis tentang pengembangan WordPress dan tidak banyak membahas konten. Meski pihak penyelenggara membuka kesempatan seluas mungkin kepada para pengguna dan penggemar WordPress dari beragam area ketertarikan, nampaknya soal teknislah yang menjadi primadona. Oleh karena itu sesi demi sesi di hari pertama berjalan sedemikian tanpa banyak yang saya tangkap.

Continue reading #wcjog: Catatan dari WordCamp Indonesia 2013

Blogger Cilacap: Setahun Melangkah

Sebuah pesan singkat masuk ke telepon saya semalam:

“Om kalo berkenan beri ucapan kepada Blogger Cilacap yang akan ultah ya.”

Komunitas Blogger Cilacap masih terbilang muda. Didirikan pada tanggal 7 Agustus 2012, komunitas ini menghimpun para blogger dan netter di seputar Kabupaten Cilacap atau yang bertempat tinggal di daerah lain namun memiliki keterikatan emosional dengan daerah pantai selatan Pulau Jawa yang kerap dikenal sebagai transit point ke Pulau Nusakambangan tersebut. Baha adalah salah satu inisiatornya yang ketika komunitasnya berdiri dia masih tinggal di Malaysia.

Continue reading Blogger Cilacap: Setahun Melangkah

Kemenangan Kecil Untuk Bumi Kita

Membaca kembali berita-berita terbaru tentang lingkungan hidup dan kondisi bumi kita akhir-akhir ini tidak pernah membangkitkan semangat. Pemanasan global, perusakan lingkungan, dan cuaca ekstrem adalah masalah-masalah yang menghiasi halaman depan media dan berita yang tadinya kita pantau sepintas kini semakin nyata di depan mata. Misalnya jebolnya tanggul perumahan di Kota Depok akibat derasnya debit air hasil hujan semalaman di Bogor yang kebetulan letaknya tidak jauh dari tempat tinggal saya di masa kecil. Atau hilangnya hutan mangrove di tempat tinggal saya sekarang yang mengakibatkan abrasi pantai yang mengancam keberadaan pemukiman nelayan miskin yang sudah lebih dulu menderita karena terbatasnya akses ke sanitasi dasar seperti air bersih.

Kampanye-kampanye anti-pemanasan global dan pelestarian lingkungan juga tidak kalah hebohnya digaungkan di mana-mana seolah membangkitkan harapan akan masa depan bumi kita sebelum harapan itu kembali mentah ketika mendengar betapa dalam sepuluh tahun terakhir kita tidak mengalami kemajuan berarti dalam pencegahan bencana global. Kita masih kalah!

Saya adalah seorang yang pesimis ketika datang ke Social Good Summit 2012 yang konferensinya di Jakarta berlangsung di kantor UNDP Indonesia pada 24 September 2012 lalu dengan diikuti oleh beberapa blogger dan pegiat social media Indonesia dan difasilitasi oleh IDBlogNetwork. Seusai mendengar pemaparan status terakhir bumi kita dan berbagai pandangan dari blogger tentang apa yang perlu kita lakukan untuk kemudian menuangkannya dalam tulisan berjudul Pikir-Pikir Perubahan Iklim, yang ada saya malah frustrasi! 😦 Saya kecewa dan frustrasi karena meski telah banyak gerakan penyelamatan lingkungan yang terdengar dalam 10-15 tahun terakhir, bumi kita tidak kunjung sembuh dan angka-angka penurunan kesehatannya semakin mengkhawatirkan. Lalu bagaimana prediksinya di masa depan? Saya minta Anda meluangkan waktu sejenak membaca info grafik keluaran kantor berita Rusia RIA Novosti (2009) sebagai berikut (klik gambar untuk memperbesar):

Kalau sudah begini, bagaimanakah langkah kita sekarang?

Kemenangan Kecil

Seperti yang saya pernah utarakan di tulisan sebelumnya, kita tidak memiliki bumi lain dan inilah satu-satunya taruhan masa depan yang wajib dipertahankan melalui Mitigasi dan Adaptasi. Mitigasi berarti meminimalisir dampak bencana dan Adaptasi berarti menyesuaikan diri terhadap lingkungan di masa depan yang sudah sampai pada tahap ‘no turning back’; bahwa suhu bumi tidak lagi akan turun dan yang paling mungkin kita lakukan adalah menahan laju peningkatannya.

Membaca gejala global di atas, tentunya solusi yang kita pikirkan bersifat makro pula dengan mengharapkan pemerintah dan badan-badan dunia berbuat sesuatu. ‘Siapakah saya?’ adalah ekspresi inferior yang sering muncul sebagai justifikasi bahwa sebagai individu kita tidak mampu berbuat banyak bagi penyelamatan bumi kita. Pandangan pesimis ini lalu diikuti cibiran bahwa sekeras apapun usaha yang kita lakukan tidak ada gunanya apabila orang lain tidak melakukannya juga. Waduh, betapa kelirunya pandangan ini. Sebagai individu, tugas kita adalah berbuat sesuatu dalam skala terkecil yang kita mampu sambil terus menyebarkan kesadaran orang-orang di sekitar kita untuk sama-sama mengambil tindakan penyelamatan sesuai peran masing-masing. Sebab kalau bukan kita, siapa lagi? Ingat kan, kalau bumi kita cuma satu? πŸ˜€

Pada tulisan terdahulu saya pernah membuat komitmen berupa tiga langkah kecil penyelamatan lingkungan yang saya sanggupi. Setelah dua bulan berlalu sejak ajang diskusi tersebut, tepat kiranya saya melakukan evaluasi atas pencapaian terkini dan saya menyebutnya ‘kemenangan kecil’.

1. Diet Kantong Plastik

Mengikuti saran Eka Situmorang, saya lalu mencoba diet kantong plastik yakni dengan menolak tawaran kantong plastik ketika berbelanja dan memilih menggunakan tas belanja ramah lingkungan. Terus terang saya malu membawa-bawa tas belanjaan ketika memasuki pasar swalayan, namun untungnya saya senantiasa membawa ransel cukup besar sehingga mudah untuk dimasukkan barang belanjaan. Masalah lalu timbul ketika saya berbelanja di toserba besar dan ransel mesti dititip di depan. Masa saya harus membawa buah-buahan segar dengan kedua tangan kosong dari kasir sampai tempat penitipan barang? Bisa dituduh maling pisang sama satpam dong!! Jadilah saya kalah lalu meminta kantong plastik. 😦

2. Membatasi Penggunaan Kertas

Poin kedua ini bolehlah saya cukup berbangga dengan berhasil membatasi penggunaan kertas dalam pekerjaan sehari-hari. Sebenarnya kantor saya cukup boros dalam menggunakan kertas dan solusi terbaik untuk membatasinya selalu menemui jalan buntu. Namun saya berinisiatif untuk memanfaatkan kertas bekas dalam pekerjaan sehari-hari dan selalu menghimbau peserta di kelas untuk menggunakan kertas bekas. Himbauan ini cukup berhasil sebab banyak dari mereka yang mengeluarkan kertas bekas tanpa disuruh, atau bahkan ada yang memungut kertas bekas di rumahnya untuk ditulisi lagi pada ruang yang masih kosong. πŸ˜€

3. Hemat Listrik

Saya menghemat listrik dengan cara menyeleksi peralatan listrik mana saja yang boleh menyala di rumah pada jam tertentu. Jadi misalnya ketika pembantu sedang menyetrika di siang hari, maka televisi tidak boleh menyala. Cara ini berhasil namun masih belum signifikan; rekening listrik hanya turun sekitar Rp 20,000.- dalam 2 bulan terakhir.

***

Pikirkan yang Makro

Selain kita mengambil bagian kita sendiri, tentunya solusi menyeluruh perlu juga dilakukan agar anak-cucu kita kelak tidak mewarisi bumi yang rusak karena ulah nenek-moyangnya. Sebagai masyarakat pengguna internet, utamanya blogger, tugas saya dan Anda adalah terus menyuarakan kepentingan kita bersama untuk mengajak orang lain melakukan tindakan preventif terhadap kehancuran bumi di masa depan dan mendorong pemerintah kita berbuat lebih banyak agar penyelamatan dan pelestarian lingkungan dapat diupayakan secara masif dan dalam jangka waktu yang panjang. Dengan demikian, selain kemenangan kecil, kita juga boleh berharap adanya kemenangan besar bagi bumi. Sebab kalau bukan kita, siapa lagi?

Oh iya, berikut saya tampilkan lagi foto-foto dari Social Good Summit 2012 September lalu.

http://images.travelpod.com/bin/tripwow/flash/tripwow.swf

Social Good Summit Indonesia 2012 Slideshow: IDBlogNetwork’s trip to Jakarta was created with TripAdvisor TripWow!

Apa yang telah Anda lakukan bagi bumi kita? Ditunggu sharing dan inspirasinya ya. πŸ˜€