Monthly Archives: June 2012

Apa yang Menarik di Kotamu?

*merangkak keluar dari gua semedi*

Halo, sudah lama blog ini dibiarkan berdebu, mungkin sekitar 2 minggu. Alasannya? Ah sudahlah. πŸ˜€

Tapi yang jelas proyek menulis #SEATrip masih akan berlanjut dengan target 3 postingan lagi sebelum kita move on *halah*. Sekarang ini sementara saya merenggangkan jari sebelum lancar menulis lagi, saya ingin membagikan aktivitas menarik di kelas semalam. Para siswa mempelajari sebuah brosur pendek tentang Copenhagen, ibukota Denmark yang menawan dengan gedung-gedung tua terawat dan tempat-tempat wisata indah. Salah satu atraksi yang menarik perhatian adalah kunjungan ke pabrik bir Carlsberg! Don’t get me wrong, daftar tempat tujuan wisata di brosur itu tidak banyak dan cenderung biasa saja, namun yang menarik adalah cara brosur itu merepresentasikan Copenhagen dan Denmark disertai beberapa foto menarik yang membuat saya pun ingin berkunjung ke sana. Kuncinya terletak pada gaya penulisan deskriptif disertai persuasi yang halus namun menggiring ke arah pandangan positif tentang tempat itu. Trik ini tentu sering kita temui pada artikel-artikel wisata termasuk yang mendeskripsikan Indonesia. Tidak terkesan hard-selling namun tujuan promosinya tetap sampai.

Nah sebagai follow up, saya meminta mereka menuliskan sesuatu yang menarik tentang daerah yang mereka kenal dengan tujuan agar orang-orang tertarik mengunjungi tempat itu. Kelas dibagi menjadi 4 tim yang masing-masing menulis tentang daerah yang mereka kenal yaitu Jakarta, Jogja, Surabaya, dan Bekasi. Berhubung waktu terbatas, saya membatasi panjang penulisan maksimal 2 paragraf dan selanjutnya mereka harus membaca artikel kelompok lain dan memberi bintang pada artikel mana yang dianggap paling menarik sehingga membangkitkan minat mereka berkunjung ke wilayah yang direpresentasikan tersebut.

Saya akan berbagi 2 artikel kepada Anda. Mind you, karena ini kelas Bahasa Inggris jadi ya artikelnya tentu dalam Bahasa Inggris. Kesalahan tata bahasa tidak akan dihiraukan alias dibiarkan apa adanya; saya hanya memperbaiki ejaan. Catatan tambahan: kedua artikel ini membahas tentang Bekasi dan Surabaya; dua daerah yang biasanya tidak masuk dalam kategori tujuan wisata. Mari kita simak apa yang hendak mereka katakan tentang kota mereka.

Bekasi – by Sharon (16) & Debra (14)

Bekasi is one of the metropolitan city. The city is pretty crowded. So many traffic everywhere. There are various of malls for you to go to. It is better for you to hire a car rather than walking. Bekasi is so hot.

For teenagers there are many places for them to hang out such as Kemang, Galaxy, etc. In Bekasi they will build “Summarecon”. They will houses, malls, and their own hospitals.

Bekasi (sumber: skyscrapercity.com)

Β Surabaya – Bernard (19) & Terrence (15)

Capital province of East Java which well-known as a harbour city, the city of National Independence Heroes. If you are interested in culinary you can enjoy the traditional food at the side walks. And for those who are interested historical tour, Surabaya has a lot museum, such as Submarine Monument, Sampoerna Museum, Heroes Monument, etc.

Enjoy it!

Surabaya (sumber Handys Photograph - link tidak diketahui)

Bagaimana? Anda tertarik berkunjung ke Bekasi dan Surabaya setelah membaca artikel itu gak?! πŸ˜€

Tasting Box Sedapur.com

Mari kita istirahat sejenak dari serial #SEATrip untuk membuka Tasting Box yang dikirimkan oleh Sedapur. Apa itu Tasting Box? Dan apa pula itu Sedapur?

Sedapur adalah portal belanja makanan yang berperan menjembatani industri rumah tangga (mikro) di bidang kuliner dengan para calon pelanggan di internet. Selain menyediakan jasa bagi para pecinta kuliner untuk berbelanja, Sedapur juga membuka peluang bagi pada produsen makanan skala rumah tangga untuk memasarkan produknya lebih luas dengan cakupan pasar yang lebih bervariasi. Salah satu dari sekian inovasi Sedapur kali ini adalah mengirimkan Tasting Box yang berisi 3 sampel produk olahan para merchant mereka. Saya akan mengulas sedikit sampel produk yang sampai di rumah saya dengan manisnya baru-baru ini.

1. Kedai Es Pisang Ijo Genit

Inilah makanan tradisional Makassar yang terkenal itu. Terbuat dari bahan pisang raja utuh yang dibungkus dengan lembaran adonan tepung beras dan pandan wangi sehingga tampilan warna hijaunya cantik. Awalnya saya agak ragu menyaksikan penampilannya karena saya kurang suka jenis bubur santannya, lalu warna sirup merahnya tampak terlalu mencolok sehingga sedikit mencurigakan. Namun keraguan saya sedikit memudar ketika lalu membaca bahwa Cynthia Susanti Setiawan, sang praktisi kuliner pencipta es pisang ijo ini, meyakinkan bahwa sirup itu buatan sendiri dengan rasa pisang ambon. Akhirnya saya mencoba, dan: JUARA! Saya bisa menikmati bubur santannya yang ringan, sirup pisang ambonnya yang pas manisnya, dan pisang ijonya yang cukup ranum dan tidak terlalu keras. Sangat memuaskan! Saya sangat merekomendasikan Anda mencoba es pisang ijo ini.

Es Pisang Ijo Genit (sumber: sedapur.com)

2. Pempek Udang Emak Khas Bangka

Mengira saya akan menemukan pempek ikan dengan cuka coklat gelap layaknya makanan khas Palembang, saya salah besar. Pempek ini terbuat dari bahan dasar udang, bukan ikan. Lalu kuahnya bukan cuka asam-manis, melainkan bumbu tauco pedas. Saya sempat kaget dan merasa aneh dengan makanan ini. Namun ketika Mama saya datang (beliau berasal dari Palembang), dengan santainya Mama menjelaskan bahwa Pempek Bangka memang lebih banyak variannya. Bumbu tauco lazim dinikmati bersama pempek bangka meski beliau berkomentar juga bahwa tekstur pempeknya agak terlalu kenyal karena komposisi udang dan tepungnya kurang seimbang. Jadi saya bisa menerima varian ini dengan baik, namun saya juga setuju dengan Ibu saya, tekstur pempeknya kurang sempurna. Bolehlah untuk dicoba.

Pempek Udang (sumber: sedapur.com)

3. Bed Hair Guy Onigiri

Sepasang onigiri yang dikirim dalam tasting box tersebut saya sambut dengan sukacita, oleh karena makanan ini adalah teman saya ketika menjalani hari-hari mahasiswa di Jepang dulu. Hahaha. Murah dan mengenyangkan. Inovasinya boleh juga: onigiri alias kepal nasi berbungkus nori ini diisi dengan adonan tuna spicy yang lezat. Saya bisa menerima variasi rasanya, namun ada 2 poin yang sangat mengecewakan: kurang berbumbu kecap shoyu sehingga terasa seperti nasi biasa yang dimakan dengan lembaran rumput laut. Lalu saya tidak mengerti mengapa pembuatnya menggunakan beras Jepang dan menjadikannya bahan jualan. Beras Jepang dan Indonesia bagi saya sama saja; kuncinya terletak pada jenis beras dan cara mengolahnya. Sedangkan onigiri yang saya makan ini nasinya terlalu keras bagi saya yang terbiasa memakan masakan Jepang yang nasinya lebih lembut dan lengket. Sepertinya pembuatnya kurang menambahkan air ketika menanak nasi sehingga terasa seperti belum matang. KESALAHAN FATAL! Kalau yang ini, lebih baik Anda jangan mencobanya.

Onigiri (sumber: sedapur.com)