Category Archives: Indonesian

IMG-20150613-WA0017

Dibuang Sayang

Pada Sabtu (13/Juni) sore yang cerah di minggu lalu, bertempat di Auditorium Microsoft Indonesia di Gedung BEI, Komunitas Blogger Depok (deBlogger) merayakan ulang tahunnya yang ke-6. Tak terasa sudah 6 tahun sejak kita mulai mengarungi blogosphere Indonesia di tahun 2009 yang ditandai dengan peluncurannya di Margo City Depok pada tanggal 31 Mei 2009.

Nah, untuk gelaran pada tahun ini, deBlogger mengadakan acara lain dari yang lain yakni “Dibuang Sayang”. Konsep acaranya sederhana; pastilah banyak orang yang punya barang di rumah yang disimpan-simpan tanpa pernah digunakan dan tidak tahu juga akan dikemanakan barang itu. Jadi kami berinisiatif membantu menjualnya melalui acara tersebut dan melelangnya jika peminatnya banyak. Sambutannya? Wow, meriah. Memang tidak semua barang laku, tapi ada beberapa hot items yang menjadi incaran banyak orang dan diperebutkan pada saat lelang. Benda-benda remeh seperti kompor portabel, modem, bahkan speaker mini senilai cuma goceng bisa laku keras! Sesi jualan dan lelang berlangsung meriah dengan para peminat yang riuh menyebutkan alasan paling mengharukan untuk mendapatkan barang tersebut. Hehehehe.

Continue reading Dibuang Sayang

Dapet Salam dari Tomyam Kelapa!

Lama tak terdengar kabarnya, tau-tau mahasiswa cungkring yang dahulu saya kenal di Malaysia kini sudah punya usaha. Baha namanya; asli Cilacap yang kemudian merantau ke Selangor untuk bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi merangkap kuliah. Setelah pulang ke tanah air dan tinggal agak lama di kampung, Baha lalu memutuskan datang ke Jakarta untuk bekerja, dan akhirnya sekarang berusaha kuliner di bilangan Sudimara, Tangerang Selatan.

Bertempat di lokasi yang bernama Saung Ibu di gerbang perumahan Villa Bintaro Indah, Tangerang Selatan, Baha membuka kedai Tomyam Kelapa. Awalnya saya agak ragu mencoba, maklum saya memang kurang cocok dengan rasa asam khas makanan Thailand. Namun setelah diyakinkan bahwa hidangannya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia, saya lalu mengiyakan. Maka bertandanglah saya dengan KCL Bekasi-Sudimara via Manggarai & Tanah Abang di Minggu siang. Tidak sulit mencarinya (peta akan saya lampirkan di paling bawah). Tiba di lokasi, saya sudah ditunggu kawan-kawan lama blogger Anazkia, Darul, dan kawan baru bernama Indri.

Untuk selanjutnya biarkan saya bercerita berdasarkan gambar ya.

b2 Continue reading Dapet Salam dari Tomyam Kelapa!

KA Lokal Tidak Lagi Singgah di Bekasi

Pada Maret lalu saya menerima ajakan seorang kawan untuk mencicipi Sate Maranggi yang sangat terkenal di Purwakarta. Namun bagian yang menarik dari perjalanan itu bukanlah satenya (meskipun enak), melainkan perjalanannya. Kawan saya tersebut bekerja di PT. KAI dan ditempatkan di Stasiun Cibungur yang letaknya hanya 1 kilometer dari pintu keluar tol Cikampek ke arah Sadang. Sate Maranggi sendiri hanya berjarak sekitar 100 meter dari stasiun tersebut.

Continue reading KA Lokal Tidak Lagi Singgah di Bekasi

Coursera: Kuliah Suka-Suka

Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini ingin itu, banyak sekali.

– Doraemon

Pernahkah Anda bangun di pagi hari dan tiba-tiba terpikir ingin melakukan sesuatu yang baru dan belum pernah dibayangkan sebelumnya, misalnya: belajar lagi. Kalau selama ini kita belajar atau kuliah selalu dibarengi komitmen untuk menyelesaikan sekian SKS dan tidak sempat belajar subjek lain karena harus mementingkan kuliah utama hingga lulus. Nah, sekarang kan kita sudah (lama) lulus. Masih bisa gak belajar hal yang baru di kampus yang keren?

Sejak tahun lalu saya berkontemplasi untuk kuliah lagi namun terkendala oleh waktu dan pekerjaan serta lokasi kerja yang kerap berpindah. Saya lalu mengambil komitmen pribadi untuk kembali ke bangku kuliah (yang ini ceritanya nanti saja), namun tetap saja: kuliah berarti siap berkomitmen untuk fokus kepada studi dalam jangka waktu tertentu dan tidak bisa seenaknya saja kita belajar di jurusan lain. Namun bagaimana kalau kita ingin mengambil mata kuliah tertentu saja tanpa harus masuk kelas secara resmi di kampusnya? Apakah bisa?

Perkenalkan Coursera. Inilah platform belajar online yang saya baru ketahui awal tahun ini. Coursera menawarkan lebih dari 340 mata kuliah yang diselenggarakan oleh lebih dari 62 universitas ternama di dunia dalam Bahasa Inggris, Spanyol, Jepang, Mandarin, Rusia, dan beberapa lagi. Mata kuliah yang ditawarkan sangat beragam dan umumnya bersifat populer. Saya sendiri baru sempat mengambil satu kelas yang dimulai tanggal 30 Januari 2015 dan telah selesai tanggal 9 Maret kemarin:

cs1

Tidak ada prasyarat pengetahuan tertentu untuk mendaftar dan metode pembelajaran 100% berjalan secara online. Namun bukan berarti kita tidak berinteraksi dengan pengajar dan peserta lain. Justru diskusi di forum kelas seringkali sangat hangat sehingga kita secara tidak langsung dapat mengenal pribadi lawan bicara secara jauh lebih dalam karena kita memahami cara dia berpikir.

Durasi tiap kelas bervariasi, mulai dari 3 hingga 12 minggu dengan jam belajar online antara 5-10 jam per minggu. Aktivitas di kelas meliputi menonton video pendek, membaca materi, mengerjakan kuis, berinteraksi di forum diskusi, menulis karangan, serta menilai karangan orang lain. Untuk membantu kita dalam belajar, tiap minggunya kita akan diberikan semacam deadline untuk memudahkan mengatur waktu.

cs2

Pada akhir kelas akan ada semacam final project yang temanya berbeda-beda sesuai kelasnya. Setelah semua tugas telah dikerjakan dengan baik, kita juga akan dikirimkan sertifikat partisipasi lewat email, GRATIS. Namun selain sertifikat gratis itu tadi, ada opsi lain untuk mendapat sertifikat berbayar yang telah diverifikasi oleh universitas penyelenggara. Berbeda dengan yang gratis, versi berbayar ini berbentuk fisik yang dikirimkan ke alamat rumah kita dan berlogo universitas penyelenggara serta bisa dicek keasliannya di kampus tersebut. Seru kan kalau kita bisa ikut kuliah online dan sertifikatnya dikirim dari kampus ternama dunia? :D Biaya sertifikatnya sekitar USD 25 aja kok.

Satu hal lagi yang saya suka dari Coursera yakni sudah ada aplikasinya di iOS dan Android. Berikut penampakannya:

Screenshot_2015-03-13-22-53-49

Dengan ragam kelas yang sangat banyak, saya jadi bersemangat untuk mencoba belajar sesuatu yang sama-sekali baru. Sebagai penutup, saya tampilkan video perkenalan tentang Coursera. Jadi gimana? Yuk, belajar lagi. :D

Catatan dari Pendekar Tongkat Emas

Sama seperti partner in crime saya Eka Situmorang yang suka senang-campur-sinis ketika hendak menonton film lokal, saya pun tidak berani menaruh harapan tinggi sewaktu membeli tiket film laga terbaru Indonesia ini. Memang nama besar Mira Lesmana & Riri Riza sebagai produser serta Ifa Ifansyah yang lebih dahulu sukses sebagai sutradara “Sang Penari” seolah menjadi jaminan mutu bahwa cerita film Pendekar Tongkat Emas ini akan bagus. Namun di belakang kepala saya selalu saja terngiang-ngian komentar, “Pasti ada aja deh yang kurang.”

Berikut ini adalah beberapa catatan setelah menonton film yang katanya menghabiskan biaya 2 juta dollar itu.

ptemas
sumber: kaskus.co.id

1. Sinematografi

Saya kasih nilai 90 dari 100 deh. Pemandangan alam Sumba Timur dihamparkan secara luas dan tinggi oleh sutradara dan membuat saya melongo tak berkedip sepanjang film. Rasanya tidak nyata tetapi nyata melihat bentang alam seperti itu: hadap kanan lautan Hindia, hadap kiri padang belantara dengan kontur bukit karang hijau cenderung ke tandus khas Nusa Tenggara Timur.

Meski demikian bukannya dari sisi ini tanpa ada cela; efek kecil-kecil yang ditambahkan secara digital seperti lontaran kerikil akibat seretan tongkat di tanah justru terlihat palsu. Mungkin masalah teknis saja.

2. Dialog & Peran

Karena ini film Indonesia, ya wajar dong kalau dialognya berbahasa Indonesia yang standar. Namun eksekusi cerita yang aslinya bagus itu jadi nampak kurang sempurna karena dialog para pemainnya ‘terlalu standar’ sehingga menjadi kaku. Kesannya jadi mendengar ragam bahasa tulis yang dibaca cepat tanpa terlihat emosinya. Sayangnya kekurangan ini paling nampak pada salah satu aktor favorit saya: Nicholas Saputra.

Bicara soal pemilihan pemain, saya paling terkesan dengan Tara Basro yang berperan sebagai Gerhana. Sosoknya sebagai pendekar pendiam namun culas sudah sangat baik dan beberapa gerakan kecil seperti lirikan mata terbukti berbicara banyak. Sosok favorit lainnya adalah Reza Rahadian yang tampil memukau seperti biasa. Kalau sudah begitu, Eva Celia dan Nicholas Saputra jadi terlihat seperti ‘adik kelas’ meski mereka berdualah yang menjadi jagoannya. Tapi mungkin ini soal selera pribadi saja; dari dulu saya cenderung lebih menyukai para pemeran antagonis.

3. Khas Indonesia?

Sekilas menyimak komentar para penonton di media sosial, saya menangkap banyak keluhan terutama soal budaya Indonesia yang katanya tidak ditampilkan secara proporsional di sini, mulai dari kostum pemain sampai budaya Sumba Timur yang sebenarnya jadi aneh jika disandingkan dengan adegan-adegan silat ala pendekar. Perasaan yang sama sebenarnya berkecamuk juga pada saya ketika sedang berada di bioskop.

Butuh waktu agak lama di rumah bagi saya merenung kembali soal benturan budaya ini. Akhirnya saya kembali ke pertanyaan mendasar: Ini film kan? Sebuah film Indonesia sebenarnya tidak wajib menampilkan budaya Indonesia jika memang bukan itu inti pesannya. Sama seperti film-film laga bertema Jepang seperti 47 Ronin yang menampilkan budaya Asia yang dicampur dengan budaya lainnya dan dianggap sah-sah saja sebagai sebuah karya seni, demikian pula Mira Lesmana dan Riri Riza boleh saja berimajinasi seperti ini. Jadi meski mereka berdua sempat melontarkan balasan pada sebuah sidang media, bagi saya film ini dapat diterima apa-adanya sebagai seni tanpa harus ada tanggung jawab terhadap budaya.

Udah nonton filmnya belum? Ini sekilas gambarannya. Selamat menonton ya (baca: harus nonton ya). :D

Selamat Tahun Baru 2015

Berhubung kepala masih pusing akibat kurang tidur semalam, tulisan pertama di tahun baru 2015 ini direncanakan pendek saja. Saya ingin bertanya, kapankah waktu yang paling tepat untuk menyusun resolusi tahun baru? Ataukah resolusi tidak benar-benar diperlukan?

Oh well, berikut beberapa poin resolusi pribadi yang bisa dibagikan ke publik.

1. Menulis di blog dua kali sebulan.

Target ini sebenarnya lebih konservatif dibandingkan beberapa tahun lalu, namun tidak mengapa. Yang paling penting adalah menjaga konsistensi agar peringkat blog tidak jelek-jelek amat, syukur-syukur malah meroket.

2. Berat badan

Inginnya sih kembali ke 65 kilogram, namun sepertinya sulit ya. Dari posisi sekarang di 87 kilogram, bolehlah kalau turun dan dijaga di angka 75-80 kilogram.

3. Kuliah lagi

Kalau yang ini masih harus dipikirkan lebih lanjut konsekuensinya, sehingga mungkin belum cerita lebih banyak dulu.

Doakan, ya. :D

dieng1

5 Oleh-oleh Dieng yang Paling ‘Ngangenin’

Sepanjang siang kemarin saya melihat-lihat beberapa blog dan baru tahu kalau ada beberapa kawan blogger di daerah, salah satunya Ndop, yang belum lama ini mendapat undangan dari Dinas Pariwisata Jawa Tengah untuk berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng di Wonosobo-Banjarnegara. Wow! Pikiran saya lalu kembali melayang ke Desember tahun lalu ketika saya menikmati ‘me time‘ selama 2 hari (yang lalu diperpanjang hingga 4 hari) dan menapaki kawah, telaga, pemandian air panas di kampung, hingga menekuni relief candi-candi yang bertebaran di dataran dan perbukitan di tengah-tengah selimut ladang sayur-mayur dan kebun carica.

Saya belum sempat ke sana lagi, tapi diam-diam saya selalu merindukan dataran berkabutnya dan terutama oleh-olehnya. Berbeda dengan daerah lainnya di Jateng-DIY yang kaya akan cenderamata berbau budaya, oleh-oleh yang paling bersinar dari Dieng adalah kesegaran produk pertanian dan perkebunannya. Inilah daftar oleh-oleh dari Dieng yang menurut saya paling ‘ngangenin’.

1. Carica

Buah yang disebut juga Pepaya Gunung ini memang hanya dapat tumbuh di dataran tinggi seperti Dieng. Tekstur buahnya garing mirip paprika namun dengan rasa segar dan tidak terlampau manis meski kerap dijual dalam bentuk manisan berkuah. Saya kalau beli minimal 5 kardus, biar semuanya puas. :D

dieng1

2. Sayur-mayur

Dieng terkenal dengan hamparan ladang dan kebunnya dan beragam produk dapat dipanen sesuai musim atau pun ada pula yang tumbuh sepanjang tahun. Ketika saya sedang duduk di pasar, tampak sekeranjang kentang dan cabai Dieng yang baru dipanen kemarin pagi.

3. Teh Tambi

Walaupun teh bukanlah produk asli Dieng, teh Tambi yang berasal dari desa Tambi di Wonosobo mudah ditemukan di sini. Airnya pekat dan tidak terlalu pahit.

4. Kentang Goreng

Berhubung sedang musim kentang, maka para pedagang di pasar dan sekitar candi pun mendadak jadi penggoreng kentang dengan bumbu beraneka. Jangan berharap banyak, itu hanya KENTANG BIASA. Tapi menyantap kentang goreng panas di tengah kabut yang hampir mengaburkan pandangan itu sensasinya lain daripada yang lain.

5. Purwaceng

Nah, tanaman rempah khas pegunungan Dieng yang berfungsi sebagai obat kuat ini menjadi minuman wajib untuk kaum pria. Racikannya ada beberapa macam: kopi, kopi susu, jahe, teh, dan entah apa lagi. Saya bukan penyuka jamu, namun rasa pedasnya masih dapat ditolerir dan lebih mirip jahe hangat. Hasilnya? Libido saya naik selama 2 hari berikutnya.

Ke Dieng, yuk! :D

5 Cara Mengolah Indomie Mie Goreng yang Keren

Waktu libur seharian kemarin saya manfaatkan untuk sekadar melihat-lihat video Youtube tanpa tujuan tertentu dan asal klik video yang judulnya menarik. Pada saat itulah mata saya tertumbuk pada video yang dibikin sepasang kakak-beradik di Amerika yang menampilkan Lima Cara Mengolah Indomie Mie Goreng dengan begitu bersemangatnya.

sumber: ceritamu.com

The Fung Brothers, nama panggung mereka, berasal dari Seattle dan menggilai musik hip-hop, komedi, dan makanan. Pada kanal Youtube resmi mereka terdapat beragam video tentang minat mereka mengeksplorasi masakan Asia, termasuk di antaranya masakan Indonesia. Yang paling terkenal tentu saja Indomie, makanan ‘kebangsaan’ kita. Hehehe.

Di video tersebut, David dan Andrew memaparkan lima cara mengolah mie instan menjadi masakan yang, meski tidak mewah, namun cukup kreatif dan menarik serta diperagakan dengan gaya kocak. Olahan pertama tentu saja standar, yakni Indomie goreng yang sesuai cara masaknya. Lalu menu selanjutnya adalah omelet, burger, pizza, dan yang terakhir adalah gabungan mie instan tersebut dengan bumbu khas Thailand yang menghasilkan sebuah fusi masakan Asia yang keren.

Coba liat langsung deh. :D