Monthly Archives: December 2013

Catatan Akhir 2013

Tahun 2013 tinggal beberapa jam lagi sebelum kita semua melangkah ke tahun baru. Sudah lazim bagi sebagian orang untuk menuliskan resolusinya di awal tahun, entah kemudian mereka merefleksikannya kembali di akhir tahun atau tidak. 😛 Yang jelas saya mengenal seorang sahabat yang selalu menengok kembali resolusinya di awal tahun untuk ditimbang-timbang, apakah sudah tercapai atau belum. Yang saya salut adalah dia membuat resolusinya sangat realistis dan terdiri dari dua poin saja, sehingga dengan bangga dia katakan bahwa resolusinya sudah tercapai 100%. Selamat! 😀

Selain bikin resolusi, banyak orang juga menengok kembali apa-apa saja yang telah dikerjakan tahun ini. Seorang kawan blogger sudah berkicau melalui akun twitternya tentang kaleidoskop perjalanan yang ia telah lakukan dari Januari sampai Desember. Saya mungkin tidak mencatat serajin dia sehingga tidak mampu merunut kembali. Namun kalau melihat lagi perjalanan saya menulis di blog sepanjang tahun ini, ada beberapa penanda penting yang boleh saya ceritakan sekaligus mungkin ada yang bisa mengambil pelajaran.

1. Lokasi, lokasi, lokasi

Lokasi di sini maksudnya online alias domain. Sebut saja krisis identitas atau labil ekonomi, namun kenyataannya saya adalah manusia yang sulit konsisten di dunia maya. Pernah di akhir tahun 2012 saya meluncurkan kopimana.com yang sekarang sudah hilang karena kehilangan semangat. Lalu pernah pula saya terilhami oleh satu istilah Bahasa Tamil yang berarti ‘Lelaki Gagah’ dan kemudian saya buru-buru parkir domainnya (yang ini tidak saya kasih tahu ya, malu soalnya). 😀 Atau tiba-tiba belingsatan mengejar domain gratisan di acara #BN2013 untuk kemudian didiamkan saja, dsb dst.

Bahkan langkah terakhir pun belum bisa saya katakan bijak meski saya menaruh harapan besar di dalamnya. Langkah tersebut adalah menetapkan identitas di blog yang sedang Anda baca ini. Dengan domain dan hosting yang saya kontrol 100%, saya berharap bisa menulis lebih maksimal dalam Bahasa Indonesia. Untuk blog berbahasa Inggris, semoga tahun 2014 saya bisa tetapkan personal branding-nya juga, meski kelihatannya akan saya pisahkan secara total dari yang ini.

2. Mengukur jalan

Kalau yang ini, maksudnya adalah traveling. Bolehlah saya berbangga karena sudah konsisten menulis tentang tempat-tempat yang bagi saya menarik dan cenderung mengembangkan blog tematik tentang catatan perjalanan. Meski mungkin belum semangat benar karena sebuah tulisan sering kali dipublikasikan sebulan setelah perjalanannya usai, namun paling tidak semangat untuk menulis dan berbagi itu juga yang memacu saya untuk lebih sering melihat alam sekitar. Bulan-bulan paling produktif adalah Oktober-November ketika saya sedang menetap di Jepara dan menulis banyak hal baru di sana. Semoga di tahun 2014 bisa lebih banyak kesempatan jalan-jalan. Amin. 😀

3. Monetisasi

Meski belum serajin teman-teman petualang SEO, bolehlah sedikit-sedikit blog ini dijadikan lahan mendapatkan penghasilan tambahan melalui beberapa ulasan tempat wisata dan produk. Meski mungkin ada yang menuduh ‘tidak sopan karena tidak secara jelas mencantumkan keterangan bahwa itu iklan’, namun bagi saya yang terpenting adalah berbagi secara jujur dan bersemangat pada para pembaca dan tidak jor-joran menjual produk tersebut. Pada akhirnya terbukti sangat banyak yang tetap mengapresiasi, kok. 😛 Semoga tahun 2014 membuka jalan lebih luas lagi. Amin lagi, deh. 🙂

***

Itu saja dulu catatan blog yang baru efektif berjalan 6 bulan ini. Semoga tahun depan kita semua lebih sukses, ya. Selamat Tahun Baru 2014!

2014

Advertisements

Indosat Super Internet: Hangout Jadi Lebih Asik

Siapa yang suka hangout ke mall atau tempat-tempat publik pas weekend atau sekadar menunggu lalulintas lengang di hari kerja? Ehem, gue banget itu. :)))

Atau buat yang suka nongkrong di area publik dan gak bisa lepas dari gadget, pasti sering dong ya memaki-maki layanan WIFI yang disediakan mall atau kafe karena kecepatannya yang lemot atau bahkan sinyalnya timbul-tenggelam? Ehem, itu gue juga :))))

Eh tapi sekarang gak perlu risau lagi sekarang. Indosat hadir di tempat-tempat keramaian dengan jaringan Indosat Super Internet. Bagi yang belum tau, Indosat Super Internet itu adalah layanan internet nirkabel yang disediakan oleh Indosat di area publik khusus bagi pelanggan setianya. Gratis!

Tadi siang (22/Des) bertempat di D’Mall Depok, Indosat memperkenalkan layanan ini secara luas kepada masyarakat utamanya para pegiat online yang aktif di Depok, Bekasi, dan sekitarnya. Berikut beberapa fotonya:

image

image

Rame kan yang datang? Biasanya kalo udah rame begini layanan internetnya suka lemot, kan? Tapi Indosat ini beda lo. Liat nih hasil tes kecepatannya:

image

Keren kan? Kalo temen-temen yang punya gadget lebih bagus malah hasil tesnya gila, ada yang sampe 14 Mbps! Puas deh tuh mau browsing, nonton Youtube sampe ngerjain tugas atau sharing data pas lagi hangout di mall.

Layanan Indosat Super Internet kini sudah tersedia di banyak tempat umum di Jabodetabek dan cakupannya akan terus diperluas.

Psst, saya sudah cerita belum kalau layanan ini gratis dan tidak menghabiskan kuota internet bulanan kamu? Asalkan kamu sudah membeli salah satu paket internet Indosat, otomatis kamu akan dikirimkan SMS berisi username dan password layanan WiFi-nya. Free and unlimited.

Manyun di kafe karena pengen browsing tapi koneksi lemot? With Indosat, it’s now a thing of the past. ^^

Foto lagi deh sebelum lanjut hangout ke tempat lain #eh

image

Merambah Wilayah Tak Bertuan

Pernah ngerasain berada di wilayah tak bertuan alias tak bernegara gak? Umumnya bagi yang berdiam atau jalan-jalan di daerah konflik, ada tempat-tempat tertentu yang berfungsi sebagai buffer alias penyangga di mana tak ada satu pihak bertikai pun yang boleh mengontrolnya agar kontak senjata dapat dihindari. Jadi benar-benar ‘tak bertuan’.

Di Asia Tenggara, konflik antartetangga umumnya sudah mereda kecuali di beberapa spot seperti wilayah sekitar Candi Preah Prasat Vihear di Kamboja yang juga diklaim oleh Thailand. Di sana bunyi tembakan masih terdengar dan kadang menewaskan tentara kedua negara. Oleh karena itu wilayah perbukitan di sekitar candi ditetapkan sebagai buffer dan akses ke candi, meski terbatas, masih dibuka agar peziarah dan wisatawan masih dapat masuk.

Di wilayah lainnya di perbatasan Kamboja dan Laos, ketegangan sudah lama berlalu meski faktor keamanan terutama penyelundupan barang dan orang masih menjadi problem. Oleh karena itu, penjagaan masih ketat dan beberapa pintu di sekitarnya, terutama yang melalui Sungai Mekhong, masih dibuka-tutup. Kini satu-satunya perbatasan kedua negara yang tetap dibuka adalah Veun Kham (Kamboja) dan Dong Kralor (Laos). Bertahun-tahun lamanya kondisi perbatasan itu sederhana. Fasilitas bebas visa belum tersedia dan suap petugas imigrasi dan bea cukai begitu tersohor sehingga menjadi standar yang baku.

Namun kini situasinya sudah berubah. Jalur bis internasional sudah tersedia, layanan visa saat kedatangan bisa dinikmati oleh para pendatang, akses jalan mulus dan para pedagang kecil bisa berjualan makanan-minuman. Bahkan ketika saya datang, bangunan besar untuk para pelintas batas kedua negara sedang dibangun. Lalu korupsinya? Teteup. 😛

Berikutnya saya bercerita lewat gambar saja ya:

Selamat datang di Kamboja
Selamat jalan Kamboja
Layanan pengurusan visa Kamboja bisa dilakukan di pondok ini
Kalau ini gedung pemeriksaan bea cukai sekaligus kantor perbatasan Kamboja

Semua pengurusan visa kedua negara dilakukan oleh petugas bis yang merangkap sebagai calo perbatasan. 😀 Jadi kita tinggal menyerahkan paspor, formulir kedatangan, plus selipan uang dollar Amerika yang nominalnya bervariasi tergantung kewarganegaraan kita. Karena saya WNI dan tidak perlu visa masuk ke Kamboja atau Laos, maka total kerusakannya cuma 6 dollar di Kamboja dan 5 dollar di Laos. Kasihan juga yang dari Amerika Utara, apes mesti bayar 42 dollar!

Nah, kalau Anda perhatikan foto kedua dari atas, daerah antara palang jalan dengan gerbang di sebelah sananya itu adalah buffer antara Kamboja dan Laos. Mungkin sisa konflik dari tahun 1970-an dulu. Kalau kita tidak menyeberang dengan berjalan kaki, sebenarnya secara resmi kita tidak boleh masuk ke sana. Karena itulah dengan bermodalkan doa yang sekencang-kencangnya plus seutas senyum ‘dimanis-manisin ke setiap orang yang mengawasi, saya beringsut melewati palang untuk balik lagi ke Laos demi menjepret pondok imigrasinya.

Pondok imigrasi Laos

Di sini saya bersyukur sekali jadi orang Indonesia, karena setiap kali ditanya asal dan saya jawab ‘Indonesia’, sikap mereka umumnya melunak dan saya dibiarkan lewat. Saran: selalu minta izin jika hendak melakukan sesuatu terutama jika hendak mengambil gambar. Sebenarnya daerah perbatasan adalah wilayah terlarang untuk difoto jadi harap selalu berhati-hati.

Selesai urusan narsis, mendadak ada petugas yang jauh di depan melotot dan mengacung-acungkan tangannya menyuruh saya balik arah ke Kamboja. Bukan main-main, di bahu kirinya tersampir senjata laras panjang yang saya tak tahu jenisnya apa. Lebih seram lagi karena sebenarnya dia tidak sedang berseragam. Hanya celana tentara dan kaos oblong saja yang ia kenakan. Dengan diiringi badan membungkuk saya lalu balik arah dan berjalan menuju Kamboja.

Daerah tak bertuan itu jaraknya sekitar 50 meter dan berupa wilayah terbuka yang memudahkan pengawasan dari kedua pihak. Jangan coba-coba menapaki area berumput yang hijau karena kita tidak pernah tahu apakah daerah itu aman dari ranjau atau tidak. Sepanjang jalan kepala dan bagian belakang badan saya terasa panas karena saya tahu sedang diawasi oleh beberapa pasang mata secara lekat. Kamboja terasa jauuuuuh sekali. Saya juga tidak berani mengambil gerakan tiba-tiba atau berlari. Jadi pasrah saja, jalan pelan-pelan.

Ketika akhirnya palang pintu Kamboja kembali dijangkau, ada perasaan lega dan saya mengeluarkan nafas lega namun hampir tersembur tangisan. Saya baru saja melanggar hukum, sebenarnya.

Memasuki Kamboja semacam ada kebebasan baru karena saya berada dalam perlindungan negara tuan rumah secara resmi melalui cap di paspor hijau saya.

Keluarkan aku dari Laos! 😥
Cambodia. I’m safe! *lebay maksimal*

 

Siapa Bilang Kartini Sudah Mati?

Kartini, putri bupati Jepara sang pejuang kesetaraan kaum dan bangsanya, memang sudah wafat lebih dari seratus tahun lalu di Rembang akibat melahirkan anak satu-satunya. Namun bukan berarti dia telah mati.

Masa sih?

Ketika saya sempat tinggal di Jepara, saya menyaksikan ‘roh’ Kartini masih hidup di mana-mana dan namanya tetap dibicarakan dengan penuh hormat oleh warga. Sadar dengan keagungan itu, pemerintah Kabupaten Jepara pun mengabadikan namanya dalam semboyan resmi daerah dan menamai beberapa tempat umum dengan nama beliau. Pun tak ketinggalan pihak swasta mengabadikan nama Pahlawan Nasional itu pada beragam tempat usaha mereka. Apa saja contohnya? Mari kita lihat:

Jepara

Jalan umum
Tempat fotokopi
Stasiun radio
Pantai & pelabuhan
Rumah sakit umum daerah
Salah satu gerbang masuk kabupaten
Museum
Toko mebel
Stadion olahraga (sumber: denmasbrindhil.wordpress.com)

Rembang

Lalu bagaimana dengan Rembang, kabupaten tetangga yang juga memiliki ikatan emosional mengingat Kartini pindah ke sana setelah menikah, wafat, dan dimakamkan? Meski tidak seheboh Jepara, upaya mengabadikan nama beliau juga terlihat:

Hotel
Sekolah (menurut cerita, sekolah ini adalah kelanjutan tempat belajar kaum perempuan yang didirikan oleh Kartini di balik tembok kadipaten)
Museum
Taman bacaan
Pantai (untuk membedakannya dengan Pantai Kartini di Jepara, lokasi ini resmi dinamai Taman Rekreasi Pantai Kartini)

Jadi, siapa yang bilang Kartini sudah mati? Ini baru di Jepara dan Rembang saja, lho. Di daerah-daerah dan negara lain, nama Kartini masih harum dan diabadikan di mana-mana. 😀

‘Pulang’ ke Hotel Santika Purwokerto

Sejak beberapa tahun lalu saya kerap melakukan perjalanan bisnis ke beberapa kota, utamanya di Jawa, saya selalu direkomendasikan kantor untuk menginap di jaringan hotel-hotel internasional yang selalu kami gunakan. Maklum kalau untuk urusan kerja, saya tidak bisa bertingkah layaknya turis backpacker yang ‘rewel’ soal penginapan. Dalam perjalanan bisnis yang paling penting ya: pekerjaan. Mata dan telinga rasanya tertutup dan memilih hotel pun didasarkan pada kepraktisan belaka; faktor estetika tidak saya perhatikan.

Tapi saya ingin cerita sedikit ya: saya pernah mendapatkan kejutan menyenangkan ketika kehabisan kamar hotel di Bandung dan seorang kawan baik menyarankan saya menginap di Hotel Santika Bandung. Saya lalu menurutinya karena memang tidak ada pilihan lain. 😀 Namun kali pertama saya menginjakkan kaki di hotel yang berlokasi di pusat kota Bandung tersebut, saya terkesima melihat betapa hotel ini tampil mengesankan untuk ukuran penginapan berbintang tiga. Perhatian manajemennya terhadap hal-hal kecil bercita-rasa Indonesia membuat saya seketika betah berlama-lama di Bandung.

Hal yang sama terulang kembali ketika saya berkunjung ke Purwokerto belum lama ini. Lama tak menginjakkan kaki ke kota pintu gerbang ke Baturraden tersebut, saya butuh tempat menginap yang tak lagi memerlukan penyesuaian diri, mengingat saya datang ke sana (lagi-lagi) untuk bekerja. Maunya langsung fokus, tidak usah berpikir hal-hal lain seperti hotel, misalnya. Maka dengan girang (ya, girang!) saya menjatuhkan pilihan pada Hotel Santika Purwokerto yang saya dengar baru membuka total 121 kamarnya bagi para tamu pada Mei 2013 lalu. Masih resik sekali.

Hotel yang beralamat di Jl. Gerilya Barat No. 30A, Purwokerto ini terletak di lokasi yang cukup strategis di pusat Banyumas. Tak jauh dari stasiun kereta api dan terminal bis, jalurnya bahkan dilewati oleh bis-bis antarkota sehingga memudahkan para tamu yang datang dengan moda transportasi tersebut. Layaknya jaringan Santika pada umumnya, salah satu ciri khas ‘rumah’ di Purwokerto ini adalah desain interiornya yang khas Indonesia dengan mengusung cita-rasa dan kearifan lokal. Ini tampak dari beberapa karya seni instalasi logam yang mengangkat tema patung dan batik Banyumas yang tampil cantik dengan suasana ruangan yang didominasi warna kuning, merah tanah, dan keemasan, sehingga kesan utama yang terasa adalah seperti berada di rumah sendiri di kaki Gunung Slamet.

Saya menoleh ke kiri dan membaca nama ‘Sekar Surya’, yakni nama yang disematkan pada restoran hotel yang letaknya berdampingan dengan kolam renang dan sebuah ruangan tempat berolahraga. Untuk ukuran hotel berbintang tiga, sekali lagi Hotel Santika Purwokerto tampil dengan detail ruangan yang sangat resik berhiaskan bunga-bunga anggrek segar dan tata meja bernuansa hijau teduh pada alas piringnya. Ada beberapa pojok makanan yang bisa dinikmati kala makan pagi: main course, dessert, omelette, dan makanan Indonesia.

Ada pengakuan di sini. Setelah sehari saya mengunjungi Purwokerto saya ngotot ingin mencoba tempe Mendoan di beberapa tempat dan akhirnya seorang kawan membawa saya ke dua restoran yang terkenal dengan Mendoannya, lalu dua angkringan di pinggir jalan (lupa namanya) yang juga ternama sehingga saya bisa melakukan ‘sampling’ kesemua jenisnya. Setelah puas, baru saya pulang dari misi berburu Mendoan. 😛 Namun siapa sangka ketika besok paginya saya turun sarapan dan menemukan seorang staf hotel sedang menggoreng Mendoan harum tak jauh dari pintu masuk restoran? Ketika saya mencobanya, astaga, Mendoan ini bisa jadi yang terenak yang sejauh ini saya cicipi. Bukan di tempat-tempat yang katanya terkenal tadi, melainkan tak sengaja waktu makan pagi. 😀

Eh iya, sudah mengintip kamar tidurnya belum?

Nyaman kan? Lalu bagi blogger seperti saya, fasilitas apalagi yang saya cari kalau bukan WiFi? Super kencang pokoknya.

Oh ya, kesemua foto di atas BUKAN foto saya, lho. 😛 Saya ambil dari Photo Gallery Hotel Santika Purwokerto. Eits tapi tenang, foto-foto jepretan saya sendiri pun ada. Sila intip slideshow berikut ini ya:

Powered by TripAdvisor

Saran-saran

Sebagai tamu yang tahu berterima kasih atas sambutan hangat keluarga besar Santika di Purwokerto khususnya Mbak Widuri Yanuarty dan Mbak Anissa Sri Wahyuni, boleh dong ya saya memberikan beberapa saran perbaikan layanan. 😀 Yang pertama soal lokasi. Memang lokasi Santika sangat mudah dijangkau dari stasiun kereta dan terminal bis, namun di sekitar Jalan Gerilya Barat itu sebenarnya tidak ada tempat yang menarik; kesemuanya ada di sebelah utara sampai melewati kampus Unsoed ke arah Baturraden. Oleh karena itu sebaiknya pihak Santika membuat semacam peta wisata yang jelas beserta opsi transportasi jika hendak berkeliling kota Purwokerto dan balik lagi ke hotel.

Saran perbaikan kedua adalah fasilitas olahraga yang perlu ditempatkan di ruangan yang lebih luas dengan peralatan yang lebih lengkap agar para tamu bisa lebih nyaman.

Sekali lagi, keputusan saya memilih Hotel Santika Purwokerto kemarin tidak salah. Saya tidak memilih tempat menginap, namun saya memilih ‘pulang’. Dan rumah resik di sebelah selatan ibukota Banyumas itu adalah tempat yang nyaman untuk pulang. 🙂

Benteng Pendem Cilacap: Mistis atau Romantis?

Setelah satu setengah jam berkendara dari kota Purwokerto, sampailah saya di hamparan pantai selatan Jawa yang terkenal dengan ombak bergelora. Namun tidak dengan Cilacap, kota yang saya kunjungi kali ini. Keunikan posisinya yang berada tepat di balik Pulau Nusakambangan membuatnya relatif terlindungi dari gempuran laut Samudera Hindia, termasuk potensi tsunami yang membuat saya merinding.

Terserah Anda mau sebut saya apa, tapi saya cenderung menilai suatu daerah dari kesan pertama yang saya tangkap untuk kemudian mengubahnya bila perlu setelah mengenal daerah itu lebih jauh. Kesan pertama tentang Cilacap saat itu adalah panas dan jorok meski lalu-lintasnya lancar. Apalagi setelah Baha, sobat blogger asal Cilacap, justru mengarahkan motornya menuju pelabuhan; area yang saya benci karena kekotorannya yang sudah pasti.

Baha memacu motornya melewati kompleks perumahan dinas pemerintah lalu sampai di pelabuhan yang relatif sepi. Dari jauh saya sudah melihat betapa tenangnya laut sekitar yang berlatarkan perbukitan tinggi hijau yang sontak mengingatkan saya pada gambar-gambar kota Jayapura. Setelah sampai di dermaga pelabuhan perusahaan semen saya lalu menatap lekat-lekat deretan perbukitan itu. Awalnya saya menyangka itu adalah Pulau Jawa sampai akhirnya Baha tersenyum menyadari kepolosan saya, “Bukan Oom, itu Pulau Nusakambangan.”

Saya termangu-mangu sambil menatap lekat detail pulau itu. Pepohonannya tinggi dan rimbun dari ujung ke ujung tanpa terlihat bekas-bekas penebangan atau pertanian seperti lazimnya kita lihat pada perbukitan di Jawa. Saya mencoba memicingkan mata untuk melihat tanda-tanda bangunan lembaga pemasyarakatan yang katanya ada beberapa di sana, termasuk yang sudah dikosongkan. Tidak kelihatan. Oh mungkin menghadap laut lepas ya? Meski demikian samar-samar terlihat deretan pagar tinggi yang mengitari lereng bukit tak jauh dari pantai. Ada perasaan damai namun bergidik menyergap saat memandangi pulau yang terkenal sebagai hunian para penjahat kelas kakap ini.

Lanjut menyusuri pantai ke arah timur dan melewati kompleks pelabuhan milik Kementerian Kehakiman, Bea Cukai, dan pangkalan TNI AL, tangki-tangki minyak milik Pertamina mulai terlihat. Di balik kompleks penyimpanan BBM inilah terdapat Pantai Teluk Penyu yang sekaligus menghadap ujung timur Pulau Nusakambangan. Di sini laut selatan mulai menunjukkan karakter aslinya yang ganas meski masih cukup aman di kondisi surut siang itu. Pada akhir pekan pantai ini adalah tujuan wajib bagi warga Cilacap yang membawa serta anggota keluarga, termasuk si kecil yang baru pertama kali belajar berenang dan sontak menangis begitu dilepas ayah-ibunya di tepi laut. Pantai ini juga menjadi spot memancing favorit karena ketersediaan ikan yang banyak.

Namun Pantai Teluk Penyu tidak hanya dilihat dari keindahannya saja. Posisi strategis yang menghadap laut lepas dipandang Belanda sebagai tempat ideal untuk membangun benteng. Tersembunyi di perbukitan seputar pantai, Belanda membangun benteng yang tersamar dari laut namun terlihat bak kompleks perkotaan dari darat. Dibangun selama delapan belas tahun pada 1861-1879, Benteng Pendem dibangun khusus untuk menahan laju musuh dari laut dan darat. Dari laut musuh akan sulit berkelit karena para prajurit dapat mengawasi area perairan dan pulau seberang yang luas namun sebaliknya tidak tampak dari kapal. Sedangkan dari darat, parit sedalam 18 meter yang mengelilinginya akan menghambat serangan musuh.

Meski samar dilihat dari luar, Benteng Pendem sesungguhnya pernah menjadi saksi kegiatan pertahanan Belanda yang sibuk dan dilengkapi ruang-ruang untuk kantor, kamar tidur perwira, ruang amunisi, perbekalan, hingga kamar-kamar penjara. Bahkan beredar kabar bahwa benteng ini juga memiliki jaringan terowongan yang menembus ke lokasi lain bahkan hingga ke Nusakambangan. Namun sampai kini kabar tersebut belum bisa dibuktikan kebenarannya. Yang kita ketahui adalah, beberapa ruang di terowongan pernah dijadikan tempat penyiksaan dan eksekusi para tahanan dengan cara ditembak menggunakan pistol.

Tak heran jika aura mistis menyelimuti kawasan ini dan ditegaskan oleh sebuah program televisi yang pernah mengadakan acara uji nyali di sini. Memang tak salah. Benteng ini sempat digunakan oleh Belanda selama hampir tiga perempat abad untuk kemudian diteruskan penggunaannya oleh Jepang pada masa Perang Dunia II. Setelah Jepang menyerah kalah, tentara laut Indonesia pernah pula menggunakannya sebagai tempat latihan perang sebelum kemudian ditinggalkan hingga akhirnya terpendam di tanah. Digali lagi oleh pemerintah daerah Cilacap pada tahun 1986, aura mistis yang menyeruak dari kamar-kamar tahanan serta terowongan penyiksaan memang mampu membuat saya merinding. Ah, tapi itu hanyalah perasaan para turis.  Buktinya banyak warga Cilacap yang rela membayar tiket masuk seharga Rp 5,000.- sekadar untuk bersantai dan, pacaran! Oh ya, setelah pemerintah daerah menata kompleks benteng dengan taman-taman asri bahkan melengkapinya dengan sarana permainan anak-anak, aura lain yang menyeruak dari sini adalah romantika. Barisan rusa yang sengaja dibiarkan berkeliaran pun menambah ceria suasana siang itu.

Bagaimana, apakah menurut Anda Benteng Pendem Cilacap menyimpan aura mistis atau romantis? Coba saksikan sendiri slide berikut:

Powered by TripAdvisor

Kunjungan saya siang itu sangat menyenangkan, meski foto-foto benteng yang saya sebar lewat social media malah mengundang tanggapan penuh rasa takut dari beberapa kawan. 😀

Persepsi awal saya tentang Cilacap ternyata menyesatkan. Di balik suasana panas dan gersang, kota ini menyimpan sejarah kolonialisme dan perjuangan yang panjang dan membangkitkan inspirasi para pengunjung. Lagipula kegersangan kotanya mampu disejukkan oleh senyum ramah warga yang tulus menyapa saya tiap kali berpapasan.

Benteng Pendem Cilacap: mistis atau romantis? Silakan mengunjunginya dan Anda sendiri yang tentukan.

mobibrad.my.id

Saya kadang suka tertawa sendiri kalau mengingat lagi satu sesi standup comedy yang pernah dibawakan oleh Dwika Putra; seorang pemuda kocak keturunan Tionghoa yang belakangan saya kenal secara tidak sengaja lewat satu pekerjaan. Pada sesi itu Dwika melontarkan pernyataan yang nyeleneh tapi jujur soal karakter rasnya: Cina itu bukan ras, tapi Cina itu gaya hidup! 😀 Contoh yang ia lontarkan adalah: jika kamu sedang lelah sampai terengah-engah di mall setelah keliling namun tiba-tiba melihat iklan diskon 70% dan merasakan suatu semangat baru, maka kamu sudah selangkah menjadi cina. 😛

Benar juga sih, saya pencinta diskon, apalagi gratisan, meski gak kepo-kepo amat mencari gratisan ke mana-mana. Tapi kalau ada yang menawarkan promo dan sejenisnya pasti saya sambar dengan senang hati. Hal itu juga berlaku ketika saya berada di Yogyakarta akhir pekan kemarin untuk menghadiri kopdar Blogger Nusantara 2013 yang didatangi ratusan – bahkan melebihi seribu – blogger dari penjuru tanah air.

Di sela-sela acara dan haha-hihi kopdar dengan teman-teman, mata saya tertumbuk ke salah satu pintu masuk ke Rumah Budaya Jogloabang yang menjadi lokasi kopdar. Di pojok halaman berumput yang sudah dipasangi tenda-tenda besar itu digelarlah meja-meja yang menawarkan domain .ID gratis tahun pertama. Pendaftarnya ramai meski tidak sampai berjubel. Cuma yang lucu adalah para blogger ini dengan hebohnya mendaftarkan tidak hanya satu domain, tapi lima, sepuluh, entah berapa lagi domain yang didaftarkan per orang. Kelihatannya rata-rata akan digunakan untuk monetisasi blognya. Saya cuma melongok-longok kemudian pergi. Selesai.

Yakin udah selesai?

Kembali ke prinsipnya Dwika, semangat baru itu membawa saya lagi dong ke stand itu! Kali ini saya intip, ah ada oleh-olehnya juga rupanya. Sebuah buku catatan, sebatang pulpen pendek bertali, lalu tali tanda pengenal yang biasa digantung. Lama saya berpikir-pikir kemudian menetapkan hati untuk TIDAK! Saya muter kopdar lagi.

Tapi akhirnya balik lagi dong! Kali ini saya sudah tidak tahan dengan godaan. Dengan malu-malu(in) saya dekati mbak-mbak yang sedang sabar meladeni para blogger kalap yang mengejar gratisan lalu mendaftar. Domain masih tersedia, katanya. Tinggal butuh persyaratan KTP dan mengisi data pribadi, selesai sudah. Akhirnya saya berhasil dapet gratisan. Senang bukan main! Eh, yakin nih senang?

Wkwkwkwkwk, memang tindakan impulsif kemarin memancing masalah baru sih. Saya harus bikin konsep untuk blog baru itu. Bahasa apa yang akan digunakan? Hanya tulisan serius atau boleh curhatan kampret? Akan dimonetisasi atau biarkan mengalir? Dsb dst.

Saya teringat akan blog berbahasa Inggris saya kemarin yang masih gratisan. Kayaknya sudah saatnya blog itu memiliki domain sendiri yang, meski berbahasa asing, mencirikan Indonesia yang khas melalui ekstensi domainnya. Selebihnya biarkan mengalir saja, deh.

Perkenalkan: mobibrad.my.id

Itulah sepenggal cerita dari #BN2013. Maaf, liputan acara utamanya sendiri malah belum saya tulis. Maklum saat ini saya masih berada di Wonosobo dalam perjalanan menuju Dieng. Nanti akan saya tulis sekembalinya ke Jakarta ya. 😀