Monthly Archives: October 2012

Lagu ‘Ganggu’ Bulan Ini

Judul tulisan di atas terinspirasi oleh postingan seorang blogger di situs Yahoo! Indonesia yang mengeluarkan daftar lagu-lagu paling ‘ganggu’ di tahun 2010. Definisi lagu ‘ganggu’ menurut blogger tersebut bukan berarti lagu tersebut selalu paling populer atau musikalitasnya baik, namun justru lagu-lagu yang kedengarannya cheesy namun gampang menarik perhatian dan lalu diputar di mana-mana, terutama di lapak-lapak jualan CD di pinggir jalan sehingga orang-orang pusing karena selalu dipaksa mendengar lagu itu setiap hari.

(Sumber tidak jelas. Harap beritahu bila Anda pemegang hak atas gambar ini)

Saya pun bulan ini terganggu. Seperti biasa Mama menonton siaran infotainment kesukaannya setiap pagi dan tiba-tiba saja lagu ‘Kamu’ yang dibawakan Coboy Junior menyeruak dengan gelegarnya. Segmen hiburan tersebut menampilkan kesibukan anak-anak personil boyband tersebut yang membagi waktu antara sekolah dengan jadwal manggung. Namun yang membuat saya ngakak sepanjang pagi adalah ketika videoklip mereka ditayangkan. Oh tidak, anak-anak tersebut yang masih berusia SMP mesti beradegan jatuh cinta layaknya kakak-kakak mereka dan beberapa scene terasa sangat lebay. Namun sekaligus menjadi pertanyaan di otak saya: Apakah memang seperti itu gaya pacaran anak SMP sekarang? Terlepas dari pergulatan pemikiran itu, saya tidak bisa melepaskan lagu ini dari kepala dan terus bersenandung ke mana-mana. Lagu ini sekarang menjadi track wajib pemanasan saat jogging. =)) =))

Tapi lumayanlah untuk hiburan. Berikut saya bagikan videonya untuk Anda nikmati. Sesudah nonton, saya tunggu komentarnya ya. 😀

Advertisements

Blogger Murni vs. Blogger Berbayar

Hari ini dua orang kawan menyebarkan tulisan di blog sekaligus kasak-kusuk di Twitter soal fenomena buzzer alias mereka yang menulis di Twitter untuk kepentingan produk/merk tertentu dan mendapat bayaran, dan sedikit-banyak menyeret blogger yang juga mendapat bayaran melalui tulisan yang mereka publikasikan di blog dengan tujuan mempromosikan produk/merk tertentu pula. Secara saya belum memanfaatkan twitter secara maksimal untuk kepentingan beriklan, saya merasa tidak punya kompetensi di situ. Saya hanya ingin menyampaikan pemikiran saya sehubungan dengan tudingan beberapa orang bahwa blogger yang menerima bayaran itu tidak independen. Sebagian pokok pemikirannya sudah sempat saya sampaikan di twitter akhir minggu lalu.

1. Intensi & kualitas menulis tiap blogger berbeda

Semua tentu menulis dengan intensi yang berbeda-beda. Ada yang murni berbagi dan menghindarkan diri dari hal-hal yang berbau komersial di blognya dengan berbagai alasan; untuk itu biarlah dengan hormat saya menyebut mereka ‘blogger murni’. Ada pula yang membuat blog dan menggunakannya sebagai alat mencari uang; kelompok yang ini biarlah dengan hormat saya sebut juga ‘blogger berbayar’. Tentu alasan yang berbeda-beda ini akan menghasilkan tulisan yang kualitasnya berbeda sesuai karakter si penulis. Setiap blogger mengalami evolusi dengan kecepatan dan tipe yang berbeda-beda dan tidak untuk dibanding-bandingkan. Misalnya dalam menulis ulasan produk, ada yang mengandalkan pengalaman pribadi dan mampu menulis secara objektif sementara di lain pihak ada pula yang menjual kehebatan si produk/jasa tanpa meneliti kembali kesahihan berita dan faktanya. Kalau sudah begini, siapa yang bisa dipercaya?

Menurut saya, bagaimana pun kualitas tulisan yang sudah keluar dari si blogger, dia sudah beramal melalui membagikan pemikirannya dan tugasnya sudah selesai. Ketika tulisan tersebut sampai ke mata pembaca, maka filter yang mestinya digunakan adalah dari si pembaca tersebut yang berhak mengartikan maksud penulis sekaligus menentukan sikap akhir, apakah dituruti atau ditolak. Atau jika si pembaca tidak menyukai tulisan-tulisan jenis apapun yang berbau iklan, dia dapat pula memilih untuk tidak lagi mengunjungi blog tersebut. Seberapa banyakkah iklan yang dianggap ‘terlalu banyak’? Wah, itu pun bukan lagi tugas si empunya blogger melainkan hak prerogatif pembaca.

Saya akui sering sekali berkunjung ke sebuah blog lalu kapok datang ke sana lagi karena dipenuhi iklan. Itu hak saya dan tidak berhak pula saya mencaci si blogger karena itu hak dia juga. Ada kalanya pula saya sesekali atau sering menjumpai iklan di satu postingan yang saya abaikan namun saya mencari pula tulisan lain yang lebih mencerminkan pemikiran asli si blogger dan akhirnya saya mengambil keputusan blog itu layak saya kunjungi berikutnya. Sekali lagi, dengan menggeneralisir semua blogger berbayar = sampah adalah tindakan terburu-buru.

2. Transaksi bisnis biasa

Entah mengapa ada sebagian pemikiran seolah-olah blogger yang melakukan promosi produk/jasa di blognya telah melakukan dosa besar karena menodai kesucian semangat berbagi di awal. ‘Dosa’ ini lalu ditudingkan lebih tajam kepada mereka yang memanfaatkan jasa ‘makelar blogger’ demi mendapatkan klien. Tak urung si makelar pun terkena hujatan banyak orang karena memanfaatkan blogger guna meraup keuntungan sendiri.

Terhadap soal ini saya hanya tertawa saja. Bagi saya ini hanyalah transaksi biasa di mana yang berlaku adalah demand dan supply. Blogger butuh iklan dan pemberi pekerjaan agar mendapatkan uang; klien butuh publisher untuk memasarkan produk/jasa mereka. Lalu apakah klien dan blogger mampu mencari peluang sendiri dan berkomunikasi secara langsung? Ya, untuk kasus-kasus tertentu saya pernah mendengar kawan baik saya bernegosiasi langsung dengan brand yang bersangkutan. Namun seringkali kita tidak memiliki kemampuan itu sedangkan klien kadang terlalu berhati-hati bila hendak berbisnis dengan pribadi dan bukannya badan usaha.

Di sinilah peran ‘makelar’ tadi diperlukan. Ia mencari peluang dari klien dan mempertemukannya dengan para pemasang iklan. Kebutuhan kedua pihak terpenuhi dan si makelar mengambil untung dari jasa yang telah ia lakukan. Sekarang, menurut Anda siapa yang memanfaatkan siapa? Semua pihak sama-sama senang, kok. Tidak ada yang tidak etis dari transaksi ini dan semua berlangsung layaknya bisnis biasa.

(sumber: theworkingbee.com)

3. Blogger berbayar tidak lagi independen

Tudingan ini yang paling menyakitkan meski ada benarnya. Ya, ketika bertransaksi, tentunya klien akan meminta blogger menyebar informasi yang baik-baik saja tentang klien tersebut dan mungkin inilah yang sebagian orang permasalahkan karena merasa tidak menemukan ulasan yang jujur dan keputusan pembelian tidak dapat dilakukan berdasarkan publikasi tersebut. Kalau sudah begini, sebenarnya tugas si blogger adalah berhati-hati sebelum menyetujui sesuatu apabila dirasa itu akan merugikan kepentingan pribadinya. Sebagian besar blogger sudah cukup arif memilah-milah tawaran yang sesuai dengan tujuan awalnya menulis dan akan tegas menolak tawaran yang tidak sesuai. Pun ketika hendak menulis, dia akan dengan rinci menanyakan sisi apa saja yang boleh diulas dan apakah kritik tertentu boleh disampaikan. Saya pikir klien pun memahami dengan siapa ia sedang berbisnis; bahwa beriklan melalui ulasan blogger berarti merelakan sebagian aspek produk/jasanya dikritik meski di saat bersamaan berharap agar blogger tetap sudi mengambil kesimpulan yang baik.

Saya pernah menjadi saksinya. Pada suatu kesempatan saya mengikuti program sebuah perusahaan yang mengajak blogger ke luar kota dan saya diminta menulis ulasannya untuk diikutkan dalam lomba blog. Apa yang saya tulis? Tentu saja puja-puji terhadap inovasi perusahaan tersebut dalam melayani pelanggan. Namun sadar bahwa perusahaan itu punya cacat, saya menyisipkan pengalaman pribadi ketika dikecewakan oleh mereka. Hasilnya? Tulisan saya itu menjadi Juara 1 di lomba blog tersebut dan penyerahan hadiah dilakukan di kantor pusatnya dengan para pejabat perusahaan tersenyum lebar menyalami dan memberi hadiahnya. Bagaimana bisa? Kuncinya ada di pendekatan bahasa yang kritis namun elegan sehingga secara keseluruhan tidak menodai nama baik si klien. 😀

4. Komunitas blogger tidak lagi independen

Cibiran tentang blogger berbayar tidak hanya berkutat soal pilihan pribadi namun merembet pula ke komunitas di mana sebagian blogger bernaung. Beberapa komunitas blogger yang mengadakan acara diduga tidak independen dan disetir oleh makelar dan klien agar sesuai maunya klien dan komunitas tidak bisa bergerak sendiri. Menjawab hal ini saya menyarankan kepada si sirik itu untuk kembali membaca poin 2 dan 3 di atas; prinsip-prinsipnya berlaku sama untuk komunitas.

Kalau boleh sedikit berbangga, saya menjadi saksi pula bagaimana komunitas blogger yang membesarkan saya pernah dan telah begitu apik berhubungan dengan para agensi dan klien dan terbukti bahwa kami pun dapat menyuarakan kepentingan kami dan tidak serta-merta tunduk begitu saja pada kemuan klien. Sadar bahwa kami pernah pula ditipu akibat perjanjian kerjasama lisan yang tidak mengikat, kami diminta menandatangani perjanjian kerjasama tertulis dengan sebuah agensi di mana isi perjanjiannya boleh kami kritisi dan ubah sebelum disetujui kedua belah pihak. Meski negosiasi berlangsung alot, akhirnya perjanjian ditandatangani dan acaranya berlangsung sukses. Kok bisa? Kuncinya ada di keterbukaan kedua belah pihak dan kemauan berkomunikasi secara positif. Pada saat yang sama saya menyadari juga bahwa ada manfaatnya bila komunitas blogger mencari uang melalui kerjasama dengan pihak ketiga. Manfaat terutama adalah keuangan komunitas yang semakin baik sehingga tidak melulu tergantung pada sponsor jika hendak melakukan kegiatan sosial dan sisa dananya bisa digunakan untuk pengembangan komunitas ke depan.

***

Lalu apa kesimpulannya? Kali ini tidak ada. Anda para pembaca lebih arif daripada saya. Silakan menilai dan berkomentar. Selamat menulis dan berbagi. 😀

Refleksi Blogilicious 2012

Sejak mulai bermain-main dengan yang namanya blog di tahun 2005 dan mulai serius menulis di awal 2010, sudah sekian kali saya mengalami pasang-surut komitmen menulis dan berkomunitas blogger. Banyak cerita menarik dari event-event dan kemenangan-kemenangan kecil dalam lomba meski tak jarang pula harus menanggung kecewa akibat kalah lomba atau berselisih paham ketika sedang menangani suatu acara. Nah, sekian banyak pengalaman itu bermula dari sebuah langkah sederhana: menulis di blog. Jika kita mengaku blogger maka sejatinya yang kita kerjakan adalah menulis dan berbagi ilmu dan pengalaman; sesuatu yang saya yakin digumulkan oleh banyak orang terutama yang sekarang frekuensi publikasi tulisannya semakin jarang bahkan memudar. Saya pun tanpa kecuali.

Oleh karena itulah ajang Blogilicious 2012 yang penutupannya berlangsung di Tangerang pada 29-30 September kemarin seolah menjadi wadah bagi saya merenungkan kembali apa-apa yang sudah dikerjakan dan target mana saja yang mesti disasar berikutnya. Berbeda dengan Blogilicious 2011 di mana kami Komunitas Blogger Depok menjadi tuan rumahnya di Jakarta pada Juli tahun lalu yang dipenuhi berbagai tugas dan tanggung jawab, kali ini saya datang dengan tanpa beban dan menikmati setiap sesi yang ada layaknya orang yang baru pertama kali ngeblog. Meski kondisi badan sangat lelah di hari pertama dan saya banyak tertidur di bangku belakang akibat materi presentasi yang utamanya ditujukan bagi blogger pemula atau sangat maju sehingga ada semacam gap bagi yang pengetahuan blognya cetek-cetek dalam seperti saya, pasti ada satu-dua kalimat berguna yang tertangkap di setiap sesinya. Saya ingin membagi beberapa poin di antaranya untuk kita.

Suasana Blogilicious 2012 Tangerang (sumber: @gurubimbel)

1. Blogging itu pakai hati

Sebenarnya agak-agak mual ketika mendengar kutipan ini namun terus terang ada benarnya. Aktivitas apapun yang dikerjakan tanpa passion dan semangat tidak akan membuahkan hasil maksimal dan ngeblog termasuk salah satunya. Butuh komitmen yang tinggi untuk menjaga tulisan kita keluar dengan teratur dengan kualitas cukup baik di tiap publikasinya. Saya adalah contoh nyata bagaimana seseorang yang (katanya) sudah senior dalam blog tapi masih harus jatuh-bangun menjaga komitmen dan lebih sering kalah oleh kemalasan sehingga hasil dari aktivitas itu sekarang nampak biasa dan cupu dibandingkan teman-teman lain yang sudah bersinar. Kesimpulannya: periksa kembali maksud dan tujuan kita berbagi lewat blog, sadari konsekuensinya, dan lakukan saja!

2. Menulis lebih baik berdasarkan pengalaman

Ada banyak blog di luar sana yang aktif publikasi berita dan cerita setiap hari dan bahkan berkali-kali dalam sehari. Namun coba perhatikan kembali isi tulisannya: kalau tidak copy paste dari situs berita ternama, maka isi berita tersebut hanya ditulis ulang dengan gaya bahasa diubah di sana-sini. Yang dipentingkan hanyalah trafik yang tinggi dan membuka peluang bagi pemasang iklan tanpa mempedulikan kualitas tulisan. Saya akui sempat tergiur dengan cara itu karena terbukti beberapa blogger ada yang rela meninggalkan pekerjaan utamanya karena dunia blog mendatangkan uang lebih banyak. Namun sampai saat ini saya tetap berprinsip lebih baik pencapaian itu lambat diraih namun setiap langkah (tulisan) yang diambil memberikan nilai lebih bagi pembaca. Nilai lebih itu adalah pengalaman pribadi yang memandang sebuah persoalan apa-adanya.

3. Blog bisa mendatangkan uang

Itu jelas, bisa. Namun tak dapat dipungkiri perdebatan soal ini berlangsung sengit di kalangan blogger yang mengutamakan idealisme dengan kelompok pragmatis yang memandangnya murni peluang menghasilkan uang. Sempat terpikir untuk membuat blog lain yang khusus dipakai untuk bermain SEO untuk pada akhirnya dijual lagi dengan harga tinggi namun langkah ini mungkin baru akan direalisasikan dalam waktu yang agak jauh. Yang penting dilakukan sekarang adalah meningkatkan trafik bagi blog utama ini sehingga terbuka peluang pemasang iklan untuk datang dan meminta saya mengulas produk dan jasa mereka untuk lalu dipublikasikan hasilnya di blog.

Jadi setujukah saya dengan blog yang digunakan untuk aktivitas berbayar? Ya, setuju. Namun dengan batasan tertentu yang saya tentukan sendiri demi menyeimbangkan permintaan klien dengan tuntutan pembaca yang menginginkan blog ini tidak menjadi ajang berjualan.

4. Mulai pikirkan soal keamanan blog

Sesi ini cukup menohok saya pada hari kedua Blogilicious Tangerang kemarin karena saya tidak pernah memusingkan soal keamanan blog sehingga CPanel hanya digunakan sekali saja saat set up CMS untuk kemudian ditinggalkan sampai kapan-kapan. Terus terang soal teknis blog dan coding dsb. saya sangat miskin ilmu, namun paling tidak saran sederhana yang dianjurkan dapat saya ikuti: perbarui CMS dan plugin-pluginnya secara berkala.

5. Berkomunitas

Terlepas dari mulianya citra Anda di dunia maya, ujian sesungguhnya adalah ketika Anda ‘turun panggung’ dan menemui teman-teman blogger di dunia nyata dan berinteraksi dengan mereka lalu berkegiatan dan mengalami suka-duka persahabatan bersama-sama. Saya cukup beruntung karena deBlogger mengajarkan begitu banyak ilmu dan wawasan sepanjang 2,5 tahun terakhir saya bergabung di sana. Dengan berkomunitas, kita tidak hanya akan bertemu teman-teman komunitas sendiri namun akan mengembangkan jaringan yang lebih luas yang akan mendatangkan banyak keuntungan sosial dan material.

As usual, foto narsis pas penutupan. Hehe (sumber: @UseeTVCom)

***

Secara pribadi saya salut melihat dedikasi teman-teman Komunitas Bloger Benteng Cisadane di Tangerang yang, dengan dukungan penuh dari IDBlogNetwork, bekerja keras demi menyukseskan acara. Sadar bahwa mereka banyak kekurangan, kata pertama yang diucapkan oleh beberapa aktivis komunitasnya ketika bertemu saya adalah, “Mohon maaf ya.” Ada sedikit ‘kejutan budaya’ ketika mereka minta maaf duluan sewaktu berjumpa namun saya menyadari maksud mulianya: mereka ingin menghargai para tamu dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Kalau sudah begitu, maka segala kesalahan teknis penyelenggaraan acara sudah dilupakan dan hati senang oleh kehangatan tuan rumah. Sukses ya, teman-teman. 😀

Sampai jumpa di Blogilicious tahun depan!