Monthly Archives: November 2012

Kemenangan Kecil Untuk Bumi Kita

Membaca kembali berita-berita terbaru tentang lingkungan hidup dan kondisi bumi kita akhir-akhir ini tidak pernah membangkitkan semangat. Pemanasan global, perusakan lingkungan, dan cuaca ekstrem adalah masalah-masalah yang menghiasi halaman depan media dan berita yang tadinya kita pantau sepintas kini semakin nyata di depan mata. Misalnya jebolnya tanggul perumahan di Kota Depok akibat derasnya debit air hasil hujan semalaman di Bogor yang kebetulan letaknya tidak jauh dari tempat tinggal saya di masa kecil. Atau hilangnya hutan mangrove di tempat tinggal saya sekarang yang mengakibatkan abrasi pantai yang mengancam keberadaan pemukiman nelayan miskin yang sudah lebih dulu menderita karena terbatasnya akses ke sanitasi dasar seperti air bersih.

Kampanye-kampanye anti-pemanasan global dan pelestarian lingkungan juga tidak kalah hebohnya digaungkan di mana-mana seolah membangkitkan harapan akan masa depan bumi kita sebelum harapan itu kembali mentah ketika mendengar betapa dalam sepuluh tahun terakhir kita tidak mengalami kemajuan berarti dalam pencegahan bencana global. Kita masih kalah!

Saya adalah seorang yang pesimis ketika datang ke Social Good Summit 2012 yang konferensinya di Jakarta berlangsung di kantor UNDP Indonesia pada 24 September 2012 lalu dengan diikuti oleh beberapa blogger dan pegiat social media Indonesia dan difasilitasi oleh IDBlogNetwork. Seusai mendengar pemaparan status terakhir bumi kita dan berbagai pandangan dari blogger tentang apa yang perlu kita lakukan untuk kemudian menuangkannya dalam tulisan berjudul Pikir-Pikir Perubahan Iklim, yang ada saya malah frustrasi! ๐Ÿ˜ฆ Saya kecewa dan frustrasi karena meski telah banyak gerakan penyelamatan lingkungan yang terdengar dalam 10-15 tahun terakhir, bumi kita tidak kunjung sembuh dan angka-angka penurunan kesehatannya semakin mengkhawatirkan. Lalu bagaimana prediksinya di masa depan? Saya minta Anda meluangkan waktu sejenak membaca info grafik keluaran kantor berita Rusia RIA Novosti (2009) sebagai berikut (klik gambar untuk memperbesar):

Kalau sudah begini, bagaimanakah langkah kita sekarang?

Kemenangan Kecil

Seperti yang saya pernah utarakan di tulisan sebelumnya, kita tidak memiliki bumi lain dan inilah satu-satunya taruhan masa depan yang wajib dipertahankan melalui Mitigasi dan Adaptasi. Mitigasi berarti meminimalisir dampak bencana dan Adaptasi berarti menyesuaikan diri terhadap lingkungan di masa depan yang sudah sampai pada tahap ‘no turning back’; bahwa suhu bumi tidak lagi akan turun dan yang paling mungkin kita lakukan adalah menahan laju peningkatannya.

Membaca gejala global di atas, tentunya solusi yang kita pikirkan bersifat makro pula dengan mengharapkan pemerintah dan badan-badan dunia berbuat sesuatu. ‘Siapakah saya?’ adalah ekspresi inferior yang sering muncul sebagai justifikasi bahwa sebagai individu kita tidak mampu berbuat banyak bagi penyelamatan bumi kita. Pandangan pesimis ini lalu diikuti cibiran bahwa sekeras apapun usaha yang kita lakukan tidak ada gunanya apabila orang lain tidak melakukannya juga. Waduh, betapa kelirunya pandangan ini. Sebagai individu, tugas kita adalah berbuat sesuatu dalam skala terkecil yang kita mampu sambil terus menyebarkan kesadaran orang-orang di sekitar kita untuk sama-sama mengambil tindakan penyelamatan sesuai peran masing-masing. Sebab kalau bukan kita, siapa lagi? Ingat kan, kalau bumi kita cuma satu? ๐Ÿ˜€

Pada tulisan terdahulu saya pernah membuat komitmen berupa tiga langkah kecil penyelamatan lingkungan yang saya sanggupi. Setelah dua bulan berlalu sejak ajang diskusi tersebut, tepat kiranya saya melakukan evaluasi atas pencapaian terkini dan saya menyebutnya ‘kemenangan kecil’.

1. Diet Kantong Plastik

Mengikuti saran Eka Situmorang, saya lalu mencoba diet kantong plastik yakni dengan menolak tawaran kantong plastik ketika berbelanja dan memilih menggunakan tas belanja ramah lingkungan. Terus terang saya malu membawa-bawa tas belanjaan ketika memasuki pasar swalayan, namun untungnya saya senantiasa membawa ransel cukup besar sehingga mudah untuk dimasukkan barang belanjaan. Masalah lalu timbul ketika saya berbelanja di toserba besar dan ransel mesti dititip di depan. Masa saya harus membawa buah-buahan segar dengan kedua tangan kosong dari kasir sampai tempat penitipan barang? Bisa dituduh maling pisang sama satpam dong!! Jadilah saya kalah lalu meminta kantong plastik. ๐Ÿ˜ฆ

2. Membatasi Penggunaan Kertas

Poin kedua ini bolehlah saya cukup berbangga dengan berhasil membatasi penggunaan kertas dalam pekerjaan sehari-hari. Sebenarnya kantor saya cukup boros dalam menggunakan kertas dan solusi terbaik untuk membatasinya selalu menemui jalan buntu. Namun saya berinisiatif untuk memanfaatkan kertas bekas dalam pekerjaan sehari-hari dan selalu menghimbau peserta di kelas untuk menggunakan kertas bekas. Himbauan ini cukup berhasil sebab banyak dari mereka yang mengeluarkan kertas bekas tanpa disuruh, atau bahkan ada yang memungut kertas bekas di rumahnya untuk ditulisi lagi pada ruang yang masih kosong. ๐Ÿ˜€

3. Hemat Listrik

Saya menghemat listrik dengan cara menyeleksi peralatan listrik mana saja yang boleh menyala di rumah pada jam tertentu. Jadi misalnya ketika pembantu sedang menyetrika di siang hari, maka televisi tidak boleh menyala. Cara ini berhasil namun masih belum signifikan; rekening listrik hanya turun sekitar Rp 20,000.- dalam 2 bulan terakhir.

***

Pikirkan yang Makro

Selain kita mengambil bagian kita sendiri, tentunya solusi menyeluruh perlu juga dilakukan agar anak-cucu kita kelak tidak mewarisi bumi yang rusak karena ulah nenek-moyangnya. Sebagai masyarakat pengguna internet, utamanya blogger, tugas saya dan Anda adalah terus menyuarakan kepentingan kita bersama untuk mengajak orang lain melakukan tindakan preventif terhadap kehancuran bumi di masa depan dan mendorong pemerintah kita berbuat lebih banyak agar penyelamatan dan pelestarian lingkungan dapat diupayakan secara masif dan dalam jangka waktu yang panjang. Dengan demikian, selain kemenangan kecil, kita juga boleh berharap adanya kemenangan besar bagi bumi. Sebab kalau bukan kita, siapa lagi?

Oh iya, berikut saya tampilkan lagi foto-foto dari Social Good Summit 2012 September lalu.

http://images.travelpod.com/bin/tripwow/flash/tripwow.swf

Social Good Summit Indonesia 2012 Slideshow: IDBlogNetworkโ€™s trip to Jakarta was created with TripAdvisor TripWow!

Apa yang telah Anda lakukan bagi bumi kita? Ditunggu sharing dan inspirasinya ya. ๐Ÿ˜€

Advertisements

Endless Feast

“Satu mulut saya, tidak berhenti makan”

Saya suka tertawa sendiri mengingat penggalan lagu kanak-kanak ‘Dua Mata Saya’ di atas. Satu mulut kita, apalagi bagi anak-anak, memang utamanya digunakan untuk makan, makan dan makan lagi. Sebelum berangkat ke Genting Highlands, salah satu yang paling saya ‘takutkan’ adalah urusan makanan, secara saya baru saja memulai diet sebulan sebelumnya dan bentuk tubuh saya sedang ‘lucu-lucunya’ alias turun 8 kilo. Pesta makanan di Genting memang asyik, tapi gimana urusan dietnya cobak?!

“Leave your diet in Jakarta,” seorang rekan seperjalanan menukas lantang sambil terkekeh mendengar kicauan saya yang ragu makan banyak. Okelah, mari lupakan diet untuk minggu ini dan kita mulai dengan perut lapar. Kebetulan memang perut saya sedang lapar ketika turun di LCCT dan perjalanan ke Gohtong Jaya untuk makan siang ternyata memakan waktu hampir 2 jam hingga saya hampir frustrasi karena sudah sengaja tidak membeli makanan di pesawat. Namun akhirnya kami sampai juga di Gohtong Jaya dan ternyata tempat itu, yang dinamai sesuai nama pendiri Genting, Tan Sri Lim Goh Tong, adalah satu kompleks ruko asri yang di belakangnya terbentang bukit hijau dengan udara sejuk. Kompleks rukonya sendiri amat sederhana namun sangat bersih dengan sekumpulan ruko tempat makanan dan kios-kios oleh-oleh yang siang itu cukup lengang, mungkin karena bukan akhir pekan. Dan sejak itu, saya tidak pernah lagi melapar. ๐Ÿ˜€

Berikut ini saya ulas beberapa restoran yang ada di Genting. Foto-foto selengkapnya ada di slideshow di bawah ya.

Restoran Ratha, Gohtong Jaya

Restoran yang terdapat di salah satu rukonya ini, membaca namanya, sudah tertebak bahwa tempat ini menyediakan masakan India. Beragam jenis masakannya berbumbu kari yang harumnya saja sudah sangat menggoda. Oh ya, call me a fool, dulunya saya mengira kari itu masakan Jepang saking populernya masakan kari itu di sana, bahkan dengan mudah kita membuatnya dengan bumbu kari instan dan saking sukanya saya dengan kari, saya dibilang punya selera makan seperti anak kecil karena memang anak kecil di Jepang banyak yang menggemari kari. Jadi sempat penasaran juga, apakah kari asli India sama dengan kari versi Jepang? Ternyata sama saja, dan bahkan lebih enak aslinya! *ya iyalah* Hidangan juara dari restoran ini adalah Kari Kepala Ikan yang tekstur dagingnya lembut dan sama sekali tidak berbau. Saya aslinya bukan pemakan kepala ikan sehingga agak ragu ketika hendak memakannya. Namun setelah habis satu potong, dua potong berikutnya malah masuk perut. ๐Ÿ˜€

Bubbles & Bites

Casual. Itulah kesan yang pertama tertangkap kala kita memasuki restoran yang terletak di lobi Highlands Hotel ini. Dan memang tempat ini memposisikan diri sebagai restoran yang ramah dan terbuka tanpa sekat dengan koridor lobi dan kita dapat menikmati ragam hidangan dengan suasana santai dengan kawan-kawan plus dimeriahkan dengan koleksi minuman segar. Menu spesial restoran ini adalah pizza, pasta, macaroni & cheese dan kami disuguhi dua macam champagne yang sangat menyegarkan. Zai, pelayan sekaligus bartender menemani kami sepanjang kunjungan dan dengan sigap memberi tahu segala macam menu dan merangkap tour guide dadakan dengan pengetahuannya yang luas tentang aneka restoran di Genting. Di akhir kunjungan, chef Khairul Azhar keluar dari dapur untuk memberi salam. What a delightful personal touch from Bubble & Bites! ๐Ÿ™‚

Our guide, Christine, with the famous Asti champagne @ Bubble & Bites
Posing with Zai & Azhar

The Bakery

Sesuai namanya, tempat makanan ini menyajikan roti dan kue-kue yang tepat disantap di pagi hari atau ketika sedang terburu-buru hendak pergi ke taman hiburan dan ingin sekadar membungkus donat untuk dibawa ke luar. Sabar ya, beberapa foto akan tersaji di slideshow di bawah. Hehe.

Happy Valley Seafood Restaurant

Lobster! Itulah menu andalan restoran Cina yang khusus menyajikan hidangan laut segar ini. Ditemani oleh Irene sang kepala pelayan yang ramah, kami menikmati segala jenis hidangan laut berupa lobster, kepiting, udang, ikan, dan beberapa macam sayuran segar dengan bumbu khas Tionghoa yang dijamin segar bagi semua pengunjung dan halal bagi yang Muslim.

Ming Ren

Ah, tempat ini juga sangat mengesankan. Sebelum datang kami sudah diberi tahu bahwa hidangan utama restoran Xinjiang ini adalah domba. Daging lembut itu sudah terasa sejak makanan pembuka berupa sup panas berisi daging domba yang pas dinamai Catch the Lamb, lalu diteruskan dengan aneka hidangan utama yang tentunya sebagian besar dari domba; ditambah dengan kejutan di hidangan penutup: Lamb Ice Cream! Saya agak ragu di awalnya, namun ternyata eskrim itu memang enak; tidak terlalu manis dan ada rasa gurih dari daging domba. Rasa dagingnya sekilas muncul di mulut namun tidak menyengat. Namun di sini jugalah saya menemukan hidangan unik lainnya: Fried Prawn with Wasabi. Udang ini dimasak dengan bumbu wasabi yang biasanya menyengat hidung yang berasal dari Jepang. Namun kali ini wasabinya tidak menyengat sama-sekali dan hidangan ini tambah segar dengan potongan buah naga dan saus mayonaise. Benar-benar mengesankan.

Berikut ini video pendek berisi ekspresi para blogger ketika bersiap makan malam di Ming Ren. ๐Ÿ˜€

Coffee Terrace

Pada hari terakhir kami memasuki restoran yang, meski gerbangnya tidak besar, namun area dalamnya sangat luas dan diramaikan oleh counter makanan dari berbagai wilayah seperti Chinese, Japanese, Western, Nyonya, dan Malaysian. Sekilas tempat ini mirip food court namun tampil dengan mewah dan pengunjung bisa mengambil hidangan dan minuman sesuka hati.

OK, penasaran dengan makanan apa saja yang ada di Genting? Mari kita intip slideshow berikut ini:

Endless ‘Madness’

Saya sebut perjalanan ini ‘kegilaan tiada akhir’ karena rekan-rekan seperjalanan yang seru dan menyenangkan. Sebagian besar dari kami baru berkenalan di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta dan masih sangat jaim ketika masuk pesawat. Namun begitu mendarat di LCCT Kuala Lumpur, mulailah tabiat aslinya keluar. Teriakan riuh-rendah di Outdoor Theme Park, sorak-sorai di Patio, sampai cekikikan di spa yang kadang membuat pemandu kami kerepotan sepanjang tiga hari itu sungguh tiada akhir. Kegilaan malam terakhir itu ditutup menjelang pukul tiga pagi di kamar 9016 Maxims Hotel, lebih tepatnya kamar Wiwit dan saya, dengan membuat video ini:

Thank you @witprasetyo, @ariysoc, @ariearya, @andreadipurboyo, @rainarta, @rara79, @griciaeffendi, @p3nnylan3, @leilafw. You guys rock! ๐Ÿ˜€

Kesan-kesan Terakhir

One of the best that Malaysia has to offer! Sekilas nampak surreal, memang. Namun inilah salah satu wajah terbaik Malaysia yang hendak mereka tunjukkan pada dunia. Terlepas dari segala kontroversinya, tempat ini mampu menarik wisatawan dalam jumlah yang sangat besar dan mendulang pendapatan besar bagi perekonomian negara. Kuncinya sebenarnya sederhana: komitmen pengusaha untuk membangun dengan total sambil memperhatikan aspek lingkungan, dan dukungan penuh pemerintah. Lalu cara mereka memperlakukan para tamu dengan personal touch membuat kawasan pegunungan yang dingin ini menjadi hangat dan membuat saya ingin datang lagi dan lagi. Gak percaya? Lihat saja tampang-tampang mereka yang gak mau pulang ini. ๐Ÿ˜€

Berpose di Coffee Terrace dengan Ms. Kenix Tan, salah seorang manajer Resorts World Genting. Thank you, Kenix ๐Ÿ™‚
Traveling companions, new best friends! #IBNGentingTrip

Sampai jumpa di trip berikutnya!

Fun! Fun! Fun!

Fun! Cuma kata itu yang mampu menggambarkan perasaan saya ketika memasuki kawasan Resorts World Genting di sore hari yang berkabut tipis itu. Selepas masuk ke kamar dan berganti pakaian, kami lalu pergi ke restoran yang sekilas dari luar tampak seperti tempat makan casual biasa yang namun di dalamnya menyajikan makanan istimewa ditambah dengan deretan wine yang, wuih… sebaiknya ulasan soal makanan ini mesti diberi tempat tersendiri. Pokoknya semua restoran yang kami masuki menyajikan hidangan yang benar-benar istimewa.

Namun tujuan utama kami ke sini sebenarnya bukan makan dan bukan pula bermain kasino. Ohoho no, memang di sini ada kasino dan ada pula yang sempat bertanya pada saya apakah saya sempat berkunjung ke kasino. Jawabannya: kasino adalah jenis hiburan yang pengunjungnya diteliti dengan seksama agar tidak mengganggu ketenteraman warga Malaysia umumnya. Jadi meski saya memang sempat masuk ke area kasino, saya tidak berlama-lama di sana. Masih banyak atraksi lainnya yang lebih menarik, gitu loh ๐Ÿ˜€

Patio Bar & Lounge

O iya, sebenarnya pada waktu pertama kali kami datang ke Malaysia kami tidak terlalu mengenal satu sama lain. Hanya 2 orang peserta rombongan yang saya kenal sebelumnya dan melalui merekalah saya boleh berkenalan dengan peserta lain. Menurut pemikiran orang Asia Timur, kita belum bisa dibilang bergaul akrab dengan seseorang kalau belum makan dan minum bersama mereka. Maka jadilah sesi ice breaking kita lakukan di sebuah bar yang katanya paling keren di Genting kalau malam: Patio. Dengan perut masih kenyang selepas makan malam, kami melongo karena disuguhi kentang goreng porsi besar dan mau tidak mau terpaksa saya makan juga sambil menangisi diet yang hancur berantakan. Aaaargh! Namun lupakan diet, sekarang saatnya bersenang-senang dengan kawan baru ditemani minuman pembakar semangat: Flaming Lamborghini!

Flaming Lamborghini (sumber: cnngo.com)

Flaming Lamborghini adalah sejenis cocktail yang berisi campuran kahlua, sambuca, bailey, dan blue curacao yang mengandung jenis alkohol yang mudah terbakar dan memang dibakar di depan pelanggan sebagai bagian dari atraksi bartender. Jangan kuatir, api yang menyala dari alkohol tersebut hanyalah dekorasi dan tidak mengubah rasa minuman sama sekali meski kita harus segera menghabiskannya karena suhu minuman cepat panas dan lama-kelamaan sedotan yang kita gunakan bisa terbakar. Satu-per-satu kami mencobanya dan semua berteriak kesenangan karena sensasi hangatnya yang cepat sekali naik. Ditambah dengan live music yang ciamik di panggung, suasana malam itu langsung mencairkan kekakuan di antara kami. Ya iyalah, besoknya kan kita akan seru-seruan di theme park.

Genting Outdoor Theme Park

Saya sangat bersemangat saat memulai hari kedua di Resorts World Genting yang pagi itu nampak berkabut tipis selepas hujan semalam. Pada jam 9 pagi kami bersiap di Bakery untuk sarapan yang terlalu besar untuk disebut sarapan karena kami disuguhi aneka kue dan roti yang super mengenyangkan. Seakan tidak ada waktu mencerna makanan, kami sudah harus membakar lagi kalori tersebut dengan memulai petualangan seru di arena sebenarnya: Genting Outdoor Theme Park!ย 

Ada dua jenis area taman hiburan di Genting yang dinamai sesuai kondisinya di dalam dan luar ruangan: Indoor Theme Park & Outdoor Theme Park. Taman hiburan ini boleh dibilang yang terbesar di Malaysia dengan lebih dari 40 jenis permainan untuk segala usia. Dibandingkan beberapa taman hiburan yang pernah saya masuki di seluruh Asia, Genting Outdoor Theme Park ini lebih menyasar ke pengunjung keluarga sehingga hampir semua permainannya dapat dinaiki oleh anak-anak bertubuh tinggi minimal 1 meter. Tanpa membuang waktu, kami langsung menuju beberapa permainan utama yang dibuka hari itu. Hmmm.

Yang pertama dituju adalah Spinner yang berbentuk mirip komidi putar namun dapat mengangkat kita ke atas dan berputar-putar di udara. Terlihat sederhana namun coba rasakan sendiri sensasinya. Hati-hati kepala pusing ketika turun namun dijamin Anda tidak menolak untuk naik kedua kalinya. Yang kedua kami coba adalah Corkscrew yang mengajak Anda berputar naik-turun di rel yang menjamin Anda akan berteriak puas. Ada pula wahana baru yang belum ada di Indonesia yakni Flying Coaster yang dinaiki dalam posisi tengkurap bagai Superman.

Corkscrew (sumber: j-travel.blogspot.com)

First World Indoor Theme Park

Sesuai lokasinya, taman hiburan tertutup ini berada di First World Hotel yang lokasinya mudah dijangkau dari Outdoor Theme Park. Di sini ada beberapa lagi jet coaster dan kereta monorail yang juga membawa kita melihat suasana di luar ruangan. Namun atraksi utama yang paling mendebarkan di sini adalah Sky Venture yang mengajak kita mengalami suasana terjun bebas di terowongan angin dengan berbagai gaya. Saking mendebarkannya, ada beberapa peraturan yang wajib dipatuhi di sini:

1. Anda tidak boleh berpenyakit jantung atau pernah mengalami patah tulang karena akan berisiko pada tubuh Anda.

2. Berat badan Anda tidak boleh melebihi 95 kilogram.

3. Patuhi instruksi selama briefing dan peserta wajib mengenakan baju dan perlengkapan keamanan.

Total waktu yang Anda habiskan selama briefing dan masuk ke terowongan sebanyak 2 kali adalah 45 menit hingga 1 jam. Oleh karena itu pastikan Anda paham jadwal atraksi ini dibuka agar Anda tidak kecewa karena tidak ada waktu. Namun atraksi ini juga punya kebijakan lain, yakni tidak akan buka apabila cuaca di luar hujan karena air dapat tersedot masuk ke terowongan angin di dalam dan mengganggu peserta.

Sky Venture (sumber: gentingwindtunnel.com)

Pernah berkunjung ke Eropa atau Amerika di musim dingin dan merasakan suhu di bawah nol derajat Celcius? Kalau belum, tak perlu jauh-jauh ke sana. Di Genting ada wahana Snow World yang mengajak Anda masuk ke suasana musim dingin di Eropa dengan suhu sampai – 8 derajat Celcius. Wajah dan telinga rasanya mengeras saking beku dan dinginnya. Jangan coba-coba memakai celana pendek masuk ke sana karena Anda akan meringkuk kedinginan tak mau berjalan. Hahaha.

Snow World (sumber: gozoomaclassic.photoshelter.com)

Freeze 2

Selain wahana permainan di taman hiburan, Genting juga tempatnya musisi, artis, dan pelaku industri hiburan lainnya berekspresi. Salah satu yang sempat saya saksikan ketika berkunjung ke sana adalah Freeze 2, sebuah kombinasi atraksi olahraga ice-skating dengan sulap dan akrobat yang mengundang decak kagum hadirin. Secara saya naik sepatu roda aja gak bisa, kan?! ๐Ÿ˜‰

Freeze 2 (sumber: room8five.com)

Secara keseluruhan, atraksi hiburan di Genting Highlands dan juga pusat-pusat perbelanjaan dan makanannya benar-benar memanjakan pengunjung dan saya benar-benar puas menikmati segala kemeriahan yang ada, dan yang paling penting: tanpa harus ke kasino! ๐Ÿ˜€

Berikut saya bagikan beberapa foto mengesankan ketika segerombolan orang Indonesia kocak pergi ke sana. Xixixixi.

Oh iya, cerita saya belum selesai lo. Ada bagian yang sengaja saya simpan untuk diceritakan di tulisan berikutnya: wisata kuliner di Genting Highlands. Slurp. Tunggu cerita selanjutnya ya. ๐Ÿ˜€

Kabur ke Pegunungan

Kalau disuruh memilih antara pantai dan pegunungan untuk tujuan berlibur, terus terang saya akan memilih ke pegunungan. Hidup sudah suntuk didera panas Jakarta, tak perlu lagilah saya berjemur di pantai. Maka dari itu sejak beberapa bulan terakhir ini aktivitas saya yang padat di Jakarta menguras energi dan saya kangen udara segar di pegunungan supaya bisa menghela napas dalam-dalam tanpa perlu memakai masker karena udara yang kotor. Lebih seru lagi kalau di pegunungan kita bisa sambil bermain-main dan mengikuti berbagai atraksi menarik dan tak lupa berwisata kuliner. Bisakah kita mendapatkan semua itu pada satu kesempatan liburan? Ternyata bisa!

Pekan lalu ketika pekerjaan sehari-hari sudah terasa sangat mencekik leher, saya memutuskan untuk kabur ke pegunungan bersama dengan rombongan berjumlah 10 orang ke Malaysia. Kenapa kok mesti mencari pegunungan ke Malaysia? Ohoho tunggu dulu. Kawasan pegunungan di Malaysia itu bukan sekadar pegunungan lho. Wilayah yang saya maksud ini menawarkan berbagai keragaman atraksi dan kuliner menarik yang sepertinya tidak mungkin dikupas semuanya di sini. Nama tempat tersebut adalah Resorts World Genting Highlands atau lebih dikenal dengan nama Genting Highlands.

Awal Pelarian

Pada Selasa pagi (16/Okt) pekan lalu, berkumpullah 10 orang yang sedang dalam kondisi stress tingkat tinggi akibat tekanan pekerjaan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Jakarta dan hendak kabur bersama-sama ke Resorts World Genting. Penerbangan ke Kuala Lumpur LCCT dengan Air Asia ditempuh selama 2 jam dan kami sudah menjejakkan kaki di bandara tersebut menjelang tengah hari waktu Malaysia. Urusan terlama di bandara ternyata bukanlah imigrasi dan pengambilan bagasi, sodara-sodara; melainkan beli simcard lokal! ๐Ÿ˜€ Kami mengerumuni dua loket penjualan kartu ponsel demi satu tujuan mulia: mengabarkan pada dunia via twitter dan foursquare bahwa kami sudah sampai di Kuala Lumpur. Aaaargh! ๐Ÿ˜€

Wajah-wajah ceria para pelarian dari Jakarta setibanya di LCCT, KUL

Perjalanan lalu dilanjutkan ke Resorts World Genting melalui jalan tol yang mulus dan bahkan setelah keluar dari jalan tol pun kondisi jalan tetap mulus di total enam lajurnya sampai ke atas bukit. Terus terang saya iri melihat betapa pemerintah setempat membangun infrastruktur jalan yang tidak setengah-setengah dan jalan yang dibangun kuat sampai puluhan tahun ke depan tanpa mesti menambal aspalnya secara berkala.

Jalan mulus 3 lajur di perbukitan Resorts World Genting. Ketiga lajur di kanan tertutup oleh pembatas jalan. Total enam lajur di kawasan setinggi itu. Wooow!

Udara dingin mulai terasa ketika kami tiba di Gohtong Jaya untuk makan siang. Gohtong Jaya terletak di kaki perbukitan di kawasan Genting dan boleh dibilang sebagai kawasan kota pendukung bagi resort di atasnya. Di dekat sini juga terdapat stasiun Genting Skyway yakni tempat perhentian kendaraan cable car yang menuju ke resort. Sayangnya kami tidak sempat menaiki kereta gantung yang menawan ini karena sedang dalam pemeliharaan, namun kami bersepuluh memutuskan berhenti di kawasan ruko untuk makan siang. Menu siang ini adalah masakan India dengan bumbu karinya yang sedap.

Kenyang makan-makan, kami melanjutkan jalan-jalan ke destinasi pertama: Strawberry Park. Ahey, saya yang belum pernah ke kebun stroberi sangat bersemangat ketika kami boleh masuk ke dalam dan memetik buahnya, dengan membayar tentu saja. Buah stroberi yang kami petik dihargai RM 6 / 100 gram dan tak lupa kesempatan itu dimanfaatkan untuk foto-foto narsis. Eh tapi ternyata di situ bukan hanya ada kebun stroberi melainkan juga kebun lavender, sayur-sayuran, kaktus, dan jamur. Berikut biarkan gambar saja yang bercerita ya:

Jajaran kebun stroberi
Gimana, udah tampak seperti petani stroberi belum? Xixixi
Jangan terkecoh dengan si ungu cantik ini. Bunga lavender justru terletak di belakangnya yang menghampar hijau tersebut. Sayangnya saat itu sedang tidak berkembang.
Kebun stroberi memang membangkitkan nuansa romantis (starring @witprasetyo & @griciaeffendi; sumber gambar @p3nnylan3)
Resorts World Genting tampak megah di atas bukit disaksikan dari Strawberry Park di Gohtong Jaya

Chin Swee Temple

Setelah mengunjungi Strawberry Park, kami lalu mengunjungi sebuah kuil Buddha yang bernama Chin Swee Temple yang terletak di lereng perbukitan Genting. Terinspirasi oleh mimpi Tan Sri Lim Goh Tong, pendiri Resorts World Genting, yang didatangi oleh Dewa Chin Swee yang berkuasa memanggil hujan dan mengusir roh jahat, Tan Sri Lim lalu membangun kuil megah di Resorts World Genting ini yang, oleh karena sulitnya medan terjal, memakan waktu pengerjaan selama 18 tahun. Selain patung Buddha, Kwan Im, dan Chin Swee yang berdiri di beberapa tempat, kita juga dapat naik ke perbukitan di atasnya untuk menyaksikan diorama 18 jenis neraka yang dipercaya oleh warga Tionghoa. Di tempat ini kita juga dapat meminum air suci pegunungan yang dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan dan umur panjang. Berikut beberapa gambarnya:

Pagoda di Chin Swee Temple, Resorts World Genting
Patung Tan Sri Lim Goh Tong, pendiri Resorts World Genting
Patung Dewi Kwan Im
Patung Siddharta Gautama
Berfoto sejenak di depan patung Tan Sri Lim Goh Tong
Seorang peziarah sedang berdoa di depan patung Buddha
Inilah patung Chin Swee yang menjadi inspirasi pembangunan kuil tersebut
Cia, rekan blogger dari Indonesia sedang mempersiapkan diri berdoa di depan patung Chin Swee

Menembus Awan

Gohtong Jaya dan Chin Swee Temple, meski merupakan bagian dari wilayah Genting seluas 60 kilometer persegi, ternyata bukan bagian dari resort itu sendiri. Setelah kuil Buddha tersebut terlewati barulah kita memasuki kawasan hiburan Resorts World Genting yang sebenarnya. Kawasan resort yang berada di ketinggian 1860 meter di atas permukaan laut ini benar-benar berdiri di atas awan yang begitu menawan hati namun sekaligus dinginnya kadang menusuk tulang. Resort ini menawarkan segudang atraksi hiburan menarik bagi wisatawan lokal dan mancanegara, yang utamanya berpusat di sekitar Outdoor Theme Park dan Indoor Theme Park, lima hotel berbintang, beragam restoran dan tempat makan yang menggugah selera, dan atraksi hiburan lainnya yang menawan sepanjang tahun. Berikut beberapa gambarnya:

Panorama Outdoor Theme Park, Resorts World Genting (sumber: etawau.com)
Indoor Theme Park (sumber: goldentorch.com.my)

Perjalanan dari Jakarta hingga LCCT, Gohtong Jaya dan Chin Swee Temple seolah memberi gambaran awal tentang apa-apa saja yang akan kita temui di sana. Keindahan alam dan ketenangan religius yang ditawarkan kawasan sejuk di Malaysia ini barulah satu sisi atraksi di Resorts World Genting. Kemeriahan suasana sesungguhnya baru akan dimulai setelah saya menjejakkan kaki di lobby Maxims Hotel Genting dan menjelajahi tempat-tempat menarik di sana. Penasaran ingin tahu apa saja yang ada di sana? Akankah saya ke kasino? Ohoho, Resorts World Genting memang memiliki kasino namun atraksi lainnya jauh lebih banyak dan lebih menarik untuk keluarga. Akan saya ulas sejelas-jelasnya di tulisan mendatang. Tunggu ya. ๐Ÿ˜€

Refleksi Blogger Nusantara 2012

Rasanya tidak berlebihan kalau ajang Blogger Nusantara yang tahun ini sudah berlangsung kedua kalinya itu saya ibaratkan pergi hajinya blogger Indonesia ya. Kalau dulu pernah ada ajang tahunan bagi blogger Indonesia bertajuk ‘pesta’ yang kini sudah almarhum, semangat itu nampaknya diteruskan oleh Blogger Nusantara. Inilah ‘kopdar segala kopdar’; tempat para pegiat blog dan media online bertemu, menyamakan visi atau sekadar melepas rindu dan menyapa kawan baru. Pengibaratan ‘pergi haji’ itu dikarenakan lokasinya yang selalu di luar kota; tahun lalu bertempat di Sidoarjo dan tahun ini giliran Makassar yang ketempatan menjadi tuan rumah. Hal ini cukup menjadi wake-up call bagi para blogger Jakarta dan Jawa lainnya bahwa sebuah ajang besar tidak harus dilangsungkan di ibukota negara dan pulau utama Indonesia saja dan bahwa gelaran tahunan yang diadakan di seberang lautan pun dapat menarik minat sponsor dan peserta untuk berbondong-bondong ke sana. Kalau tahun lalu saya sibuk mencari tiket kereta api ke Surabaya/Sidoarjo seminggu sebelum acara, maka tahun ini wara-wiri pengumuman Blogger Nusantara 2012 di Makassar sudah bergaung sejak awal tahun dan bagi yang ingin ikut disarankan menabung Rp 200,000.- per bulan demi mencukupi ongkos tiket pesawat. Benar saja, perburuan tiket murah gencar saya lakukan di bulan lalu dan akhirnya saya cukup puas mendapat tiket pergi ke Makassar dengan Lion Air dan pulang dengan Citilink meski ada harga yang harus dibayar: jam terbang dini hari yang memangkas waktu tidur. Akhirnya saya resmi pergi haji berangkat ke Makassar!

#BN2012 diadakan pada tanggal 9-11 November 2012 di Gedung LAN Antang, Makassar. Hari pertama dikhususkan untuk para peserta dari seputar Makassar yang diisi dengan 3 kelas yakni Creative Writing, Mobile Photography dan Social Media for Small Business, tidak saya hadiri karena masih berkutat dengan pekerjaan di Jakarta. Saya baru menjejakkan kaki di Makassar pada Sabtu pagi di hari kedua dan sepertinya menjadi peserta terakhir dari luar Sulawesi yang mendarat. Salut untuk panitia yang di sela-sela kesibukannya tetap menjemput ke bandara hingga saya tiba di lokasi tepat sebelum acara dimulai. Tidak perlulah saya menjelaskan panjang-lebar adegan apa yang terjadi selanjutnya ya. Biar foto-foto saja yang bercerita:

Booth Anging Mammiri, Komunitas Blogger Makassar
Aaargh, kegilaan itu dimulai!
#BN2012 belum dimulai loh ini! Hehe

Keriaan bertemu kawan lama dan menyapa teman baru bahkan sudah dimulai sejak pagi hari dan berlanjut terus hingga petang harinya. Dan tentunya yang paling berbangga di antara kami adalah teman-teman Komunitas Blogger Makassar ‘Anging Mammiri’ yang dipercaya menjadi tuan rumah untuk tahun ini dan menggandeng sederetan komunitas lokal Makassar dan Maros sebagai rekan kerja yang apik.

Makassar Bisa Tonji

Demikian yel-yel yang bergema di gedung LAN Antang pagi itu yang sekaligus memberi gambaran bahwa #BN2012 adalah ajang yang terbuka bagi seluruh pegiat online dan tidak terbatas untuk blogger saja. Acara yang dibuka sekitar pukul 10.00 WITA tersebut diawali dengan pergelaran tarian tradisional Sulawesi Selatan yang diwakili oleh empat suku terbesar: Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja dan tercermin pada ragam pakaian adat yang dikenakan oleh para penari. Acara kemudian disusul oleh lagu kebangsaan Indonesia Raya dan beberapa kata sambutan dari panitia, sponsor, dan unsur pemda setempat. Sedangkan agenda utama pada hari kedua #BN2012 tersebut adalah materi Blog & Social Media oleh Budi Putra, Blood4Life oleh Valencia Mieke Randa, dan Blogpreneur oleh Asri Tadda. Di sela-sela pemaparan tersebut hadir pula Dimas Novriandi dari XL, Irwin Day dari Nawala, dan Ardian Atmaka dari Lintas.me selaku sponsor dan media partner yang memaparkan produk dan layanannya masing-masing. Selain sesi-sesi tersebut, ruangan utama di gedung LAN juga ramai oleh pameran komunitas yang diisi oleh berbagai komunitas lokal Makassar yang umumnya telah memanfaatkan media internet yang kesemuanya bertujuan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan kotanya.

Ruang utama #BN2012
Pembukaan #BN2012 yang diawali oleh tari tradisional Sulawesi Selatan
Lagu kebangsaan Indonesia Raya

Setelah acara hari kedua selesai, malamnya kegiatan berlanjut di Asrama Departemen Sosial di Jl. Perintis Kemerdekaan samping kampus Universitas Hasanuddin yang berisikan penampilan musisi dan penyair lokal, perkenalan komunitas, dan pemutaran film Linimassa 2. Sayangnya saya tidak hadir karena kabur ke Karebossi dan baru kembali pada malam harinya. ๐Ÿ˜€ Namun acara informal masih berlanjut hingga menjelang dini hari, terutama diramaikan oleh blogger-blogger Indonesia Timur. Hahae!

Hari terakhir Blogger Nusantara 2012 diisi dengan permainan tradisional yang diadakan di Pantai Akkarena yang dikoordinir oleh komunitas Jalan-Jalan Seru Makassar dan Makassar Berkebun dan diikuti oleh para peserta dari luar Makassar dan luar Sulawesi Selatan. Permainan seru seperti Asing-Asing yang tak lain adalah Gobak Sodor dan juga Egrang menjadi atraksi utama yang sangat meriah. Setelah puas bermain di pantai, acara dilanjutkan dengan kunjungan ke Fort Rotterdam dan mendengarkan penuturan sejarah Makassar dan raja-raja yang pernah berkuasa di seputar Sulawesi Selatan, utamanya yang berhubungan dengan benteng Belanda tersebut. Oh ya, di sini pula Pangeran Diponegoro pernah dipenjarakan sebelum akhirnya meninggal dan dimakamkan di tempat lain. Ah, namun acara tentunya kurang seru kalau tanpa ‘pelarian’ ya. Sebagian dari peserta masih berputar-putar di Makassar pada malam harinya hingga menjelang pagi. Simak saja slideshow selengkapnya di sini:

http://images.travelpod.com/bin/tripwow/flash/tripwow.swf

#BN2012 Makassar Slideshow: @indobradโ€™s trip to Makassar was created with TripAdvisor TripWow!

Yang saya saksikan sepanjang akhir pekan itu adalah betapa sinergi komunitas lokal ternyata sanggup mengalahkan seribu keraguan yang mendekam di kepala sponsor dan orang-orang yang meragukan kemampuan anak-anak Sulawesi Selatan ini. Mulai dari penjemputan, angkat-angkat barang, dekorasi di lokasi acara, sampai menjaga meja konsumsi dan menyiapkan goodie bag semua dilakukan secara sukarela tanpa mengharap balasan. Semangatnya cuma satu: ini acara kita, dan kita pasti bisa!

Sejak dulu komunitas Makassar dikenal dinamis sewarna dengan karakter masyarakatnya yang terbuka dan apa-adanya. Buku panduan perjalanan Lonely Planet mendeskripsikan Makassar dalam satu kalimat dahsyat: “loud, independent-minded, intense and proud, Makassar is a shot of Red Bull to jump-start your trip.” Berangkat dari kalimat itu, saya menduga kerjasama lintas-komunitas ini tidak selamanya mulus; pasti pernah ada salah-paham tertutup maupun terbuka yang berujung konflik. Namun sedalam apapun konflik yang mungkin ada, semua itu tertutup oleh kinerja baik selama acara dan senyum ramah panitia dalam menyambut setiap tamu yang datang, utamanya kami yang berasal dari luar kota yang langsung merasa seakan berada di kampung halaman sendiri. Meski baru berbekal pengalaman yang dangkal, saya dapat juga membaca mana senyum jumawa karena semata-mata telah meraih keberhasilan, dan mana senyum tulus yang membuka diri terhadap segala kelebihan dan kekurangannya. Dan senyum tuluslah yang terbaca hari itu. ๐Ÿ˜€

Makassar bisa tonji!

Romantika Melaka

Pernahkah kamu jatuh cinta pada sebuah kota?

Selepas urusan lain di Genting Highlands dan Kuala Lumpur (soal ini tunggu postingan selanjutnya ya), saya melangkahkan kaki ke Melaka dan perjalanan dimulai dari Stasiun KL Sentral ke arah selatan via KTM menuju stasiun Bandar Tasik Selatan (BTS). Stasiun kereta api ini ternyata bersebelahan dengan Terminal Bersepadu Selatan (TBS), salah satu terminal bis utama di kawasan Kuala Lumpur; khususnya bagi bis-bis ke arah selatan Malaysia. Dengan jarak tempuh sekitar satu setengah jam saja, saya sudah tiba di terminal bis Melaka Sentral. Selamat datang ke Melaka!

Terminal Bersepadu Selatan, KL, yang lebih mirip bandar udara!
Selamat datang ke Melaka

Berjumpa kawan blogger

Sebenarnya selain mengunjungi tempat bersejarah di Melaka, tujuan utama lainnya saya kemari adalah berjumpa dengan kawan blogger yang telah saya kenal hampir setahun terakhir dan beliau berdomisili di Melaka. Namanya Zool Zarizi, pemilik blog Liga Kampung yang banyak mengulas dunia sepak bola lokal dan hal-hal lain. Awalnya saya berkenalan dengan beliau pada penghujung tahun lalu adalah kala Indonesia sedang melangsungkan pertarungan sengit dengan Malaysia di Piala AFF yang akhirnya dimenangkan oleh Malaysia. Pada masa itu serangan tidak hanya berlangsung di lapangan bola saja namun juga di dunia maya. Para pengguna internet Indonesia dan Malaysia saling mencaci-maki hingga nama baik kedua bangsa sama-sama terhina dan aroma perseteruan memanas. Di tengah-tengah keriuhan ini saya lalu mencoba mencari tulisan dari blogger-blogger Malaysia yang mengulas persoalan ini dari sisi ‘lawan’ dan sampailah saya di tempat Zool. Setelah beberapa kali bertukar sapa, kami pun berkawan.

Sayangnya pada bulan Mei lalu saya tidak dapat menjumpai Zool karena hanya singgah semalam saja di Kuala Lumpur sebelum melanjutkan perjalanan ke Kamboja. Namun kali ini saya ‘memaksa’ untuk pergi ke Melaka dan menjumpai beliau. Zool adalah seorang pegawai negeri di sebuah institusi pemerintahan di Melaka (saya lupa nama kantornya) dan hari-hari beliau memang sibuk. Namun Zool akhirnya menyempatkan diri menjumpai saya di terminal Melaka Sentral dan kami pun menghabiskan waktu mengobrol banyak. Pembicaraan akrab seputar dunia blogging dan pekerjaan masing-masing sampai perbedaan yang menarik antara orang Indonesia dan Malaysia tak terasa mengantarkan kami hingga petang hari. Akhirnya Zool berbaik hati pula mengantarkan saya ke Lorong Hang Jebat karena saya mesti mencari penginapan. Zool, terima kasih atas kebaikanmu, bro. ๐Ÿ˜€

@zoolligakampung

Melaka Bandar Bersejarah

Didirikan pada tahun 1400 oleh Parameswara, raja terakhir di Singapura yang melarikan diri dari serangan Majapahit dan lalu berjaya membentuk pemerintah Kesultanan Melaka yang berdaulat hingga tahun 1511 ketika Portugal menjungkalkan sultan terakhir dan mengakhiri riwayat kesultanan itu. Sepanjang abad-abad berikutnya, Melaka menjadi saksi pergantian kekuasaan dari Portugal, Belanda, dan akhirnya Inggris yang memerintah Melaka sampai tahun 1957 ketika Malaya meraih kemerdekaan. Oleh karena kekhasan sejarah yang tidak banyak ditemui di tempat lain di Malaysia dan juga interaksi budaya yang menjadikan kota ini bagaikan melting pot Asia, banyak sekali wisatawan yang khusus datang ke Melaka guna menikmati peninggalan sejarahnya; tak terkecuali saya yang petang itu disambut hujan rintik nan romantis.

Saya memang mudah jatuh cinta dan suasana Melaka sore itu sangat mendukung. Hujan rintik namun masih dapat dilalui dengan menggunakan payung, saya lalu menyusuri Jalan Laksamana memasuki kawasan kota tua yang ditandai dengan tembok-temboknya yang berwarna merah. Ada beberapa cerita yang melatarbelakangi warna merah manyala itu; salah satunya adalah guna menghemat ongkos pemeliharaan gedung yang dulu umumnya dicat putih dan lama-kelamaan cat putih itu kotor oleh cipratan tanah di musim hujan dan oleh kereta-kereta kuda yang lewat. Maka warna merah dipilih karena tidak akan mudah terlihat kotor. Sejenak sebelum memasuki kawasan gedung pemerintahan, saya terpaku di depan Gereja Katolik St. Francis Xavier dan tersenyum melihat letaknya yang di belakang kantor pemerintahan; itulah ciri khas Belanda yang pada zaman dahulu mendiskriminasi umat Katolik dan para misionarisnya. Setelah keluar dari Jalan Laksamana, sampailah saya di lapangan terbuka di depan Gedung Stadthuys dan Christ Church yang masih berdiri megah. Stadthuys didirikan pada tahun 1650 dan tercatat sebagai bangunan tertua peninggalan Belanda di Asia Tenggara dan berfungsi sebagai kantor pemerintahan Belanda, Inggris, dan bahkan Malaysia hingga akhirnya gedung ini dialihfungsikan menjadi Museum Sejarah, Etnografi dan Sastra Malaysia pada tahun 1979. Di tengah-tengah kompleks ini berdirilah Christ Church yang didirikan pada tahun 1753 dan awalnya bernama Gereformeerde Kerk sebelum berubah menjadi Gereja Anglikan. Kini tempat itu masih berfungsi sebagai sarana peribadatan umat Kristen dan bagian dalamnya ditutup untuk umum tiap Sabtu-Minggu.

Becak-becak berhiaskan bunga-bunga cantik yang mangkal di depan Christ Church
Museum Maritim Malaysia dengan icon kapal layar bersejarah. Spanduk di sampingnya adalah informasi perayaan 750 tahun Pelayaran Bersejarah Palembang – Melaka
Tepi pantai Melaka

Gempita Jonker Street

Jonker Street, atau yang kini bernama resmi Jalan Hang Jebat, adalah pusat kegiatan wisatawan di Melaka yang sejak dulu diramaikan oleh toko-toko pengumpul benda-benda seni dan kerajinan. Di seputar kawasan ini bertebaran beberapa museum seperti Museum Cheng Ho dan Museum Peranakan Baba-Nyonya. Namun tempat ini bukan hanya ramai oleh para peminat seni; jalan yang tidak terlalu lebar ini justru lebih ramai di malam hari sebagai pusat belanja oleh-oleh, surga kuliner berbagai etnis di Melaka, dan gegap-gempitanya dunia malam yang bar-barnya sampai tumpah-ruah ke trotoar. Secara kebetulan Jumat malam di bulan Oktober itu sedang diadakan Oktoberfest, yakni festival bir yang berasal dari Jerman namun dengan meriah diadakan di salah satu sudut gang yang dipenuhi oleh bar yang semuanya menyediakan kursi di jalan dan berember-ember bir dingin bagi para pengunjung. Suasana malam tambah meriah dengan penampilan band yang memukau dan, ini yang ditunggu, lomba minum bir! ๐Ÿ˜€ Saya jadi lupa kalau sedang berada di Malaysia.

Gerbang utama Jonker Street, Melaka

***

Dari kacamata subjektif, Melaka dapat disandingkan dengan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi: Yogyakarta di Indonesia, Kyoto di Jepang, Gwangju di Korea, dan Siem Reap di Kamboja. Semua tempat ini terkenal dengan wisata sejarah yang menjadi destinasi wajib setelah ibukota negara masing-masing. Persamaan lainnya adalah lokasi tempat-tempat wisata itu dapat dijangkau dengan mudah; lalu ‘aroma’ kotanya yang, meski sudah tersentuh peradaban modern, tetap tidak kehilangan jiwa sejatinya. Saya selalu jatuh cinta dengan tempat-tempat seperti itu, dan kini saya jatuh cinta lagi di Melaka.

Ingin lihat lebih banyak lagi foto? Sila simak slideshow berikut ini:

http://images.travelpod.com/bin/tripwow/flash/tripwow.swf

#MYTrip, Melaka Episode Slideshow: @indobradโ€™s trip to Melaka was created with TripAdvisor TripWow!

Oh ya, terakhir ini adalah pose mengenaskan yang terpaksa saya ambil karena tidak pernah ada kesempatan mengambil gambar sendiri di depan monumen-monumen bersejarah kalau kita sedang traveling sendirian. ๐Ÿ˜€