Tag Archives: social good summit 2012

Kemenangan Kecil Untuk Bumi Kita

Membaca kembali berita-berita terbaru tentang lingkungan hidup dan kondisi bumi kita akhir-akhir ini tidak pernah membangkitkan semangat. Pemanasan global, perusakan lingkungan, dan cuaca ekstrem adalah masalah-masalah yang menghiasi halaman depan media dan berita yang tadinya kita pantau sepintas kini semakin nyata di depan mata. Misalnya jebolnya tanggul perumahan di Kota Depok akibat derasnya debit air hasil hujan semalaman di Bogor yang kebetulan letaknya tidak jauh dari tempat tinggal saya di masa kecil. Atau hilangnya hutan mangrove di tempat tinggal saya sekarang yang mengakibatkan abrasi pantai yang mengancam keberadaan pemukiman nelayan miskin yang sudah lebih dulu menderita karena terbatasnya akses ke sanitasi dasar seperti air bersih.

Kampanye-kampanye anti-pemanasan global dan pelestarian lingkungan juga tidak kalah hebohnya digaungkan di mana-mana seolah membangkitkan harapan akan masa depan bumi kita sebelum harapan itu kembali mentah ketika mendengar betapa dalam sepuluh tahun terakhir kita tidak mengalami kemajuan berarti dalam pencegahan bencana global. Kita masih kalah!

Saya adalah seorang yang pesimis ketika datang ke Social Good Summit 2012 yang konferensinya di Jakarta berlangsung di kantor UNDP Indonesia pada 24 September 2012 lalu dengan diikuti oleh beberapa blogger dan pegiat social media Indonesia dan difasilitasi oleh IDBlogNetwork. Seusai mendengar pemaparan status terakhir bumi kita dan berbagai pandangan dari blogger tentang apa yang perlu kita lakukan untuk kemudian menuangkannya dalam tulisan berjudul Pikir-Pikir Perubahan Iklim, yang ada saya malah frustrasi! 😦 Saya kecewa dan frustrasi karena meski telah banyak gerakan penyelamatan lingkungan yang terdengar dalam 10-15 tahun terakhir, bumi kita tidak kunjung sembuh dan angka-angka penurunan kesehatannya semakin mengkhawatirkan. Lalu bagaimana prediksinya di masa depan? Saya minta Anda meluangkan waktu sejenak membaca info grafik keluaran kantor berita Rusia RIA Novosti (2009) sebagai berikut (klik gambar untuk memperbesar):

Kalau sudah begini, bagaimanakah langkah kita sekarang?

Kemenangan Kecil

Seperti yang saya pernah utarakan di tulisan sebelumnya, kita tidak memiliki bumi lain dan inilah satu-satunya taruhan masa depan yang wajib dipertahankan melalui Mitigasi dan Adaptasi. Mitigasi berarti meminimalisir dampak bencana dan Adaptasi berarti menyesuaikan diri terhadap lingkungan di masa depan yang sudah sampai pada tahap ‘no turning back’; bahwa suhu bumi tidak lagi akan turun dan yang paling mungkin kita lakukan adalah menahan laju peningkatannya.

Membaca gejala global di atas, tentunya solusi yang kita pikirkan bersifat makro pula dengan mengharapkan pemerintah dan badan-badan dunia berbuat sesuatu. ‘Siapakah saya?’ adalah ekspresi inferior yang sering muncul sebagai justifikasi bahwa sebagai individu kita tidak mampu berbuat banyak bagi penyelamatan bumi kita. Pandangan pesimis ini lalu diikuti cibiran bahwa sekeras apapun usaha yang kita lakukan tidak ada gunanya apabila orang lain tidak melakukannya juga. Waduh, betapa kelirunya pandangan ini. Sebagai individu, tugas kita adalah berbuat sesuatu dalam skala terkecil yang kita mampu sambil terus menyebarkan kesadaran orang-orang di sekitar kita untuk sama-sama mengambil tindakan penyelamatan sesuai peran masing-masing. Sebab kalau bukan kita, siapa lagi? Ingat kan, kalau bumi kita cuma satu? 😀

Pada tulisan terdahulu saya pernah membuat komitmen berupa tiga langkah kecil penyelamatan lingkungan yang saya sanggupi. Setelah dua bulan berlalu sejak ajang diskusi tersebut, tepat kiranya saya melakukan evaluasi atas pencapaian terkini dan saya menyebutnya ‘kemenangan kecil’.

1. Diet Kantong Plastik

Mengikuti saran Eka Situmorang, saya lalu mencoba diet kantong plastik yakni dengan menolak tawaran kantong plastik ketika berbelanja dan memilih menggunakan tas belanja ramah lingkungan. Terus terang saya malu membawa-bawa tas belanjaan ketika memasuki pasar swalayan, namun untungnya saya senantiasa membawa ransel cukup besar sehingga mudah untuk dimasukkan barang belanjaan. Masalah lalu timbul ketika saya berbelanja di toserba besar dan ransel mesti dititip di depan. Masa saya harus membawa buah-buahan segar dengan kedua tangan kosong dari kasir sampai tempat penitipan barang? Bisa dituduh maling pisang sama satpam dong!! Jadilah saya kalah lalu meminta kantong plastik. 😦

2. Membatasi Penggunaan Kertas

Poin kedua ini bolehlah saya cukup berbangga dengan berhasil membatasi penggunaan kertas dalam pekerjaan sehari-hari. Sebenarnya kantor saya cukup boros dalam menggunakan kertas dan solusi terbaik untuk membatasinya selalu menemui jalan buntu. Namun saya berinisiatif untuk memanfaatkan kertas bekas dalam pekerjaan sehari-hari dan selalu menghimbau peserta di kelas untuk menggunakan kertas bekas. Himbauan ini cukup berhasil sebab banyak dari mereka yang mengeluarkan kertas bekas tanpa disuruh, atau bahkan ada yang memungut kertas bekas di rumahnya untuk ditulisi lagi pada ruang yang masih kosong. 😀

3. Hemat Listrik

Saya menghemat listrik dengan cara menyeleksi peralatan listrik mana saja yang boleh menyala di rumah pada jam tertentu. Jadi misalnya ketika pembantu sedang menyetrika di siang hari, maka televisi tidak boleh menyala. Cara ini berhasil namun masih belum signifikan; rekening listrik hanya turun sekitar Rp 20,000.- dalam 2 bulan terakhir.

***

Pikirkan yang Makro

Selain kita mengambil bagian kita sendiri, tentunya solusi menyeluruh perlu juga dilakukan agar anak-cucu kita kelak tidak mewarisi bumi yang rusak karena ulah nenek-moyangnya. Sebagai masyarakat pengguna internet, utamanya blogger, tugas saya dan Anda adalah terus menyuarakan kepentingan kita bersama untuk mengajak orang lain melakukan tindakan preventif terhadap kehancuran bumi di masa depan dan mendorong pemerintah kita berbuat lebih banyak agar penyelamatan dan pelestarian lingkungan dapat diupayakan secara masif dan dalam jangka waktu yang panjang. Dengan demikian, selain kemenangan kecil, kita juga boleh berharap adanya kemenangan besar bagi bumi. Sebab kalau bukan kita, siapa lagi?

Oh iya, berikut saya tampilkan lagi foto-foto dari Social Good Summit 2012 September lalu.

Apa yang telah Anda lakukan bagi bumi kita? Ditunggu sharing dan inspirasinya ya. 😀