Monthly Archives: July 2012

Memasang Target di Semester Baru

Bulan Juli sudah hampir berakhir yang berarti sudah lebih dari setengah tahun 2012 kita lewati. Masih ingatkah kita dengan resolusi awal tahun di bulan Januari lalu? Kemudian bagi anak-anak sekolah, bulan ini mereka kembali ke kelas setelah menjalani libur kenaikan kelas atau kelulusan. Di awal semester dan tahun ajaran baru ini pastilah ada harapan yang ditabur, bukan? Saya lalu mengajak siswa-siswa saya mengobrol.

Dari pembicaraan hangat yang berlangsung sore itu, terungkap bahwa siswa-siswa saya yang rata-rata duduk di kelas terakhir SMP dan SMA belum banyak memikirkan target jangka pendek, apalagi jangka panjang. Sebagai contoh, sangat mudah jika kita bertanya kepada seorang anak kecil, mau jadi apa mereka setelah besar nanti. “Pilot, dokter, insinyur, tentara, pramugrari,” adalah jawaban standar yang keluar dari mulut mereka. Tak mengapa, toh pekerjaan itu mereka anggap glamor dan patut diraih. Namun ajukanlah pertanyaan yang sama kepada anak SMP dan SMA, maka balasan yang mereka tunjukkan hanya diam, bengong, berpikir lama-lama sebelum kemudian menggelengkan kepala. Miris. 😦 Oleh karena itulah pertanyaan-pertanyaan berikut seolah menjadi wajib saya ajukan setiap kali ada kesempatan:

Nanti setelah lulus SMA kamu ingin belajar apa? Masuk ke universitas mana?

Untuk masuk ke jurusan itu, kira-kira mata pelajaran apa yang mesti diperkuat sekarang?

Saya percaya bahwa dengan menciptakan kondisi sedemikian, anak-anak saya dapat berpikir lebih panjang dan bukannya melewati hari demi hari di sekolah menatap hasil ulangan demi ulangan. Perluasan wawasan ini butuh waktu yang tidak pendek, namun jika tidak kita mulai dari sekarang, kapan lagi? Maka diskusi sore itu berlangsung hangat dan para siswa mulai merinci apa-apa saja yang ingin mereka capai di semester ini. Saya akan bagikan beberapa di antaranya. Tulisan-tulisan ini berbahasa Inggris, jadi harap maklum ya. πŸ˜€

Yvonne, 14 years old, grade 9

– Graduate

– Get higher score in the national exam and be successful

Yvette, 16 years old, grade 11

– Get at least the third rank in class

– Send my novel to a publisher (!)

– Become the leader of cinematography club in my student body

Nigel, 16 years old, grade 11

– Study hard to go to the university without having to pass the entrance exam

– Keep praying and getting closer to God

– Make as many friends as I can

– Become a doctor like my two sisters

Trudy, 16 years old, grade 11

– Get the minimum score of 85 in every subject

– Improve my photography skill so I can join the school photography activities

– Befriend all my new classmates

– Find scholarships from other countries

Sarah, 16 years old, grade 11

– Get better score and rank

– Be more mature

– Be taller

– Lose weight

– Be healthier

– Publish my fanfiction / join FF competition

– Improve the relationship with my dad

– Buy a necklace with my own savings

Menakjubkan sekali, bukan?! Adik-adik kita ini telah belajar berpikir tentang masa depan mereka sendiri dan mengambil langkah-langkah seperlunya untuk mencapainya. Ada yang jelas-jelas sudah menyatakan keinginannya menjadi wartawan, ada yang ingin menjadi dokter, psikolog, dan ahli biologi. Bedanya: dahulu mereka hanya bermimpi, sekarang mereka bermimpi, bangun, mandi air dingin, lalu pergi berjuang di sekolah!

Ngomong-ngomong, sudahkah Anda memeriksa kembali resolusi awal tahun ini? πŸ˜€

===

Sumber gambar: Reader to Reader

Advertisements

Abang-Abang Hot di Ben Thanh Market

“Ngapain ke Vietnam? Mau liat sawah? Di Makassar juga banyak kali!”

Komentar itu saya terima ketika dengan terpaksa harus menolak ajakan seorang kawan baik berkunjung ke Makassar karena saat itu saya sudah dijadwalkan pergi ke Vietnam. Terbukti memang ajakan tersebut sulit sekali untuk ditolak, oleh karena impian untuk menikmati alam Sulawesi Selatan dan mencicipi ragam kulinernya langsung di sana sangatlah menggoda. Namun apa boleh buat, jadwalnya bentrok sehingga saya mesti pasrah di-tag beragam foto kuliner Makassar selama mereka berada di sana. *sigh*

Namun curhat itu lain kali saja deh. Hati saya sekarang masih tertambat di Kamboja dan cukup sedih juga ketika akhirnya harus meninggalkan negara itu dengan menumpang bis ke Ho Chi Minh, Vietnam. Keramahan penduduk Phnom Penh masih hangat-hangatnya ketika saya pamit dari hotel, menikmati sarapan nasi dengan lauk sederhana di gang sebelah, sampai senyum tulis tukang tuktuk yang mengantar saya ke terminal bis Sorya yang letaknya tidak jauh dari Psar Thmei alias Central Market Phnom Penh.

Bis bergerak meninggalkan terminal Phnom Penh tepat pada pukul 10 pagi dan kami memulai perjalanan selama 6 jam ke Ho Chi Minh, bekas ibukota Republik Vietnam Selatan yang kini menjadi kota terbesar di negara Republik Sosialis Vietnam setelah kejatuhannya ke tangan tentara Vietnam Utara pada tanggal 30 April 1975, hanya berselang dua minggu selepas kejatuhan Phnom Penh ke tangan tentara Khmer Merah. Pukulan telak bagi Amerika Serikat kembali dirasakan dan kali ini lebih menusuk karena Amerika Serikat telah terlibat langsung dalam peperangan melawan komunis di Indocina sejak dekade sebelumnya. Lepas dari tangan Amerika, penduduk Saigon memulai hidup baru di bawah bendera komunis dan mengakibatkan banyak warganya dikirim ke kamp-kamp reedukasi ideologi.

Namun Vietnam bukanlah negara komunis yang kaku; serangkaian reformasi ekonomi pada dekade 80-90an secara perlahan tapi pasti mengubah wajah negara ini dari sebelumnya agraris menjadi negara industri baru yang tingkat persaingannya sering disandingkan dengan Cina. Kita di Indonesia pun tidak lagi memandang Vietnam dengan sebelah mata; beberapa produknya mulai memasuki pasar Indonesia dengan kualitas baik namun harga yang murah. Wajah Vietnam yang dinamis tergambar jelas sejak saya tiba di perbatasan Kamboja-Vietnam, yakni di pos Bavet – Moc Bai yang modern meski ketegangan tetap dirasakan. Meski seorang kawan dari Vietnam pernah bercerita bahwa ideologi komunis tinggal jargon-jargon yang dipelajari di bangku sekolah dan universitas dan praktis tidak tampak lagi di kehidupan sehari-hari, gerak-gerak petugas imigrasi dan bea cukai yang menyambut kami mencerminkan rasa curiga yang teramat kuat. Tidak ada lagi sogok-menyogok petugas imigrasi; semua barang bawaan harus diangkat sendiri oleh para pelintas batas. Larangan memotret tertera di mana-mana dan petugas dengan seksama memperhatikan tiap cap imigrasi asing yang tertera di paspor hijau saya. Namun meski terkesan angkuh dan dingin, prosedur ketibaan berlangsung efisien dan kami langsung digiring masuk kembali ke bis untuk melanjutkan sisa perjalanan ke Saigon.

Agustinus Wibowo dalam catatan perjalanannya di Asia Tengah pernah bercerita betapa kadar udara seolah berubah begitu kita melintasi perbatasan darat dua negara. Perasaan itu saya tangkap juga; udara berdebu di Kamboja seolah hilang begitu memasuki Vietnam dan tanah yang tadinya kering mendadak hijau oleh pepohonan rindang. Saya bagikan beberapa gambar dulu ya.

Angkutan sungai Mekong, Kamboja
Bendera Vietnam penanda batas negara telah dilewati
Pos perbatasan yang megah (Moc Bai, Vietnam)

Saigon

Tak lebih dari satu generasi lalu, Saigon adalah ibukota Republik Vietnam Selatan yang kemudian jatuh ke tangan Vietnam Utara yang komunis. Masa kekacauan pun dimulai dengan pengiriman ribuan warga ke kamp-kamp reedukasi untuk menjadikan mereka berderap maju bersama dengan saudara-saudaranya di utara. Komunis hadir dengan wajah dan wataknya yang khas: dingin, kaku, bertangan besi, dan membekap kebebasan berbicara. Propaganda bertebaran di semua media dan jalan-jalan dipenuhi slogan-slogan ideologi. Segala lini masyarakat dibekali pemahaman ideologi yang sistematis yang lalu membentuk sistem pemerintahan yang terpusat.

Namun Vietnam bukanlah negara yang menerapkan komunisme secara statis seperti Korea Utara. Sadar bahwa tetangga raksasanya di utara, Cina, sedang tumbuh menjadi raksasa baru, Vietnam pun melancarkan serangkaian gerakan reformasi ekonomi pada dekade 80-an dengan membuka pasar bebas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Hasilnya terlihat cepat: pusat-pusat ekonomi tumbuh dan Vietnam kini semakin diperhitungkan di Asia sebagai pemasok produk-produk berkualitas tetapi terjangkau. Dinamika ekonomi tersebut terasa denyutnya di Ho Chi Minh City yang tetap disebut Saigon secara informal oleh masyarakat Vietnam. Kota yang berpenduduk 7,3 juta jiwa (sensus tahun 2010) ini memiliki jalan-jalan yang bersih dan mulus; trotoarnya bersih dari sampah meski pedagang asongan berjualan di sana-sini. Transportasi bis kota tertata baik meski bis-bis yang beroperasi tanpa tua dan kusam. Jalur kereta bawah tanah sedang bersiap dibangun dan bandar udara Thanh Son Nhat yang terletak di tengah kota berencana akan dipindahkan dalam beberapa tahun mendatang ke lokasi baru yang mampu mendukung pertumbuhan Saigon hingga puluhan tahun ke depan.

Namun cobalah tengok Saigon dengan lebih seksama dan Anda akan menemukan hal-hal menarik. Selain bis kota, tukang ojek, atau yang di sini disebut ‘moto’, tetap menawarkan jasa meski tidak seganas tukang ojek di Jakarta dalam mencari penumpang. Taman-tamannya yang luas dimanfaatkan oleh warga untuk berolahraga setiap hari dan pemerintah kota menyediakan fasilitas treadmill dan sepeda statis yang bebas digunakan siapa saja. Lalu slogan-slogan propaganda komunis, meski tetap meriah di mana-mana, tampil dengan santun berhiaskan gambar para pekerja hasil kreasi lukisan atau digital; tidak ada foto-foto seremoni apalagi pasfoto narsis calon pejabat publik yang sedang berkampanye untuk meraih kursi. πŸ˜€

Berikut beberapa gambar ya:

Taman dan lajur kendaraan di seberang Istana Reunifikasi Saigon; mengingatkan kita pada keindahan Paris dan London
Jalur pedestrian yang bersih dari sampah dan bau pesing
Warga Saigon sedang berolahraga santai di taman kota
Fasilitas olahraga tersedia secara gratis di taman
Slogan propaganda hadir dengan santun

Istana Reunifikasi

Tanggal 30 April 1975 diperingati sebagai hari bersejarah bagi bangsa Vietnam dan juga Amerika Serikat. Bagi Amerika, hari itu disebut The Fall of Saigon dimana mereka akhirnya terpaksa angkat kaki setelah bertahun-tahun memerangi komunis dan meninggalkan warga yang ketakutan akan datangnya Viet Cong. Sedangkan di mata Vietnam, hari itu disebut The Liberation of Saigon yang memerdekakan kota dari tangan imperialis Barat. Gambar-gambar yang kemudian terkenal di dunia adalah helikopter Amerika terakhir yang lepas landas dari sebuah atap gedung; masih dengan para pengungsi yang antri di bawahnya. Sedangkan simbol penguasaan Viet Cong yang dielu-elukan Hanoi adalah menerabasnya dua buah tank ke Istana Kepresidenan Republik Vietnam Selatan dengan cara menabrak pagar.

Anda boleh menertawakan saya, namun kali inilah untuk pertama kalinya saya memandang sejarah dari sudut pandang baru. Kita tentu tahu bahwa sejarah ditulis oleh para penguasa menurut versi yang mereka inginkan pula. Selama ini saya selalu memandang sejarah kejatuhan / pembebasan Saigon dari sudut pandang seorang jurnalis AP yang kemudian menjadi wartawan CNN terkenal, Peter Arnett, yang meliput pergantian kekuasaan di Saigon dan lalu menulis buku Live from the Battlefield: From Vietnam to Baghdad, 35 Years in the World’s War Zones. Buku tersebut mengungkapkan fakta seputar krisis Vietnam dari sudut pandang Barat yang kemudian ‘ditumbangkan’ oleh versi Vietnam menyebut penyerbuan ke Saigon sebagai pembebasan. Foto-foto kekejaman tentara Amerika yang mengeksekusi warga sipil ditampilkan secara frontal dan tentara Vietnam dipampang secara heroik dengan aksi-aksi tank dan helikopter yang menarik, plus foto-foto bersejarah yang terjadi di seputar istana hingga era modern sekarang.

Masuklah ke dalam dan kunjungi setiap lantainya. Di bagian depan Anda akan menemukan serangkaian ruangan yang berfungsi sebagai ruang penerimaan tamu negara, ruang rapat, dan ruang kerja presiden. Di belakang Anda akan menemukan ruang-ruang pribadi keluarga presiden terakhir Vietnam Selatan yang masih tertata rapi seperti sedia kala. Sedangkan ruang bawah tanah digunakan sebagai pusat komando militer dan komunikasi dengan dunia luar. Istana ini menjadi sasaran utama pengeboman tentara Vietnam Utara dan menjadi simbol persatuan kedua negara yang tadinya terpecah karena ideologi dan pengaruh asing.

Tampak depan Istana Reunifikasi Saigon; bekas Istana Presiden Republik Vietnam Selatan
Inilah tank bersejarah tentara Viet Cong yang menerjang pagar Istana Kepresidenan Saigon, 30 April 1975
Salah satu ruang pertemuan di Istana Reunifikasi
Pemandangan di atap Istana Reunifikasi; tampak sebuah helikopter hasil rampasan perang dari Amerika Serikat yang digunakan oleh para pejabat komunis berkeliling ke daerah-daerah pasca kejatuhan Saigon. Dua lingkaran merah di dekatnya adalah titik pengeboman oleh pilot Vietnam Utara ketika masih sedang menggempur Saigon.

Notre Dame Basilica

Sekitar 2 blok di sebelah timur Istana Reunifikasi, berdiri sebuah situs bersejarah yakni Katedral Notre Dame Basilica yang dibangun oleh Perancis tahun 1863-1880. Katedral ini awalnya digunakan sebagai tempat beribadah warga Perancis di negara yang sekarang memiliki populasi Katolik terbesar kelima di Asia ini. Meski berada di bawah pemerintahan komunis, gereja Katolik di Vietnam berada di bawah naungan Gereja Katolik Roma di Vatikan dan uskup pribumi pertama ditahbiskan oleh Paus Pius XI pada tahun 1933. Bahan bangunan katedral ini seluruhnya diimpor dari Perancis dan di dalamnya terdapat tempat-tempat perhentian jalan salib yang kerap digunakan untuk berziarah menjelang Paskah. Saya bertandang ke sana sore itu dan duduk berlama-lama.

Notre Dame Basilica, Saigon, Vietnam
Bagian dalam basilika yang megah dan teduh
Beberapa ibu sedang berdoa

Saigon Central Post Office

Terletak di sisi kiri katedral Notre Dame, Saigon Central Post Office adalah bangunan bersejarah lainnya di Ho Chi Minh City. Bangunan bergaya Gothic ini dibangun pada awal abad ke-20 oleh arsitek Perancis yang sangat terkenal yang membangun Menara Eiffel, yakni Gustave Eiffel. Hingga hari ini gedung tersebut masih menjalankan fungsinya sebagai kantor pos dan juga merupakan tempat berburu souvenir Vietnam yang cantik-cantik. Terdapat pojok penukaran mata uang asing meski nilai tukarnya jelek dan dilayani oleh petugas jutek. πŸ˜›

Central Post Office, Saigon, Vietnam (sumber: Wikipedia)
‘Paman Ho’ mengawasi dari atas!
Bangunan ini masih berfungsi sebagai kantor pos hingga sekarang

Ben Thanh Market

Ini adalah pasar tertua di Saigon; awalnya tumbuh secara tradisional di tepi Sungai Saigon sekitar abad ke-17. Setelah sempat dipindahkan ke lokasi lain dan terbakar, akhirnya pasar ini dipindahkan ke lokasinya yang sekarang pada tahun 1912 dan menjadi salah satu atraksi turis di Saigon. Yang saya sukai dari pasar ini, sama halnya dengan Central Market di Phnom Penh adalah jalur-jalur untuk para pembeli cukup lebar sehingga kita dapat melihat barang-barang yang dijajakan dengan nyaman. Para pedagang pun tidak sampai tumpah-ruah ke tengah jalur sehingga menyulitkan konsumen bergerak. Yang lebih penting lagi: kondisi pasarnya sangat bersih dari sampah dan tidak ada bau pesing dan busuk menyengat, pun ketika saya menjelajahi los buah-buahan, sayur-mayur, dan bumbu dapur. Memang pedagang yang menjual kebutuhan sehari-hari tidak banyak dan sepertinya pasar ini lebih fokus sebagai pasar suvenir. Barang-barang di sini pun murah dan kita bisa tawar-menawar sampai hampir setengah harga.

Yang membuat saya selalu malu dan kikuk setiap kali memasuki pasar adalah para pedagang selalu ramah menyambut saya, “Abang, Abang, tengok sini Bang. Murah-murah, banyak warna.” Gaya mereka memanggil ‘Abang’ bukan seperti kita memanggil tukang nasi goreng di Jakarta, melainkan dengan gaya manja lengkap dengan cengkok Melayu yang khas, “Abaaaang.”Β Jadilah saya merasa seperti abang-abang Melayu yang hot di seluruh pasar. *ditimpuk* πŸ˜€

Ya, saking banyaknya turis Malaysia ke mari, terkadang kita bisa tawar-menawar dalam Bahasa Indonesia juga. Hehehe.

Ben Thanh Market (sumber: Wikipedia)

===

Informasi Umum

Visa

Warga Negara Indonesia bebas visa masuk ke Vietnam selama 30 hari baik melalui pintu udara maupun darat.

Transportasi

Bis internasional dari Phnom Penh seharga USD 10 sekali jalan dengan waktu perjalanan 6 jam. Bis tersebut akan berhenti di distrik 1 Jalan Pham Ngu Lao, yang merupakan area turis. Transportasi lokal menggunakan bis dan moto (ojek). Sayangnya saya tidak sempat mencobanya sehingga tidak tahu harga. Ongkos taksi dari Pham Ngu Lao ke bandara sekitar USD 9, 30 menit perjalanan (tergantung kondisi lalu-lintas juga).

Penginapan

Pham Ngu Lao! Silakan lempar batu ke mana saja, bangunan yang terkena lemparan pasti hotel murah. Harga kamar di kisaran USD 6-15. Kamar tersebut sudah ber-AC dan fasilitas memadai. Jauh lebih murah dibandingkan Jakarta!

Makanan / Minuman

Vietnam terkenal dengan mie putih-nya yang khas. Minuman yang terkenal tentunya Kopi Vietnam. Ada pula roti baquet yang lazim dinikmati untuk sarapan dan praktis tersedia di banyak stand pinggir jalan dengan harga 20,000-an dong. Rata-rata kios makanan menghidangkan babi, jadi para pelancong Muslim harap berhati-hati.

Nilai tukar mata uang

USD 1 = 20,000 dong. Berarti Rp 1 hampir setara 2 dong, cukup mudah menghitungnya. Tinggal membagi dua segala harga di Vietnam, kita mendapatkan nilai rupiahnya. Pembayaran selalu dalam mata uang dong; dollar hanya digunakan ketika membayar hotel. Pastikan Anda sudah menghabiskan nominal di bawah 10,000 dong karena uang receh tersebut tidak dapat ditukar di money changer Indonesia. Pedagang valuta asing di Bekasi hanya menerima uang baru dong yang terbuat dari plastik (mirip uang plastik Rp 100,000.- dahulu).

Walking tour

Semua objek wisata yang saya ceritakan di atas dapat dicapai dengan berjalan kaki dari Jalan Pham Ngu Lao; petunjuk arah dapat dengan mudah Anda dapatkan dari pihak hotel. Ada pula objek wisata gua perlawanan terhadap tentara Amerika yang terletak di luar kota, namun sayangnya saya tidak sempat pergi ke sana.

Pada dasarnya, Saigon tidak memiliki banyak objek wisata dan cepat membuat Anda ‘mati gaya.’ Jadi sempatkan Anda mampir beberapa hari di sini, namun setelah itu segeralah bergerak ke kota lain.

Membuang Celana di Laos

Ahey! Judul postingan di atas memang kurang ajar banget. Bagaimana bisa ke sana hanya untuk membuang celana? OK, memang agak melebih-lebihkan sih. πŸ˜€

Setelah menghabiskan seharian penuh di Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja, saya lalu menyusun rencana berikutnya. Ada 2 pilihan: kembali ke Phnom Penh untuk meneruskan perjalanan ke Vietnam, atau mencoba menjejakkan kaki di Laos. Sebenarnya kami agak waswas dengan rencana ke Laos. Betapa tidak, situasi perbatasan Kamboja-Laos berubah setiap waktu terutama urusan visa. Belum lagi urusan suap-menyuap dengan petugas imigrasi yang memusingkan untuk alasan yang sangat sepele: tiba di perbatasan hari Minggu sehingga mereka harus lembur tanpa dibayar pemerintah. Aaargh. Lalu tiket bis yang bukan-main mahalnya dan sepertinya akan menguras isi dompet dalam-dalam.

Namun terdorong oleh kalimat, “Kapan lagi ke Laos?!” dan nafsu narsis mendapatkan cap imigrasi negara yang tidak memiliki laut di Indocina itu di paspor Indonesia, dengan komat-kamit membaca doa sambil menyemangati diri sendiri, akhirnya tiket bis Siem Reap – 4000 Islands pun dibeli. Hajar, mumpung masih muda. Kami pun berjanji untuk saling melindungi dalam keadaan bahaya. #lebaysangat

Four Thousand Islands, Laos

Loh kok bisa? Bukannya Laos terkurung oleh negara-negara lain sehingga tidak punya laut? Ya, memang Laos adalah satu-satunya negara anggota ASEAN yang tidak memiliki laut oleh wilayahnya dikelilingi oleh negara-negara lain yakni Cina, Kamboja, Vietnam, Thailand, dan Myanmar. Namun demikian, Sungai Mekong yang tenang, lebar, dan dalam mengaliri sepanjang perbatasan sebelah barat negara berpenduduk 6,5 juta jiwa ini; bahkan ibukota negaranya, Vientiane, juga terletak di tepi Sungai Mekong dan berbatasan langsung dengan Thailand. Sebagai wilayah yang sebagian besar terdiri atas pegunungan, Laos mengalami sejarah panjang pendudukan silih-berganti oleh kekuatan-kekuatan besar negara tetangga seperti Birma, Champasak, Cina, dan Siam sebelum akhirnya dijajah Perancis selama 60 tahun semasa 1893-1953. Selama kurun waktu 22 tahun berikutnya hingga 1975, Laos menikmati kemerdekaan sebagai kerajaan sampai akhirnya Pathet Lao, organisasi komunis di Laos yang dibekingi Vietnam dan Uni Sovyet, berhasil menggulingkan pemerintahan dan memaksa Raja Sisavang Vong turun tahta. Sejak saat itu hingga sekarang, negara ini menyandang nama Lao People’s Democratic Republic (Lao PDR) berideologi komunis dan berafiliasi ke Vietnam dan Uni Sovyet. Hubungan diplomatik dengan Cina terputus pada tahun 1979 yang lalu memancing embargo ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara lain.

Kembali ke Four Thousand Islands atau yang disebut Si Phan Don oleh warga setempat, ‘kepulauan’ ini pada dasarnya adalah titik-titik daratan yang menyebar di Sungai Mekong di ujung paling selatan negara tersebut. Pulau-pulau di Sungai Mekong ini menjadi surga para pelancong yang ingin menikmati keindahan dan ketentraman sungai, mengunjungi air terjun terbesar di Asia Tenggara, atau menengok Lumba-Lumba Irrawady, yakni lumba-lumba air tawar yang sangat langka. Aktivitas utama di daerah ini tentunya berputar pada olahraga air seperti tubing dan kayaking, atau, yang paling utama, bersantai seharian tanpa melakukan apapun kecuali leyeh-leyeh di atas hammock sambil memandangi sungai.

Ada beberapa titik di Si Phan Don yang menjadi pusat kunjungan turis; yang terbesar adalah Don Khong (pulau terbesar) dan paling maju fasilitasnya. Titik lainnya yang juga populer dan justru lebih dekat ke atraksi sungai adalah Don Det, meski daerah ini fasilitasnya belum semaju Don Khong dan listrik 24 jam juga tersedia baru-baru ini saja.

Been There, Don Det

Perjalanan yang panjang itu dimulai dari Siem Reap, Kamboja, dimana kami dijemput di penginapan jam 5 pagi untuk selanjutnya diantar ke pool bis yang lokasinya tidak jauh dari Psar Chaa (Old Market). Tidak ada bis langsung dari Siem Reap ke Laos; kami harus menaiki bis yang kembali ke arah Phnom Penh namun transit di Skuon, sekitar 1 jam perjalanan ke utara dari Phnom Penh, untuk selanjutnya berganti ke bis internasional Phnom Penh – Laos yang menyusuri National Highway 7 ke arah utara hingga perbatasan Dong Kralor – Veun Kham. Lama perjalanan hingga ke perbatasan kurang lebih 11 jam diselingi istirahat makan siang. Tidak banyak yang menarik untuk disimak, kecuali ibu-ibu pelayan restoran jutek yang tidak mau menerima uang Riel yang kami tawarkan meski nilai tukarnya sama. Menyebalkan, padahal itu mata uang negaranya sendiri. Akhirnya ia mau juga menerima uang Riel dari saya meski lalu dicampakkan begitu saja ke laci kasir. Huh!

Namun ada juga beberapa pemandangan menarik di perjalanan, utamanya barang-barang yang dibawa penduduk ketika melakukan perjalanan. Biarkan beberapa gambar saja yang bercerita ya:

Bis tingkat Phnom Penh-Laos
Ibu-ibu penjual roti baguet & bunga teratai untuk persembahan
Kejutan pertama: sepeda motor diikat di belakang mobil Elf untuk dibawa dalam perjalanan jauh =)) (Agak kurang jelas karena saya diawasi ketat ketika mengambil gambar)
Kejutan kedua: batu bata yang disusun di bagian belakang mobil =))

Menakjubkan sekali melihat apa saja yang dibawa penduduk di bagian bagasi ketika melakukan perjalanan jauh. Umumnya pintu belakang tetap dibuka agar barang-barang besar bisa diikat begitu saja di situ tanpa pengaman lebih kuat. Bis yang kami naiki dipenuhi oleh para turis saja; warga lokal lebih memilih menumpang Elf seperti yang tampak pada gambar di atas. Harga tiketnya lebih murah, namun bersiaplah duduk bersama tumbuh-tumbuhan dan hewan selain juga para penumpang yang berhimpitan di kanan-kiri-depan-belakang Anda. πŸ˜€

Dari perbatasan Kamboja-Laos, kami memutuskan untuk turun di perhentian pertama yang berjarak 5 kilometer dari perbatasan, yakni Nakasang. Pos Nakasang terletak sederhana di pinggir jalan utama. Kemudian kami dijemput dengan pickup gratisΒ (sudah termasuk dalam harga tiket bis) dari pelabuhan untuk selanjutnya diantar dengan perahu motor ke Don Det, sekitar dua puluh menit perjalanan membelah sungai Mekong yang sore itu airnya nampak keruh meski tidak pekat.

Musibah terjadi dalam perjalanan ini. Ketika saya sedang bergerak di dalam bis, tiba-tiba kantong celana lutut kanan saya tersangkut kursi dan PREEEET!! Terdengar bunyi robekan yang menghasilkan bukaan besar mulai dari paha ke lutut. Celaka, sementara backpack besar saya ditaruh di bagasi lantai bawah bis sehingga tidak bisa diambil. Terpaksalah sepanjang sisa perjalanan dan menyeberang perbatasan saya lalui dengan mengenakan celana robek tersebut. Paha yang cukup banyak rambutnya itu pun dipamerkan kemana-mana. πŸ˜€ Beruntung cuaca sore itu cerah dan sisa perjalanan sangat menyenangkan sampai akhirnya kami menjejakkan kaki di Don Det, salah satu pulau yang populer sebagai tujuan wisata ke air terjun dan titik terdekat untuk menyaksikan lumba-lumba air tawar.

Membelah sungai Mekong dengan perahu motor. Bukan, pria narsis berkacamata itu bukan saya. Masih gantengan gue kemana-mana =))
Senja di pantai Don Det, sungai Mekong, Laos

Ketika tiba di pantai Don Det dan kami mulai berkeliling mencari penginapan, seketika saya disuguhi pemandangan yang, saya anggap, biasa saja. Sungai Mekong tak ubahnya dengan Sungai Siak yang membelah kota Pekanbaru yang pernah saya kunjungi pula. Suasana alam senja yang mulai ditingkahi jangkrik, lenguhan sapi dan celotehan ayam, serta percakapan turis-turis yang sedang bersantai tiba-tiba membuat saya malas menjelajah lebih jauh karena kami juga harus memikirkan jadwal ke tempat lain. Begitu akhirnya badan ini rebah ke tempat tidur di penginapan, yang pertama kali kami suarakan dengan serempak adalah: “BALIK KE KAMBOJA YUUUK!”Β *gubrak*

Malam itu kami habiskan dengan makan-malam dan menjelajah kampung Don Det. Suara televisi yang sedang menayangkan sinetron Thailand terdengar di mana-mana. Niat ingin ke warnet kami urungkan setelah mengecek tarifnya 24,000 kip / jam (setara Rp 24,000 di Indonesia). Beruntung malamnya hujan turun deras sehingga udara tidak terlalu panas. Kami mendapat kamar bungalow yang sederhana di tepi sawah; sesuatu yang mungkin bagi orang bule sangat eksotis namun kami pandang dengan sebelah mata karena terus-menerus membandingkannya dengan keindahan sawah di Indonesia. Oke, saya memang agak arogan di Laos karena seharusnya lebih rendah hati dalam memandang alam dan masyarakat sekitar. Namun saya menyadari bahwa ini bukanlah Laos yang sebenarnya; saya sedang berada di sebuah kampung turis dengan penduduk lokal yang pekerjaan utamanya melayani tamu. Oleh karena itu kami anggap kunjungan di Laos sebaiknya ditunda saja lain kali agar dapat menyaksikan daerah lain dengan lebih seksama. Dalam pikiran saya malam itu hanyalah: kembali ke Phnom Penh, lalu terus ke Vietnam.

Pagi pun tiba. Tanpa membuang waktu kami bergegas ke pantai untuk menaiki perahu yang membawa kami kembali ke Nakasang. Melihat si celana robek yang semalam saya gantungkan di pagar bungalow, saya pun memutuskan untuk meninggalkannya di sana. Akhirnya, saya pikir, ada juga gunanya ke Laos: membuang celana robek πŸ˜€

Perjalanan ke Phnom Penh lebih panjang lagi, kami tempuh selama hampir 13 jam. Di perbatasan Laos-Kamboja kami turun bis dan berjalan-jalan. Dasar bodoh, kami iseng kembali melangkah ke arah Laos diiringi pandangan tajam dari petugas perbatasan kedua negara. Pandangan tajam tersebut melunak ketika saya berbicara dengan sopan meminta izin berfoto. Perjalanan kembali dari palang pintu Laos ke palang pintu Kamboja jaraknya hanya 100 meter namun terasa berhari-hari. Jarak 100 meter ini adalah daerah tak bertuan dan kami tak memegang paspor karena sedang diurus petugas bis. Tindakan yang entah pandai atau bodoh. 😦

Berikut foto-foto saat kembali ke Kamboja:

Lalu-lintas Don Det-Nakasang cukup sibuk di pagi hari
Halo! Cini cini cini! Unyuuuu *cubit* (Nakasang, Laos)
Petugas karantina Kamboja menyemprotkan pembasmi kuman sebelum bis memasuki negara itu
Keluarkan aku dari Laooooos! *panik*
Cambodia, Thank God! *sujud syukur cium tanah*
Motor yang diikat di belakang mobil. Kali ini gambarnya lebih jelas. πŸ˜€

Informasi Umum

Visa

Pemegang paspor Indonesia tidak dikenakan visa untuk memasuki Laos melalui perbatasan ini. Info selengkapnya di sini.

Β Tiket Bis

Harga tiket Siem Reap-4000 Islands adalah USD 24. Sedangkan tiket 4000 Islands-Phnom Penh seharga USD 27. Tiket tersebut sudah termasuk penjemputan pickup di Nakasang dan ongkos penyeberangan sungai dengan perahu motor. Di Siem Reap, tiket dapat dibeli di agen perjalanan terdekat atau tempat penginapan; harganya bervariasi, oleh karena itu jangan segan-segan mencari tiket termurah.

Jalur Siem Reap-Laos mengharuskan penumpang transit di Skuon, sedangkan jalur Laos-Phnom Penh dapat ditempuh sekali jalan saja. Tidak perlu berganti bis di perbatasan dan urusan imigrasi dilaksanakan oleh petugas bis.

Penginapan & Makan

Terdapat banyak opsi penginapan di Don Det dengan harga bervariasi mulai dari 50,000 kip per malam. Harga tersebut sudah mendapatkan kamar cukup baik berupa bungalow dengan kamar mandi di dalam dan kelambu penghalang nyamuk. Makan malam di restoran cukup baik dan murah, berkisar di harga 25,000 kip.

Saya tidak melihat opsi makanan halal bagi yang Muslim. Memang ada restoran India di kampung tersebut namun saya tidak mengecek lebih lanjut.

Komunikasi

Tarif warnet sangat mahal dengan koneksi sangat lambat; lupakan saja. Karena hanya singgah semalam saya tidak membeli SIM Card lokal. Namun sinyal provider Hello Axiata dari Kamboja masih tertangkap dengan cukup baik mengingat letak Don Det masih di perbatasan dengan Kamboja. Atau bisa juga kita mengaktifkan SIM Card Telkomsel yang memiliki kerjasama roaming dengan Laotel.

Nilai tukar

USD 1 = 7950 kip. Namun demi kemudahan membandingkan harga, saya anggap saja 1 kip = Rp 1. Berbeda dengan Kamboja, semua transaksi di Laos wajib menggunakan mata uang lokal kecuali pembelian tiket bis internasional. Kita dapat menukar uang di pool bis Nakasang meski nilai tukarnya sangat jelek.

Perayaan Waisyak di Angkor Wat

Setelah menempuh enam jam perjalanan dengan bis dari Phnom Penh, saya tiba di kota Siem Reap yang terletak di sebelah barat laut Kamboja. Tujuan utama para turis datang ke Siem Reap adalah untuk mengunjungi Angkor, sebuah kompleks candi Hindu dan Buddha terbesar di dunia. Kompleks candi di Angkor adalah sumber inspirasi yang luhur bagi budaya Khmer dan menjadi pusat kegiatan agama selama berabad-abad. Tidak seperti Borobudur yang ditinggalkan selama ratusan tahun akibat letusan Merapi dan kemudian ditutupi tanah sehingga menjadi bukit, Angkor tidak pernah dikosongkan dan selalu digunakan sebagai tempat ibadah sejak didirikannya pada awal abad ke-12 hingga sekarang.

Semua brosur pariwisata Siem Reap dan Angkor selalu menyebutkan bahwa waktu terbaik untuk mengunjungi kompleks candi Hindu ini adalah pada saat perayaan Waisyak. Loh, kok umat Buddha merayakan Waisyak di candi Hindu?!

Namun memang begitulah adanya. Setelah mengalami pasang-surut kekuasaan selama berabad-abad, pelan-pelan fungsi Angkor Wat berubah dari awalnya candi Hindu menjadi tempat ibadah umat Buddha. Kompleks Angkor tidak dibangun secara bersamaan; setiap candi dibangun oleh raja yang sedang berkuasa saat itu untuk dipakai sebagai tempat ibadah pribadinya. Jadi Angkor Wat, meski berbentuk mirip kota, sebenarnya adalah kumpulan tempat ibadah yang boleh jadi terbesar di dunia!

Saya tiba di Siem Reap sebenarnya tanpa memperhitungkan waktu khusus. Awalnya memang saya sudah mendengar bahwa saat terbaik untuk mengunjungi Angkor adalah waktu Waisyak. Nah, betapa terkejutnya saya ketika melihat kalender dan mendapati tanggal kunjungan saya ke sana bertepatan dengan perayaan terbesar umat Buddha itu! Trisuci Waisyak adalah tiga rangkaian perayaan sang teladan Siddharta Gautama yang bertujuan mengenang kembali kelahiran, pencapaian pencerahan, dan wafatnya beliau. Kalau umat Buddha di Indonesia memusatkan perayaan Waisyak di Candi Borobodur, maka umat Buddha di Kamboja berbondong-bondong datang ke Angkor Wat dan berdoa di sana selama seminggu penuh dan mencapai puncaknya pada malam perayaan Waisyak. Ratusan, bahkan ribuan, biksu laki-laki berjubah oranye dan biksuni perempuan berjubah putih berkumpul di pelataran candi semalam-suntuk dan melantunkan doa-doa khusyuk. Bulan sedang purnama, menerangi jalan dan jembatan berbatu yang ramai ditapaki peziarah dan wisatawan yang datang menyaksikan ritual ibadah sekaligus menunggu matahari pagi. Mantra-mantra bersahutan tiada henti; kebanyakan dalam Bahasa Khmer yang tidak saya mengerti meski lamat-lamat ada pula mantra dalam Bahasa Cina dan Sansekerta yang bisa tertangkap. Perasaan khidmat memenuhi udara.

Ketika akhirnya matahari terbit pelan-pelan dari balik candi, kamera para turis sontak mengarah ke sumber cahaya. Sayangnya cuaca mendung menghalangi piringan keemasan tersebut dari pandangan mata. Namun kekecewaan segera terganti oleh ritual umat Buddha berikutnya. Dengan berbaris rapi mereka meninggalkan candi lalu berkumpul di pelataran parkir depan. Setelah briefing dan berkat oleh pandita, barisan biksu berjubah oranye kembali berbaris rapi meminta sumbangan dari umat Buddha yang hadir sambil memanggul mangkuk tanah liat di dada mereka. Kebanyakan dari para biksu tersebut masih anak-anak dan remaja yang berjalan didampingi sanak-keluarga mereka. Setiap orang yang mereka lewati bersedekap lalu memberikan sumbangan berupa uang dan makanan. Berapa banyak sumbangan yang mereka terima? Bagi Anda yang merayakan Idul Fitri atau Imlek, kira-kira berapa uang perayaan yang Anda terima?! Saya yakin itu tidak ada bandingannya dengan jumlah uang yang diterima para biksu itu. πŸ˜€ Mangkuk besar mereka dengan cepat menjadi penuh dan berat sehingga para sanak-keluarga yang mendampingi harus senantiasa memindahkan uang dan barang-barang tersebut ke karung. Lalu karung pertama penuh, berganti ke karung kedua, dan seterusnya. Saya hanya bisa terbelalak menyaksikan betapa tulusnya umat Buddha yang hari itu menjalankan ibadah terpenting di tahun ini.

Matahari terus merambat naik dan panasnya mulai menyengat. Rasanya saya menelan debu dan keringat begitu banyak sehari penuh dan sangat melelahkan. Namun balasannya setimpal: kuil-kuil yang tersembunyi di hutan menawarkan kemegahan abadi. Candi-candi kokoh yang bertarung dengan pohon-pohon beringin perkasa yang menjadi inspirasi begitu banyak fotografer hingga sutradara film Tomb Raider yang membawa Angelina Jolie ke sana.

Angkor Wat kerap disandingkan kemegahannya dengan Borobudur dan itu tidaklah berlebihan. Usaha promosi pariwisata yang menggabungkan keduanya menjadi satu paket telah mulai dilaksanakan meski masih minim. Jalur penerbangan Siem Reap – Yogyakarta mulai dijajaki. Orang-orang Indonesia, meski masih sedikit, mulai berdatangan ke sana. Jadi, jika Anda sudah pernah ke Borobudur, kini saatnya Anda merencanakan perjalanan ke Siem Reap.

Selanjutkan biarkan beberapa gambar saja yang bercerita. Simak pula Informasi Umum yang tertera di paling bawah.

Tuktuk di Siem Reap termasuk mewah dibandingkan Phnom Penh
Salah satu sudut kota Siem Reap
Tarian tradisional Khmer di Pasar Malam Siem Reap
Angkor Wat sesaat sebelum matahari terbit
Altar perayaan Waisyak, Angkor Wat
Selamat Hari Raya Waisyak πŸ™‚
Barisan para biksu
Para biksuni pun tidak ketinggalan
Biksu muda menerima persembahan dari umat
Mereka menunduk karena dilarang memandangi lawan jenis. Namun matanya fokus ke mana tuh ya? πŸ™‚
Mangkuknya penuh uang! πŸ™‚
To Phrom, salah satu kuil di kompleks Angkor yang bertarung dengan pohon beringin. Sudut ini sangat terkenal karena pernah dipakai shooting film Tomb Raiders yang dibintangi Angelina Jolie
Papan penanda bahaya di hutan. Di Kamboja umumnya itu berarti: RANJAU!
Bolehlah narsis sedikit di bawah puncak Angkor πŸ™‚

Informasi Umum

Transportasi Umum: Siem Reap dapat dicapai dengan bis dari Phnom Penh dengan harga tiket USD 6-7 sekali jalan (6 jam). Bis berangkat dari beberapa pool di kota Phnom Penh, tergantung perusahaan yang melayani.

Untuk berkeliling kota Siem Reap, ongkos tuktuk umumnya USD 2 sekali jalan. Sedangkan untuk berkeliling Angkor seharian penuh, ongkosnya USD 15. Si abang tuktuk akan menjemput kita di penginapan jam 4.30 pagi, oleh karena itu pastikan Anda sudah mendapatkan sewa tuktuk sehari sebelumnya. Selain tuktuk, tersedia pula layanan taksi dengan ongkos jauh lebih mahal, atau penyewaan sepeda dengan ongkos USD 5 / hari.

Penginapan: Ada banyak penginapan berbagai kelas di Siem Reap. Saya merekomendasikan Jasmine Lodge, National Highway 6, Tel 063-760697, www.jasminelodge.com. Pemiliknya yang bernama Khun akan menyambut kita dengan ramah dengan Bahasa Inggris yang cukup baik. Luangkan waktu untuk berbincang-bincang dengannya. Khun mempunyai jaringan komunitas yang baik di Siem Reap di samping mengelola sebuah sekolah dasar di kampung halamannya.

Panduan Umum Angkor Wat

Dengan jumlah candi sekitar 80 buah, sangat sayang bila Anda tidak berlama-lama di Siem Reap. Namun jika memang tidak banyak waktu, kuil-kuil utama di Angkor dapat dijelajahi seharian penuh. Ada tiga macam tiket masuk: USD 20 (1 hari), USD 40 (3 hari), USD 60 (7 hari). Tiket dapat dibeli di gerbang masuk Angkor dengan menunjukkan paspor. Anda akan diambil foto yang akan tercetak di tiket. Jaga baik-baik tiket tersebut karena akan diperiksa di candi-candi utama. Beberapa candi kecil tidak ditunggui petugas tiket, namun jika Anda ketahuan menyusup masuk, Anda akan dikenakan denda.

Bersiaplah terkena panas matahari terik. Bawalah topi, kacamata hitam, dan persediaan air secukupnya. Makan siang di Angkor cukup mudah didapat karena tersedia banyak warung makan dan restoran.

Disiplinkan diri Anda untuk tetap berjalan di jalur-jalur setapak yang ditandai. Jangan sekali-kali keluar ke semak-semak karena, seperti umumnya di Kamboja, masih banyak ranjau darat bertebaran di mana-mana termasuk di sekitar Angkor.