#PapuaTrip 4: Berjumpa Pengajar Muda

“Adakah blogger di Fakfak?”

Demikian ceracau saya di Twitter pada pertengahan November lalu beberapa hari sebelum berangkat ke Papua Barat untuk sebuah pekerjaan. Sebagaimana lazimnya blogger, apalagi yang bergiat di komunitas blogger, kopdar dengan sesama blogger di berbagai daerah adalah hiburan tersendiri sekaligus mempererat persaudaraan dengan sesama anak bangsa. Namun sepertinya sulit sekali menemukan blogger di Papua Barat. Yang saya kenal hanyalah 2 orang blogger dari Jayapura, Provinsi Papua dan mereka berkata bahwa blogger di wilayah Papua memang sedikit dan tidak ada komunitasnya. Apalagi Fakfak? Belum pernah dengar ada blogger dari sana. Lagipula daerah yang saya tuju kali ini adalah Karas, kepulauan terpencil di Fakfak yang tidak ada sinyal teleponnya.

Maka saya melupakan keinginan bertemu blogger lokal dan lalu berangkat. Setelah menyelesaikan segala pekerjaan dan menikmati keindahan laut dan pulau-pulaunya, pada hari terakhir sebelum pulang ke kota Fakfak saya menyempatkan diri sekali lagi untuk mendarat di Tarak dan berkunjung ke sekolah yang ada di ujung utara kampung tersebut. Sekolah sedang libur pada hari itu sehingga saya hanya menemukan dua ruangan kosong. Berikut beberapa gambar SD Negeri Tarak:

SD Negeri Tarak dengan 2 kelas di kiri-kanan
Kelas kosong (gambar diambil dari jendela, ceritanya ngintip)
Mading sekolah yang berisi tulisan anak-anak & surat sahabat

Kopdar yang tak disangka-sangka

Dengan dipandu seorang ibu muda, saya diantar menuju rumah Bapa Desa di mana di situ tinggal juga seorang Pengajar Muda dari program Indonesia Mengajar. Setelah sebelumnya hanya mendengar sepintas tentang program ini, saya menjadi tertarik untuk bertemu langsung dengan pengajar tersebut di tempat tugasnya. Saya diterima oleh istri Bapa Desa yang langsung mengantar saya ke ruang tengah rumah dan bertemu dengan Bapa Desa dan sang Pengajar Muda sendiri yang sedang santai berdiskusi dengan bapak angkatnya. Namanya Arif Lukman Hakim, pemuda lulusan FE UGM yang pagi itu santai bersarung menerima saya dengan tangan terbuka dan senyum lebar. Setelah basa-basi dan menyatakan maksud kedatangan saya tiba-tiba ke rumah dan memperkenalkan diri sebagai blogger, senyumnya tambah lebar dan menyahut, “Saya Kompasianer.” Ahaaaaa!!!!!!

Lulusan UGM tahun 2010 asal Brebes yang pernah membaktikan diri pada pengungsi Merapi ini mengaku partisipasinya pada program ini terjadi begitu saja di sebuah warnet dan tanpa berpikir panjang Arif langsung mendaftar. Setelah melalui proses seleksi dan pelatihan yang kesemuanya memakan waktu sekitar 5 bulan, Arif ditempatkan di Tarak sebagai Pengajar Muda. Hari pertama masuk kelas tentunya mendebarkan, namun perasaan excited lebih menguasainya dan proses adaptasi dengan murid-murid, rekan guru lokal, dan masyarakat desa berlangsung baik.

Sekolah Tertinggal?

Impresi sebagai sekolah tertinggal di daerah yang tertinggal pastinya selalu melekat pada sekolah-sekolah seperti di Tarak ini. Memulai perjalanannya sebagai Sekolah YPK Karas yang diparalelkan dengan kampung sebelah, SD ini mendapat gedung permanen dan menjadi sekolah negeri pada tahun 2007. SD Negeri Tarak kini ditempati 100 anak dari desa Tarak yang terbagi ke dalam enam kelas. Jumlah siswa kelas 1 paling banyak yakni 30 orang sedangkan kelas 6 hanya 12 orang. Namun angka ini justru paling menggembirakan sebab jika dibandingkan dengan kampung lain yang anak kelas 6 SD-nya hanya 2 orang, jumlah itu menunjukkan bahwa tingkat partisipasi anak untuk bersekolah sangat tinggi. Hampir semua anak Tarak bersekolah, kecuali beberapa yang kerap diajak orang tuanya berlayar ke Maluku sehingga sekolahnya pindah atau putus.

Tingkat kehadiran sehari-hari juga tinggi meski belum 100%. Angka kehadiran menurun saat musim tertentu seperti panen pala dan anak-anak diajak orang tua mereka memetik pala. Namun berbeda dengan anggapan orang umumnya, Arif menegaskan bahwa tingkat intelegensia anak-anak ini cukup baik meski ada beberapa anak yang kurang. Indikator yang Arif pakai sederhana, misalnya Arif mewajibkan perkalian atau operasi hitung campuran sebelum anak-anak pulang sekolah. Dalam beberapa detik setelah soal dibacakan, sekitar 5 anak langsung mengangkat tangan mereka. Meski demikian Arif mengakui bahwa karena anak-anak ini tinggal terlalu dekat dengan alam, pelajaran yang disampaikan secara konvensional di kelas hampir pasti selalu dilupakan ketika keluar kelas sehingga Arif harus memutar otak dalam cara pengajaran. Dalam Matematika, misalnya, cara yang kerap digunakan adalah melakukan perhitungan dengan menggunakan biji pala. Pelajaran IPA dapat disampaikan di pantai sambil mengamati pepohonan dan lautan. Pelajaran IPS dengan topik sumber daya alam dan laut teritorial pun disampaikan dengan apik dengan alam sebagai latar belakangnya.

Kearifan Lokal

Nilai-nilai kearifan lokal, itulah yang selalu ditekankan Arif pada murid-muridnya. Misalnya jika anak-anak ingin terus makan ikan dari laut, apa yang harus dijaga? Dengan pelan-pelan memberikan pemahaman seperti itu, anak-anak terpacu untuk berpikir kritis untuk menjaga lautan dengan cara menjaga terumbu karang, tidak menggunakan potas (racun) dalam mengambil ikan, dan tidak membuang sampah ke laut. Hasilnya apa? Tentu sekarang belum terlihat. Seperti yang saya pun amini, pendidikan anak memang seolah jalan di tempat karena hasilnya belum terlihat besok; butuh kesabaran panjang untuk menyaksikan pendewasaan pemikiran dan perilaku mereka di masa datang dan melihat benih yang kita tanamkan dulu sudah berkembang. Namun paling tidak hari ini sudah ada cerita sederhana yang menyejukkan: Arif pernah ‘mencuri dengar’ seorang anak yang memperingatkan kawan-kawannya untuk tidak membuang sampah ke laut.

Selain kegiatan belajar-mengajar, anak-anak juga diajak untuk menulis dan menyumbangkan tulisan mereka ke majalah dinding sekolah. Dengan memanfaatkan jaringan blogger, Arif juga membuka korespondensi antara anak-anak Tarak dan rekan-rekan pelajar di belahan bumi lain melalui ‘Surat Sahabat’. Baru-baru ini murid-murid SD Negeri Tarak juga mendapat kesempatan emas, yakni mempersembahkan tarian tradisional pada sebuah pergelaran di kota Fakfak yang sekaligus menjadi tonggak bersejarah bagi sekolah tersebut; pertama kalinya anak-anak dari kepulauan terjauh tampil di arah tingkat kabupaten.

Meski berada di distrik terjauh di Fakfak, para orang tua di Tarak boleh berbangga karena mampu melanjutkan pendidikan anak-anak mereka. Dalam 2 tahun terakhir, 100% lulusan SDN Tarak melanjutkan ke SMP di distrik atau di kota meski dengan risiko meninggalkan keluarga dan harus tinggal di kamar-kamar kontrakan oleh karena tidak mungkin menempuh perjalanan setiap hari dengan perahu. Dari SMP, sebagian dari mereka juga terus melanjutkan ke SMA di kota. Semua aktivitas dan pengorbanan ini seolah hendak membuka mata anak bahwa meski sekolah ini tertinggal secara fasilitas, masih ada dunia lain di balik laut dan bukan tidak mungkin bagi mereka untuk meraih mimpi setinggi angkasa.

Berikut beberapa gambar sekolah yang diambil dari koleksi foto Arif.

Suasana kelas 4,5, dan 6 di SDN Tarak
Berbaris setiap pagi sebelum masuk kelas
Ana-ana sedang nonton apakah?!
Mari Menggapai Cita-cita Setinggi Langit
Weits, blogger di mana-mana kalo kopdar mesti narsis, bukan?!

Jadi bagaimana, adakah yang ingin mengikuti jejak Arif menjadi Pengajar Muda? Angkatan ke-4 sudah membuka pendaftarannya dan ditunggu paling lambat 17 Desember 2011. Simak syarat dan ketentuannya di sini.

Terakhir, saya ingin membagikan sebuah video karya Arif yang memberi gambaran lebih jauh tentang desa Tarak, sekolahnya yang beratap seng dan anak-anaknya yang berhati emas.

Advertisements

42 thoughts on “#PapuaTrip 4: Berjumpa Pengajar Muda

  1. pertemuan yang tak disangka2 ya om
    justru lebi excited toh 😀

    eh gimana itu ceritanya bisa jadi guru dari warnet?
    kasi ceritanya yg lengkap dong
    atau udah ada di blognya mas Arief?

    negeri Papua sungguh indah ya, itu sekolahan di pinggir laut?
    itu lho yang anak2 lagi upacara …

    kira2 kita (saya) sanggup ga ya seperti mas Arief itu,
    seperti orang yang mengasingkan diri saja ya menjadi guru di sana,
    eh tapi klo dia bisa posting, berarti ada internet dong? *doh ga bisa idup apa ya klo ga ada internet hiks … *

    kapan ke sana lagi Om?

    Like

  2. keren sekali program Indonesia Mengajar. Pernah berbagi cerita dengan salah satu pengajar yang ditempatkan di pedalaman Kalimantan. pernah juga menghadiri event, ada salah satu pengajar yang ditempatkan di daerah terpencil Mamuju. Saya salut dengan semangat mereka dan kemampuan mereka beradaptasi 🙂

    Like

  3. Saluuuut gue… melihat anak muda yang berani berjuang untuk mengajar demi kemajuan bangsa ini… aku sangat yakin banyak anak – anak papua yang pintar cuman terkendala fasilitas 😀

    Like

  4. Cuma ada dua kelas ya di SD sana? Mungkin dibagi kelas 1,2,3 dan 4,5,6 gitu ya? Wah repot sekali ya mengajarnya pasti.

    Indonesia Mengajar memang sebuah fenomena bahwa saat ini masih ada orang-orang bernurani yang memiliki idealisme “DEWA”. Kemarin beli buku “Indonesia Mengajar”, jadi ingin tau lebih jauh tentang program ini.

    Eitu letak SD nya di tepi pantai? Kereeen!!!!

    Like

  5. Asal Brebes? kalau gitu namanya Mas Arif kali ya? salam kenal ya Mas 🙂
    salut untuk Mas Arif yang mau mencoba berkarya di Karas, padahal asal Brebes dan lulusan UGM. Bravo!

    omong-omong, pakaian seragam anak-anaknya sangat bersih ya…

    Like

  6. keren sekali …

    surat sahabat yang digagas mas arif mungkin bagi kita biasa biasa saja. tetapi saya kira itu inspirasi bagi anak anak di sana. itu kan berkirim surat secara online ya, pakai email.

    pengen denger dari mas arif, anak anak nanya ngga sih bagaimana surat elektronik bisa dikirim cepat?

    🙂 btw sekolah sd nya warna warni dan halamannya hijau

    Like

    1. Nah penjelasannya gini Mas, anak2 menulis di secarik kertas trus dibawa sama Mas Arif ke kota, trus diketik ulang di warnet dan dikirim deh. hihihihi

      Like

  7. Masya Allah…
    Salam kenal, Mas

    Saya merinding bacanya. Huaaa.. seneng banget bisa ketemu pak Guru di sana hiks…

    Kok nggak bilang2 mau ke sana. Saya tahu blog ini dari Mas Iman, mengabarkan kalau njenengan dari Fakfak dan ketemu Pak Guru. hehehe

    Saya dengan teman2 blogger sedang mengadakan program hibah sejuta buku, untuk ke daerah Fakfak, tepatnya ke tempat pak Guru. Tapi nanti kalau banyak bukunya, yah dibagi ke beberapa tempat.

    Huffftttt… kok rasanya dunia dunia maya ini lumayan sempit hehehe

    Like

    1. hehe, saya memang belum kenal Pak Guru sewaktu pertama kali datang ke sana, saya sama sekali tidak tau sebelumnya kalau di desa itu ada seorang guru dari Indonesia Mengajar. 😀

      Btw Mas Iman yg mana nih yg dimaksud?

      Like

  8. Subhanallah,
    tawa tulus murid disana, mmbuat saya kagum..
    ditengah keterbatasan, masih banyak tawa2 ikhlas tanpa beban seperti itu..
    papua, salah satu daerah yang sangat ingin saya kunjungi. mungkin suatu hari nanti 🙂
    terimakasih telah berbagi dan sangat inspirasional..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s