#PapuaTrip 3: Bisikan dari Bumi Pala

Mentari baru sedepa saja beranjak ketika mesin kapal dinyalakan dan kami bergerak meninggalkan pulau Tarak menuju pulau berikutnya: Faur. Di pulau ini terdapat 2 kampung yang terletak di sisi timur pulau yang menghadap ke Tanah Besar. Kapal yang melaju lambat memungkinkan kami menikmati keindahan laut sambil pula mencium bau hutan yang terbawa angin dari pulau. Kiaba adalah kampung tempat kami bersandar siang itu; nampak kampung Faur pula di ujung utara, sedikit tertutup tanjung di hadapannya.

Berikut beberapa gambar dari kapal:

Dengan jumlah penduduk sebanyak 170 jiwa dari 20 KK, Kiaba memang lebih kecil dibandingkan kampung-kampung lainnya di Kepulauan Karas. Jumlah nelayan yang aktif juga tidak begitu banyak; sisanya bergiat sebagai petani pala. Penduduk yang tinggal di sini beragama Islam dan berasal dari Seram, Jawa, dan Sulawesi selain tentunya warga asli Papua.

Saya berjumpa dengan Pak Loklomi, seorang tetua masyarakat di sela-sela pertemuan dengan masyarakat yang dilangsungkan di halaman rumah warga. Beliau mengisahkan pengalamannya mencari ikan dimulai dengan cara tradisional dan juga bertani pala ketika sedang musim angin. Nasibnya berubah pada tahun 1976 ketika diangkat menjadi bapa desa yang mengepalai keenam kampung di Kepulauan Karas. Pada tahun 1991, jurisdiksinya dipersempit dan beliau menjadi kepala kampung Antalisa saja setelah kampung-kampung lain dimekarkan dengan kepala kampungnya masing-masing. Namun Pace, demikian kami memanggilnya, masih terus menjabat sebagai ketua kampung sampai tahun 2008 lalu berhenti dengan alasan ‘terlalu cape’. Pernah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada pemilu terakhir namun belum beruntung, Pace berbangga karena anak-anaknya telah berhasil menempuh pendidikan tinggi. Anak yang tertua telah menjadi bidan di Fakfak dan saat ini sedang menjalani studi lanjutan di Yogyakarta. Meski sudah pensiun, kharisma pemimpin masih melekat dan warga menaruh hormat mendalam padanya.

Gambaran Pendidikan

Dari Pace saya mendapat gambaran bahwa kehidupan masyarakat di Karas tidak seprimitif sangkaan orang terhadap Papua umumnya. Melalui perkebunan, masyarakat mempunyai uang yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan anak hingga ke jenjang S1. Sadar dengan ketertinggalan sarana pendidikan di pulau, anak-anak yang lulus SD akan dikirim ke distrik untuk melanjutkan ke SMP dan mengontrak kamar di sana karena jarak yang terlalu jauh dengan pulau untuk ditempuh setiap hari dengan boat. Perjuangan yang cukup berat karena anak-anak sekecil itu harus berpisah dari keluarga, namun demi terjaminnya masa depan mereka, pengorbanan itu dilakukan.

Gambaran Komunikasi

Karena fasilitas telepon atau BTS belum tersedia di seluruh distrik, mau tahu bagaimana cara mereka berhubungan dengan dunia luar? Kalau antarwarga di kampung dengan perahu di lepas pantai, kadang bisa dilakukan dengan berteriak saja. Namun untuk sekadar mengabarkan bahwa ‘saya akan pergi ke kota selama seminggu’, bapa desa harus berkeliling dari pulau-pulau untuk memberitahu warga. Jika ada keperluan mendesak, warga dapat pergi ke ibukota distrik untuk menggunakan telepon satelit dengan harga Rp 5,000.-/menit. Dulu katanya pernah tersedia wartel di distrik namun sudah lama tutup karena peralatannya rusak. Lalu bagaimana jika sanak-saudara di luar pulau yang ingin mengabarkan berita keluarga atau duka secara cepat? Caranya adalah menelepon penyiar RRI Fakfak yang kemudian akan menyiarkannya di radio setiap pagi dan sore.

Namun ada secercah harapan yang saya dengar akan terwujud di bulan Desember ini. Indosat, salah satu penyedia jasa telekomunikasi utama di Indonesia, mendengar jeritan hati seorang guru yang mendambakan kelancaran komunikasi bagi warga. Melalui program CSR-nya, Indosat setuju untuk membangun 2 BTS di distrik; satu di ibukota distrik dan satunya lagi ditempatkan di Pulau Tarak. Ah, semoga janji itu benar-benar terwujud dalam waktu dekat.

Bergambar dengan Bapa Desa

Warga Karas bisa jadi hidup dalam keterbatasan jika diukur dengan standar kota. Segala yang kita gunakan secara taken for granted seperti listrik, air, sinyal dan pendidikan, mesti mereka gunakan secara awas dan hemat. Namun di tengah segala kondisi seperti itu, jangan pernah meragukan keyakinan mereka akan masa depan Papua bersama Indonesia. Sebenarnya yang mereka minta juga tidak muluk-muluk. Meski mungkin investasi yang diminta mahal, semua itu masuk akal demi terjaminnya hak-hak mereka yang bersahaja: keluar dari isolasi. Sementara masih menunggu uluran tangan pemerintah yang lagi-lagi tertunda dengan alasan ketiadaan dana, warga Karas justru mempererat persaudaraan mereka dengan segala yang mereka miliki: rela berperahu ke seberang sekadar untuk menyapa tetangga atau menjenguk anak-anak di kamar kos di distrik. Ada jarak, waktu dan biaya yang menjadi penghambat arus informasi tersebut namun justru menciptakan kehangatan pada tiap perjumpaan.

Laut kembali menemani tidur saya malam ini. Sayup-sayup di antara riak ombak tenang, saya mendengar bisikan dari Bumi Pala: kami Indonesia.

===

RALAT: Tarif telepon satelit di ibukota distrik Karas yang saya sebut Rp 50,000.-/menit, ternyata yang benar adalah Rp 5,000.-/menit berdasarkan artikel di sini.

Mohon maaf atas kekhilafan. Dengan demikian kesalahan telah diperbaiki.

Nantikan tulisan berikutnya yang bercerita tentang perjumpaan saya dengan seorang pengajar muda asal Jawa yang mengabdi di Karas melalui program Indonesia Mengajar.

Hak cipta pada gambar paling atas melekat pada Arif Lukman.

Advertisements

38 thoughts on “#PapuaTrip 3: Bisikan dari Bumi Pala

  1. Hiks.. Aku terharu.. Dan merinding membaca tulisan “Kami Indonesia”. Di sudut2 nusantara sana, kata2 itu jadi sakral dan maknanya terasa benar2 dalam.. Entah kenapa aku merasa Jadi berbeda dan agak berkurang maknanya ketika yang menyebut adalah orang2 jakarta atau petinggi2 politik..

    Eh.. Dirimu beneran tidur di perahu? Ga mabok laut? Aku pengalaman tidur di perahu lalu mabok laut waktu temenin bokap mancing di laut.. :))

    Like

    1. iya. lain rasanya merenungkan tentang Indonesia jika kita sedang berada di wilayah terdepan.
      Soal tidur, ya memang di perahu. Gak kok, saya kalo di laut gak pernah mabok πŸ˜€

      Like

  2. Halo kk brad, salam kenal πŸ˜‰
    pertama kalinya berkomentar di blog ini, sudah sering berkunjung tapi belum bisa merumuskan kata-kata yang pas untuk dijadikan seikat komentar
    #halah
    #mamaraningomongapa

    Tarif telepon satelitnya 50ribu/menit?? :O
    mahalnyaaaa..
    mudah-mudahan indosat benar2 memenuhi janjinya ya.
    Supaya komunikasi di sana bisa segera lancar jaya :))

    Like

  3. …lalu berhenti dengan alasan β€˜terlalu cape’… penyebabnya mungkin –> Bapa desa harus berkeliling dari pulau-pulau untuk memberitahu warga…. πŸ™‚

    kurang banyak foto2nya kakak, atau ada dimana disimpan galery foto selama di Papua? mauuuuuu

    Like

  4. damn..!!
    menyentuh banget..orang2 di Jawa/Jakarta mungkin pada heran kenapa bisa ada gerakan2 separatis di Papua atau Ambon, tapi kalau lihat langsung suasananya mungkin mereka baru paham kalau ide memisahkan diri itu sebenarnya muncul karena penganaktirian oleh pusat juga..

    thanks for share bro πŸ™‚

    Like

    1. sama-sama mas bro. nasionalisme memang gak berguna kalau diteriakkan di parlemen atau jalanan saja. mesti dirasa dan di bagi ke pelosok-pelosok

      Like

  5. Maaf mas saya sebenarnya tidak ingin mengatakatnya tapi saya emang susah boong. saya sanagat terahur dengan tlisan kali ini, mengatahui apa yang terjadi di salah satu daerah di Indonesia yang dimana teknologi terkebelakang, saya bersyukur bisa tinggal di Banjarmasin bisa menikmati semua fasilitas dengan mudah dan nyaman. Tidak seperti teman-teman saya disana.

    Saya berharap suatu saat akan bersama mereka untuk mngapdi memberikan ilmu tentang teknologi yang saya miliki : Kami Indonesia :’)

    Like

  6. Suatu saat saya atau anak cucu saya akan membaca kisah-kisah nyata ini dari buku-buku. Sudahkah terpikir untuk membukukannya, Mas?

    Sebagai insan TIK saya malu pada pemerintah 😦

    Like

  7. Gila!!! Langitnya biru banget. Mata jadi adem gimana gitu…

    Anak-anak SD sudah harus mengontrak demi melanjutkan sekolah di sana? Bener2 perjuangan yang luar biasa ya #kagumsekaligusmiris

    Eitu akhirnya Bradley menemukan kembaran yang selama ini dicari #dipentung #ditendang #dibakar

    Like

  8. hmm, semoga indosat bisa benar2 membangun komunikasi disana.. sedih juga melihat mereka harus mengeluarkan kocek yang mahal hanya untuk bisa mendengar suara sanak saudara dalam waktu beberapa menit.. ditunggu liputan selanjutnya om.. menunggu cantiknya pulau2 di Papua.. πŸ™‚

    Like

  9. Tulisan yang sangat indah dan menyentuh seperti foto-fotonya.. Ngga nyangka masih ada Indonesia yang spt itu di jaman skrg. Saat di jakarta tarif telpon berlomba-lomba Rp1 ; disana Rp50,000 per menit …

    Like

  10. komennya banyak ya bo…hahaha…rasanya komen yang muncul di benak saya sudah sama seperti rekan rekan lainnya.

    saya merasakan perasaan yang sama dengan Nanie dan Luvie, merinding dan terharu saat mendengar ucapan “Kami Indonesia” dari teman-teman di Bumi Kiaba.

    yang bikin tertohok sih tarif telepon satelitnya, Rp. 50.000/menit. *choke* padahal, kalau ada jaringan selular yang masuk kesana, trus ada internet juga, komunikasi rasanya bukan jadi persoalan yang berarti lagi ya. pengen lihat senyum2 mereka saat janji Indosat tersebut direalisasikan dan pertama kali mendengar suara dari seberang via handphone di Karas dan Kiaba πŸ˜€

    Like

  11. Melihat langit birunya, terbayang perjalanan pulang ke kampung halaman naik Fery Roro

    Ahhh, Indonesia

    Sama seperti mas Gie, salah satu impian saya mengunjungi Raja Ampat πŸ™‚

    Like

  12. oh iya di sana ada radio. ada orang yang mendengarkan siaran radio RRI. RRI di sana mengudara melalui gelombang FM, MW atau SW. pertanyaan saya ini akan memberi gambaran kira kira sejauh apa jarak antara pemancar dengan penerima radio di kampung.

    kemudian telepon satelit, kalau tidak salah semacam warnet. mahal nya bila itu benar 50 ribu per menit. menggunakan handphone satelit, setahu saya dengan operator byru atau inmarsat hanya dikenakan biaya antara 6000-12000/menit. tergantung waktu melakukan panggilan yang tidak flat antara pagi siang sore dan malam πŸ™‚

    Like

    1. sepertinya saya salah kutip bro, tarifnya 5000 per menit. meski demikian kayaknya ada juga sumber lain yg menyebutkan angka 50ribu per menit. Berapa pun itu, sangat mahal untuk warga dan sudah seharusnya telekomunikasi menjangkau mereka.

      untuk siaran radio saya tangkap melalui HP saya yang tentunya memakai frekuensi FM.

      Like

  13. wah Bang Said kampungnya dimana? saya sanagat terahur dengan tlisan kali ini, mengatahui apa yang terjadi di salah satu daerah di Indonesia yang dimana teknologi terkebelakang, saya bersyukur bisa tinggal di Banjarmasin bisa menikmati semua fasilitas dengan mudah dan nyaman.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s