Gagap Budaya di Jalan Raya – Sebuah Testimoni

Sumber: Kompas

Jika kita melihat gambar di atas pada laman surat kabar, apakah yang terlintas di pikiran kita? Hanya terbelalak membaca sekilas lalu berlalu menyimak berita berikutnya? Atau kalau misalnya kita melewati jalan tersebut dan menyaksikan kondisi kendaraan secara langsung, reaksi apa yang kita keluarkan?

Sangat mudah bagi kita untuk menyaksikan sebuah peristiwa dengan dingin tanpa emosi dan segera mengalihkan perhatian ke soal lain. Namun lain halnya jika ada seseorang yang Anda kasihi di dalam kendaraan tersebut yang menjadi korban. Kecelakaan tersebut tiba-tiba berdampak personal sehingga ‘meruntuhkan’ dunia kita. Saya termasuk salah seorang yang setiap kali melihat gambar di atas merasa teriris.

Namanya dengan hormat saya sebut di sini: Sandra Marlissa (53), ibu dari empat anak. Hari itu Tante Sandra, demikian biasa saya panggil, melaksanakan tugas sebagai pemandu wisata untuk menuju tempat pemandian air panas Ciater di Subang, Jawa Barat. Ketika bis pariwisata sedang melintas di Tanjakan Emen, Jawa Barat, tiba-tiba bis kehilangan kendali dan naas menabrak tebing dan terguling-guling. Akibatnya empat penumpang bis tewas dan sisanya luka-luka. Tante Sandra adalah satu satu di antara korban yang meninggal tersebut. Sila simak beritanya di sini, dan Anda akan mengetahui betapa pedihnya keluarga kami menerima kabar tersebut, terutama bagi suami dan anak-anak yang ditinggalkan.

Berita-berita kecelakaan lalu-lintas sudah menjadi makanan harian sehingga pembaca atau pemirsa sudah ‘terbiasa’ dan tidak lagi mengambil sikap prihatin. Namun bagi keluarga dan sanak-saudara yang tertimpa langsung, sebuah kecelakaan lalu-lintas yang merenggut nyawa orang-orang terkasih akan meninggalkan bekas luka mendalam di hati dan butuh waktu lama untuk pulih. Saya sebagai anggota keluarga pun berduka sampai sekarang masih suka tercenung mengingat kembali peristiwa itu sambil menarik nafas panjang dan membatin, “Haruskah setiap keluarga mengalami kedukaan yang sama sebelum menyadari bahwa perilaku mereka di jalan raya itu berbahaya?”

Mengemudi itu Budaya

Sederet rambu boleh berdiri di jalan-jalan dan segepok peraturan lalu-lintas boleh terbit silih berganti, namun sesungguhnya mengemudi adalah masalah budaya yang masih dijalani oleh sebagian besar pengemudi dengan gagap. Penyebab umumnya: ujian mengemudi yang sering dianggap momok dan merepotkan oleh calon penerima SIM sehingga segala cara ‘jalur cepat’ ditempuh agar tidak usah ujian. Akibatnya segala peraturan lalu-lintas yang berguna tersebut luput dari perhatian. Peraturan itu bukan sekadar pengenalan rambu-rambu lalu lintas, Bung. Masih banyak aspek lain yang berkaitan.

Ada beberapa cerita tentang budaya mengemudi yang saya dengar di beberapa daerah. Seorang teman pernah bercerita bahwa untuk menyetir ke luar kota, dia hanya berani berkendara di jalur Pantura oleh karena dia sudah paham budayanya, yakni jika hendak menyalip kendaraan di depan sementara dua lajur yang berlawanan arah sedang ramai, maka sudah lazim bagi kendaraan yang disalip untuk memperlambat laju kendaraannya sementara yang dari arah berlawanan juga akan melambat guna memberi kesempatan bagi si penyalip untuk segera kembali ke lajur kiri. Budaya lain yang saya dengar dari teman di Amerika adalah menjaga jarak aman bahkan ketika sedang macet; gunanya adalah untuk memberi ruang bagi kendaraan untuk bermanuver tertentu misalnya berbelok untuk mundur jika kebetulan di depannya ada halangan. Atau bahkan budaya memperlambat laju kendaraan di jalanan becek agar pejalan kaki tidak kecipratan air kotor (kalau yang ini curcol saya sebagai pejalan kaki, hehe).Β 

Kembali ke kasus kecelakaan di atas, seorang polisi berkomentar pada wartawan (saya lupa membacanya di mana) tentang seringkali masyarakat tidak paham bahwa ketika berada di jalan yang menurun, tindakan melepas rem justru berbahaya karena kendaraan akan otomatis melaju lebih cepat dan sulit dikendalikan ketika sudah di bawah, apalagi jika ada kendaraan dari depan yang tiba-tiba muncul di tikungan. Seharusnya rem tetap diinjak agar laju kendaraan kita tetap stabil. Nah, selain peraturan, tindakan ini juga menunjukkan budaya yang baik, bukan?!

Pada akhirnya saya menghimbau agar para pembaca tulisan ini merenungkan kembali perilaku kita di jalan raya, apakah sudah tertib atau masih membahayakan diri sendiri dan orang lain? Jika kebetulan Anda hendak membuat dan memperpanjang SIM, ambillah langkah yang ‘tidak populer: mengikuti ujian lalu-lintas tertulis dan praktik secara seksama. Ingat bahwa keselamatan kita tergantung pada pemahaman yang benar akan peraturan lalu-lintas. Jika kebetulan kendaraan Anda dihentikan oleh polisi di waktu-waktu Operasi Zebra 2011 ini, pahamilah bahwa tujuan polisi melakukan razia adalah untuk memastikan Anda mematuhi peraturan sehingga perjalanan Anda aman sampai ke tujuan. Dengan demikian para polisi tersebut tidak perlu dihindari oleh karena kepentingan mereka yang terutama adalah keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu-lintas.

Saya percaya Anda punya pendapat sendiri mengenai perilaku yang harus kita jalankan di jalan raya; contoh-contoh di atas hanya beberapa saja. Saya mengundang teman-teman untuk berdiskusi di kolom komentar agar menjadi pencerahan bagi kita bersama.

===

Sumber gambar: Kompas

Advertisements

44 thoughts on “Gagap Budaya di Jalan Raya – Sebuah Testimoni

  1. Kejadiannya belum terlalu lama ya Om
    ikut pilu hati saya kehilangan orang tercinta dengan cara demikian
    tanpa sempat bertukar kata hiks …

    soal prilaku di jalan raya, banyak sekali faktor penyebabnya
    pada umumnya sih, menurut saya, memang personality pengendaranya yang menganggap enteng nyawa orang2 yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga merasa sah2 saja bersikap ugal2an atau ceroboh dalam berkendara.

    katakanlah supir angkutan umum, coba saja kita tegur pabila dia keterlaluan ngebutnya, ada yang terima tapi kebanyakan malah makin ditambah kecepatannya sehingga yang di dalam bis makin ketakutan, yang ujung2nya para penumpang jadi berantem sendiri.

    saya pikir sudah saatnyalah kesadaran berkendara dengan santun ini sudah sepantasnya digalakkan, dimulai dari anak2 yang berseragam biru dan abu2. bukankah mereka cikal bakal pengendara paling potensial beberapa tahun ke depan?

    Like

    1. belum lama, baru sekitar 2 bulan lalu. hmm idenya bagus banget, jadi edukasinya disasar ke para pelajar yg belum punya SIM ya?! nice.

      thanks ya πŸ˜€

      Like

  2. Dijalan itu ga bisa di prediksi
    walaupun sudah berhati2 kadang bisa kena apes gara2 pengemudi lain yang seenaknya aja

    setuju sama Brad, budayakan safe driving.. jangan seenaknya aja, pahami kalau jalanan bukan sirkuit.
    *SIM gua juga ga nembak lho.. cuma abis 151 ribu itupun yang 15rb buat beli nasi padang :))

    Like

  3. Alhamdulillah beberapa bulan menggunakan sepeda motor saya pribadi berusaha mengikuti peraturan di jalan raya, sebisa mungkin bersikap santun.

    Tapi kendalanya justru seringkali kita malah jadi minoritas di jalan raya. Sebagai contoh ketika tiba2 kiri dan kanan kita melaju padahal lampu lalu lintas masih menunjukkan warna merah. Dan kendaraan di belakang kita pun sudah ramai membunyikan klakson. Duh gimana coba kalau sudah begini???

    Like

  4. sebagian besar pengendara di Indonesia bisa berkendara secara otodidak, bukan lewat lembaga kursus yang syah
    dan kalaupun ada yg ngajar, itu cuma diajarin teknis aja. gimana nyalain kendaraan, masukin gigi, nyetir, dll..soal budaya berkendara nggak
    jadi yaaa..jangan heran kalau pola pengendara di Indonesia kayak gitu..

    miris sih lihatnya..:(

    Like

  5. Nama keluarga-nya sama, Oom. Keluarga Marlissa. Masih bertalian darah cukup dekat donk dengan Oom Bradley Marlissa? Turut berduka cita ya Oom, semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kepulihan kembali dengan cepat, sementara yang dipanggil diberi tempat yang layak di sisiNYA.

    soal SIM, baru beberapa hari lalu saya memperpanjang SIM saya yang sudah habis masa berlakunya selama 3 bulan! *saat mau booking beli tiket, saya baru sadar kalau SIM saya sudah habis! padahal itu kendaraan saya bawa kemana-mana coba! ck ck ck* Karena ngeri, akhirnya saya buru-buru ke counter perpanjangan SIM di Blo’Em dan nggak sampai dua jam, SIM saya jadi nggak pakai repot, bahkan bisa ketawa2 dan bercanda dengan bapak-bapak yang bekerja di dalamnya. Hilang sudah citra polisi yang doyan menghisap darah tersebut. SIM C = 130rb, SIM A = 135rb tapi dapat asuransi selama 5 tahun πŸ˜€

    kata orang, citra suap dan korup nggak bisa hilang dari identitas Bangsa Indonesia. Tapi, saya melihat sendiri proses pengurusan Passport di Imigrasi dan menjalaninya. Ngurusnya gampang koq, nggak pake ribet. orang yang menggunakan jasa calo rasanya sudah nggak terlalu banyak. Saya juga dengar bahwa Polri sudah berubah juga. jadi penasaran pengen datang ke Samsat di Daan Mogot dan melihat sejauh apakah mereka berubah πŸ˜€ mudah-mudahan bukan ceroocsan doank yaaa…

    *eh, waktu perpanjangan SIM, ada tes mata juga loh*

    soal perilaku berkendara di jalanan, itu lebih kepada attitude sih ya Oom. Kitanya sudah hati-hati, kadang orang lain yang seenaknya. paling sebel kalau liat anak-anak tanggung dengan badan masih pendek, ngisi motor bertiga lalu jalannya meliuk-liuk kanan dan kiri di jalan raya. kalau nyenggol kabur.hufff….

    Like

    1. iya itu tante saya, Lomie. eh menarik membaca sharingmu soal perpanjangan SIM ini. jadi pelayanan publiknya polisi sudah improve ya? menarik sekali πŸ˜€

      Like

    2. nah, iya, coba itu ke Samsat, apakah masih merasakan citra yang sama?

      soale baru mengalami bikin SIM, hmm …. masih seperti jaman dulu tuh
      ini makanya mau nyoba perpanjangan stnk yang sudah terlambat,
      mau urus sendiri seperti kata abu faqih di blognya, gampang!
      moga2 saja ngerasain gampang.

      btw, menurut saya, cara mendapatkan SIM dengan cara bypass atau pun normal tidak terlalu berdampak besar kok terhadap prilaku pengendara. Karena walaupun mendapatkan sim dengan jalan yang baik dan benar, tidak menjamin personality org tsb demikian juga di jalan raya.

      semoga sih saya salah πŸ˜€

      Like

  6. Makasih Bang Brad, udah ngingetin saya juga. 😦
    Selama ini saya hanya mengendarai sepeda motor, dan sebagai pengendara sepeda motor saya selalu berusaha untuk berada di sisi kiri jalan (dan juga kadang sisi kiri lajur). Tak peduli di belakang saya ada mobil yang mengklakson saya karena saya terlalu lambat atau apa, saya tetap berkendara di sebelah kiri. Saya menganggap pinggir jalan sebelah kiri adalah hak sepeda motor. Kalau kami sepeda motor ada di kiri aja masih diklakson, kami harus ke mana? 😐

    Saya pun sering ketawa sendiri dan jengkel sendiri kalau melihat berbagaim macam tingkah polah pengendara mobil dan motor lain selama saya berkendara. Ketahuan sekali antara pengendara yang SIM-nya nembak dan yang SIM-nya asli didapat dengan ujian (jarang sekali jaman sekarang).

    Seharusnya, kalau orang yang dapat SIM-nya melalui ujian, sikapnya di jalan lebih baik ketimbang para pengendara yang SIM-nya nembak. Harusnya ujian dapat SIM itu dipersulit. Sangat amat sulit. Supaya si pengendara itu merasakan gimana sulitnya dapat SIM. Seharusnya juga, hal tadi ditunjang peraturan lalu lintas yang sangat kejam. Sebutlah pencabutan SIM atau pe-nonaktifan SIM sementara yang mudah sekali terjadi. Misalnya begini. Jika Bang Brad nyetir mobil dan terlibat kasus kecelakaan, anggaplah Bang Brad terbukti lalai dan menabrak mobil lain, harusnya SIM Bang Brad langsung dicabut sementara, mungkin sekitar 6 bulan sampai 1 tahun. Coba, hanya karena nabrak atau menyerempet kendaraan lain aja bisa sampai gak bisa nyetir selama 6 bulan. Saya rasa itu akan membuat penduduk berpikir bahwa, “sudah dapat SIM susah-susah, kalo melanggar ringan aja SIM bisa langsung dicabut selama setahun.” Diharapkan dengan begitu orang2 akan berkendara dengan aman dan tak membahayakan orang lain. πŸ™‚

    Like

  7. saya punya sim tetapi jarang saya manfaatkan karena saya jarang mengemudi, dalam artian demi keselamatan umum saya lebih mempercayakan orang lain yang lebih bagus skill mengemudinya daripada saya, hehehe

    Like

  8. Sekedar share dgn apa yang saya alami di tempat saya sekarang mukim (Abu Dhabi).

    Untuk mendapatkan driving license, harus melalui sejumlah test yang ketat, juga mahal. Umumnya, untuk level professional (engineer above), hanya perlu ikut kelas teori 2 jam, kemudian test tertulis dgn minimum passing grade 70% dan ujian road test. Untuk biaya lebih kurang Rp 2,500,000, ini kalau sekali mengajukan langsung lulus. Kalau tidak lulus dalam setiap tahap (theory dan road test) maka jumlah kelas yang harus diikuti ikut bertambah, demikian juga biayanya.

    Polisi di sini sangat sulit untuk di ajak kerjasama dalam hal meluluskan peserta test, disamping mereka orangnya lurus2 aja, juga tingkat kesejahteraan nya sudah tinggi.

    Sekedar info, polisi yang baru lulus dari akademi diberi gaji sekitar Rp 60juta per bulan dan hanya orang local UAE yang boleh jadi polisi. Banyak diantara pendatang disini yang meski sudah mahir mengemudi di negaranya, tapi tak bisa lulus ujian mendapat SIM. Mereka kadang frustasi dan akhirnya memilih untuk naik bus, tidak mengemudi di Abu dhabi sepanjang hidupnya.

    Btw satu hal lagi, system punishment di sini dalam hal pelanggaran berlalu lintas sangat ketat. Ada kamera di setiap traffic signal, sehingga siapapun yang melanggar akan tertangkap kamera dan akibatnya denda yang dibayar sangat tinggi. Melanggar lampu lalin bisa kena denda Rp 7,5juta, melewati speed limit kena denda Rp 750ribu, parkir sembarangan bisa kena denda Rp 500ribu. Menabrak hingga meninggal bisa kena denda – blood money rata-rata sebesar Rp 1 Milyar.

    Karenanya, di abu dhabi sini semua pengemudi sangat berhati2 dan mereka patuh terhadap rambu-rambu, membuat nyaman berkendara…

    Kira2 apa bisa diterapkan di Indonesia, hehehe, termasuk pemberian gaji tinggi ke aparat? (kalau uang korupsi bisa diberdayagunakan untuk membiayai sistem monitoring lalu lintas + gaji polisi, mungkin bisa kali ya…)

    Like

  9. Sudah pernah masuk jalan daerah tambang (hauling road) blum mas bro? budayanya serba safety. Saya sudah sering berkendara roda empat di hauling road, pertambangan batu bara Kalimantan, sambil menyaksikan alam kalimantan dihancurkan demi mengeluarkan bongkahan hitam dari perut bumi, yang konon katanya hasilnya lebih banyak dipusatkan untuk menghidupi pasokan energi, serta pembangunan sarana dan prasarana, di pulau lain yang miskin sumberdaya energi (kata orang kalimantan yang listriknya padam bergilir, dan akses jalan antar propinsi yang belum memadai). *lirik kanan-kiri*

    Budaya berkendara di areal eksploitasi sumberdaya alam secara membabi buta itu, sangat bagus jika diterapkan di jalan raya. Selain pengendara atau penumpang diharuskan melengkapi diri dengan peralatan keamanan dari ujung kaki sampai kepala. Semua kendaraan roda empat atau lebih, juga diwajibkan memasang peralatan keamanan, termasuk bumper baja kelas super. Pendek kata semua peralatan keamanan lolos uji standar khusus. Pembuatan SIM melalui proses sangat ketat, termasuk uji psikologis sampai uji pengalaman dan skil mengemudi di segala medan. Saya jamin sebagian besar mas bro yang terbiasa ngebut di jalan mulus beraspal instan, bakal gagal lolos ujian SIM.

    Bagi saya, tidak hanya budaya berkendara saja yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan jalan raya, keadaan fisik jalan penuh lubang ‘menganga’ pun memegang peran penting. Saya bahkan pernah menemukan sebuah rambu, di salah satu ruas jalan Kabupaten Kota di Kalimantan Selatan, ditulis tangan menggunakan arang pada sekeping tripleks yang ditancapkan degan tongkat bambu, berisi kalimat “Disini Rusuk ku Patah.” Persis di dekat lubang sedalam Β±10 cm pada ruas jalan beraspal milik ‘Negara.’ Entah ini memprihatinkan atau memalukan, saya sendiri medefinisikan keadaan jalan di Kalimantan degan kata ‘menyedihkan.’ Pendek kata, jalan raya adalah ‘kuburan masal’ bagi rakyat Indonesia.

    Like

  10. Ini semua terjadi tak lepas dari keteledoran polisi juga πŸ˜€
    Kan ada tu mas SIM tembak, asal punya kenalan ya udah bakalan dapet SIM tanpa perlu tes πŸ˜€
    Tapi bagaimanapun juga gak bisa disalahkan sepenuhnya.
    Banyak lho pengendara yang dasarnya emang suka ugal2an.
    Btw, turut berduka ya mas 😦

    Like

  11. Saya mau merenung, tapi saya ga punya kendaraan opa.

    Tapi kalau mau jujur, memang kadang saya curang. Kalo dibonceng orang pake motor, pengennya nyelip nyelip biar cepet nyampe. Tapi kalo dapet tumpangan mobil, jadi sebel sendiri sama motor yang nyelip2. Nuduh mereka ga punya budaya… Yah.. hipokrit dong.. πŸ˜€ Gak apa2 lah … yang penting tetep bisa dapet tebengan, motor atau pun mobil.

    Like

  12. Saya ikut dukacita atas kejadian yang dialami tante omBrad.
    Soal perilaku, sopir bus umum sebaiknya sebelum dikasih SIM dikasih pelatihan di pusat pelatihan Batujajar sana selama setahun biar rada disiplin.
    *geram liat perilaku sopir metromini & kopaja di blok m…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s