Termangu di Candi Ijo

“Wah, sudah di Djokdja lagi.”

Sambil menarik nafas dalam-dalam saya menghirup udara Malioboro yang khas: harum batik cetak murah ditingkahi bau kayu topeng batik serta dibungkus wangi tai kuda yang membuncah di sepanjang jalan.

Namun saya sudah bosan ke tempat-tempat wisata wajib di sana. Saya ingin melangkah ke lokasi candi yang kecil-kecil dan banyak bertebaran di provinsi tempat Sri Sultan Hamengkubowono X memerintah ini. Langkah pertama adalah naik bis TransJogja ke Prambanan.

Turun di terminal Prambanan, saya kemudian menyusuri pasar hingga tiba di tempat perhentian angkot berwarna kuning yang menuju Piyungan. Saya sudah tidak asing dengan terminal ini karena sebelumnya sudah pernah berkunjung ke candi Ratu Boko. Namun kali ini bukan Ratu Boko tujuan saya, melainkan Candi Ijo.

Untuk mencapai Candi Ijo dibutuhkan waktu tak sampai 15 menit dengan angkot tersebut. Ada baiknya kita berpesan terlebih dahulu agar minta diturunkan di pertigaan yang tepat karena papan nama candinya tidak besar dan mudah terlewat. Setelah turun di pertigaan, sudah ada tukang ojek menunggu. Untuk naik ke atas dan turun lagi dia menawarkan harga Rp 30,000.-, tapi akhirnya saya lebihkan karena sekalian nanti saya minta diantar balik sampai ke Terminal Prambanan. Tidak usah pelitlah menawar harga, pikir saya. Toh kita membantu wong cilik.

Gumuk Ijo

Candi ini terletak di sebuah bukit yang sesuai dengan namanya, yakni Gumuk Ijo. Dengan ketinggian 375 meter, candi ini adalah tempat pemujaan yang tertinggi di seluruh provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya pun luar biasa: pemandangan saujana seluas-luasnya ke arah barat yang berupa hamparan sawah dan padang terbuka, serta landasan Bandar Udara Adisucipto yang tepat tegak lurus dengan tempat saya berdiri. Pesawat yang tinggal-landas terlihat seolah-olah bergerak langsung ke arah candi sebelum terbang meninggi dan berbelok ke utara. Kasak-kusuknya, Gumuk Ijo inilah yang menjadi penghalang perpanjangan runway bandara sehingga saat ini landasan tersebut masih sepanjang 2,200 meter.

CAM01002

Candi Ijo sendiri dibangun pada sekitar abad 10-11 Masehi pada masa Kerajaan Medang periode Mataram. Bentuknya teras-berundak mengikuti bentuk bukit dengan bagian timur yang menjadi puncaknya. Serupa dengan Candi Prambanan, candi ini juga bercorak Hindu yang menjadi tempat pemujaan Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Kondisinya nampak baik pasca pemugaran pada tahun 2013 yang masih menyisakan tumpukan batu yang belum selesai diteliti.

CAM01005Sambil meneliti reliefnya satu per satu dan mengamat-amati setiap ruangan yang ada, saya termangu. Betapa tingginya peradaban manusia Indonesia saat itu sehingga menciptakan tempat pemujaan dengan detail yang sangat rumit di lokasi yang sulit dijangkau. Bagi para penganut Hindu, Candi Ijo tentunya adalah tempat yang sangat baik untuk mendekatkan diri kepada Trimurti sekaligus tempat petilasan yang tenang untuk bertapa. Sedangkan bagi orang seperti saya, teras berundak ini adalah tempat sempurna bagi mata menikmati saujana dan bagi pikiran menerawang melampauinya.

Selanjutnya biarlah beberapa gambar yang bercerita:

This slideshow requires JavaScript.

Informasi lebih detail tentang arsitektur candi dapat dilihat di halaman Wikipedia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s