Tag Archives: siem reap

Mighty Tree on Top

From the jungles of Siem Reap in the midst of the vast Angkor Wat complex, I present you Ta Prohm. People may instantly recognize the images from Angelina Jolie’s “The Tomb Raider” film. This temple is small compared to the main Angkor Wat Temple, but it is magnificent in its own right. The forest is slowly taking over the structures by sneaking in its roots among the stones and crawling its way to the top. Of course there are concerns over the preservation of the heritage and the visitors’ safety. However, some people argue that such invasion could actually strengthen the architecture.

The mighty trees of Ta Prohm sits like cherry on top of the temple and they provide some shelters and cool temperatures. Besides, the photographers and photographer-wannabes will not be short of inspiration.

This slideshow requires JavaScript.

 

More takes on this week’s photo challenge can be found here.

Advertisements

#Writing101: The (In)Comparable Jogja

Whenever I visit a new country, I often have a somewhat strange habit of trying to find a local town which can connect me back to a place I always call a second home and, thus, can make me feel at ease: Jogja. The temporary capital city of Indonesia during the Independence Struggle from the Dutch after WW2 offers a harmony of the royal heritage with the touch of modernity, plus a vibrant student community.

But I’ve never been out of Asia so I’m sure there are lots of other places to compare to. These are just some examples:

Kyoto, Japan

The first time I set foot in Kyoto was back in the 90s. I stepped out of the train station and soon was transported back to the Empire and Bushido eras where the shrines dotted every town and people celebrated the festivities in colorful kimonos. Kyoto has changed its cosmetics, but the ancient soul still lies within the ancient temples and people’s hearts.

Siem Reap

Ah, Angkor Wat. The city of temples are within easy reach from downtown Siem Reap and you can roam around the streets in tuktuks, bicycles, or even on foot while admiring the grandeur. And don’t forget the Pub Street where you can have cheap Cambodian beer and comforting foot massage. Life is sweet in Indochina.

Melaka, Malaysia

Just under 2 hours from the capital Kuala Lumpur, Melaka offers the chance to cruise the river and admire the colonial architectures and the Chinatown, all within walking distance. Tired after visiting the churches and Portuguese ruins, you can head to Jonker Street in the evening to party at the local bars. Yeah baby!

Many places can make me feel like home, but nothing really compares to home: the rickshaws, the street snacks, the ambience, the warmth, and the people. Most travelers can easily immerse in the local culture and often forget where they come from, but I’m a guy who will miss Nasi Goreng on the third day of the journey and have a lump in my throat when calling Mum.

Would that make me qualify as a traveler, at all?

Perayaan Waisyak di Angkor Wat

Setelah menempuh enam jam perjalanan dengan bis dari Phnom Penh, saya tiba di kota Siem Reap yang terletak di sebelah barat laut Kamboja. Tujuan utama para turis datang ke Siem Reap adalah untuk mengunjungi Angkor, sebuah kompleks candi Hindu dan Buddha terbesar di dunia. Kompleks candi di Angkor adalah sumber inspirasi yang luhur bagi budaya Khmer dan menjadi pusat kegiatan agama selama berabad-abad. Tidak seperti Borobudur yang ditinggalkan selama ratusan tahun akibat letusan Merapi dan kemudian ditutupi tanah sehingga menjadi bukit, Angkor tidak pernah dikosongkan dan selalu digunakan sebagai tempat ibadah sejak didirikannya pada awal abad ke-12 hingga sekarang.

Semua brosur pariwisata Siem Reap dan Angkor selalu menyebutkan bahwa waktu terbaik untuk mengunjungi kompleks candi Hindu ini adalah pada saat perayaan Waisyak. Loh, kok umat Buddha merayakan Waisyak di candi Hindu?!

Namun memang begitulah adanya. Setelah mengalami pasang-surut kekuasaan selama berabad-abad, pelan-pelan fungsi Angkor Wat berubah dari awalnya candi Hindu menjadi tempat ibadah umat Buddha. Kompleks Angkor tidak dibangun secara bersamaan; setiap candi dibangun oleh raja yang sedang berkuasa saat itu untuk dipakai sebagai tempat ibadah pribadinya. Jadi Angkor Wat, meski berbentuk mirip kota, sebenarnya adalah kumpulan tempat ibadah yang boleh jadi terbesar di dunia!

Saya tiba di Siem Reap sebenarnya tanpa memperhitungkan waktu khusus. Awalnya memang saya sudah mendengar bahwa saat terbaik untuk mengunjungi Angkor adalah waktu Waisyak. Nah, betapa terkejutnya saya ketika melihat kalender dan mendapati tanggal kunjungan saya ke sana bertepatan dengan perayaan terbesar umat Buddha itu! Trisuci Waisyak adalah tiga rangkaian perayaan sang teladan Siddharta Gautama yang bertujuan mengenang kembali kelahiran, pencapaian pencerahan, dan wafatnya beliau. Kalau umat Buddha di Indonesia memusatkan perayaan Waisyak di Candi Borobodur, maka umat Buddha di Kamboja berbondong-bondong datang ke Angkor Wat dan berdoa di sana selama seminggu penuh dan mencapai puncaknya pada malam perayaan Waisyak. Ratusan, bahkan ribuan, biksu laki-laki berjubah oranye dan biksuni perempuan berjubah putih berkumpul di pelataran candi semalam-suntuk dan melantunkan doa-doa khusyuk. Bulan sedang purnama, menerangi jalan dan jembatan berbatu yang ramai ditapaki peziarah dan wisatawan yang datang menyaksikan ritual ibadah sekaligus menunggu matahari pagi. Mantra-mantra bersahutan tiada henti; kebanyakan dalam Bahasa Khmer yang tidak saya mengerti meski lamat-lamat ada pula mantra dalam Bahasa Cina dan Sansekerta yang bisa tertangkap. Perasaan khidmat memenuhi udara.

Ketika akhirnya matahari terbit pelan-pelan dari balik candi, kamera para turis sontak mengarah ke sumber cahaya. Sayangnya cuaca mendung menghalangi piringan keemasan tersebut dari pandangan mata. Namun kekecewaan segera terganti oleh ritual umat Buddha berikutnya. Dengan berbaris rapi mereka meninggalkan candi lalu berkumpul di pelataran parkir depan. Setelah briefing dan berkat oleh pandita, barisan biksu berjubah oranye kembali berbaris rapi meminta sumbangan dari umat Buddha yang hadir sambil memanggul mangkuk tanah liat di dada mereka. Kebanyakan dari para biksu tersebut masih anak-anak dan remaja yang berjalan didampingi sanak-keluarga mereka. Setiap orang yang mereka lewati bersedekap lalu memberikan sumbangan berupa uang dan makanan. Berapa banyak sumbangan yang mereka terima? Bagi Anda yang merayakan Idul Fitri atau Imlek, kira-kira berapa uang perayaan yang Anda terima?! Saya yakin itu tidak ada bandingannya dengan jumlah uang yang diterima para biksu itu. 😀 Mangkuk besar mereka dengan cepat menjadi penuh dan berat sehingga para sanak-keluarga yang mendampingi harus senantiasa memindahkan uang dan barang-barang tersebut ke karung. Lalu karung pertama penuh, berganti ke karung kedua, dan seterusnya. Saya hanya bisa terbelalak menyaksikan betapa tulusnya umat Buddha yang hari itu menjalankan ibadah terpenting di tahun ini.

Matahari terus merambat naik dan panasnya mulai menyengat. Rasanya saya menelan debu dan keringat begitu banyak sehari penuh dan sangat melelahkan. Namun balasannya setimpal: kuil-kuil yang tersembunyi di hutan menawarkan kemegahan abadi. Candi-candi kokoh yang bertarung dengan pohon-pohon beringin perkasa yang menjadi inspirasi begitu banyak fotografer hingga sutradara film Tomb Raider yang membawa Angelina Jolie ke sana.

Angkor Wat kerap disandingkan kemegahannya dengan Borobudur dan itu tidaklah berlebihan. Usaha promosi pariwisata yang menggabungkan keduanya menjadi satu paket telah mulai dilaksanakan meski masih minim. Jalur penerbangan Siem Reap – Yogyakarta mulai dijajaki. Orang-orang Indonesia, meski masih sedikit, mulai berdatangan ke sana. Jadi, jika Anda sudah pernah ke Borobudur, kini saatnya Anda merencanakan perjalanan ke Siem Reap.

Selanjutkan biarkan beberapa gambar saja yang bercerita. Simak pula Informasi Umum yang tertera di paling bawah.

Tuktuk di Siem Reap termasuk mewah dibandingkan Phnom Penh
Salah satu sudut kota Siem Reap
Tarian tradisional Khmer di Pasar Malam Siem Reap
Angkor Wat sesaat sebelum matahari terbit
Altar perayaan Waisyak, Angkor Wat
Selamat Hari Raya Waisyak 🙂
Barisan para biksu
Para biksuni pun tidak ketinggalan
Biksu muda menerima persembahan dari umat
Mereka menunduk karena dilarang memandangi lawan jenis. Namun matanya fokus ke mana tuh ya? 🙂
Mangkuknya penuh uang! 🙂
To Phrom, salah satu kuil di kompleks Angkor yang bertarung dengan pohon beringin. Sudut ini sangat terkenal karena pernah dipakai shooting film Tomb Raiders yang dibintangi Angelina Jolie
Papan penanda bahaya di hutan. Di Kamboja umumnya itu berarti: RANJAU!
Bolehlah narsis sedikit di bawah puncak Angkor 🙂

Informasi Umum

Transportasi Umum: Siem Reap dapat dicapai dengan bis dari Phnom Penh dengan harga tiket USD 6-7 sekali jalan (6 jam). Bis berangkat dari beberapa pool di kota Phnom Penh, tergantung perusahaan yang melayani.

Untuk berkeliling kota Siem Reap, ongkos tuktuk umumnya USD 2 sekali jalan. Sedangkan untuk berkeliling Angkor seharian penuh, ongkosnya USD 15. Si abang tuktuk akan menjemput kita di penginapan jam 4.30 pagi, oleh karena itu pastikan Anda sudah mendapatkan sewa tuktuk sehari sebelumnya. Selain tuktuk, tersedia pula layanan taksi dengan ongkos jauh lebih mahal, atau penyewaan sepeda dengan ongkos USD 5 / hari.

Penginapan: Ada banyak penginapan berbagai kelas di Siem Reap. Saya merekomendasikan Jasmine Lodge, National Highway 6, Tel 063-760697, www.jasminelodge.com. Pemiliknya yang bernama Khun akan menyambut kita dengan ramah dengan Bahasa Inggris yang cukup baik. Luangkan waktu untuk berbincang-bincang dengannya. Khun mempunyai jaringan komunitas yang baik di Siem Reap di samping mengelola sebuah sekolah dasar di kampung halamannya.

Panduan Umum Angkor Wat

Dengan jumlah candi sekitar 80 buah, sangat sayang bila Anda tidak berlama-lama di Siem Reap. Namun jika memang tidak banyak waktu, kuil-kuil utama di Angkor dapat dijelajahi seharian penuh. Ada tiga macam tiket masuk: USD 20 (1 hari), USD 40 (3 hari), USD 60 (7 hari). Tiket dapat dibeli di gerbang masuk Angkor dengan menunjukkan paspor. Anda akan diambil foto yang akan tercetak di tiket. Jaga baik-baik tiket tersebut karena akan diperiksa di candi-candi utama. Beberapa candi kecil tidak ditunggui petugas tiket, namun jika Anda ketahuan menyusup masuk, Anda akan dikenakan denda.

Bersiaplah terkena panas matahari terik. Bawalah topi, kacamata hitam, dan persediaan air secukupnya. Makan siang di Angkor cukup mudah didapat karena tersedia banyak warung makan dan restoran.

Disiplinkan diri Anda untuk tetap berjalan di jalur-jalur setapak yang ditandai. Jangan sekali-kali keluar ke semak-semak karena, seperti umumnya di Kamboja, masih banyak ranjau darat bertebaran di mana-mana termasuk di sekitar Angkor.