Tag Archives: rembang

Selamatkan Situs Terjan

Matahari baru saja menyembul dari balik pegunungan Lasem ketika saya beranjak menyusuri pesisir Kabupaten Rembang dan mengarah ke timur, kira-kira setengah jam perjalanan dari kota Lasem. Setibanya di kecamatan Kragan, mobil yang dikemudikan mas Aghi berbelok ke kanan memasuki jalan desa yang berdebu dan tidak rata, menyusuri persawahan dan hutan-hutan gersang yang ditengarai masih menyimpan bukti peradaban manusia zaman Megalitik di perut buminya.

Continue reading Selamatkan Situs Terjan

Siapa Bilang Kartini Sudah Mati?

Kartini, putri bupati Jepara sang pejuang kesetaraan kaum dan bangsanya, memang sudah wafat lebih dari seratus tahun lalu di Rembang akibat melahirkan anak satu-satunya. Namun bukan berarti dia telah mati.

Masa sih?

Ketika saya sempat tinggal di Jepara, saya menyaksikan ‘roh’ Kartini masih hidup di mana-mana dan namanya tetap dibicarakan dengan penuh hormat oleh warga. Sadar dengan keagungan itu, pemerintah Kabupaten Jepara pun mengabadikan namanya dalam semboyan resmi daerah dan menamai beberapa tempat umum dengan nama beliau. Pun tak ketinggalan pihak swasta mengabadikan nama Pahlawan Nasional itu pada beragam tempat usaha mereka. Apa saja contohnya? Mari kita lihat:

Jepara

Jalan umum
Tempat fotokopi
Stasiun radio
Pantai & pelabuhan
Rumah sakit umum daerah
Salah satu gerbang masuk kabupaten
Museum
Toko mebel
Stadion olahraga (sumber: denmasbrindhil.wordpress.com)

Rembang

Lalu bagaimana dengan Rembang, kabupaten tetangga yang juga memiliki ikatan emosional mengingat Kartini pindah ke sana setelah menikah, wafat, dan dimakamkan? Meski tidak seheboh Jepara, upaya mengabadikan nama beliau juga terlihat:

Hotel
Sekolah (menurut cerita, sekolah ini adalah kelanjutan tempat belajar kaum perempuan yang didirikan oleh Kartini di balik tembok kadipaten)
Museum
Taman bacaan
Pantai (untuk membedakannya dengan Pantai Kartini di Jepara, lokasi ini resmi dinamai Taman Rekreasi Pantai Kartini)

Jadi, siapa yang bilang Kartini sudah mati? Ini baru di Jepara dan Rembang saja, lho. Di daerah-daerah dan negara lain, nama Kartini masih harum dan diabadikan di mana-mana. 😀

Menyibak Museum Kartini Rembang

Raden Ajeng Kartini adalah seorang pejuang emansipasi perempuan semasa hidupnya. Namun mungkin tidak banyak yang pernah bersentuhan dengan karya tulisannya atau menyelami pribadinya. Jika ditelaah lebih jauh, sesungguhnya kita akan memahami betapa kontras antara impian kemandirian dan kenyataan hidupnya.

Dipingit sejak lulus sekolah dasar selama bertahun-tahun, Kartini lalu dipertemukan dengan Bupati Rembang yang dua kali lipat usianya dan diboyong ke rumah suaminya setelah menikah. Sesampainya di sana, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa ia adalah perempuan keempat yang masuk ke rumah bupati. Tidak terlalu lama, hanya setahun ia tinggal di rumah itu hingga akhirnya meninggal dunia setelah melahirkan putra satu-satunya.

***

Masih ingat kan terakhir kali berkunjung ke Museum Kartini di Jepara saya misuh-misuh di sana? 😀 Saya lalu mendengar bahwa ternyata Museum Kartini tidak hanya satu, tetap dua. Ada ‘kembaran’-nya di Rembang. Pada suatu akhir pekan pun saya berkunjung ke Rembang yang juga terletak di pantai utara Jawa, sekitar 3 jam perjalanan dari Jepara. Cukup jauh memang karena untuk sampai ke sana kita harus melewati Kudus dan Pati. Sebenarnya ada jalan lain yang melewati utara Gunung Muria namun kondisi jalannya berkelok-kelok dan sepi. Lebih nyaman lewat Jalur Pantura.

Lokasi Museum Kartini Rembang sangat strategis karena juga terletak dekat alun-alun. Namun berbeda dengan Jepara yang membangun gedung baru, di Rembang ini lokasi yang digunakan adalah bekas rumah dinas Bupati Rembang yang dahulu juga merupakan tempat tinggal Kartini. Sebenarnya museum ini belum lama didirikan, yakni pada tahun 2011. Pada saat itu sang bupati yang orang asli Rembang memilih untuk tinggal di rumah pribadinya dan menyerahkan rumah dinas ini untuk dijadikan museum.

Berbeda sekali dengan Jepara di mana rumah Kartini masih digunakan sebagai rumah dinas bupati dan kamar-kamar bersejarahnya masih ditempati sang keluarga, kecuali kamar tempat Kartini dipingit yang dibiarkan seperti semula. Namun tentunya tidak sembarang orang bisa masuk ke sini.

Kembali ke Rembang. Meski sudah menjadi museum, namun acara-acara resmi tingkat kabupaten masih dilaksanakan di pendopo utama. Gedung-gedung lainnya di kompleks ini pun masih berfungsi sebagai kantor pemerintahan. Akibatnya, ada saat-saat tertentu ketika museum ini ditutup untuk umum karena sedang berlangsung acara tertentu. Seperti yang terjadi pagi itu; saya tidak bisa masuk ke museum karena sedang ada pelepasan kontingen Rembang ke Pekan Olahraga Provinsi Jawa Tengah. 😦

Untunglah berkat ngobrol, saya diizinkan masuk ke museum namun harus menunggu hingga jam 2 sore. Saya pun mengalah dan melangkahkan kaki ke tempat lain. Sekitar jam 3 sore saya kembali dan petugas museum yang berpakaian santai bercelana pendek mengundang saya masuk ke gerbang sambil membawa seperangkat kunci. Karena acara pelepasan tadi pagi, seluruh pegawai museum sebenarnya diliburkan namun mas-mas pegawai museum yang tadi pagi saya ajak ngobrol di gerbang ini berbaik hati membukakan pintu museumnya untuk saya. Jadi pengunjungnya cuma saya seorang. Uang tiket masuk Rp 2,000.- pun tidak dimintakan. 😀 😀 😀

Bagian dalam museumnya sangat bersahaja namun koleksi-koleksinya tersimpan rapi. Karena museum ini dulunya rumah pribadi bupati, maka koleksinya tidak diletakkan di aula besar namun tersebar di kamar-kamar, taman samping, dan ruang dalam yang sejuk namun cenderung gelap di sore itu (mungkin karena tidak semua jendela dibuka). Koleksinya cukup banyak dan bersih. Selanjutnya biar beberapa slide saja yang bercerita:

Powered by TripAdvisor

Museum Kartini Rembang ini, menurut saya, memiliki koleksi yang lebih baik dari kembarannya di Jepara. Bisa jadi demikian karena Kartini membawa banyak barang pribadinya setelah menikah. Kemudian lokasi museum yang dulunya memang kediaman Kartini mampu menampilkan sosoknya secara lebih personal.

Namun bukan berarti pengelolaannya tanpa cacat. Koleksi-koleksi museum perlu dibersihkan lebih teliti. Lalu ruang pamer sudah cukup memadai dan diberi lampu-lampu penerang yang cukup. Bahkan ada pula seperangkat komputer yang dapat menerangkan sejarah Kartini dan juga Rembang pada umumnya. Tetapi … komputer-komputer tersebut mati ketika saya datang. “Lagi error, Mas,” begitu jawabannya. Ya sudahlah. 😦