Tag Archives: postaday2011

Tantangan Menulis Novel

Source: beijing-kids.com

Menulis Novel?

Apa kamu sudah gila?!

Ya ya ya saya memang gila sedikit. πŸ˜€ Ngeblog aja jarang-jarang, masih ingin menulis novel. Namun saya tidak sendirian yang berpikirΒ gila. Mungkin ada yang belum tahu bahwa bulan November telah ditetapkan sebagai Bulan Menulis Novel Nasional atau National Novel Writing Month di Amerika yang populer disebut dengan NaNoWriMo. Penjelasannya sederhana: tantangan menulis novel dimulai tanggal 1 November dengan target 50,000 kata yang harus selesai pada tanggal 30 November. Ini berarti rata-rata tulisan yang harus dihasilkan per hari adalah 1,667 kata.

Realistis apa tidak? Sebagai gambaran, tulisan yang saya hasilkan di blog ini rata-rata 500-700 kata dengan frekuensi 1-2 kali per minggu. Ini berarti saya harus menghasilkan 2-3 tulisan per hari selama sebulan penuh guna memenuhi target. Lalu tulisan tersebut bukanlah blog yang berhenti pada 1 artikel saja melainkan harus sambung-menyambung temanya. Apakah saya sudah gila?!

Continue reading Tantangan Menulis Novel

Advertisements

Dunia di Tahun 2020

Kelas baru yang mulai diadakan setiap Rabu dan Jumat sebagian besar diisi oleh murid-murid SMP dan segelintir murid SMA; total 13 orang. Yang membuat saya kagum adalah level kemampuan Bahasa Inggris mereka yang di atas rata-rata teman sebayanya. Ada juga beberapa yang masih harus dipoles lebih banyak, namun tingkat kepercayaan diri mereka cepat bertambah seiring lancarnya anak-anak tersebut mengemukakan pendapatnya. Nah, topik yang kami diskusikan minggu lalu adalah bagaimana kondisi dunia pada umumnya di tahun 2020. Mind you, tahun 2020 hanya tinggal 9 tahun lagi dari sekarang sehingga evolusi teknologi hingga waktu itu masih belum banyak berubah, bukan?! Ya kan?!!

Tapi tidak menurut anak-anak cerdas dan ‘gila’ itu.

Continue reading Dunia di Tahun 2020

Pikir-pikir Semur Jengkol

Topik ini (lagi-lagi) muncul di Daily Post yang menantang saya menceritakan makanan yang sampai sekarang belum berani saya coba. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk menentukan jawabannya: Semur Jengkol, atau jenis masakan apapun yang berbahan dasar jengkol. Alasannya sudah tentu: tidak tahan dengan baunya. Seseorang yang makan jengkol dan kemudian pergi ke toilet, dijamin akan memabukkan pengguna toilet sesudahnya dan itu sudah pernah terjadi beberapa kali pada saya. Ya, saya pernah muntah di toilet karena mencium bau jengkol namun tidak bisa keluar dari sana karena saya sendiri sedang dalam keadaan emergency (artikan sendiri ya). πŸ˜€

Namun apakah jengkol memang berkhasiat?!

Continue reading Pikir-pikir Semur Jengkol

Introducing Posterous

Kegilaan apa pula ini?

Yah, sepanjang 2 hari ini saya tidak banyak bergerak karena sedang sakit maka jadilah saya mengutak-atik blog, termasuk 2 layanan blog lama namun belum saya sentuh: Tumblr dan Posterous. Kedua platform ini memposisikan diri di antara full blog seperti Blogspot dan WordPress dengan microblog seperti Twitter.

Dari beberapa pertimbangan yang saya baca, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada Posterous oleh karena kemudahannya dalam mempublikasikan tulisan semudah mengirimkan email saja. Meski saya lebih suka dengan themes yang ada di Tumblr karena lebih catchy, nyatanya beberapa fungsi mobile blogging tidak bisa dijalankan.

Lalu mengapa saya membuat blog baru lagi? Apakah yang ini tidak cukup?! Jawabannya: saya tidak tahu juga. πŸ˜€ Semua berangkat dari keisengan belaka. Jelas saya akan mengutamakan blog ini sementara yang satu itu menjadi sampingan saja, curahan instant yang dapat saya publikasikan lewat email atau HP, atau posting foto terbaru secara cepat setelah saya memotretnya.

So check out indobrad.posterous.com ya πŸ˜€

Musim Cuti Yang Bererti: Novel Brunei

Ya, benar sekali dugaan Anda. Saya memang membaca novel Brunei. Sudah ada 3 buku yang saya koleksi, terdiri dari 2 novel dan 1 kumpulan cerpen. Awal saya mengoleksi ketiga buku tersebut sebenarnya tidak sengaja ketika saya berkunjung ke pameran buku 2-3 tahun lalu di Jakarta dan Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei membuka stand-nya. Yang menarik perhatian saya adalah harga buku-bukunya yang luar biasa murah: novel setebal 120 halaman dijual dengan harga Rp 10,000.- saja (setara 1.20 US Dollar). Ah saya ingat kalau DBP Brunei adalah sebuah badan pemerintah yang tentunya wajar memberi subsidi pada buku-buku terbitannya sendiri demi memajukan ilmu pengetahuan dan sastra lokal. Jadilah saya membeli 1 buku, yang kemudian malah diberi bonus 1 buku lain yang lebih tebal. πŸ˜€ Tahun berikutnya saya bertemu lagi dengan stand itu dan saya menjumpai lagi buku-buku murah meski tidak ada bonusnya. Jadilah ketiga buku itu saya koleksi di rumah namun lama tak terbaca. Kali ini saya ingin mengupas satu buku saja dulu sekaligus memperkenalkan sekelumit sastra Brunei kepada pembaca. Novel berjudul Musim Cuti Yang Bererti karya Chong Ah Fok.

Continue reading Musim Cuti Yang Bererti: Novel Brunei

Jika Aku Pindah Kota

Topik menarik kembali muncul di Daily Post beberapa hari yang lalu, ‘What Would It Take to Get You to Move?’; atau apa yang harus ada agar Anda mau pindah kota?! Seumur-umur saya belum pernah pindah ke kota lain untuk bekerja ya, semua berkutat dan berputar di Jakarta dan sekitarnya. Paling-paling tinggal di luar kota maksimal 1 bulan untuk pekerjaan, sesudah itu kembali lagi. Saya memandang kehidupan warga di kota lain dari kacamata warga Jakarta; hanya sisi unik dan menarik yang nampak sementara realita kehidupan jarang teramati. Memang itulah impresi yang didapat jika kita berkunjung ke sebuah daerah sebagai traveller, hanya sisi manis yang membuat kita selalu mengenang daerah tersebut dengan rasa rindu. Sementara itu jika kita berkunjung ke sana sebagai explorer, tinggal di sana beberapa waktu dan bergaul akrab dengan masyarakat lokal serta emosi kita larut dalam dinamika pemikiran setempat, maka ketiga macam perasaan yang lazim keluar pada masa adaptasi akan kita alami sebagai berikut:

‘Bulan Madu’: di mana segala sesuatu yang ada di daerah itu tampak manis dan romantis. Biasanya berlangsung 1-2 bulan pertama saja.

‘Neraka Dunia’: kita membenci segala sesuatu yang ada di daerah itu dan ingin cepat-cepat pergi dari sana. Emosi kita akan tambah naik apabila kita tidak bisa keluar juga oleh karena tuntutan studi, keluarga, dan pekerjaan. Fase ini bisa berlangsung selama 3-6 bulan.

‘Berdamai dengan Situasi’: kita telah merasakan baik-buruknya hidup di daerah tersebut dan semakin imbang dalam memahami situasi. Yang baik tidak selamanya indah dan yang buruk ternyata tidak terlalu jelek juga. Setelah kita dapat survive di daerah itu, fase ini akan lebih permanen durasinya.

Jadi kembali ke topik awal, bagaimana jika saya diminta pindah kota? Apa saja syarat-syaratnya?

Continue reading Jika Aku Pindah Kota

Tweet ke-5000

Wow, tak disangka saya sampai juga ke angka 5000 untuk jumlah tweet saya. Bolehlah ini disebut sebagai sebuah pencapaian, secara saya tidak terlalu sering berinteraksi di Twitter dan isinya masih lebih banyak curhatan dan omelan sendiri. πŸ˜€ Saya masih harus belajar banyak dari teman-teman yang sudah menjadi buzzer di social media dan sukses menghimpun ratusan bahkan ribuan followers, sementara angka followers saya masih tidak beranjak dari 200-an. Apakah teman-teman ada tips khusus untuk menjadi buzzer yang sukses?!

Ah, untuk sementara mari kita rayakan pencapaian 5,000 tweet ini dulu. πŸ˜€

Bokin Kokay

A: “Calon bokin gw kokay, cing. Maklum keluarga cokin, pinter cari doku.
B: “Mantep dong, mana bahenol lagi kayak di pilem-pilem bokep!
A: “Ah gokil lu. Toket mulu yang dipikirin!
B: “Hehe, maapin dah. Eh lu kagak mokal make sepokat kayak gitu ke rokumnye?”

Apa yang melintas di pikiran Anda ketika membaca atau jika mendengar percakapan di atas? Tertawa geli atau malah jijik mau muntah? Dua-duanya adalah reaksi yang wajar menurut saya. πŸ˜€ Ngomong-ngomong Anda paham percakapannya gak sih? #eaaa. Atau malah sebagian kosakata pada percakapan itu tidak dimengerti?! Wajar juga kalau Anda tidak paham arti sebagian kata-katanya. Kata-kata ‘aneh’ itu lazim dipakai pada era 1970-an di Jakarta dan menjadi salah satu ragam varian Bahasa Indonesia, terlepas dari kritik yang menyertainya. Namanya Bahasa Prokem.

Continue reading Bokin Kokay