Tag Archives: Melaka

#Writing101: The (In)Comparable Jogja

Whenever I visit a new country, I often have a somewhat strange habit of trying to find a local town which can connect me back to a place I always call a second home and, thus, can make me feel at ease: Jogja. The temporary capital city of Indonesia during the Independence Struggle from the Dutch after WW2 offers a harmony of the royal heritage with the touch of modernity, plus a vibrant student community.

But I’ve never been out of Asia so I’m sure there are lots of other places to compare to. These are just some examples:

Kyoto, Japan

The first time I set foot in Kyoto was back in the 90s. I stepped out of the train station and soon was transported back to the Empire and Bushido eras where the shrines dotted every town and people celebrated the festivities in colorful kimonos. Kyoto has changed its cosmetics, but the ancient soul still lies within the ancient temples and people’s hearts.

Siem Reap

Ah, Angkor Wat. The city of temples are within easy reach from downtown Siem Reap and you can roam around the streets in tuktuks, bicycles, or even on foot while admiring the grandeur. And don’t forget the Pub Street where you can have cheap Cambodian beer and comforting foot massage. Life is sweet in Indochina.

Melaka, Malaysia

Just under 2 hours from the capital Kuala Lumpur, Melaka offers the chance to cruise the river and admire the colonial architectures and the Chinatown, all within walking distance. Tired after visiting the churches and Portuguese ruins, you can head to Jonker Street in the evening to party at the local bars. Yeah baby!

Many places can make me feel like home, but nothing really compares to home: the rickshaws, the street snacks, the ambience, the warmth, and the people. Most travelers can easily immerse in the local culture and often forget where they come from, but I’m a guy who will miss Nasi Goreng on the third day of the journey and have a lump in my throat when calling Mum.

Would that make me qualify as a traveler, at all?

Romantika Melaka

Pernahkah kamu jatuh cinta pada sebuah kota?

Selepas urusan lain di Genting Highlands dan Kuala Lumpur (soal ini tunggu postingan selanjutnya ya), saya melangkahkan kaki ke Melaka dan perjalanan dimulai dari Stasiun KL Sentral ke arah selatan via KTM menuju stasiun Bandar Tasik Selatan (BTS). Stasiun kereta api ini ternyata bersebelahan dengan Terminal Bersepadu Selatan (TBS), salah satu terminal bis utama di kawasan Kuala Lumpur; khususnya bagi bis-bis ke arah selatan Malaysia. Dengan jarak tempuh sekitar satu setengah jam saja, saya sudah tiba di terminal bis Melaka Sentral. Selamat datang ke Melaka!

Terminal Bersepadu Selatan, KL, yang lebih mirip bandar udara!
Selamat datang ke Melaka

Berjumpa kawan blogger

Sebenarnya selain mengunjungi tempat bersejarah di Melaka, tujuan utama lainnya saya kemari adalah berjumpa dengan kawan blogger yang telah saya kenal hampir setahun terakhir dan beliau berdomisili di Melaka. Namanya Zool Zarizi, pemilik blog Liga Kampung yang banyak mengulas dunia sepak bola lokal dan hal-hal lain. Awalnya saya berkenalan dengan beliau pada penghujung tahun lalu adalah kala Indonesia sedang melangsungkan pertarungan sengit dengan Malaysia di Piala AFF yang akhirnya dimenangkan oleh Malaysia. Pada masa itu serangan tidak hanya berlangsung di lapangan bola saja namun juga di dunia maya. Para pengguna internet Indonesia dan Malaysia saling mencaci-maki hingga nama baik kedua bangsa sama-sama terhina dan aroma perseteruan memanas. Di tengah-tengah keriuhan ini saya lalu mencoba mencari tulisan dari blogger-blogger Malaysia yang mengulas persoalan ini dari sisi ‘lawan’ dan sampailah saya di tempat Zool. Setelah beberapa kali bertukar sapa, kami pun berkawan.

Sayangnya pada bulan Mei lalu saya tidak dapat menjumpai Zool karena hanya singgah semalam saja di Kuala Lumpur sebelum melanjutkan perjalanan ke Kamboja. Namun kali ini saya ‘memaksa’ untuk pergi ke Melaka dan menjumpai beliau. Zool adalah seorang pegawai negeri di sebuah institusi pemerintahan di Melaka (saya lupa nama kantornya) dan hari-hari beliau memang sibuk. Namun Zool akhirnya menyempatkan diri menjumpai saya di terminal Melaka Sentral dan kami pun menghabiskan waktu mengobrol banyak. Pembicaraan akrab seputar dunia blogging dan pekerjaan masing-masing sampai perbedaan yang menarik antara orang Indonesia dan Malaysia tak terasa mengantarkan kami hingga petang hari. Akhirnya Zool berbaik hati pula mengantarkan saya ke Lorong Hang Jebat karena saya mesti mencari penginapan. Zool, terima kasih atas kebaikanmu, bro. ๐Ÿ˜€

@zoolligakampung

Melaka Bandar Bersejarah

Didirikan pada tahun 1400 oleh Parameswara, raja terakhir di Singapura yang melarikan diri dari serangan Majapahit dan lalu berjaya membentuk pemerintah Kesultanan Melaka yang berdaulat hingga tahun 1511 ketika Portugal menjungkalkan sultan terakhir dan mengakhiri riwayat kesultanan itu. Sepanjang abad-abad berikutnya, Melaka menjadi saksi pergantian kekuasaan dari Portugal, Belanda, dan akhirnya Inggris yang memerintah Melaka sampai tahun 1957 ketika Malaya meraih kemerdekaan. Oleh karena kekhasan sejarah yang tidak banyak ditemui di tempat lain di Malaysia dan juga interaksi budaya yang menjadikan kota ini bagaikan melting pot Asia, banyak sekali wisatawan yang khusus datang ke Melaka guna menikmati peninggalan sejarahnya; tak terkecuali saya yang petang itu disambut hujan rintik nan romantis.

Saya memang mudah jatuh cinta dan suasana Melaka sore itu sangat mendukung. Hujan rintik namun masih dapat dilalui dengan menggunakan payung, saya lalu menyusuri Jalan Laksamana memasuki kawasan kota tua yang ditandai dengan tembok-temboknya yang berwarna merah. Ada beberapa cerita yang melatarbelakangi warna merah manyala itu; salah satunya adalah guna menghemat ongkos pemeliharaan gedung yang dulu umumnya dicat putih dan lama-kelamaan cat putih itu kotor oleh cipratan tanah di musim hujan dan oleh kereta-kereta kuda yang lewat. Maka warna merah dipilih karena tidak akan mudah terlihat kotor. Sejenak sebelum memasuki kawasan gedung pemerintahan, saya terpaku di depan Gereja Katolik St. Francis Xavier dan tersenyum melihat letaknya yang di belakang kantor pemerintahan; itulah ciri khas Belanda yang pada zaman dahulu mendiskriminasi umat Katolik dan para misionarisnya. Setelah keluar dari Jalan Laksamana, sampailah saya di lapangan terbuka di depan Gedung Stadthuys dan Christ Church yang masih berdiri megah. Stadthuys didirikan pada tahun 1650 dan tercatat sebagai bangunan tertua peninggalan Belanda di Asia Tenggara dan berfungsi sebagai kantor pemerintahan Belanda, Inggris, dan bahkan Malaysia hingga akhirnya gedung ini dialihfungsikan menjadi Museum Sejarah, Etnografi dan Sastra Malaysia pada tahun 1979. Di tengah-tengah kompleks ini berdirilah Christ Church yang didirikan pada tahun 1753 dan awalnya bernama Gereformeerde Kerk sebelum berubah menjadi Gereja Anglikan. Kini tempat itu masih berfungsi sebagai sarana peribadatan umat Kristen dan bagian dalamnya ditutup untuk umum tiap Sabtu-Minggu.

Becak-becak berhiaskan bunga-bunga cantik yang mangkal di depan Christ Church
Museum Maritim Malaysia dengan icon kapal layar bersejarah. Spanduk di sampingnya adalah informasi perayaan 750 tahun Pelayaran Bersejarah Palembang – Melaka
Tepi pantai Melaka

Gempita Jonker Street

Jonker Street, atau yang kini bernama resmi Jalan Hang Jebat, adalah pusat kegiatan wisatawan di Melaka yang sejak dulu diramaikan oleh toko-toko pengumpul benda-benda seni dan kerajinan. Di seputar kawasan ini bertebaran beberapa museum seperti Museum Cheng Ho dan Museum Peranakan Baba-Nyonya. Namun tempat ini bukan hanya ramai oleh para peminat seni; jalan yang tidak terlalu lebar ini justru lebih ramai di malam hari sebagai pusat belanja oleh-oleh, surga kuliner berbagai etnis di Melaka, dan gegap-gempitanya dunia malam yang bar-barnya sampai tumpah-ruah ke trotoar. Secara kebetulan Jumat malam di bulan Oktober itu sedang diadakan Oktoberfest, yakni festival bir yang berasal dari Jerman namun dengan meriah diadakan di salah satu sudut gang yang dipenuhi oleh bar yang semuanya menyediakan kursi di jalan dan berember-ember bir dingin bagi para pengunjung. Suasana malam tambah meriah dengan penampilan band yang memukau dan, ini yang ditunggu, lomba minum bir! ๐Ÿ˜€ Saya jadi lupa kalau sedang berada di Malaysia.

Gerbang utama Jonker Street, Melaka

***

Dari kacamata subjektif, Melaka dapat disandingkan dengan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi: Yogyakarta di Indonesia, Kyoto di Jepang, Gwangju di Korea, dan Siem Reap di Kamboja. Semua tempat ini terkenal dengan wisata sejarah yang menjadi destinasi wajib setelah ibukota negara masing-masing. Persamaan lainnya adalah lokasi tempat-tempat wisata itu dapat dijangkau dengan mudah; lalu ‘aroma’ kotanya yang, meski sudah tersentuh peradaban modern, tetap tidak kehilangan jiwa sejatinya. Saya selalu jatuh cinta dengan tempat-tempat seperti itu, dan kini saya jatuh cinta lagi di Melaka.

Ingin lihat lebih banyak lagi foto? Sila simak slideshow berikut ini:

http://images.travelpod.com/bin/tripwow/flash/tripwow.swf

#MYTrip, Melaka Episode Slideshow: @indobradโ€™s trip to Melaka was created with TripAdvisor TripWow!

Oh ya, terakhir ini adalah pose mengenaskan yang terpaksa saya ambil karena tidak pernah ada kesempatan mengambil gambar sendiri di depan monumen-monumen bersejarah kalau kita sedang traveling sendirian. ๐Ÿ˜€