Tag Archives: malaysia

Malacca oh Malacca

I sometimes wonder: am I the only lunatic who likes to take snapshots of rivers wherever I go? I’ve been to many rivers and creeks only to take time to look at the stream and admire the view, or to curse the mismanagement that causes the water pollution.

Having seen various kinds of rivers, I am particularly drawn to Malacca River in Malaysia. Honestly, nothing much can be found here except the dense population in the old town and the tourist boats patroling the stream up and down. Even the quality of the water does not boast anything. However, compared to the rivers in several Indonesian cities, this one meanders calmly with groups of fish swimming around. Thanks to the strict environment policy of the local government, Malacca River has been kept clean throughout these years. And that, my friend, should well be a source of inspiration to the officials in my country.

This slideshow requires JavaScript.

===

More takes on this challenge can be found here.

Fun! Fun! Fun!

Fun! Cuma kata itu yang mampu menggambarkan perasaan saya ketika memasuki kawasan Resorts World Genting di sore hari yang berkabut tipis itu. Selepas masuk ke kamar dan berganti pakaian, kami lalu pergi ke restoran yang sekilas dari luar tampak seperti tempat makan casual biasa yang namun di dalamnya menyajikan makanan istimewa ditambah dengan deretan wine yang, wuih… sebaiknya ulasan soal makanan ini mesti diberi tempat tersendiri. Pokoknya semua restoran yang kami masuki menyajikan hidangan yang benar-benar istimewa.

Namun tujuan utama kami ke sini sebenarnya bukan makan dan bukan pula bermain kasino. Ohoho no, memang di sini ada kasino dan ada pula yang sempat bertanya pada saya apakah saya sempat berkunjung ke kasino. Jawabannya: kasino adalah jenis hiburan yang pengunjungnya diteliti dengan seksama agar tidak mengganggu ketenteraman warga Malaysia umumnya. Jadi meski saya memang sempat masuk ke area kasino, saya tidak berlama-lama di sana. Masih banyak atraksi lainnya yang lebih menarik, gitu loh ๐Ÿ˜€

Patio Bar & Lounge

O iya, sebenarnya pada waktu pertama kali kami datang ke Malaysia kami tidak terlalu mengenal satu sama lain. Hanya 2 orang peserta rombongan yang saya kenal sebelumnya dan melalui merekalah saya boleh berkenalan dengan peserta lain. Menurut pemikiran orang Asia Timur, kita belum bisa dibilang bergaul akrab dengan seseorang kalau belum makan dan minum bersama mereka. Maka jadilah sesi ice breaking kita lakukan di sebuah bar yang katanya paling keren di Genting kalau malam: Patio. Dengan perut masih kenyang selepas makan malam, kami melongo karena disuguhi kentang goreng porsi besar dan mau tidak mau terpaksa saya makan juga sambil menangisi diet yang hancur berantakan. Aaaargh! Namun lupakan diet, sekarang saatnya bersenang-senang dengan kawan baru ditemani minuman pembakar semangat: Flaming Lamborghini!

Flaming Lamborghini (sumber: cnngo.com)

Flaming Lamborghini adalah sejenis cocktail yang berisi campuran kahlua, sambuca, bailey, dan blue curacao yang mengandung jenis alkohol yang mudah terbakar dan memang dibakar di depan pelanggan sebagai bagian dari atraksi bartender. Jangan kuatir, api yang menyala dari alkohol tersebut hanyalah dekorasi dan tidak mengubah rasa minuman sama sekali meski kita harus segera menghabiskannya karena suhu minuman cepat panas dan lama-kelamaan sedotan yang kita gunakan bisa terbakar. Satu-per-satu kami mencobanya dan semua berteriak kesenangan karena sensasi hangatnya yang cepat sekali naik. Ditambah dengan live music yang ciamik di panggung, suasana malam itu langsung mencairkan kekakuan di antara kami. Ya iyalah, besoknya kan kita akan seru-seruan di theme park.

Genting Outdoor Theme Park

Saya sangat bersemangat saat memulai hari kedua di Resorts World Genting yang pagi itu nampak berkabut tipis selepas hujan semalam. Pada jam 9 pagi kami bersiap di Bakery untuk sarapan yang terlalu besar untuk disebut sarapan karena kami disuguhi aneka kue dan roti yang super mengenyangkan. Seakan tidak ada waktu mencerna makanan, kami sudah harus membakar lagi kalori tersebut dengan memulai petualangan seru di arena sebenarnya: Genting Outdoor Theme Park!ย 

Ada dua jenis area taman hiburan di Genting yang dinamai sesuai kondisinya di dalam dan luar ruangan: Indoor Theme Park & Outdoor Theme Park. Taman hiburan ini boleh dibilang yang terbesar di Malaysia dengan lebih dari 40 jenis permainan untuk segala usia. Dibandingkan beberapa taman hiburan yang pernah saya masuki di seluruh Asia, Genting Outdoor Theme Park ini lebih menyasar ke pengunjung keluarga sehingga hampir semua permainannya dapat dinaiki oleh anak-anak bertubuh tinggi minimal 1 meter. Tanpa membuang waktu, kami langsung menuju beberapa permainan utama yang dibuka hari itu. Hmmm.

Yang pertama dituju adalah Spinner yang berbentuk mirip komidi putar namun dapat mengangkat kita ke atas dan berputar-putar di udara. Terlihat sederhana namun coba rasakan sendiri sensasinya. Hati-hati kepala pusing ketika turun namun dijamin Anda tidak menolak untuk naik kedua kalinya. Yang kedua kami coba adalah Corkscrew yang mengajak Anda berputar naik-turun di rel yang menjamin Anda akan berteriak puas. Ada pula wahana baru yang belum ada di Indonesia yakni Flying Coaster yang dinaiki dalam posisi tengkurap bagai Superman.

Corkscrew (sumber: j-travel.blogspot.com)

First World Indoor Theme Park

Sesuai lokasinya, taman hiburan tertutup ini berada di First World Hotel yang lokasinya mudah dijangkau dari Outdoor Theme Park. Di sini ada beberapa lagi jet coaster dan kereta monorail yang juga membawa kita melihat suasana di luar ruangan. Namun atraksi utama yang paling mendebarkan di sini adalah Sky Venture yang mengajak kita mengalami suasana terjun bebas di terowongan angin dengan berbagai gaya. Saking mendebarkannya, ada beberapa peraturan yang wajib dipatuhi di sini:

1. Anda tidak boleh berpenyakit jantung atau pernah mengalami patah tulang karena akan berisiko pada tubuh Anda.

2. Berat badan Anda tidak boleh melebihi 95 kilogram.

3. Patuhi instruksi selama briefing dan peserta wajib mengenakan baju dan perlengkapan keamanan.

Total waktu yang Anda habiskan selama briefing dan masuk ke terowongan sebanyak 2 kali adalah 45 menit hingga 1 jam. Oleh karena itu pastikan Anda paham jadwal atraksi ini dibuka agar Anda tidak kecewa karena tidak ada waktu. Namun atraksi ini juga punya kebijakan lain, yakni tidak akan buka apabila cuaca di luar hujan karena air dapat tersedot masuk ke terowongan angin di dalam dan mengganggu peserta.

Sky Venture (sumber: gentingwindtunnel.com)

Pernah berkunjung ke Eropa atau Amerika di musim dingin dan merasakan suhu di bawah nol derajat Celcius? Kalau belum, tak perlu jauh-jauh ke sana. Di Genting ada wahana Snow World yang mengajak Anda masuk ke suasana musim dingin di Eropa dengan suhu sampai – 8 derajat Celcius. Wajah dan telinga rasanya mengeras saking beku dan dinginnya. Jangan coba-coba memakai celana pendek masuk ke sana karena Anda akan meringkuk kedinginan tak mau berjalan. Hahaha.

Snow World (sumber: gozoomaclassic.photoshelter.com)

Freeze 2

Selain wahana permainan di taman hiburan, Genting juga tempatnya musisi, artis, dan pelaku industri hiburan lainnya berekspresi. Salah satu yang sempat saya saksikan ketika berkunjung ke sana adalah Freeze 2, sebuah kombinasi atraksi olahraga ice-skating dengan sulap dan akrobat yang mengundang decak kagum hadirin. Secara saya naik sepatu roda aja gak bisa, kan?! ๐Ÿ˜‰

Freeze 2 (sumber: room8five.com)

Secara keseluruhan, atraksi hiburan di Genting Highlands dan juga pusat-pusat perbelanjaan dan makanannya benar-benar memanjakan pengunjung dan saya benar-benar puas menikmati segala kemeriahan yang ada, dan yang paling penting: tanpa harus ke kasino! ๐Ÿ˜€

Berikut saya bagikan beberapa foto mengesankan ketika segerombolan orang Indonesia kocak pergi ke sana. Xixixixi.

Oh iya, cerita saya belum selesai lo. Ada bagian yang sengaja saya simpan untuk diceritakan di tulisan berikutnya: wisata kuliner di Genting Highlands. Slurp. Tunggu cerita selanjutnya ya. ๐Ÿ˜€

Romantika Melaka

Pernahkah kamu jatuh cinta pada sebuah kota?

Selepas urusan lain di Genting Highlands dan Kuala Lumpur (soal ini tunggu postingan selanjutnya ya), saya melangkahkan kaki ke Melaka dan perjalanan dimulai dari Stasiun KL Sentral ke arah selatan via KTM menuju stasiun Bandar Tasik Selatan (BTS). Stasiun kereta api ini ternyata bersebelahan dengan Terminal Bersepadu Selatan (TBS), salah satu terminal bis utama di kawasan Kuala Lumpur; khususnya bagi bis-bis ke arah selatan Malaysia. Dengan jarak tempuh sekitar satu setengah jam saja, saya sudah tiba di terminal bis Melaka Sentral. Selamat datang ke Melaka!

Terminal Bersepadu Selatan, KL, yang lebih mirip bandar udara!
Selamat datang ke Melaka

Berjumpa kawan blogger

Sebenarnya selain mengunjungi tempat bersejarah di Melaka, tujuan utama lainnya saya kemari adalah berjumpa dengan kawan blogger yang telah saya kenal hampir setahun terakhir dan beliau berdomisili di Melaka. Namanya Zool Zarizi, pemilik blog Liga Kampung yang banyak mengulas dunia sepak bola lokal dan hal-hal lain. Awalnya saya berkenalan dengan beliau pada penghujung tahun lalu adalah kala Indonesia sedang melangsungkan pertarungan sengit dengan Malaysia di Piala AFF yang akhirnya dimenangkan oleh Malaysia. Pada masa itu serangan tidak hanya berlangsung di lapangan bola saja namun juga di dunia maya. Para pengguna internet Indonesia dan Malaysia saling mencaci-maki hingga nama baik kedua bangsa sama-sama terhina dan aroma perseteruan memanas. Di tengah-tengah keriuhan ini saya lalu mencoba mencari tulisan dari blogger-blogger Malaysia yang mengulas persoalan ini dari sisi ‘lawan’ dan sampailah saya di tempat Zool. Setelah beberapa kali bertukar sapa, kami pun berkawan.

Sayangnya pada bulan Mei lalu saya tidak dapat menjumpai Zool karena hanya singgah semalam saja di Kuala Lumpur sebelum melanjutkan perjalanan ke Kamboja. Namun kali ini saya ‘memaksa’ untuk pergi ke Melaka dan menjumpai beliau. Zool adalah seorang pegawai negeri di sebuah institusi pemerintahan di Melaka (saya lupa nama kantornya) dan hari-hari beliau memang sibuk. Namun Zool akhirnya menyempatkan diri menjumpai saya di terminal Melaka Sentral dan kami pun menghabiskan waktu mengobrol banyak. Pembicaraan akrab seputar dunia blogging dan pekerjaan masing-masing sampai perbedaan yang menarik antara orang Indonesia dan Malaysia tak terasa mengantarkan kami hingga petang hari. Akhirnya Zool berbaik hati pula mengantarkan saya ke Lorong Hang Jebat karena saya mesti mencari penginapan. Zool, terima kasih atas kebaikanmu, bro. ๐Ÿ˜€

@zoolligakampung

Melaka Bandar Bersejarah

Didirikan pada tahun 1400 oleh Parameswara, raja terakhir di Singapura yang melarikan diri dari serangan Majapahit dan lalu berjaya membentuk pemerintah Kesultanan Melaka yang berdaulat hingga tahun 1511 ketika Portugal menjungkalkan sultan terakhir dan mengakhiri riwayat kesultanan itu. Sepanjang abad-abad berikutnya, Melaka menjadi saksi pergantian kekuasaan dari Portugal, Belanda, dan akhirnya Inggris yang memerintah Melaka sampai tahun 1957 ketika Malaya meraih kemerdekaan. Oleh karena kekhasan sejarah yang tidak banyak ditemui di tempat lain di Malaysia dan juga interaksi budaya yang menjadikan kota ini bagaikan melting pot Asia, banyak sekali wisatawan yang khusus datang ke Melaka guna menikmati peninggalan sejarahnya; tak terkecuali saya yang petang itu disambut hujan rintik nan romantis.

Saya memang mudah jatuh cinta dan suasana Melaka sore itu sangat mendukung. Hujan rintik namun masih dapat dilalui dengan menggunakan payung, saya lalu menyusuri Jalan Laksamana memasuki kawasan kota tua yang ditandai dengan tembok-temboknya yang berwarna merah. Ada beberapa cerita yang melatarbelakangi warna merah manyala itu; salah satunya adalah guna menghemat ongkos pemeliharaan gedung yang dulu umumnya dicat putih dan lama-kelamaan cat putih itu kotor oleh cipratan tanah di musim hujan dan oleh kereta-kereta kuda yang lewat. Maka warna merah dipilih karena tidak akan mudah terlihat kotor. Sejenak sebelum memasuki kawasan gedung pemerintahan, saya terpaku di depan Gereja Katolik St. Francis Xavier dan tersenyum melihat letaknya yang di belakang kantor pemerintahan; itulah ciri khas Belanda yang pada zaman dahulu mendiskriminasi umat Katolik dan para misionarisnya. Setelah keluar dari Jalan Laksamana, sampailah saya di lapangan terbuka di depan Gedung Stadthuys dan Christ Church yang masih berdiri megah. Stadthuys didirikan pada tahun 1650 dan tercatat sebagai bangunan tertua peninggalan Belanda di Asia Tenggara dan berfungsi sebagai kantor pemerintahan Belanda, Inggris, dan bahkan Malaysia hingga akhirnya gedung ini dialihfungsikan menjadi Museum Sejarah, Etnografi dan Sastra Malaysia pada tahun 1979. Di tengah-tengah kompleks ini berdirilah Christ Church yang didirikan pada tahun 1753 dan awalnya bernama Gereformeerde Kerk sebelum berubah menjadi Gereja Anglikan. Kini tempat itu masih berfungsi sebagai sarana peribadatan umat Kristen dan bagian dalamnya ditutup untuk umum tiap Sabtu-Minggu.

Becak-becak berhiaskan bunga-bunga cantik yang mangkal di depan Christ Church
Museum Maritim Malaysia dengan icon kapal layar bersejarah. Spanduk di sampingnya adalah informasi perayaan 750 tahun Pelayaran Bersejarah Palembang – Melaka
Tepi pantai Melaka

Gempita Jonker Street

Jonker Street, atau yang kini bernama resmi Jalan Hang Jebat, adalah pusat kegiatan wisatawan di Melaka yang sejak dulu diramaikan oleh toko-toko pengumpul benda-benda seni dan kerajinan. Di seputar kawasan ini bertebaran beberapa museum seperti Museum Cheng Ho dan Museum Peranakan Baba-Nyonya. Namun tempat ini bukan hanya ramai oleh para peminat seni; jalan yang tidak terlalu lebar ini justru lebih ramai di malam hari sebagai pusat belanja oleh-oleh, surga kuliner berbagai etnis di Melaka, dan gegap-gempitanya dunia malam yang bar-barnya sampai tumpah-ruah ke trotoar. Secara kebetulan Jumat malam di bulan Oktober itu sedang diadakan Oktoberfest, yakni festival bir yang berasal dari Jerman namun dengan meriah diadakan di salah satu sudut gang yang dipenuhi oleh bar yang semuanya menyediakan kursi di jalan dan berember-ember bir dingin bagi para pengunjung. Suasana malam tambah meriah dengan penampilan band yang memukau dan, ini yang ditunggu, lomba minum bir! ๐Ÿ˜€ Saya jadi lupa kalau sedang berada di Malaysia.

Gerbang utama Jonker Street, Melaka

***

Dari kacamata subjektif, Melaka dapat disandingkan dengan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi: Yogyakarta di Indonesia, Kyoto di Jepang, Gwangju di Korea, dan Siem Reap di Kamboja. Semua tempat ini terkenal dengan wisata sejarah yang menjadi destinasi wajib setelah ibukota negara masing-masing. Persamaan lainnya adalah lokasi tempat-tempat wisata itu dapat dijangkau dengan mudah; lalu ‘aroma’ kotanya yang, meski sudah tersentuh peradaban modern, tetap tidak kehilangan jiwa sejatinya. Saya selalu jatuh cinta dengan tempat-tempat seperti itu, dan kini saya jatuh cinta lagi di Melaka.

Ingin lihat lebih banyak lagi foto? Sila simak slideshow berikut ini:

http://images.travelpod.com/bin/tripwow/flash/tripwow.swf

#MYTrip, Melaka Episode Slideshow: @indobradโ€™s trip to Melaka was created with TripAdvisor TripWow!

Oh ya, terakhir ini adalah pose mengenaskan yang terpaksa saya ambil karena tidak pernah ada kesempatan mengambil gambar sendiri di depan monumen-monumen bersejarah kalau kita sedang traveling sendirian. ๐Ÿ˜€