Tag Archives: lasem

The Three Tiles

Can you name the events depicted in these trio images from the books of John, Acts of the Apostles*, and Genesis?

“Rumah Tegel” (The Tile House) was a tile factory in Lasem, a small town in Central Java, Indonesia, whose products once decorated the residences of the royal families and wealthy merchants across the island. The factory is now defunct but visitors are still allowed to come inside and appreciate some of the artworks that the owner families left behind.

At a corner of the terrace, I came across these images that serve as decorative coating on the tiles. I was puzzled at first before recognizing two of the images. The first one is taken from John 8, in which Jesus was writing on the ground when Mary Magdalene was about to be stoned to death and He challenged anybody who considered themselves not sinful to step forward and take the stone. Meanwhile the third one is taken from Genesis 3, in which Adam and Eve were cast out of the Garden of Eden.

Now I know that the second image is taken from The Acts of the Apostles*, but the number is unreadable and I cannot really make out the scene. Can anybody help me identify it?

  • It turns out that the image at the second tile is not taken from the book of Acts. Instead, it depicts the scene in Revelation chapter 10. This book is also called Apocalypsis Ioannis, hence the abbreviation APOC. Many thanks Celina for your meticulous attention to the details. 😀

===

Browse more entries in Weekly Photo Challenge: Trio.

Ephemeral: The Cigarette Batik Art

Just outside the city of Lasem in Central Java, where the Chinese first set foot to build their trading network and contribute to the local community, a sleepy small fishermen village of Dasun suddenly went alive with the arrival of a bunch of men on their noisy motorcycles. No, they meant no harm. They were the local artists and heritage activists striving to preserve the local culture. But even activists needed a break and Dasun was chosen for a good reason: a 24-hour home-turned-cafe serving Lelet Coffee, the core raw material for the Cigarette Batik Art.

Several cups of coffee came along with some suspicious-looking equipment: a bottle of condensed milk, tissues, sewing thread, matches, and a wooden bar. What could they be for?

Without hesitation, the gang hurrily set aside their coffee and started to work. First they poured the Lelet Coffee into a plate and took out the sand-like coffee waste by absorbing the liquid using the tissues. Then the condensed milk was poured and mixed as a binding agent. All set. With a cigarette and a piece of charred match at hand, they began creating artwork.

IMG_1747
The tools
The artist's hands
The creative process
The artist. Just kidding; it's the tourist. (It wasn't me) (OK it was).
The artist. Just kidding; he’s the tourist. (He’s not me) (OK he is).
Here are the masterpieces: The Cigarette Batik Art
Here are the masterpieces: The Cigarette Batik Art

As with several things in the world, the art is ephemeral in nature. Those men crafted batik patterns on every piece of cigarette solely to channel their inherent artistic sense as well as to add the coffee sensation to each sip. They will be no more in minutes.

Many Faces of Lasem

Lasem is part of Rembang in Central Java province, around 3 hour-journey east of Semarang. For the residents and visitors, Lasem has many faces.

It was once the heart of the Chinese community with immigrants from the mainland coming in to work, settle down, and later marry the locals. Even today the Chinese community still maintains a strong cultural identity which has drifted significantly from the origin with influence from their Javanese neighbors. The Chinatown is undoubtedly the main reason for people to come. It is relatively untouched by revitalization which makes it bitter sweet as many buildings are left untouched for several years and the ageing process is taking its toll. It is easy to enjoy the Chinatown: just go into any alley and observe the surroundings of Chinese and colonial style buildings guarded by thick white wall fences. I did, and the vibrant energy of spices and opium trade slowly rushed in.

This town is also home to the vibrant Muslim communities which maintain pious doctrines but at the same time are able to live in harmony with their Chinese brothers and sisters. There is even a Pesantren, a boarding school for Muslim students, inside the Chinatown with Chinese Muslims as their scholars. Or the prehistoric and Majapahit era which are slowly being uncovered as the residents find evidences of the past civilizations after digging their backyards. And let’s not forget the small indigenous Buddhist community living on the mountains overlooking Lasem with their own vihara. Every visitor to this town will meet a different Lasem and have a unique personal experience with it. I surely did with the Cigarette Batik Art.

Directions

From Semarang’s Terboyo terminal, hop on to any bus departing for Surabaya and ask the driver to drop you off at the ‘Masjid Besar’ (Grand Mosque) intersection in Lasem. Some hotels are available within 50 meters so you can ask around for room rates. You can get around Lasem to visit Lawang Ombo, Rumah Tegel, the Chinatown, and other sites by renting the motorcycles or hire a becak (rickshaw).

Obviously one blog post is not enough to share you the story of Lasem. So, see you in another post. 😀

Selamatkan Situs Terjan

Matahari baru saja menyembul dari balik pegunungan Lasem ketika saya beranjak menyusuri pesisir Kabupaten Rembang dan mengarah ke timur, kira-kira setengah jam perjalanan dari kota Lasem. Setibanya di kecamatan Kragan, mobil yang dikemudikan mas Aghi berbelok ke kanan memasuki jalan desa yang berdebu dan tidak rata, menyusuri persawahan dan hutan-hutan gersang yang ditengarai masih menyimpan bukti peradaban manusia zaman Megalitik di perut buminya.

Continue reading Selamatkan Situs Terjan

Batik Nongkrong

Malam sudah semakin larut ketika kami menyelesaikan diskusi spontan tentang sejarah dan budaya Lasem di teras rumah kecil di desa Sumbergirang yang masih ramai di hari pertama Festival Lasem itu. Namun meski angin mulai menggigit, sebagian besar di antara kami masih belum mau tidur. Alih-alih pulang ke hotel, ‘kepala genk’ alias Mas Pop justru mengarahkan motornya ke utara jalan raya Pantura menyusuri tambak-tambak garam desa Dasun yang kala itu cuma tampak hitam saja. Serombongan motor yang melaju di jalan rusak membelah malam mengesankan seolah-olah ada sesuatu yang penting hendak terjadi.

Setelah menembus tambak, kami pun tiba di sebuah kampung kecil dan berhenti di sebuah rumah yang tak jauh letaknya dari bibir pantai. Ah, warung kopi rupanya! Pemiliknya yang sudah terlelap dibangunkan dan segera menyiapkan minuman hangat. Warung kopi ini super sederhana. Hanya ada gubuk kecil di depan rumah yang menyediakan kebutuhan melek seperti minuman dan makanan kecil beserta bangku-bangku panjang di depannya; lalu ada juga etalase BBM di sampingnya. Namun karena jumlah kami yang banyak, kami lebih memilih lesehan di teras rumah. Ngalor-ngidul pun berlanjut seolah malam tidak akan pernah berakhir.

Ketika kopi telah dihidangkan, pemilik rumah lalu mengeluarkan beberapa peralatan yang tampak aneh.

Kira-kira untuk apa disediakan tisu, sebotol susu kental manis, benang, dan tatakan kayu itu ya? Kombinasi yang aneh, namun tidak bagi para pemuda Lasem. Dengan gembira mereka menyambut peralatan itu lalu menuangkan cairan kopi di piring kecil. Lalu apa yang berikutnya dilakukan?

Beberapa lembar tisu diletakkan di atas cairan kopi
Biarkan tisu tersebut menyerap semua cairan
Tuangkan susu kental manis, sedikit saja.
Aduk rata susu kental manis dengan ampas kopi

Benang-benang lalu dipotong dan sebatang korek api dinyalakan dan ujungnya dibiarkan hangus sehingga membentuk semacam ujung pensil. Kemudian mereka pun siap beraksi. Percobaan pertama:

Ampas kopi yang sudah lengket itu di’lelet’kan alias dioleskan di batang rokok

Ooooh, itu fungsinya. Katanya sih sebagai penambah aroma dan rasa bagi rokok itu. Buat saya yang tidak merokok mungkin tidak paham. Namun bagi yang mengerti, kopi memang bisa menambah sensasi lain pada rokok. Eh, tapi gambar di atas adalah contoh orang yang malas. 😛

Mereka lalu MEMBATIK!
Rokok yang sudah selesai dibatik lalu diletakkan di tatakan kayu
Ayo, Mas. Jangan mau kalah!
Benang pun bisa jadi alat membatik

Jadi itu rupanya fungsi alat-alat aneh tadi. Perkenalkan: Batik Rokok yang khas Lasem. Inilah cara para pemuda desa menghabiskan waktu di warung kopi yang tak jarang menjadi berjam-jam. Mungkin berawal dari masyarakat Lasem yang mengembangkan budaya batik, para warga yang sedang bersantai pun ketularan daya kreatifitas dari para pembatik atau bisa jadi justru menjadikan warung kopi sebagai sarana latihan untuk kemudian melamar kerja pada pengusaha batik. Bisa jadi!

Konon katanya hanya kopi Lasem yang bisa di’ikat’ oleh susu kental manis dan tidak pecah ketika dikeringkan di atas rokok. Mereka sudah mencoba berbagai jenis kopi lain dan selalu gagal. Kreatifitas para pemuda ini tidak bisa dibilang asal-asalan; hasil karya batik rokok mereka benar-benar artistik dan mereka pernah menang di kompetisi batik rokok yang diadakan oleh perusahaan rokok terkemuka dari Kudus.

Saya jadi ingin coba, deh.

That’s it, boy!
Coba terka yang mana hasil karya saya? *tutup muka*

Ternyata bagi pemuda Lasem, cara terbaik menghabiskan malam di kampung samping tambak garam adalah membatik, meski bermodalkan kopi lelet, seperangkat tisu dan susu kental manis serta dilukiskan di media rokok. Batik Rokok, meski tidak bisa dipakai dan justru kemudian habis dihisap, adalah contoh lain tentang kekayaan budaya Lasem, dulu dan kini.

Pengen nongkrong di Lasem? Yuk, sekalian kita membatik. 😀

 

 

Rahasia Kecil Lawang Ombo

Lasem, Oktober 2013

Saya turun dari kendaraan bersama serombongan wisatawan dari Semarang yang mengunjungi kota Lasem di Kabupaten Rembang sebagai bagian dari acara Jalan-Jalan Warisan Budaya. Tujuan pertama kita adalah Lawang Ombo yang terletak di salah satu gang di kota lama Lasem. Rumah yang menempati lahan cukup besar dan memiliki dua bangunan utama yang biasanya sunyi ini mendadak ramai oleh para pengunjung.

“Mumet,”

begitu batin saya sambil melangkah ke teras dan berusaha menjaga jarak agar leluasa menikmati detail dan mengambil gambar.

***

Malam mencekam menyelimuti Lasem yang bahkan jangkrik pun tak berani bersuara. Angin darat yang dingin menusuk tulang dan semua orang memilih menutup pintu gerbang besar, pintu rumah, dan semua jendela rapat-rapat dan membiarkan kegelapan merajai sekelilingnya. Konon katanya di malam-malam seperti itulah para mata-mata berjaga, mengintip kampung demi kampung dan rumah demi rumah demi memastikan seluruh warga tidak sedang merancang pemberontakan.

Namun suasana lain terekam di rumah berpintu gerbang kayu besar dan berhalaman luas itu. Para anggota keluarga berkumpul di ruang utama. Tak ada yang berani berbicara keras karena takut terdengar ke luar. Suasana cemas memenuhi setiap jengkal ruangan. Sang Taipan yang duduk di kursi kayu sedang berpikir keras ditemani istri, anak-anak, serta seluruh pembantu yang bersimpuh di sekelilingnya. Hanya dua batang lilin yang menerangi ruang itu. Segala sesuatu harus hemat sekarang.

Candu yang dahulu bebas diperjual-belikan di kampung-kampung kini dilarang. Hasil panen dari ladang-ladang resmi saja yang diperbolehkan, sementara hasil dari ladang-ladang gelap harus dibakar. Apalagi persaingan ekonomi antara kaum pedagang Tionghoa, pribumi, dan Belanda kini dibumbui politik. Kaum pribumi dan Tionghoa bersatu-padu menentang penindasan Belanda terhadap warga keturunan yang berawal dari Batavia dan meluas ke segenap penjuru Jawa. Sebagai salah satu kota yang dihuni warga Tionghoa terbesar, Lasem turut membara. Selain memobilisasi massa bersenjata, segenap sumber daya pun dikerahkan untuk mendukung perjuangan. Candu pun menjadi primadona termahal yang pantas dibela dengan nyawa.

“Dua pekan lagi saat bulan purnama, seorang dari penghuni rumah kita harus meninggal.”

“Lao Gong!” Sergah sang istri dengan jeritan tertahan, tak percaya akan perkataan suaminya.

“Lao Po, cobalah mengerti. Ini satu-satunya cara kita mendukung para pejuang dan mempertahankan kehormatan keluarga. Aku tidak punya cara lain sekarang kecuali mengorbankan salah satu kebanggaan kita yang berharga.”

“Lagipula,” gumam sang suami lagi. “Stok di gudang atas rumah belakang harus dihabiskan.”

Sang istri, anak-anak, dan semua pembantu tercekat dalam ketakutan akan masa depan yang sudah terbayang. Meski demikian hati mereka semua sepakat, inilah cara terbaik yang harus dijalani.

“Jongos, apakah kau siap?”

“Siap, Tuan!” Desis sang jongos mantap.

Jongos ini telah menjadi abdi sang Taipan sejak muda. Perawakannya sangat tegap untuk ukuran pemuda tujuh belas tahun. Betapa pun sulitnya tugas ini, perintah Taipan adalah panggilan yang mulia. Matanya tajam tertuju pada majikannya, sementara ayah-ibunya mengintip dari sudut ruangan. Ibundanya yang menjadi juru masak di rumah itu menitikkan air mata. Kerongkongannya hendak melolong, namun tangan suaminya menggenggam erat pundaknya, menjaga agar emosinya tertahan.

“Kemaslah barang-barangmu sekarang. Ajak juga keluargamu ke belakang untuk berpamitan. Sebentar lagi mereka datang.”

Tak lama setelah mereka menghilang di balik pintu, terdengar samar suara ketukan di kamar sebelah. Sang Taipan tahu siapa itu. Segera ia bangkit dari kursinya dan berjalan meraih pintu. Setelah ia masuk, jongkoklah ia di lantai, di hadapan sebuah penutup kayu bundar tepat di tengah ruangan itu. Lalu ia mengulurkan tangan membuka penutup itu.

Dari balik penutup itu tampaklah lubang dengan ukuran sebesar umur, dua puluh meter kira-kiranya dalamnya. Dari situlah keluar dua orang berbalutkan kain hitam-hitam bertampang sangar bak pencoleng yang hendak menyatroni rumah.

Dengan suara tenang sang Taipan berkata, “Malam ini ada lima karung. Segera diangkat.”

Mereka berdua menoleh ke arah tumpukan karung di sudut kamar lalu dengan sigap mulai bekerja. Karung-karung tersebut diturunkan perlahan ke dalam lubang, terus ke bawah sampai ke aliran air di bawah tanah di mana sebuah perahu telah menunggu. Aliran air tanah yang menembus sampai sungai terdekat itu menjadi jalur penyelundupan yang baik sekali bagi para pemberontak dan barang-barang lainnya. Perahu itu datang berkunjung ke lubang tersebut dua minggu sekali dan mengangkut barang yang sangat berharga: candu.

Namun malam ini ada penumpang lain.

Sang Jongos kembali dari rumah belakang sambil membawa buntelan kecil yang disampirkan di bahunya. Matanya tetap tajam meski sekujur badannya tidak mampu menyembunyikan kegentaran hatinya. Malam ini ia akan berangkat meninggalkan keluarga, majikan, dan segala masa kecilnya di rumah berpintu besar itu.

Terdengar siulan dari dalam lubang. Para pengangkut karung tadi telah siap berangkat. Sang Taipan mengalihkan pandangan dari lubang dan menoleh ke arah jongosnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Sang Taipan tergerak untuk mengangkat tangan dan menggenggam erat pundak jongos yang sudah dianggap seperti anak laki-laki keduanya. Matanya berkaca-kaca, namun suaranya yang tenang menandakan ada kepentingan lebih besar yang harus didahulukan.

“Pergilah berjuang, hambaku yang setia. Jikalau ada nasib baik, kita akan bertemu lagi.”

Masih tanpa suara, sang jongos menunduk hormat lalu turun dan menghilang di balik lubang.

Sang Taipan lalu memberikan perintah terakhirnya malam itu.

“Siapkan pemakaman putraku dua pekan lagi. Susun semua karung candu di dalam peti dan kita hantar peti itu sampai ke pelabuhan. Semua keluarga harus ikut dalam pakaian berkabung. Biar Belanda mengira kita sedang berduka dan memberi jalan bagi candu itu tepat di bawah hidung mereka!”

***

Tampak depan Lawang Ombo
Teras
Altar keluarga di ruang utama
Tampak belakang
Bekas gudang candu di rumah belakang
Lubang candu yang dalamnya kini sudah tertutupi lumpur dan tidak lagi bisa diakses