Tag Archives: Laos

Merambah Wilayah Tak Bertuan

Pernah ngerasain berada di wilayah tak bertuan alias tak bernegara gak? Umumnya bagi yang berdiam atau jalan-jalan di daerah konflik, ada tempat-tempat tertentu yang berfungsi sebagai buffer alias penyangga di mana tak ada satu pihak bertikai pun yang boleh mengontrolnya agar kontak senjata dapat dihindari. Jadi benar-benar ‘tak bertuan’.

Di Asia Tenggara, konflik antartetangga umumnya sudah mereda kecuali di beberapa spot seperti wilayah sekitar Candi Preah Prasat Vihear di Kamboja yang juga diklaim oleh Thailand. Di sana bunyi tembakan masih terdengar dan kadang menewaskan tentara kedua negara. Oleh karena itu wilayah perbukitan di sekitar candi ditetapkan sebagai buffer dan akses ke candi, meski terbatas, masih dibuka agar peziarah dan wisatawan masih dapat masuk.

Di wilayah lainnya di perbatasan Kamboja dan Laos, ketegangan sudah lama berlalu meski faktor keamanan terutama penyelundupan barang dan orang masih menjadi problem. Oleh karena itu, penjagaan masih ketat dan beberapa pintu di sekitarnya, terutama yang melalui Sungai Mekhong, masih dibuka-tutup. Kini satu-satunya perbatasan kedua negara yang tetap dibuka adalah Veun Kham (Kamboja) dan Dong Kralor (Laos). Bertahun-tahun lamanya kondisi perbatasan itu sederhana. Fasilitas bebas visa belum tersedia dan suap petugas imigrasi dan bea cukai begitu tersohor sehingga menjadi standar yang baku.

Namun kini situasinya sudah berubah. Jalur bis internasional sudah tersedia, layanan visa saat kedatangan bisa dinikmati oleh para pendatang, akses jalan mulus dan para pedagang kecil bisa berjualan makanan-minuman. Bahkan ketika saya datang, bangunan besar untuk para pelintas batas kedua negara sedang dibangun. Lalu korupsinya? Teteup. πŸ˜›

Berikutnya saya bercerita lewat gambar saja ya:

Selamat datang di Kamboja
Selamat jalan Kamboja
Layanan pengurusan visa Kamboja bisa dilakukan di pondok ini
Kalau ini gedung pemeriksaan bea cukai sekaligus kantor perbatasan Kamboja

Semua pengurusan visa kedua negara dilakukan oleh petugas bis yang merangkap sebagai calo perbatasan. πŸ˜€ Jadi kita tinggal menyerahkan paspor, formulir kedatangan, plus selipan uang dollar Amerika yang nominalnya bervariasi tergantung kewarganegaraan kita. Karena saya WNI dan tidak perlu visa masuk ke Kamboja atau Laos, maka total kerusakannya cuma 6 dollar di Kamboja dan 5 dollar di Laos. Kasihan juga yang dari Amerika Utara, apes mesti bayar 42 dollar!

Nah, kalau Anda perhatikan foto kedua dari atas, daerah antara palang jalan dengan gerbang di sebelah sananya itu adalah buffer antara Kamboja dan Laos. Mungkin sisa konflik dari tahun 1970-an dulu. Kalau kita tidak menyeberang dengan berjalan kaki, sebenarnya secara resmi kita tidak boleh masuk ke sana. Karena itulah dengan bermodalkan doa yang sekencang-kencangnya plus seutas senyum ‘dimanis-manisin ke setiap orang yang mengawasi, saya beringsut melewati palang untuk balik lagi ke Laos demi menjepret pondok imigrasinya.

Pondok imigrasi Laos

Di sini saya bersyukur sekali jadi orang Indonesia, karena setiap kali ditanya asal dan saya jawab ‘Indonesia’, sikap mereka umumnya melunak dan saya dibiarkan lewat. Saran: selalu minta izin jika hendak melakukan sesuatu terutama jika hendak mengambil gambar. Sebenarnya daerah perbatasan adalah wilayah terlarang untuk difoto jadi harap selalu berhati-hati.

Selesai urusan narsis, mendadak ada petugas yang jauh di depan melotot dan mengacung-acungkan tangannya menyuruh saya balik arah ke Kamboja. Bukan main-main, di bahu kirinya tersampir senjata laras panjang yang saya tak tahu jenisnya apa. Lebih seram lagi karena sebenarnya dia tidak sedang berseragam. Hanya celana tentara dan kaos oblong saja yang ia kenakan. Dengan diiringi badan membungkuk saya lalu balik arah dan berjalan menuju Kamboja.

Daerah tak bertuan itu jaraknya sekitar 50 meter dan berupa wilayah terbuka yang memudahkan pengawasan dari kedua pihak. Jangan coba-coba menapaki area berumput yang hijau karena kita tidak pernah tahu apakah daerah itu aman dari ranjau atau tidak. Sepanjang jalan kepala dan bagian belakang badan saya terasa panas karena saya tahu sedang diawasi oleh beberapa pasang mata secara lekat. Kamboja terasa jauuuuuh sekali. Saya juga tidak berani mengambil gerakan tiba-tiba atau berlari. Jadi pasrah saja, jalan pelan-pelan.

Ketika akhirnya palang pintu Kamboja kembali dijangkau, ada perasaan lega dan saya mengeluarkan nafas lega namun hampir tersembur tangisan. Saya baru saja melanggar hukum, sebenarnya.

Memasuki Kamboja semacam ada kebebasan baru karena saya berada dalam perlindungan negara tuan rumah secara resmi melalui cap di paspor hijau saya.

Keluarkan aku dari Laos! πŸ˜₯
Cambodia. I’m safe! *lebay maksimal*

 

Perang Bir di Asia Tenggara

DISCLAIMER: this article reflects personal opinions from the blogger.

Perang bir? Oke, mungkin saya agak berlebihan dalam menjulukinya sebagai sebuah peperangan. Namun nyatanya Asia Tenggara memang marak dengan beragam merk bir lokal dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmatnya, baik warga lokal maupun turis mancanegara. Lupakan merk-merk bir Eropa dan Amerika; jika para pelancong berkunjung ke wilayah ini, yang pertama dicari adalah merk lokal. Satu hal menarik yang saya saksikan adalah bahwa hampir semua negara di Asia Tenggara memiliki merk lokal birnya sendiri, kecuali Malaysia dan Brunei. Indonesia, misalnya, terkenal dengan Bir Bintang yang menjadi favorit para turis Amerika, meski pandangan ini disanggah dengan keras oleh rekan kerja saya yang juga orang Amerika, yang mengejek turis bangsanya sendiri yang tidak mempunyai selera yang bagus oleh karena bir Budweiser di Amerika, yang menjadi minuman sehari-hari di sana, memang kualitasnya rendah dibanding beberapa merk Eropa. Jadi dalam perjalanan saya terakhir, saya ‘ditantang’ untuk membuktikan sendiri keragaman rasa bir di Asia Tenggara. “Lalu manakah yang paling enak?” tanya saya mengharap bocoran.

“Laos,” bisiknya sambil berseri-seri.

Menurut kasak-kusuk teman-teman pelancong ke Asia Tenggara, bir terenak di Asia (bahkan sesumbarnya di dunia) berasal dari Laos dan menjadi benda yang sangat dicari oleh karena penyebarannya yang masih terbatas. Namun demi menjaga objektivitas, maka saya memutuskan untuk mencoba sendiri beberapa bir yang beredar dan memberikan penilaian yang (semoga) adil. Kriteria penilaian berpatokan pada 3 hal: rasa, aroma, dan tingkat kepahitan. Dasar ilmiahnya apa? GAK ADA. Semua itu memang akal-akalan saya saja. πŸ˜€

Berikut ini saya bagikan empat teratas hasil penelitian kami:

1. Beerlao

Bir kebanggaan Laos ini diproduksi oleh Lao Brewery Company di Vientiane dan berbahan dasar beras jenis jasmine yang diproduksi lokal dan dicampur dengan yeast dan hops yang diimpor dari Jerman. Kekuatan utama Beerlao terletak pada aroma jasmine yang sangat harum dan aroma hops yang menyerupai anggur putih sehingga tanpa meminumnya kita bisa terkecoh menyangka bahwa ini adalah minuman buah-buahan segar, meski bau khas alkoholnya tidak dapat menyembunyikan karakter birnya. Ketika dicoba, bir ini cukup pahit namun dapat ditolerir dan kesegarannya langsung seolah merasuk ke tulang dan membuat saya menarik nafas panjang saking nikmat dan rileksnya. Mencicipi Beerlao benar-benar pengalaman yang luar biasa. Harganya juga sama sekali tidak mahal; satu kaleng sedang dijual di kisaran USD 0.60 – 0.75 di minimarket Kamboja meski bisa melonjak sampai USD 2.50 di bar. Sayang sekali penyebarannya tidak luas; Beerlao hanya dapat ditemukan di minimarket di Laos dan Kamboja sedangkan di Vietnam dan Thailand hanya dijual di bar-bar tertentu. Katanya bir ini diekspor juga ke Eropa dan Amerika namun sangat terbatas di bar-bar tertentu pula. Saya belum menemukan bir ini di Jakarta. Ada yang tahu di mana bisa mendapatkannya?

Beerlao (sumber: Wikipedia)

2. Singha

Inilah produk bir kebanggaan Thailand. Tadinya saya tidak begitu menaruh perhatian karena lebih fokus mencari bir-bir Kamboja, namun begitu kaleng bir Singha dibuka, aroma anggur dan jasmine langsung menyeruak begitu kuatnya. Rasanya sangat mirip dengan Beerlao namun lebih pahit sehingga saya menempatkannya di urutan kedua. Kisaran harganya di Kamboja sama saja, USD 0.60 – 0.75 untuk kaleng sedang.

Singha (sumber: thatsilvergirl.blogspot.com)

3. Tiger

Dari sisi distribusi, boleh jadi Tiger Beer yang merupakan merk asal Singapura ini yang paling luas penyebarannya di Asia Tenggara. Saya pertama kali mencobanya secara tidak sengaja ketika sedang mampir di sebuah bar di KL dan terpaksa kecewa karena Malaysia tidak memiliki produk bir lokal; terpaksalah brand Singapura yang saya coba. Ke manapun saya pergi pasti menemukan merk ini yang kini juga diproduksi di Thailand. Rasa dan tingkat kepahitannya mirip dengan Beerlao namun aromanya tidak terlalu kuat sehingga Tiger harus puas menempati posisi ketiga. Harganya sedikit lebih mahal di Kamboja.

Tiger (sumber: behindtheburner.com)

4. Cambodia

Saya benar-benar tidak menyangka bahwa negara seperti Kamboja ternyata memiliki beberapa merk bir lokal yang bersaing ketat di pasar dengan baliho-balihonya yang besar di sudut-sudut Phnom Penh dan Siem Reap serta terpasang di banyak sekali toko. Salah satu yang saya nilai juara adalah Cambodia, meski nilainya kalah dibandingkan tiga nama di atas oleh karena aromanya yang tidak kuat, rasanya yang agak berair dan tingkat kepahitannya yang rendah. Namun saya tetap dapat menikmatinya. Harganya kurang-lebih sama dengan merk-merk lain di Kamboja.

Cambodia (sumber: thesoutheastasiaweekly.com)

***

Selain keempat nama di atas, masih ada lagi beberapa yang saya coba, terutama di Kamboja, seperti Angkor, Anchor, Kingdom, dan satu-dua nama lain yang saya lupa. Ada pula merk Thailand lainnya yakni Chang yang langsung menempati posisi terbawah. Bagi saya, Chang seperti air putih dengan cita rasa bir. Ketika mampir ke Vietnam, saya sempat mencoba Saigon Red dan sangat enak meski katanya bir terenak di Vietnam adalah Saigon Green yang sayangnya hanya tersedia di bar-bar eksklusif. Ada lagi beberapa merk lokal seperti Zagnarok dan 333, namun saat itu saya sudah muak dengan bir sehingga kaleng-kaleng itu dibeli saja untuk kemudian ditinggal di hotel. 😦 Filipina juga katanya punya bir San Miguel yang sangat enak dan sepertinya pernah saya lihat di hypermarket di Jakarta. Saya mesti mencobanya kapan-kapan.

Bagaimana dengan Bir Bintang dari Indonesia? Oke, daripada dituduh tidak nasionalis baiklah saya coba juga ya. Bir yang diproduksi berdasarkan lisensi Heineken ini cukuplah saya nilai setara dengan Tiger; tidak terlalu kuat namun sangat enak dan sepertinya memang satu-satunya pilihan di Indonesia karena saya tidak sudi menyentuh merk lokal yang satu lagi. πŸ˜€

Sekian laporan beer tasting kali ini. Siapa mau coba Beerlao?

Yeah baby!

Membuang Celana di Laos

Ahey! Judul postingan di atas memang kurang ajar banget. Bagaimana bisa ke sana hanya untuk membuang celana? OK, memang agak melebih-lebihkan sih. πŸ˜€

Setelah menghabiskan seharian penuh di Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja, saya lalu menyusun rencana berikutnya. Ada 2 pilihan: kembali ke Phnom Penh untuk meneruskan perjalanan ke Vietnam, atau mencoba menjejakkan kaki di Laos. Sebenarnya kami agak waswas dengan rencana ke Laos. Betapa tidak, situasi perbatasan Kamboja-Laos berubah setiap waktu terutama urusan visa. Belum lagi urusan suap-menyuap dengan petugas imigrasi yang memusingkan untuk alasan yang sangat sepele: tiba di perbatasan hari Minggu sehingga mereka harus lembur tanpa dibayar pemerintah. Aaargh. Lalu tiket bis yang bukan-main mahalnya dan sepertinya akan menguras isi dompet dalam-dalam.

Namun terdorong oleh kalimat, “Kapan lagi ke Laos?!” dan nafsu narsis mendapatkan cap imigrasi negara yang tidak memiliki laut di Indocina itu di paspor Indonesia, dengan komat-kamit membaca doa sambil menyemangati diri sendiri, akhirnya tiket bis Siem Reap – 4000 Islands pun dibeli. Hajar, mumpung masih muda. Kami pun berjanji untuk saling melindungi dalam keadaan bahaya. #lebaysangat

Four Thousand Islands, Laos

Loh kok bisa? Bukannya Laos terkurung oleh negara-negara lain sehingga tidak punya laut? Ya, memang Laos adalah satu-satunya negara anggota ASEAN yang tidak memiliki laut oleh wilayahnya dikelilingi oleh negara-negara lain yakni Cina, Kamboja, Vietnam, Thailand, dan Myanmar. Namun demikian, Sungai Mekong yang tenang, lebar, dan dalam mengaliri sepanjang perbatasan sebelah barat negara berpenduduk 6,5 juta jiwa ini; bahkan ibukota negaranya, Vientiane, juga terletak di tepi Sungai Mekong dan berbatasan langsung dengan Thailand. Sebagai wilayah yang sebagian besar terdiri atas pegunungan, Laos mengalami sejarah panjang pendudukan silih-berganti oleh kekuatan-kekuatan besar negara tetangga seperti Birma, Champasak, Cina, dan Siam sebelum akhirnya dijajah Perancis selama 60 tahun semasa 1893-1953. Selama kurun waktu 22 tahun berikutnya hingga 1975, Laos menikmati kemerdekaan sebagai kerajaan sampai akhirnya Pathet Lao, organisasi komunis di Laos yang dibekingi Vietnam dan Uni Sovyet, berhasil menggulingkan pemerintahan dan memaksa Raja Sisavang Vong turun tahta. Sejak saat itu hingga sekarang, negara ini menyandang nama Lao People’s Democratic Republic (Lao PDR) berideologi komunis dan berafiliasi ke Vietnam dan Uni Sovyet. Hubungan diplomatik dengan Cina terputus pada tahun 1979 yang lalu memancing embargo ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara lain.

Kembali ke Four Thousand Islands atau yang disebut Si Phan Don oleh warga setempat, ‘kepulauan’ ini pada dasarnya adalah titik-titik daratan yang menyebar di Sungai Mekong di ujung paling selatan negara tersebut. Pulau-pulau di Sungai Mekong ini menjadi surga para pelancong yang ingin menikmati keindahan dan ketentraman sungai, mengunjungi air terjun terbesar di Asia Tenggara, atau menengok Lumba-Lumba Irrawady, yakni lumba-lumba air tawar yang sangat langka. Aktivitas utama di daerah ini tentunya berputar pada olahraga air seperti tubing dan kayaking, atau, yang paling utama, bersantai seharian tanpa melakukan apapun kecuali leyeh-leyeh di atas hammock sambil memandangi sungai.

Ada beberapa titik di Si Phan Don yang menjadi pusat kunjungan turis; yang terbesar adalah Don Khong (pulau terbesar) dan paling maju fasilitasnya. Titik lainnya yang juga populer dan justru lebih dekat ke atraksi sungai adalah Don Det, meski daerah ini fasilitasnya belum semaju Don Khong dan listrik 24 jam juga tersedia baru-baru ini saja.

Been There, Don Det

Perjalanan yang panjang itu dimulai dari Siem Reap, Kamboja, dimana kami dijemput di penginapan jam 5 pagi untuk selanjutnya diantar ke pool bis yang lokasinya tidak jauh dari Psar Chaa (Old Market). Tidak ada bis langsung dari Siem Reap ke Laos; kami harus menaiki bis yang kembali ke arah Phnom Penh namun transit di Skuon, sekitar 1 jam perjalanan ke utara dari Phnom Penh, untuk selanjutnya berganti ke bis internasional Phnom Penh – Laos yang menyusuri National Highway 7 ke arah utara hingga perbatasan Dong Kralor – Veun Kham. Lama perjalanan hingga ke perbatasan kurang lebih 11 jam diselingi istirahat makan siang. Tidak banyak yang menarik untuk disimak, kecuali ibu-ibu pelayan restoran jutek yang tidak mau menerima uang Riel yang kami tawarkan meski nilai tukarnya sama. Menyebalkan, padahal itu mata uang negaranya sendiri. Akhirnya ia mau juga menerima uang Riel dari saya meski lalu dicampakkan begitu saja ke laci kasir. Huh!

Namun ada juga beberapa pemandangan menarik di perjalanan, utamanya barang-barang yang dibawa penduduk ketika melakukan perjalanan. Biarkan beberapa gambar saja yang bercerita ya:

Bis tingkat Phnom Penh-Laos
Ibu-ibu penjual roti baguet & bunga teratai untuk persembahan
Kejutan pertama: sepeda motor diikat di belakang mobil Elf untuk dibawa dalam perjalanan jauh =)) (Agak kurang jelas karena saya diawasi ketat ketika mengambil gambar)
Kejutan kedua: batu bata yang disusun di bagian belakang mobil =))

Menakjubkan sekali melihat apa saja yang dibawa penduduk di bagian bagasi ketika melakukan perjalanan jauh. Umumnya pintu belakang tetap dibuka agar barang-barang besar bisa diikat begitu saja di situ tanpa pengaman lebih kuat. Bis yang kami naiki dipenuhi oleh para turis saja; warga lokal lebih memilih menumpang Elf seperti yang tampak pada gambar di atas. Harga tiketnya lebih murah, namun bersiaplah duduk bersama tumbuh-tumbuhan dan hewan selain juga para penumpang yang berhimpitan di kanan-kiri-depan-belakang Anda. πŸ˜€

Dari perbatasan Kamboja-Laos, kami memutuskan untuk turun di perhentian pertama yang berjarak 5 kilometer dari perbatasan, yakni Nakasang. Pos Nakasang terletak sederhana di pinggir jalan utama. Kemudian kami dijemput dengan pickup gratisΒ (sudah termasuk dalam harga tiket bis) dari pelabuhan untuk selanjutnya diantar dengan perahu motor ke Don Det, sekitar dua puluh menit perjalanan membelah sungai Mekong yang sore itu airnya nampak keruh meski tidak pekat.

Musibah terjadi dalam perjalanan ini. Ketika saya sedang bergerak di dalam bis, tiba-tiba kantong celana lutut kanan saya tersangkut kursi dan PREEEET!! Terdengar bunyi robekan yang menghasilkan bukaan besar mulai dari paha ke lutut. Celaka, sementara backpack besar saya ditaruh di bagasi lantai bawah bis sehingga tidak bisa diambil. Terpaksalah sepanjang sisa perjalanan dan menyeberang perbatasan saya lalui dengan mengenakan celana robek tersebut. Paha yang cukup banyak rambutnya itu pun dipamerkan kemana-mana. πŸ˜€ Beruntung cuaca sore itu cerah dan sisa perjalanan sangat menyenangkan sampai akhirnya kami menjejakkan kaki di Don Det, salah satu pulau yang populer sebagai tujuan wisata ke air terjun dan titik terdekat untuk menyaksikan lumba-lumba air tawar.

Membelah sungai Mekong dengan perahu motor. Bukan, pria narsis berkacamata itu bukan saya. Masih gantengan gue kemana-mana =))
Senja di pantai Don Det, sungai Mekong, Laos

Ketika tiba di pantai Don Det dan kami mulai berkeliling mencari penginapan, seketika saya disuguhi pemandangan yang, saya anggap, biasa saja. Sungai Mekong tak ubahnya dengan Sungai Siak yang membelah kota Pekanbaru yang pernah saya kunjungi pula. Suasana alam senja yang mulai ditingkahi jangkrik, lenguhan sapi dan celotehan ayam, serta percakapan turis-turis yang sedang bersantai tiba-tiba membuat saya malas menjelajah lebih jauh karena kami juga harus memikirkan jadwal ke tempat lain. Begitu akhirnya badan ini rebah ke tempat tidur di penginapan, yang pertama kali kami suarakan dengan serempak adalah: “BALIK KE KAMBOJA YUUUK!”Β *gubrak*

Malam itu kami habiskan dengan makan-malam dan menjelajah kampung Don Det. Suara televisi yang sedang menayangkan sinetron Thailand terdengar di mana-mana. Niat ingin ke warnet kami urungkan setelah mengecek tarifnya 24,000 kip / jam (setara Rp 24,000 di Indonesia). Beruntung malamnya hujan turun deras sehingga udara tidak terlalu panas. Kami mendapat kamar bungalow yang sederhana di tepi sawah; sesuatu yang mungkin bagi orang bule sangat eksotis namun kami pandang dengan sebelah mata karena terus-menerus membandingkannya dengan keindahan sawah di Indonesia. Oke, saya memang agak arogan di Laos karena seharusnya lebih rendah hati dalam memandang alam dan masyarakat sekitar. Namun saya menyadari bahwa ini bukanlah Laos yang sebenarnya; saya sedang berada di sebuah kampung turis dengan penduduk lokal yang pekerjaan utamanya melayani tamu. Oleh karena itu kami anggap kunjungan di Laos sebaiknya ditunda saja lain kali agar dapat menyaksikan daerah lain dengan lebih seksama. Dalam pikiran saya malam itu hanyalah: kembali ke Phnom Penh, lalu terus ke Vietnam.

Pagi pun tiba. Tanpa membuang waktu kami bergegas ke pantai untuk menaiki perahu yang membawa kami kembali ke Nakasang. Melihat si celana robek yang semalam saya gantungkan di pagar bungalow, saya pun memutuskan untuk meninggalkannya di sana. Akhirnya, saya pikir, ada juga gunanya ke Laos: membuang celana robek πŸ˜€

Perjalanan ke Phnom Penh lebih panjang lagi, kami tempuh selama hampir 13 jam. Di perbatasan Laos-Kamboja kami turun bis dan berjalan-jalan. Dasar bodoh, kami iseng kembali melangkah ke arah Laos diiringi pandangan tajam dari petugas perbatasan kedua negara. Pandangan tajam tersebut melunak ketika saya berbicara dengan sopan meminta izin berfoto. Perjalanan kembali dari palang pintu Laos ke palang pintu Kamboja jaraknya hanya 100 meter namun terasa berhari-hari. Jarak 100 meter ini adalah daerah tak bertuan dan kami tak memegang paspor karena sedang diurus petugas bis. Tindakan yang entah pandai atau bodoh. 😦

Berikut foto-foto saat kembali ke Kamboja:

Lalu-lintas Don Det-Nakasang cukup sibuk di pagi hari
Halo! Cini cini cini! Unyuuuu *cubit* (Nakasang, Laos)
Petugas karantina Kamboja menyemprotkan pembasmi kuman sebelum bis memasuki negara itu
Keluarkan aku dari Laooooos! *panik*
Cambodia, Thank God! *sujud syukur cium tanah*
Motor yang diikat di belakang mobil. Kali ini gambarnya lebih jelas. πŸ˜€

Informasi Umum

Visa

Pemegang paspor Indonesia tidak dikenakan visa untuk memasuki Laos melalui perbatasan ini. Info selengkapnya di sini.

Β Tiket Bis

Harga tiket Siem Reap-4000 Islands adalah USD 24. Sedangkan tiket 4000 Islands-Phnom Penh seharga USD 27. Tiket tersebut sudah termasuk penjemputan pickup di Nakasang dan ongkos penyeberangan sungai dengan perahu motor. Di Siem Reap, tiket dapat dibeli di agen perjalanan terdekat atau tempat penginapan; harganya bervariasi, oleh karena itu jangan segan-segan mencari tiket termurah.

Jalur Siem Reap-Laos mengharuskan penumpang transit di Skuon, sedangkan jalur Laos-Phnom Penh dapat ditempuh sekali jalan saja. Tidak perlu berganti bis di perbatasan dan urusan imigrasi dilaksanakan oleh petugas bis.

Penginapan & Makan

Terdapat banyak opsi penginapan di Don Det dengan harga bervariasi mulai dari 50,000 kip per malam. Harga tersebut sudah mendapatkan kamar cukup baik berupa bungalow dengan kamar mandi di dalam dan kelambu penghalang nyamuk. Makan malam di restoran cukup baik dan murah, berkisar di harga 25,000 kip.

Saya tidak melihat opsi makanan halal bagi yang Muslim. Memang ada restoran India di kampung tersebut namun saya tidak mengecek lebih lanjut.

Komunikasi

Tarif warnet sangat mahal dengan koneksi sangat lambat; lupakan saja. Karena hanya singgah semalam saya tidak membeli SIM Card lokal. Namun sinyal provider Hello Axiata dari Kamboja masih tertangkap dengan cukup baik mengingat letak Don Det masih di perbatasan dengan Kamboja. Atau bisa juga kita mengaktifkan SIM Card Telkomsel yang memiliki kerjasama roaming dengan Laotel.

Nilai tukar

USD 1 = 7950 kip. Namun demi kemudahan membandingkan harga, saya anggap saja 1 kip = Rp 1. Berbeda dengan Kamboja, semua transaksi di Laos wajib menggunakan mata uang lokal kecuali pembelian tiket bis internasional. Kita dapat menukar uang di pool bis Nakasang meski nilai tukarnya sangat jelek.

Bebas Visa ke Laos Bagi Pemegang Paspor Indonesia

Setelah sebelumnya menuliskan situasi terkini tentang bebas visa ke Kamboja bagi WNI, berikutnya saya akan memaparkan situasi terakhir akses masuk ke Laos bagi para pemegang paspor Indonesia. Kurang lebih sama dengan Kamboja, masih ada beberapa kesimpangsiuran di internet tentang visa ke Laos dan perbedaan perlakuan di bandara dengan pos perbatasan darat/sungai.

Berdasarkan informasi Kementerian Luar Negeri RI dan dikonfirmasi oleh beberapa blogger/pelancong yang telah berkunjung ke sana, Laos dan Indonesia telah menandatangani perjanjian bebas visa kunjungan bagi pemegang paspor biasa dengan masa kunjungan maksimal 30 hari. Namun masih ada keraguan tentang pemanfaatan fasilitas ini jika memasuki Laos lewat jalur darat, khususnya pada pos perbatasan Laos-Kamboja yang terletak di ujung selatan negeri itu. Visa On Arrival Laos dulunya tidak dapat diterbitkan di sini dan situasinya baru berubah sekitar 6 bulan terakhir. Sebelumnya, semua pelancong yang hendak melintas harus sudah memiliki visa Laos yang dapat diminta di kedutaannya yang terdekat di Phnom Penh.

Lalu bagaimanakah situasi terakhir?

Continue reading Bebas Visa ke Laos Bagi Pemegang Paspor Indonesia