Tag Archives: Kamboja

Merambah Wilayah Tak Bertuan

Pernah ngerasain berada di wilayah tak bertuan alias tak bernegara gak? Umumnya bagi yang berdiam atau jalan-jalan di daerah konflik, ada tempat-tempat tertentu yang berfungsi sebagai buffer alias penyangga di mana tak ada satu pihak bertikai pun yang boleh mengontrolnya agar kontak senjata dapat dihindari. Jadi benar-benar ‘tak bertuan’.

Di Asia Tenggara, konflik antartetangga umumnya sudah mereda kecuali di beberapa spot seperti wilayah sekitar Candi Preah Prasat Vihear di Kamboja yang juga diklaim oleh Thailand. Di sana bunyi tembakan masih terdengar dan kadang menewaskan tentara kedua negara. Oleh karena itu wilayah perbukitan di sekitar candi ditetapkan sebagai buffer dan akses ke candi, meski terbatas, masih dibuka agar peziarah dan wisatawan masih dapat masuk.

Di wilayah lainnya di perbatasan Kamboja dan Laos, ketegangan sudah lama berlalu meski faktor keamanan terutama penyelundupan barang dan orang masih menjadi problem. Oleh karena itu, penjagaan masih ketat dan beberapa pintu di sekitarnya, terutama yang melalui Sungai Mekhong, masih dibuka-tutup. Kini satu-satunya perbatasan kedua negara yang tetap dibuka adalah Veun Kham (Kamboja) dan Dong Kralor (Laos). Bertahun-tahun lamanya kondisi perbatasan itu sederhana. Fasilitas bebas visa belum tersedia dan suap petugas imigrasi dan bea cukai begitu tersohor sehingga menjadi standar yang baku.

Namun kini situasinya sudah berubah. Jalur bis internasional sudah tersedia, layanan visa saat kedatangan bisa dinikmati oleh para pendatang, akses jalan mulus dan para pedagang kecil bisa berjualan makanan-minuman. Bahkan ketika saya datang, bangunan besar untuk para pelintas batas kedua negara sedang dibangun. Lalu korupsinya? Teteup. ๐Ÿ˜›

Berikutnya saya bercerita lewat gambar saja ya:

Selamat datang di Kamboja
Selamat jalan Kamboja
Layanan pengurusan visa Kamboja bisa dilakukan di pondok ini
Kalau ini gedung pemeriksaan bea cukai sekaligus kantor perbatasan Kamboja

Semua pengurusan visa kedua negara dilakukan oleh petugas bis yang merangkap sebagai calo perbatasan. ๐Ÿ˜€ Jadi kita tinggal menyerahkan paspor, formulir kedatangan, plus selipan uang dollar Amerika yang nominalnya bervariasi tergantung kewarganegaraan kita. Karena saya WNI dan tidak perlu visa masuk ke Kamboja atau Laos, maka total kerusakannya cuma 6 dollar di Kamboja dan 5 dollar di Laos. Kasihan juga yang dari Amerika Utara, apes mesti bayar 42 dollar!

Nah, kalau Anda perhatikan foto kedua dari atas, daerah antara palang jalan dengan gerbang di sebelah sananya itu adalah buffer antara Kamboja dan Laos. Mungkin sisa konflik dari tahun 1970-an dulu. Kalau kita tidak menyeberang dengan berjalan kaki, sebenarnya secara resmi kita tidak boleh masuk ke sana. Karena itulah dengan bermodalkan doa yang sekencang-kencangnya plus seutas senyum ‘dimanis-manisin ke setiap orang yang mengawasi, saya beringsut melewati palang untuk balik lagi ke Laos demi menjepret pondok imigrasinya.

Pondok imigrasi Laos

Di sini saya bersyukur sekali jadi orang Indonesia, karena setiap kali ditanya asal dan saya jawab ‘Indonesia’, sikap mereka umumnya melunak dan saya dibiarkan lewat. Saran: selalu minta izin jika hendak melakukan sesuatu terutama jika hendak mengambil gambar. Sebenarnya daerah perbatasan adalah wilayah terlarang untuk difoto jadi harap selalu berhati-hati.

Selesai urusan narsis, mendadak ada petugas yang jauh di depan melotot dan mengacung-acungkan tangannya menyuruh saya balik arah ke Kamboja. Bukan main-main, di bahu kirinya tersampir senjata laras panjang yang saya tak tahu jenisnya apa. Lebih seram lagi karena sebenarnya dia tidak sedang berseragam. Hanya celana tentara dan kaos oblong saja yang ia kenakan. Dengan diiringi badan membungkuk saya lalu balik arah dan berjalan menuju Kamboja.

Daerah tak bertuan itu jaraknya sekitar 50 meter dan berupa wilayah terbuka yang memudahkan pengawasan dari kedua pihak. Jangan coba-coba menapaki area berumput yang hijau karena kita tidak pernah tahu apakah daerah itu aman dari ranjau atau tidak. Sepanjang jalan kepala dan bagian belakang badan saya terasa panas karena saya tahu sedang diawasi oleh beberapa pasang mata secara lekat. Kamboja terasa jauuuuuh sekali. Saya juga tidak berani mengambil gerakan tiba-tiba atau berlari. Jadi pasrah saja, jalan pelan-pelan.

Ketika akhirnya palang pintu Kamboja kembali dijangkau, ada perasaan lega dan saya mengeluarkan nafas lega namun hampir tersembur tangisan. Saya baru saja melanggar hukum, sebenarnya.

Memasuki Kamboja semacam ada kebebasan baru karena saya berada dalam perlindungan negara tuan rumah secara resmi melalui cap di paspor hijau saya.

Keluarkan aku dari Laos! ๐Ÿ˜ฅ
Cambodia. I’m safe! *lebay maksimal*

 

Perang Bir di Asia Tenggara

DISCLAIMER: this article reflects personal opinions from the blogger.

Perang bir? Oke, mungkin saya agak berlebihan dalam menjulukinya sebagai sebuah peperangan. Namun nyatanya Asia Tenggara memang marak dengan beragam merk bir lokal dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmatnya, baik warga lokal maupun turis mancanegara. Lupakan merk-merk bir Eropa dan Amerika; jika para pelancong berkunjung ke wilayah ini, yang pertama dicari adalah merk lokal. Satu hal menarik yang saya saksikan adalah bahwa hampir semua negara di Asia Tenggara memiliki merk lokal birnya sendiri, kecuali Malaysia dan Brunei. Indonesia, misalnya, terkenal dengan Bir Bintang yang menjadi favorit para turis Amerika, meski pandangan ini disanggah dengan keras oleh rekan kerja saya yang juga orang Amerika, yang mengejek turis bangsanya sendiri yang tidak mempunyai selera yang bagus oleh karena bir Budweiser di Amerika, yang menjadi minuman sehari-hari di sana, memang kualitasnya rendah dibanding beberapa merk Eropa. Jadi dalam perjalanan saya terakhir, saya ‘ditantang’ untuk membuktikan sendiri keragaman rasa bir di Asia Tenggara. “Lalu manakah yang paling enak?” tanya saya mengharap bocoran.

“Laos,” bisiknya sambil berseri-seri.

Menurut kasak-kusuk teman-teman pelancong ke Asia Tenggara, bir terenak di Asia (bahkan sesumbarnya di dunia) berasal dari Laos dan menjadi benda yang sangat dicari oleh karena penyebarannya yang masih terbatas. Namun demi menjaga objektivitas, maka saya memutuskan untuk mencoba sendiri beberapa bir yang beredar dan memberikan penilaian yang (semoga) adil. Kriteria penilaian berpatokan pada 3 hal: rasa, aroma, dan tingkat kepahitan. Dasar ilmiahnya apa? GAK ADA. Semua itu memang akal-akalan saya saja. ๐Ÿ˜€

Berikut ini saya bagikan empat teratas hasil penelitian kami:

1. Beerlao

Bir kebanggaan Laos ini diproduksi oleh Lao Brewery Company di Vientiane dan berbahan dasar beras jenis jasmine yang diproduksi lokal dan dicampur dengan yeast dan hops yang diimpor dari Jerman. Kekuatan utama Beerlao terletak pada aroma jasmine yang sangat harum dan aroma hops yang menyerupai anggur putih sehingga tanpa meminumnya kita bisa terkecoh menyangka bahwa ini adalah minuman buah-buahan segar, meski bau khas alkoholnya tidak dapat menyembunyikan karakter birnya. Ketika dicoba, bir ini cukup pahit namun dapat ditolerir dan kesegarannya langsung seolah merasuk ke tulang dan membuat saya menarik nafas panjang saking nikmat dan rileksnya. Mencicipi Beerlao benar-benar pengalaman yang luar biasa. Harganya juga sama sekali tidak mahal; satu kaleng sedang dijual di kisaran USD 0.60 – 0.75 di minimarket Kamboja meski bisa melonjak sampai USD 2.50 di bar. Sayang sekali penyebarannya tidak luas; Beerlao hanya dapat ditemukan di minimarket di Laos dan Kamboja sedangkan di Vietnam dan Thailand hanya dijual di bar-bar tertentu. Katanya bir ini diekspor juga ke Eropa dan Amerika namun sangat terbatas di bar-bar tertentu pula. Saya belum menemukan bir ini di Jakarta. Ada yang tahu di mana bisa mendapatkannya?

Beerlao (sumber: Wikipedia)

2. Singha

Inilah produk bir kebanggaan Thailand. Tadinya saya tidak begitu menaruh perhatian karena lebih fokus mencari bir-bir Kamboja, namun begitu kaleng bir Singha dibuka, aroma anggur dan jasmine langsung menyeruak begitu kuatnya. Rasanya sangat mirip dengan Beerlao namun lebih pahit sehingga saya menempatkannya di urutan kedua. Kisaran harganya di Kamboja sama saja, USD 0.60 – 0.75 untuk kaleng sedang.

Singha (sumber: thatsilvergirl.blogspot.com)

3. Tiger

Dari sisi distribusi, boleh jadi Tiger Beer yang merupakan merk asal Singapura ini yang paling luas penyebarannya di Asia Tenggara. Saya pertama kali mencobanya secara tidak sengaja ketika sedang mampir di sebuah bar di KL dan terpaksa kecewa karena Malaysia tidak memiliki produk bir lokal; terpaksalah brand Singapura yang saya coba. Ke manapun saya pergi pasti menemukan merk ini yang kini juga diproduksi di Thailand. Rasa dan tingkat kepahitannya mirip dengan Beerlao namun aromanya tidak terlalu kuat sehingga Tiger harus puas menempati posisi ketiga. Harganya sedikit lebih mahal di Kamboja.

Tiger (sumber: behindtheburner.com)

4. Cambodia

Saya benar-benar tidak menyangka bahwa negara seperti Kamboja ternyata memiliki beberapa merk bir lokal yang bersaing ketat di pasar dengan baliho-balihonya yang besar di sudut-sudut Phnom Penh dan Siem Reap serta terpasang di banyak sekali toko. Salah satu yang saya nilai juara adalah Cambodia, meski nilainya kalah dibandingkan tiga nama di atas oleh karena aromanya yang tidak kuat, rasanya yang agak berair dan tingkat kepahitannya yang rendah. Namun saya tetap dapat menikmatinya. Harganya kurang-lebih sama dengan merk-merk lain di Kamboja.

Cambodia (sumber: thesoutheastasiaweekly.com)

***

Selain keempat nama di atas, masih ada lagi beberapa yang saya coba, terutama di Kamboja, seperti Angkor, Anchor, Kingdom, dan satu-dua nama lain yang saya lupa. Ada pula merk Thailand lainnya yakni Chang yang langsung menempati posisi terbawah. Bagi saya, Chang seperti air putih dengan cita rasa bir. Ketika mampir ke Vietnam, saya sempat mencoba Saigon Red dan sangat enak meski katanya bir terenak di Vietnam adalah Saigon Green yang sayangnya hanya tersedia di bar-bar eksklusif. Ada lagi beberapa merk lokal seperti Zagnarok dan 333, namun saat itu saya sudah muak dengan bir sehingga kaleng-kaleng itu dibeli saja untuk kemudian ditinggal di hotel. ๐Ÿ˜ฆ Filipina juga katanya punya bir San Miguel yang sangat enak dan sepertinya pernah saya lihat di hypermarket di Jakarta. Saya mesti mencobanya kapan-kapan.

Bagaimana dengan Bir Bintang dari Indonesia? Oke, daripada dituduh tidak nasionalis baiklah saya coba juga ya. Bir yang diproduksi berdasarkan lisensi Heineken ini cukuplah saya nilai setara dengan Tiger; tidak terlalu kuat namun sangat enak dan sepertinya memang satu-satunya pilihan di Indonesia karena saya tidak sudi menyentuh merk lokal yang satu lagi. ๐Ÿ˜€

Sekian laporan beer tasting kali ini. Siapa mau coba Beerlao?

Yeah baby!

Membuang Celana di Laos

Ahey! Judul postingan di atas memang kurang ajar banget. Bagaimana bisa ke sana hanya untuk membuang celana? OK, memang agak melebih-lebihkan sih. ๐Ÿ˜€

Setelah menghabiskan seharian penuh di Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja, saya lalu menyusun rencana berikutnya. Ada 2 pilihan: kembali ke Phnom Penh untuk meneruskan perjalanan ke Vietnam, atau mencoba menjejakkan kaki di Laos. Sebenarnya kami agak waswas dengan rencana ke Laos. Betapa tidak, situasi perbatasan Kamboja-Laos berubah setiap waktu terutama urusan visa. Belum lagi urusan suap-menyuap dengan petugas imigrasi yang memusingkan untuk alasan yang sangat sepele: tiba di perbatasan hari Minggu sehingga mereka harus lembur tanpa dibayar pemerintah. Aaargh. Lalu tiket bis yang bukan-main mahalnya dan sepertinya akan menguras isi dompet dalam-dalam.

Namun terdorong oleh kalimat, “Kapan lagi ke Laos?!” dan nafsu narsis mendapatkan cap imigrasi negara yang tidak memiliki laut di Indocina itu di paspor Indonesia, dengan komat-kamit membaca doa sambil menyemangati diri sendiri, akhirnya tiket bis Siem Reap – 4000 Islands pun dibeli. Hajar, mumpung masih muda. Kami pun berjanji untuk saling melindungi dalam keadaan bahaya. #lebaysangat

Four Thousand Islands, Laos

Loh kok bisa? Bukannya Laos terkurung oleh negara-negara lain sehingga tidak punya laut? Ya, memang Laos adalah satu-satunya negara anggota ASEAN yang tidak memiliki laut oleh wilayahnya dikelilingi oleh negara-negara lain yakni Cina, Kamboja, Vietnam, Thailand, dan Myanmar. Namun demikian, Sungai Mekong yang tenang, lebar, dan dalam mengaliri sepanjang perbatasan sebelah barat negara berpenduduk 6,5 juta jiwa ini; bahkan ibukota negaranya, Vientiane, juga terletak di tepi Sungai Mekong dan berbatasan langsung dengan Thailand. Sebagai wilayah yang sebagian besar terdiri atas pegunungan, Laos mengalami sejarah panjang pendudukan silih-berganti oleh kekuatan-kekuatan besar negara tetangga seperti Birma, Champasak, Cina, dan Siam sebelum akhirnya dijajah Perancis selama 60 tahun semasa 1893-1953. Selama kurun waktu 22 tahun berikutnya hingga 1975, Laos menikmati kemerdekaan sebagai kerajaan sampai akhirnya Pathet Lao, organisasi komunis di Laos yang dibekingi Vietnam dan Uni Sovyet, berhasil menggulingkan pemerintahan dan memaksa Raja Sisavang Vong turun tahta. Sejak saat itu hingga sekarang, negara ini menyandang nama Lao People’s Democratic Republic (Lao PDR) berideologi komunis dan berafiliasi ke Vietnam dan Uni Sovyet. Hubungan diplomatik dengan Cina terputus pada tahun 1979 yang lalu memancing embargo ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara lain.

Kembali ke Four Thousand Islands atau yang disebut Si Phan Don oleh warga setempat, ‘kepulauan’ ini pada dasarnya adalah titik-titik daratan yang menyebar di Sungai Mekong di ujung paling selatan negara tersebut. Pulau-pulau di Sungai Mekong ini menjadi surga para pelancong yang ingin menikmati keindahan dan ketentraman sungai, mengunjungi air terjun terbesar di Asia Tenggara, atau menengok Lumba-Lumba Irrawady, yakni lumba-lumba air tawar yang sangat langka. Aktivitas utama di daerah ini tentunya berputar pada olahraga air seperti tubing dan kayaking, atau, yang paling utama, bersantai seharian tanpa melakukan apapun kecuali leyeh-leyeh di atas hammock sambil memandangi sungai.

Ada beberapa titik di Si Phan Don yang menjadi pusat kunjungan turis; yang terbesar adalah Don Khong (pulau terbesar) dan paling maju fasilitasnya. Titik lainnya yang juga populer dan justru lebih dekat ke atraksi sungai adalah Don Det, meski daerah ini fasilitasnya belum semaju Don Khong dan listrik 24 jam juga tersedia baru-baru ini saja.

Been There, Don Det

Perjalanan yang panjang itu dimulai dari Siem Reap, Kamboja, dimana kami dijemput di penginapan jam 5 pagi untuk selanjutnya diantar ke pool bis yang lokasinya tidak jauh dari Psar Chaa (Old Market). Tidak ada bis langsung dari Siem Reap ke Laos; kami harus menaiki bis yang kembali ke arah Phnom Penh namun transit di Skuon, sekitar 1 jam perjalanan ke utara dari Phnom Penh, untuk selanjutnya berganti ke bis internasional Phnom Penh – Laos yang menyusuri National Highway 7 ke arah utara hingga perbatasan Dong Kralor – Veun Kham. Lama perjalanan hingga ke perbatasan kurang lebih 11 jam diselingi istirahat makan siang. Tidak banyak yang menarik untuk disimak, kecuali ibu-ibu pelayan restoran jutek yang tidak mau menerima uang Riel yang kami tawarkan meski nilai tukarnya sama. Menyebalkan, padahal itu mata uang negaranya sendiri. Akhirnya ia mau juga menerima uang Riel dari saya meski lalu dicampakkan begitu saja ke laci kasir. Huh!

Namun ada juga beberapa pemandangan menarik di perjalanan, utamanya barang-barang yang dibawa penduduk ketika melakukan perjalanan. Biarkan beberapa gambar saja yang bercerita ya:

Bis tingkat Phnom Penh-Laos
Ibu-ibu penjual roti baguet & bunga teratai untuk persembahan
Kejutan pertama: sepeda motor diikat di belakang mobil Elf untuk dibawa dalam perjalanan jauh =)) (Agak kurang jelas karena saya diawasi ketat ketika mengambil gambar)
Kejutan kedua: batu bata yang disusun di bagian belakang mobil =))

Menakjubkan sekali melihat apa saja yang dibawa penduduk di bagian bagasi ketika melakukan perjalanan jauh. Umumnya pintu belakang tetap dibuka agar barang-barang besar bisa diikat begitu saja di situ tanpa pengaman lebih kuat. Bis yang kami naiki dipenuhi oleh para turis saja; warga lokal lebih memilih menumpang Elf seperti yang tampak pada gambar di atas. Harga tiketnya lebih murah, namun bersiaplah duduk bersama tumbuh-tumbuhan dan hewan selain juga para penumpang yang berhimpitan di kanan-kiri-depan-belakang Anda. ๐Ÿ˜€

Dari perbatasan Kamboja-Laos, kami memutuskan untuk turun di perhentian pertama yang berjarak 5 kilometer dari perbatasan, yakni Nakasang. Pos Nakasang terletak sederhana di pinggir jalan utama. Kemudian kami dijemput dengan pickup gratisย (sudah termasuk dalam harga tiket bis) dari pelabuhan untuk selanjutnya diantar dengan perahu motor ke Don Det, sekitar dua puluh menit perjalanan membelah sungai Mekong yang sore itu airnya nampak keruh meski tidak pekat.

Musibah terjadi dalam perjalanan ini. Ketika saya sedang bergerak di dalam bis, tiba-tiba kantong celana lutut kanan saya tersangkut kursi dan PREEEET!! Terdengar bunyi robekan yang menghasilkan bukaan besar mulai dari paha ke lutut. Celaka, sementara backpack besar saya ditaruh di bagasi lantai bawah bis sehingga tidak bisa diambil. Terpaksalah sepanjang sisa perjalanan dan menyeberang perbatasan saya lalui dengan mengenakan celana robek tersebut. Paha yang cukup banyak rambutnya itu pun dipamerkan kemana-mana. ๐Ÿ˜€ Beruntung cuaca sore itu cerah dan sisa perjalanan sangat menyenangkan sampai akhirnya kami menjejakkan kaki di Don Det, salah satu pulau yang populer sebagai tujuan wisata ke air terjun dan titik terdekat untuk menyaksikan lumba-lumba air tawar.

Membelah sungai Mekong dengan perahu motor. Bukan, pria narsis berkacamata itu bukan saya. Masih gantengan gue kemana-mana =))
Senja di pantai Don Det, sungai Mekong, Laos

Ketika tiba di pantai Don Det dan kami mulai berkeliling mencari penginapan, seketika saya disuguhi pemandangan yang, saya anggap, biasa saja. Sungai Mekong tak ubahnya dengan Sungai Siak yang membelah kota Pekanbaru yang pernah saya kunjungi pula. Suasana alam senja yang mulai ditingkahi jangkrik, lenguhan sapi dan celotehan ayam, serta percakapan turis-turis yang sedang bersantai tiba-tiba membuat saya malas menjelajah lebih jauh karena kami juga harus memikirkan jadwal ke tempat lain. Begitu akhirnya badan ini rebah ke tempat tidur di penginapan, yang pertama kali kami suarakan dengan serempak adalah: “BALIK KE KAMBOJA YUUUK!”ย *gubrak*

Malam itu kami habiskan dengan makan-malam dan menjelajah kampung Don Det. Suara televisi yang sedang menayangkan sinetron Thailand terdengar di mana-mana. Niat ingin ke warnet kami urungkan setelah mengecek tarifnya 24,000 kip / jam (setara Rp 24,000 di Indonesia). Beruntung malamnya hujan turun deras sehingga udara tidak terlalu panas. Kami mendapat kamar bungalow yang sederhana di tepi sawah; sesuatu yang mungkin bagi orang bule sangat eksotis namun kami pandang dengan sebelah mata karena terus-menerus membandingkannya dengan keindahan sawah di Indonesia. Oke, saya memang agak arogan di Laos karena seharusnya lebih rendah hati dalam memandang alam dan masyarakat sekitar. Namun saya menyadari bahwa ini bukanlah Laos yang sebenarnya; saya sedang berada di sebuah kampung turis dengan penduduk lokal yang pekerjaan utamanya melayani tamu. Oleh karena itu kami anggap kunjungan di Laos sebaiknya ditunda saja lain kali agar dapat menyaksikan daerah lain dengan lebih seksama. Dalam pikiran saya malam itu hanyalah: kembali ke Phnom Penh, lalu terus ke Vietnam.

Pagi pun tiba. Tanpa membuang waktu kami bergegas ke pantai untuk menaiki perahu yang membawa kami kembali ke Nakasang. Melihat si celana robek yang semalam saya gantungkan di pagar bungalow, saya pun memutuskan untuk meninggalkannya di sana. Akhirnya, saya pikir, ada juga gunanya ke Laos: membuang celana robek ๐Ÿ˜€

Perjalanan ke Phnom Penh lebih panjang lagi, kami tempuh selama hampir 13 jam. Di perbatasan Laos-Kamboja kami turun bis dan berjalan-jalan. Dasar bodoh, kami iseng kembali melangkah ke arah Laos diiringi pandangan tajam dari petugas perbatasan kedua negara. Pandangan tajam tersebut melunak ketika saya berbicara dengan sopan meminta izin berfoto. Perjalanan kembali dari palang pintu Laos ke palang pintu Kamboja jaraknya hanya 100 meter namun terasa berhari-hari. Jarak 100 meter ini adalah daerah tak bertuan dan kami tak memegang paspor karena sedang diurus petugas bis. Tindakan yang entah pandai atau bodoh. ๐Ÿ˜ฆ

Berikut foto-foto saat kembali ke Kamboja:

Lalu-lintas Don Det-Nakasang cukup sibuk di pagi hari
Halo! Cini cini cini! Unyuuuu *cubit* (Nakasang, Laos)
Petugas karantina Kamboja menyemprotkan pembasmi kuman sebelum bis memasuki negara itu
Keluarkan aku dari Laooooos! *panik*
Cambodia, Thank God! *sujud syukur cium tanah*
Motor yang diikat di belakang mobil. Kali ini gambarnya lebih jelas. ๐Ÿ˜€

Informasi Umum

Visa

Pemegang paspor Indonesia tidak dikenakan visa untuk memasuki Laos melalui perbatasan ini. Info selengkapnya di sini.

ย Tiket Bis

Harga tiket Siem Reap-4000 Islands adalah USD 24. Sedangkan tiket 4000 Islands-Phnom Penh seharga USD 27. Tiket tersebut sudah termasuk penjemputan pickup di Nakasang dan ongkos penyeberangan sungai dengan perahu motor. Di Siem Reap, tiket dapat dibeli di agen perjalanan terdekat atau tempat penginapan; harganya bervariasi, oleh karena itu jangan segan-segan mencari tiket termurah.

Jalur Siem Reap-Laos mengharuskan penumpang transit di Skuon, sedangkan jalur Laos-Phnom Penh dapat ditempuh sekali jalan saja. Tidak perlu berganti bis di perbatasan dan urusan imigrasi dilaksanakan oleh petugas bis.

Penginapan & Makan

Terdapat banyak opsi penginapan di Don Det dengan harga bervariasi mulai dari 50,000 kip per malam. Harga tersebut sudah mendapatkan kamar cukup baik berupa bungalow dengan kamar mandi di dalam dan kelambu penghalang nyamuk. Makan malam di restoran cukup baik dan murah, berkisar di harga 25,000 kip.

Saya tidak melihat opsi makanan halal bagi yang Muslim. Memang ada restoran India di kampung tersebut namun saya tidak mengecek lebih lanjut.

Komunikasi

Tarif warnet sangat mahal dengan koneksi sangat lambat; lupakan saja. Karena hanya singgah semalam saya tidak membeli SIM Card lokal. Namun sinyal provider Hello Axiata dari Kamboja masih tertangkap dengan cukup baik mengingat letak Don Det masih di perbatasan dengan Kamboja. Atau bisa juga kita mengaktifkan SIM Card Telkomsel yang memiliki kerjasama roaming dengan Laotel.

Nilai tukar

USD 1 = 7950 kip. Namun demi kemudahan membandingkan harga, saya anggap saja 1 kip = Rp 1. Berbeda dengan Kamboja, semua transaksi di Laos wajib menggunakan mata uang lokal kecuali pembelian tiket bis internasional. Kita dapat menukar uang di pool bis Nakasang meski nilai tukarnya sangat jelek.

Perayaan Waisyak di Angkor Wat

Setelah menempuh enam jam perjalanan dengan bis dari Phnom Penh, saya tiba di kota Siem Reap yang terletak di sebelah barat laut Kamboja. Tujuan utama para turis datang ke Siem Reap adalah untuk mengunjungi Angkor, sebuah kompleks candi Hindu dan Buddha terbesar di dunia. Kompleks candi di Angkor adalah sumber inspirasi yang luhur bagi budaya Khmer dan menjadi pusat kegiatan agama selama berabad-abad. Tidak seperti Borobudur yang ditinggalkan selama ratusan tahun akibat letusan Merapi dan kemudian ditutupi tanah sehingga menjadi bukit, Angkor tidak pernah dikosongkan dan selalu digunakan sebagai tempat ibadah sejak didirikannya pada awal abad ke-12 hingga sekarang.

Semua brosur pariwisata Siem Reap dan Angkor selalu menyebutkan bahwa waktu terbaik untuk mengunjungi kompleks candi Hindu ini adalah pada saat perayaan Waisyak. Loh, kok umat Buddha merayakan Waisyak di candi Hindu?!

Namun memang begitulah adanya. Setelah mengalami pasang-surut kekuasaan selama berabad-abad, pelan-pelan fungsi Angkor Wat berubah dari awalnya candi Hindu menjadi tempat ibadah umat Buddha. Kompleks Angkor tidak dibangun secara bersamaan; setiap candi dibangun oleh raja yang sedang berkuasa saat itu untuk dipakai sebagai tempat ibadah pribadinya. Jadi Angkor Wat, meski berbentuk mirip kota, sebenarnya adalah kumpulan tempat ibadah yang boleh jadi terbesar di dunia!

Saya tiba di Siem Reap sebenarnya tanpa memperhitungkan waktu khusus. Awalnya memang saya sudah mendengar bahwa saat terbaik untuk mengunjungi Angkor adalah waktu Waisyak. Nah, betapa terkejutnya saya ketika melihat kalender dan mendapati tanggal kunjungan saya ke sana bertepatan dengan perayaan terbesar umat Buddha itu! Trisuci Waisyak adalah tiga rangkaian perayaan sang teladan Siddharta Gautama yang bertujuan mengenang kembali kelahiran, pencapaian pencerahan, dan wafatnya beliau. Kalau umat Buddha di Indonesia memusatkan perayaan Waisyak di Candi Borobodur, maka umat Buddha di Kamboja berbondong-bondong datang ke Angkor Wat dan berdoa di sana selama seminggu penuh dan mencapai puncaknya pada malam perayaan Waisyak. Ratusan, bahkan ribuan, biksu laki-laki berjubah oranye dan biksuni perempuan berjubah putih berkumpul di pelataran candi semalam-suntuk dan melantunkan doa-doa khusyuk. Bulan sedang purnama, menerangi jalan dan jembatan berbatu yang ramai ditapaki peziarah dan wisatawan yang datang menyaksikan ritual ibadah sekaligus menunggu matahari pagi. Mantra-mantra bersahutan tiada henti; kebanyakan dalam Bahasa Khmer yang tidak saya mengerti meski lamat-lamat ada pula mantra dalam Bahasa Cina dan Sansekerta yang bisa tertangkap. Perasaan khidmat memenuhi udara.

Ketika akhirnya matahari terbit pelan-pelan dari balik candi, kamera para turis sontak mengarah ke sumber cahaya. Sayangnya cuaca mendung menghalangi piringan keemasan tersebut dari pandangan mata. Namun kekecewaan segera terganti oleh ritual umat Buddha berikutnya. Dengan berbaris rapi mereka meninggalkan candi lalu berkumpul di pelataran parkir depan. Setelah briefing dan berkat oleh pandita, barisan biksu berjubah oranye kembali berbaris rapi meminta sumbangan dari umat Buddha yang hadir sambil memanggul mangkuk tanah liat di dada mereka. Kebanyakan dari para biksu tersebut masih anak-anak dan remaja yang berjalan didampingi sanak-keluarga mereka. Setiap orang yang mereka lewati bersedekap lalu memberikan sumbangan berupa uang dan makanan. Berapa banyak sumbangan yang mereka terima? Bagi Anda yang merayakan Idul Fitri atau Imlek, kira-kira berapa uang perayaan yang Anda terima?! Saya yakin itu tidak ada bandingannya dengan jumlah uang yang diterima para biksu itu. ๐Ÿ˜€ Mangkuk besar mereka dengan cepat menjadi penuh dan berat sehingga para sanak-keluarga yang mendampingi harus senantiasa memindahkan uang dan barang-barang tersebut ke karung. Lalu karung pertama penuh, berganti ke karung kedua, dan seterusnya. Saya hanya bisa terbelalak menyaksikan betapa tulusnya umat Buddha yang hari itu menjalankan ibadah terpenting di tahun ini.

Matahari terus merambat naik dan panasnya mulai menyengat. Rasanya saya menelan debu dan keringat begitu banyak sehari penuh dan sangat melelahkan. Namun balasannya setimpal: kuil-kuil yang tersembunyi di hutan menawarkan kemegahan abadi. Candi-candi kokoh yang bertarung dengan pohon-pohon beringin perkasa yang menjadi inspirasi begitu banyak fotografer hingga sutradara film Tomb Raider yang membawa Angelina Jolie ke sana.

Angkor Wat kerap disandingkan kemegahannya dengan Borobudur dan itu tidaklah berlebihan. Usaha promosi pariwisata yang menggabungkan keduanya menjadi satu paket telah mulai dilaksanakan meski masih minim. Jalur penerbangan Siem Reap – Yogyakarta mulai dijajaki. Orang-orang Indonesia, meski masih sedikit, mulai berdatangan ke sana. Jadi, jika Anda sudah pernah ke Borobudur, kini saatnya Anda merencanakan perjalanan ke Siem Reap.

Selanjutkan biarkan beberapa gambar saja yang bercerita. Simak pula Informasi Umum yang tertera di paling bawah.

Tuktuk di Siem Reap termasuk mewah dibandingkan Phnom Penh
Salah satu sudut kota Siem Reap
Tarian tradisional Khmer di Pasar Malam Siem Reap
Angkor Wat sesaat sebelum matahari terbit
Altar perayaan Waisyak, Angkor Wat
Selamat Hari Raya Waisyak ๐Ÿ™‚
Barisan para biksu
Para biksuni pun tidak ketinggalan
Biksu muda menerima persembahan dari umat
Mereka menunduk karena dilarang memandangi lawan jenis. Namun matanya fokus ke mana tuh ya? ๐Ÿ™‚
Mangkuknya penuh uang! ๐Ÿ™‚
To Phrom, salah satu kuil di kompleks Angkor yang bertarung dengan pohon beringin. Sudut ini sangat terkenal karena pernah dipakai shooting film Tomb Raiders yang dibintangi Angelina Jolie
Papan penanda bahaya di hutan. Di Kamboja umumnya itu berarti: RANJAU!
Bolehlah narsis sedikit di bawah puncak Angkor ๐Ÿ™‚

Informasi Umum

Transportasi Umum: Siem Reap dapat dicapai dengan bis dari Phnom Penh dengan harga tiket USD 6-7 sekali jalan (6 jam). Bis berangkat dari beberapa pool di kota Phnom Penh, tergantung perusahaan yang melayani.

Untuk berkeliling kota Siem Reap, ongkos tuktuk umumnya USD 2 sekali jalan. Sedangkan untuk berkeliling Angkor seharian penuh, ongkosnya USD 15. Si abang tuktuk akan menjemput kita di penginapan jam 4.30 pagi, oleh karena itu pastikan Anda sudah mendapatkan sewa tuktuk sehari sebelumnya. Selain tuktuk, tersedia pula layanan taksi dengan ongkos jauh lebih mahal, atau penyewaan sepeda dengan ongkos USD 5 / hari.

Penginapan: Ada banyak penginapan berbagai kelas di Siem Reap. Saya merekomendasikan Jasmine Lodge, National Highway 6, Tel 063-760697, www.jasminelodge.com. Pemiliknya yang bernama Khun akan menyambut kita dengan ramah dengan Bahasa Inggris yang cukup baik. Luangkan waktu untuk berbincang-bincang dengannya. Khun mempunyai jaringan komunitas yang baik di Siem Reap di samping mengelola sebuah sekolah dasar di kampung halamannya.

Panduan Umum Angkor Wat

Dengan jumlah candi sekitar 80 buah, sangat sayang bila Anda tidak berlama-lama di Siem Reap. Namun jika memang tidak banyak waktu, kuil-kuil utama di Angkor dapat dijelajahi seharian penuh. Ada tiga macam tiket masuk: USD 20 (1 hari), USD 40 (3 hari), USD 60 (7 hari). Tiket dapat dibeli di gerbang masuk Angkor dengan menunjukkan paspor. Anda akan diambil foto yang akan tercetak di tiket. Jaga baik-baik tiket tersebut karena akan diperiksa di candi-candi utama. Beberapa candi kecil tidak ditunggui petugas tiket, namun jika Anda ketahuan menyusup masuk, Anda akan dikenakan denda.

Bersiaplah terkena panas matahari terik. Bawalah topi, kacamata hitam, dan persediaan air secukupnya. Makan siang di Angkor cukup mudah didapat karena tersedia banyak warung makan dan restoran.

Disiplinkan diri Anda untuk tetap berjalan di jalur-jalur setapak yang ditandai. Jangan sekali-kali keluar ke semak-semak karena, seperti umumnya di Kamboja, masih banyak ranjau darat bertebaran di mana-mana termasuk di sekitar Angkor.

Ladang Pembantaian

Mayat-mayat mengerubung ketika kami berjalan, tidur, dan makan;
Bau bangkai tak tertahankan, menyeruak dari mayat-mayat yang bengkak dan membusuk
yang sebagian anggota tubuh dan kepalanya telah hilang

Ly Van Aggadipo, biksu

Phnom Penh, 17 April 1975. Pagi-pagi buta warga Phnom Penh terbangun oleh suara tembakan yang semakin mendekat ke kota. Suasana mencekam sudah terasa sejak berhari-hari sebelumnya dan mimpi buruk sudah di ambang kenyataan. Lon Nol telah mundur dari jabatannya sebagai Presiden Republik Khmer pada awal bulan dan mengungsi ke Bali atas undangan Soeharto yang merupakan kawan lama. Penggantinya, Saukham Khoy, tidak dapat berbuat banyak mengatasi keadaan genting perang saudara meski Amerika Serikat mendukung penuh pemerintahan Republik Khmer.

Lima hari lalu, kekalahan secara tidak resmi telah diakui dan Amerika Serikat melancarkan Operasi Eagle Pull untuk menarik duta besarnya beserta warga Amerika, warga asing, dan warga negara Kamboja termasuk presidennya yang terancam bahaya bila Khmer Merah masuk kota. Setelah sang presiden melarikan diri, pemerintahan tinggal menyisakan tujuh orang Komite Tertinggi yang bertugas mempertahankan Phnom Penh sampai titik darah penghabisan.

Namun malang tak dapat ditolak. Perimeter pertahanan Phnom Penh yang terakhir jatuh ke tangan komunis pada tanggal 15 April. Lalu pada pagi-pagi buta tanggal 17 April, Jendral Sat Suksakhan memindahkan pemerintahan ke provinsi Oddar Meanchay dan suara sang jendral terdengar melalui radio tepat pada pukul 10 pagi yang menyerukan agar angkatan bersenjata menghentikan pertempuran dan melakukan gencatan senjata dan bersiap melakukan perundingan untuk menyerahkan Phnom Penh ke tangan Khmer Merah. Pada akhirnya tentara Khmer Merah benar-benar memasuki kota, melucuti tentara, menangkap para pejabat tinggi kepresidenan yang masih tersisa, lalu menggiring para tawanan itu ke Cercle Sportif dan Olympic Stadium dan mengeksekusi mereka semua. Mimpi buruk itu pun menjadi kenyataan.

Musuh Negara

Guna memenuhi ambisinya menjadi negara petani dan menumpas habis unsur-unsur kapitalisme dari bumi Kamboja, Angkar, sebutan bagi organisasi Khmer Merah pimpinan Pol Pot, mengusir warga Phnom Penh dan kota-kota besar lainnya dari tempat tinggal mereka dan semuanya diperintahkan untuk kembali ke desa-desa asal masing-masing. Bagi yang menolak dengan alasan tidak punya kampung halaman akan menghadapi siksaan atau eksekusi. Warga tidak punya pilihan; berduyun-duyun mereka keluar dari kota sehingga Phnom Penh menjadi kota mati yang benar-benar kosong. Di pedesaan, situasinya juga tidak lebih baik. Rakyat dipaksa bercocok-tanam atau bekerja rodi membangun infrastruktur dengan hanya dibayar makanan sederhana yang mesti dinikmati secara komunal, simbol kebersamaan rakyat di bawah ideologi komunis. Suplai pangan menipis dan habis namun Pol Pot menolak mengimpor beras dan sembako lainnya dari luar negeri karena bertentangan dengan prinsip-prinsip kemandirian. Khmer Merah justru menjual hasil pangan dalam negerinya ke Cina untuk kemudian dibelikan senjata dan peralatan tempur.

Lalu siapakah para musuh negara di mata Khmer Merah? Mereka adalah rakyat biasa yang berprofesi sebagai dokter, guru, seniman, para warga yang terdidik, mereka yang memiliki koneksi dengan pemerintah lama atau berhubungan dengan orang asing. Bahkan orang yang mengenakan kacamata minus saja bisa dijadikan musuh karena dianggap kaum intelektual. Pria, wanita, bahkan anak-anak tanpa kecuali akan ditangkap dan diinterogasi. Hampir semua dari mereka menemui ajal di kamp-kamp interogasi atau dieksekusi di luar kota. Bagaimanakah mereka diperlakukan selama interogasi?

Tuol Sleng

Kompleks di kota Phnom Penh ini dulunya adalah SMA Chao Ponhea Yat. Pada bulan Agustus 1975, Khmer Merah mengubah sekolah ini menjadi penjara yang diberi kode Security Prison 21 (S-21) yang sekarang dikenal dengan nama Tuol Sleng. Para musuh negara yang ditangkapi tersebut sebagian dibawa ke kompleks sekolah untuk kemudian diambil data dan fotonya secara teliti. Mereka ditempatkan di ruang-ruang kelas yang telah diubah menjadi sel-sel penjara dalam kondisi dirantai bahkan ketika hendak pergi tidur. Hampir semua pakaian dilucuti dan mereka harus hidup menderita tanpa akses sanitasi. Kotak amunisi kosong biasanya diubah menjadi toilet dan dibersihkan dengan cara disemprot air oleh para penjaga. Banyak dari para tahanan yang akhirnya meninggal akibat kondisi penjara yang menyedihkan.

Para tahanan ini setiap hari menjalani interogasi dan dipaksa mengarang-ngarang cerita tentang bagaimana mereka menjadi musuh negara dan bekerja sebagai mata-mata CIA, atau melakukan tindak kriminal lainnya seperti mencuri, merampok, dan memperkosa. Semua pengakuan ini dilakukan di bawah tekanan karena kalau tidak dapat mengarang cerita, mereka akan segera disiksa atau dieksekusi. Metode interogasi dilakukan dengan cara mencabut kuku kaki dengan tang, setrum, pecut, dan aksi-aksi keji lainnya. Berikut contohnya:

Tiang ini awalnya digunakan oleh para siswa sekolah untuk berolah raga
Oleh Khmer Merah, tiang ini dipergunakan untuk menggantung para tahanan naik-turun sampai pingsan. Lalu kepala tahanan tersebut direndam di gentong di dekat tiang hingga sadar kembali. Begitulah proses interogasi terus berlangsung.

Ketika Phnom Penh dikepung tentara Vietnam pada tahun 1979 dan rezim Khmer Merah di ambang kekalahan, para penjaga mengeksekusi sisa 14 tahanan yang masih ada di beberapa ruangan dalam kondisi dirantai di atas ranjang interogasi sebelum para penjaga penjara melarikan diri. Keempat belas orang yang terakhir tersebut lalu dimakamkan di halaman penjara.

Di ranjang inilah salah satu tahanan terakhir yang ditemukan dalam kondisi sudah meninggal. Foto di dinding menunjukkan kondisi terakhir kamar tersebut lengkap dengan jenazah tahanan masih di atasnya (maaf, saya tidak dapat menampilkannya di sini)

Sekitar 17,000 orang pernah tinggal dan melewati penjara ini sebelum dieksekusi atau dikirim ke ladang pembantaian untuk dieksekusi ย pula. Hanya tujuh orang yang berhasil selamat. Kini tempat ini berubah fungsi menjadi Tuol Sleng Genocide Museum yang menampilkan koleksi foto-foto korban secara close-up, dan beberapa foto post-mortem. ย Ada pula pameran alat-alat siksaan, beberapa foto ketika penyiksaan terjadi, dan koleksi pakaian para tahanan. Suasananya masih mencekam bahkan meskipun tiga puluh tahun telah lewat.

Bekas penjara yang berubah menjadi museum. Tampilannya masih dipertahankan apa adanya.

Dalam usahanya mengembalikan fungsi Tuol Sleng sebagai pusat pendidikan, pemerintah Kamboja membuka kelas-kelas sejarah Tuol Sleng dan Khmer Merah yang diisi oleh akademisi dan para mantan penjaga penjara. Kelas ini dibuka dua kali seminggu di lantai 3 gedung sekolah tersebut.

Namun bagi para tahanan tersebut, Tuol Sleng bukanlah akhir hidup mereka.

Ladang Pembantaian

Disebut demikian karena ke sinilah para tahanan Tuol Sleng tersebut dikirim untuk dibunuh. Letaknya di pinggiran selatan kota Phnom Penh yang dulunya sebuah kuburan warga Tionghoa. Ini hanyalah salah satu dari sekitar 300 lokasi pembantaian yang tersebar di seluruh Kamboja. Sebagian besar tidak dapat diakses karena area sekelilingnya ditanami ranjau. Ada pula lokasi yang sudah terlupakan dan jenazah para korban tidak akan pernah bisa ditemukan.

“To keep you is no benefit. To kill you no loss.”

Demikian semboyan favorit Pol Pot pada waktu itu. Pada dasarnya lebih baik membunuh orang yang tak berdosa secara tidak sengaja daripada secara tidak sengaja membiarkan seorang musuh tetap hidup. Atas prinsip itulah setiap orang yang dibawa ke mari akan dibunuh tanpa kecuali guna menumpas golongan intelektual yang ‘berkhianat’ terhadap Angkar meski sebenarnya satu-satunya pengkhianatan mereka mungkin hanyalah karena mereka pernah bersekolah.

‘The Killing Fields’ barangkali nama yang tepat disandangkan pada tempat ini. Para tahanan Tuol Sleng datang kemari pada tengah malam. Satu truk berisi sekitar 20 orang yang mengira mereka sedang dipindahkan ke rumah baru. Seluruh operasi dijalankan bertahun-tahun secara rahasia. Ketika mereka tiba di tempat ini, mereka dikumpulkan untuk diabsen, diambil data dan kadang diminta menandatangani dokumen tertentu. Lalu tanpa banyak basa-basi lagi, mereka langsung dibariskan di depan regu tembak dan dieksekusi di tempat.

Namun menjelang kejatuhan rezim Khmer Merah ke tangan Vietnam, jumlah tahanan yang dikirim ke mari semakin banyak dan tidak mungkin mereka semua dibunuh malam itu juga. Sebagian besar akan ditempatkan di pondok-pondok tahanan sementara selama 2 hari. Musik propaganda diperdengarkan keras-keras untuk menenggelamkan suara jeritan para korban ketika hendak dibunuh. Kala para tentara kekurangan amunisi, maka cara-cara lain digunakan seperti menyembelih korban dengan batang palem, serat bambu, atau memukul kepala korban dengan sebatang kayu. Bayi-bayi yang dibawa ke mari mengalami nasib yang sama mengerikan. Mereka akan digantung terbalik dan kepalanya dihantamkan ke sebatang pohon hingga tengkoraknya pecah, disaksikan oleh ibu mereka.

Jenazah (atau sisa jenazah) lalu dikuburkan di beberapa lokasi kuburan massal. Namun sebagian besar tidak dikubur. Mayat mereka dilempar begitu saja ke sebuah danau kecil yang terletak di belakang kuburan. Berapa jumlah korban? Angkanya tidak pernah pasti. Sepuluh ribu, tujuh belas ribu, dua puluh ribu, entahlah.

Jika Anda berkunjung ke mari, Anda akan menemukan suasana hening dan khidmat. Para pengunjung akan mengamati beberapa papan nama dan lokasi dalam diam sambil mendengarkan penjelasan pemandu dari alat pendengar yang tersedia dalam berbagai bahasa. Ketika Anda berdiam, sejenak pikiran Anda akan kembali ke masa silam, di mana suara-suara jeritan para korban dan adegan pembunuhan kembali berkelebat di kepala. Majulah beberapa langkah dan Anda akan menemukan bekas-bekas pondok tempat para tentara bekerja, menyimpan peralatan eksekusi, dan mengurung para tahanan. Terus maju ke arah sebuah danau kecil sambil alat pendengar Anda menjelaskan sejarah Khmer Merah, detail lokasi dan aktivitasnya pada masa itu, sampai pada pengakuan keluarga korban dan juga mantan penjaga. Ketika berkeliling danau, Anda akan diperdengarkan sebuah komposisi musik yang menggambarkan betapa mencekamnya tempat itu dahulu.

Hati-hati bila berjalan di sini sehabis hujan. Masih banyak jenazah yang belum terangkat di sekitar Anda. Tanah yang basah akan menyingkap sebagian tulang, gigi, dan pakaian korban. Bila Anda kebetulan menemukannya, segera beritahu petugas keamanan setempat.

Siapa sangka danau tenteram ini menyimpan puluhan ribu jenazah yang hingga kini masih tenggelam di dalamnya?
Jalan setapak mengelilingi danau yang damai
Sisa-sisa pakaian korban
Sebagian tengkorak yang berhasil ditemukan

Kini ladang pembantaian tersebut berubah nama menjadi Choeung Ek Genocidal Center. Di halaman depan dibangun sebuah stupa indah yang menyimpan tengkorak-tengkorak para korban. Tempat ini mewakili ratusan ladang pembantaian lainnya di seluruh Kamboja dan menjadi peringatan akan kekejaman tentara Khmer Merah yang membunuh jutaan saudara sebangsanya sendiri.

Choeung Ek Memorial Stupa

Setiap pengunjung yang datang ke tempat ini akan pulang dengan emosi bergemuruh, termasuk saya. Bagaimana bisa pembunuhan terjadi begitu mudah dan nyawa manusia begitu murahnya atas nama ideologi? Namun suara pemandu di alat pendengar saya bergetar ketika mengingatkan bahwa bukan tidak mungkin peristiwa ini terjadi lagi di masa depan. Bosnia, Jerman, Argentina, dan tempat-tempat lain telah menyaksikan kekejian yang mirip. Choeung Ek menjadi salah satu penanda agar kekejaman seperti ini tetap diingat dan tidak boleh terulang lagi.

===

Informasi Umum

Tuol Sleng

Museum Tuol Sleng terletak di pusat kota Phnom Penh (Street 113) dan dapat dicapai dengan tuktuk. Buka jam 8 pagi hingga 5.30 petang. Harga tiket masuk per Mei 2012 adalah USD 2. Saya membayar 8000 riel, sesuai kurs USD 1 = 4000 riel waktu itu. Seminggu dua kali, Tuol Sleng membuka kelas Sejarah Khmer Merah di salah satu ruangan di lantai 3. Jadwalnya setiap Rabu dan Jumat jam 2 petang.

Choeung Ek (Killing Fields)

Terletak 14 kilometer sebelah barat daya Phnom Penh, Choeung Ek terbuka bagi pengunjung jam 7 pagi hingga 5.30 petang. Harga tiket masuk untuk orang asing adalah USD 5. Untuk mencapai tempat ini dapat menggunakan tuktuk seharga USD 15 pulang-pergi. Taksi tentunya lebih mahal.

Oh Phnom Penh!

Oh Phnom Penh, selama tiga tahun kita berpisah
Aku merindukanmu dan hatiku merana dari hari ke hari
oleh karena musuh yang memutuskan tali kasihmu dan aku

Kala aku dipaksa meninggalkanmu
Amarah berkobar di hatiku dan aku bersumpah membalas dendam
atas penderitaanmu sebagai tanda kesetiaanku

Phnom Penh, kota kami tercinta
Meski ditempa kesusahan selama tiga tahun
Engkau tetap menjaga sejarah cemerlang keberanian kita dan menjadi lambang jiwa Kampuchea,
kekaisaran yang dahulu pernah jaya

Oh, betapa jiwa bangsa Khmer tetap lestari
dan oh, terilhami kekaisaran Angkor yang megah

Oh, Phnom Penh
Sekarang kita bersama lagi dan engkau terbebas dari kesedihanmu

Oh, Phnom Penh
hati dan jiwa bangsa kita

===

“Oh Phnom Penh Euy”, Keo Chenda, 1979

Kami menjejakkan kami di Phnom Penh pada sore itu (3 Mei) setelah menempuh dua jam penerbangan dari Kuala Lumpur. Setelah urusan imigrasi dan membeli kartu telepon lokal selesai, kami melangkah keluar dari bandar udara mungil namun efisien disambut hangat para supir taksi dan tuktuk yang menawarkan jasa.

“Tuktuk, Sir. Seven dollars to downtown”

Sedikit lebih mahal dari tarif yang pernah saya baca sebelumnya dan saya tahu bisa saja kami mendapat harga yang lebih murah jika kami melangkah keluar gerbang bandara dan mencari tuktuk di pinggir jalan. Namun tanpa berpikir panjang akhirnya sudahlah, kami naik.

Continue reading Oh Phnom Penh!

Bebas Visa ke Laos Bagi Pemegang Paspor Indonesia

Setelah sebelumnya menuliskan situasi terkini tentang bebas visa ke Kamboja bagi WNI, berikutnya saya akan memaparkan situasi terakhir akses masuk ke Laos bagi para pemegang paspor Indonesia. Kurang lebih sama dengan Kamboja, masih ada beberapa kesimpangsiuran di internet tentang visa ke Laos dan perbedaan perlakuan di bandara dengan pos perbatasan darat/sungai.

Berdasarkan informasi Kementerian Luar Negeri RI dan dikonfirmasi oleh beberapa blogger/pelancong yang telah berkunjung ke sana, Laos dan Indonesia telah menandatangani perjanjian bebas visa kunjungan bagi pemegang paspor biasa dengan masa kunjungan maksimal 30 hari. Namun masih ada keraguan tentang pemanfaatan fasilitas ini jika memasuki Laos lewat jalur darat, khususnya pada pos perbatasan Laos-Kamboja yang terletak di ujung selatan negeri itu. Visa On Arrival Laos dulunya tidak dapat diterbitkan di sini dan situasinya baru berubah sekitar 6 bulan terakhir. Sebelumnya, semua pelancong yang hendak melintas harus sudah memiliki visa Laos yang dapat diminta di kedutaannya yang terdekat di Phnom Penh.

Lalu bagaimanakah situasi terakhir?

Continue reading Bebas Visa ke Laos Bagi Pemegang Paspor Indonesia

Bebas Visa ke Kamboja Bagi Pemegang Paspor Indonesia

Tulisan ini merupakan berita terkini tentang situasi visa Kamboja bagi para pemegang paspor Indonesia yang hendak berkunjung ke negara kerajaan di Asia Tenggara tersebut. Berhubung masih banyak pertanyaan simpang-siur yang beredar di internet, maka saya ingin membantu menegaskan situasi terakhir.ย Berdasarkan informasi yang terbaca di website KBRI Phnom Penh, Kamboja dan Indonesia telah menandatangani perjanjian penghapusan kebijakan visa kunjungan bagi para pemegang paspor biasa kedua negara dengan masa kunjungan tidak melebihi 30 hari. Perjanjian ini berlaku mulai 20 September 2011 dan dapat dimanfaatkan di seluruh pos imigrasi masuk Kamboja.

Bagaimana implementasinya?

Continue reading Bebas Visa ke Kamboja Bagi Pemegang Paspor Indonesia