Tag Archives: kakak asuh deBlogger

Refleksi #bukberdeBlogger

Satu kegiatan telah kembali diselenggarakan oleh deBlogger pada Sabtu (20/Agustus) lalu, yakni Buka Puasa Bersama deBlogger atau disingkat #bukberdeBlogger. Niatnya mau menyelenggarakan sesuatu yang sederhana, mengundang teman-teman deBlogger di suatu tempat dan berkumpul layaknya reuni tanpa agenda, urusan makan bayar sendiri; ternyata ide-ide berubah cepat menjadi sesuatu yang bernilai.

Sebenarnya sejak hari-hari pertama bulan Ramadhan, keempat pengurus inti deBlogger sudah kasak-kusuk bikin rencana. Maunya bikin sesuatu yang tidak sama lagi dengan tahun kemarin dan beda dari yang lain. Ide mengadakan bakti sosial sempat bergulir namun mentah lagi karena dianggap sudah banyak yang mengadakan. Muncul pula ide Sahur On The Road, namun sepertinya tidak ada yang bersemangat. Setelah termangu-mangu dan mentok dengan ide buka puasa sederhana, tiba-tiba saya ditelpon oleh sebuah perusahaan berbasis web yang menghubungi saya atas rekomendasi seorang teman di Anging Mammiri. Perusahaan tersebut menawarkan kerja sama untuk mengadakan acara buka puasa bersama dan mereka bersedia menanggung biaya konsumsinya, dengan syarat meminta slot untuk presentasi. Setelah dibahas secara internal, kami memutuskan menerima tawaran itu. Namun pertanyaan selanjutnya, masa acara #bukberdeBlogger hanya diisi oleh sponsor? “Kuliah gratis 1 SKS dong!” Tukas seorang kawan tanpa basa-basi. Jadi, kita mau ngapain?!

Continue reading Refleksi #bukberdeBlogger

Dapatkah Amarah Menjadi Konstruktif?

“Apakah marah itu dosa?”

Tentunya kita pernah bertemu dengan pertanyaan itu pada satu waktu di hidup kita, bukan? Saya masih ingat sekali, pertanyaan itu pertama kali saya temui sewaktu semester pertama kuliah pada pertemuan di persekutuan mahasiswa Kristen fakultas. Karena kebetulan waktu itu adalah sesi ibadah, maka jawabannya langsung diarahkan ke sebuah ayat: “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa…” Jadi kesimpulannya, amarah itu sendiri bukanlah dosa. Namun mengapa amarah hampir selalu berujung negatif? Dapatkah kita marah namun tetap menguasai emosi dan mengubah amarah itu menjadi sesuatu yang positif?

Saya akui akhir-akhir ini kita seringkali menjadi marah. Oh, tidak begitu merasa ya? OK, mari saya uraikan beberapa:

Continue reading Dapatkah Amarah Menjadi Konstruktif?