Tag Archives: dieng

The Boundaries of Dieng Plateau

High on the hills of Java lies the plateau of Dieng; a sacred ground to the Buddhists and Hindus who roamed the island long before the arrival of the New Religions. Up here, people live so close to the gods as the temples sit side-by-side with vast farmlands of potatoes, carrots, squashes, and tomatoes. Backing the prayers through its puffing ponds are the numerous craters which give vibes to the people and geothermal energy to faraway cities.

Life here is so free one can almost touch the gods by sitting inches to the craters with little or no boundary and letting your prayers go up and up. Here are the proofs:

Kawah Candradimuka; the breeding ground of Javanese warriors
Kawah Candradimuka; the breeding ground of Javanese warriors

Continue reading The Boundaries of Dieng Plateau

5 Oleh-oleh Dieng yang Paling ‘Ngangenin’

Sepanjang siang kemarin saya melihat-lihat beberapa blog dan baru tahu kalau ada beberapa kawan blogger di daerah, salah satunya Ndop, yang belum lama ini mendapat undangan dari Dinas Pariwisata Jawa Tengah untuk berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng di Wonosobo-Banjarnegara. Wow! Pikiran saya lalu kembali melayang ke Desember tahun lalu ketika saya menikmati ‘me time‘ selama 2 hari (yang lalu diperpanjang hingga 4 hari) dan menapaki kawah, telaga, pemandian air panas di kampung, hingga menekuni relief candi-candi yang bertebaran di dataran dan perbukitan di tengah-tengah selimut ladang sayur-mayur dan kebun carica.

Saya belum sempat ke sana lagi, tapi diam-diam saya selalu merindukan dataran berkabutnya dan terutama oleh-olehnya. Berbeda dengan daerah lainnya di Jateng-DIY yang kaya akan cenderamata berbau budaya, oleh-oleh yang paling bersinar dari Dieng adalah kesegaran produk pertanian dan perkebunannya. Inilah daftar oleh-oleh dari Dieng yang menurut saya paling ‘ngangenin’.

1. Carica

Buah yang disebut juga Pepaya Gunung ini memang hanya dapat tumbuh di dataran tinggi seperti Dieng. Tekstur buahnya garing mirip paprika namun dengan rasa segar dan tidak terlampau manis meski kerap dijual dalam bentuk manisan berkuah. Saya kalau beli minimal 5 kardus, biar semuanya puas. 😀

dieng1

2. Sayur-mayur

Dieng terkenal dengan hamparan ladang dan kebunnya dan beragam produk dapat dipanen sesuai musim atau pun ada pula yang tumbuh sepanjang tahun. Ketika saya sedang duduk di pasar, tampak sekeranjang kentang dan cabai Dieng yang baru dipanen kemarin pagi.

3. Teh Tambi

Walaupun teh bukanlah produk asli Dieng, teh Tambi yang berasal dari desa Tambi di Wonosobo mudah ditemukan di sini. Airnya pekat dan tidak terlalu pahit.

4. Kentang Goreng

Berhubung sedang musim kentang, maka para pedagang di pasar dan sekitar candi pun mendadak jadi penggoreng kentang dengan bumbu beraneka. Jangan berharap banyak, itu hanya KENTANG BIASA. Tapi menyantap kentang goreng panas di tengah kabut yang hampir mengaburkan pandangan itu sensasinya lain daripada yang lain.

5. Purwaceng

Nah, tanaman rempah khas pegunungan Dieng yang berfungsi sebagai obat kuat ini menjadi minuman wajib untuk kaum pria. Racikannya ada beberapa macam: kopi, kopi susu, jahe, teh, dan entah apa lagi. Saya bukan penyuka jamu, namun rasa pedasnya masih dapat ditolerir dan lebih mirip jahe hangat. Hasilnya? Libido saya naik selama 2 hari berikutnya.

Ke Dieng, yuk! 😀

Berdamai di Telaga Warna

Dieng seolah sudah menjadi mantra yang menghantui mimpi saya di bulan-bulan terakhir tahun lalu, khususnya ketika sedang tinggal di Jepara. Namun baru pada bulan Desember saya akhirnya berkesempatan mengunjunginya setelah menghadiri perhelatan Blogger Nusantara 2013 di Yogyakarta. Dengan bermodalkan selembar jaket tebal saya lalu kasak-kusuk mencari rute terefisien (baca: termurah).

Continue reading Berdamai di Telaga Warna