Tag Archives: cambodia

Mighty Tree on Top

From the jungles of Siem Reap in the midst of the vast Angkor Wat complex, I present you Ta Prohm. People may instantly recognize the images from Angelina Jolie’s “The Tomb Raider” film. This temple is small compared to the main Angkor Wat Temple, but it is magnificent in its own right. The forest is slowly taking over the structures by sneaking in its roots among the stones and crawling its way to the top. Of course there are concerns over the preservation of the heritage and the visitors’ safety. However, some people argue that such invasion could actually strengthen the architecture.

The mighty trees of Ta Prohm sits like cherry on top of the temple and they provide some shelters and cool temperatures. Besides, the photographers and photographer-wannabes will not be short of inspiration.

This slideshow requires JavaScript.

 

More takes on this week’s photo challenge can be found here.

Advertisements

Eyes: The Presence & Absence

It was a sunny day in Phnom Penh and I headed to a site where one of the worst attrocities in the world happened: The Killing Field or Choeung Ek Memorial as it is known today. You know, it is amazing that every little detail matters and can drag you into a deep reflection as you walk around each point, observe each point, and try to absorb the aura of pain and peace. Even when you look back at each picture, there are certainly new meanings that you can write about. Here are a few examples:

The Presence

Continue reading Eyes: The Presence & Absence

Blurred Phnom Penh

First of all, I never thought I would have the opportunity to showcase these blurred pictures of Cambodia had it not because of Daily Post’s Weekly Photo Challenge. Second, it does take some time to dig in to your collections and to appreciate some old images from a fresh perspective, as if you couldn’t believe you had snapped them.

These pictures were taken on the eve of my arrival in Phnom Penh and, after a quick shower at the hotel, I decided to head to the city center. The first stop was Psar Thmei or Central Market. It was 10 PM and all the shops had been closed but you could still admire the grand architectural design from the French Indochina era. As with the rest of Cambodia, tuktuks were everywhere and a single ride was quite costly compared to where I come from.

IMG_5380

A short walk from the market to the east were the landmarks of the capital city such as The Grand Place, The National Museum, and all sorts of government offices until you reach the Tonle Sap river. It greeted me with its gentle breeze and calm water.

IMG_5381

Midnight was approaching and many parts of the district were already dark; Phnom Penh had never lost its eerie charm from the dark past some 30 years ago. But some areas began to wake up and welcome its partygoers, and that’s where I was going. Yeah!

IMG_5382

Perang Bir di Asia Tenggara

DISCLAIMER: this article reflects personal opinions from the blogger.

Perang bir? Oke, mungkin saya agak berlebihan dalam menjulukinya sebagai sebuah peperangan. Namun nyatanya Asia Tenggara memang marak dengan beragam merk bir lokal dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmatnya, baik warga lokal maupun turis mancanegara. Lupakan merk-merk bir Eropa dan Amerika; jika para pelancong berkunjung ke wilayah ini, yang pertama dicari adalah merk lokal. Satu hal menarik yang saya saksikan adalah bahwa hampir semua negara di Asia Tenggara memiliki merk lokal birnya sendiri, kecuali Malaysia dan Brunei. Indonesia, misalnya, terkenal dengan Bir Bintang yang menjadi favorit para turis Amerika, meski pandangan ini disanggah dengan keras oleh rekan kerja saya yang juga orang Amerika, yang mengejek turis bangsanya sendiri yang tidak mempunyai selera yang bagus oleh karena bir Budweiser di Amerika, yang menjadi minuman sehari-hari di sana, memang kualitasnya rendah dibanding beberapa merk Eropa. Jadi dalam perjalanan saya terakhir, saya ‘ditantang’ untuk membuktikan sendiri keragaman rasa bir di Asia Tenggara. “Lalu manakah yang paling enak?” tanya saya mengharap bocoran.

“Laos,” bisiknya sambil berseri-seri.

Menurut kasak-kusuk teman-teman pelancong ke Asia Tenggara, bir terenak di Asia (bahkan sesumbarnya di dunia) berasal dari Laos dan menjadi benda yang sangat dicari oleh karena penyebarannya yang masih terbatas. Namun demi menjaga objektivitas, maka saya memutuskan untuk mencoba sendiri beberapa bir yang beredar dan memberikan penilaian yang (semoga) adil. Kriteria penilaian berpatokan pada 3 hal: rasa, aroma, dan tingkat kepahitan. Dasar ilmiahnya apa? GAK ADA. Semua itu memang akal-akalan saya saja. 😀

Berikut ini saya bagikan empat teratas hasil penelitian kami:

1. Beerlao

Bir kebanggaan Laos ini diproduksi oleh Lao Brewery Company di Vientiane dan berbahan dasar beras jenis jasmine yang diproduksi lokal dan dicampur dengan yeast dan hops yang diimpor dari Jerman. Kekuatan utama Beerlao terletak pada aroma jasmine yang sangat harum dan aroma hops yang menyerupai anggur putih sehingga tanpa meminumnya kita bisa terkecoh menyangka bahwa ini adalah minuman buah-buahan segar, meski bau khas alkoholnya tidak dapat menyembunyikan karakter birnya. Ketika dicoba, bir ini cukup pahit namun dapat ditolerir dan kesegarannya langsung seolah merasuk ke tulang dan membuat saya menarik nafas panjang saking nikmat dan rileksnya. Mencicipi Beerlao benar-benar pengalaman yang luar biasa. Harganya juga sama sekali tidak mahal; satu kaleng sedang dijual di kisaran USD 0.60 – 0.75 di minimarket Kamboja meski bisa melonjak sampai USD 2.50 di bar. Sayang sekali penyebarannya tidak luas; Beerlao hanya dapat ditemukan di minimarket di Laos dan Kamboja sedangkan di Vietnam dan Thailand hanya dijual di bar-bar tertentu. Katanya bir ini diekspor juga ke Eropa dan Amerika namun sangat terbatas di bar-bar tertentu pula. Saya belum menemukan bir ini di Jakarta. Ada yang tahu di mana bisa mendapatkannya?

Beerlao (sumber: Wikipedia)

2. Singha

Inilah produk bir kebanggaan Thailand. Tadinya saya tidak begitu menaruh perhatian karena lebih fokus mencari bir-bir Kamboja, namun begitu kaleng bir Singha dibuka, aroma anggur dan jasmine langsung menyeruak begitu kuatnya. Rasanya sangat mirip dengan Beerlao namun lebih pahit sehingga saya menempatkannya di urutan kedua. Kisaran harganya di Kamboja sama saja, USD 0.60 – 0.75 untuk kaleng sedang.

Singha (sumber: thatsilvergirl.blogspot.com)

3. Tiger

Dari sisi distribusi, boleh jadi Tiger Beer yang merupakan merk asal Singapura ini yang paling luas penyebarannya di Asia Tenggara. Saya pertama kali mencobanya secara tidak sengaja ketika sedang mampir di sebuah bar di KL dan terpaksa kecewa karena Malaysia tidak memiliki produk bir lokal; terpaksalah brand Singapura yang saya coba. Ke manapun saya pergi pasti menemukan merk ini yang kini juga diproduksi di Thailand. Rasa dan tingkat kepahitannya mirip dengan Beerlao namun aromanya tidak terlalu kuat sehingga Tiger harus puas menempati posisi ketiga. Harganya sedikit lebih mahal di Kamboja.

Tiger (sumber: behindtheburner.com)

4. Cambodia

Saya benar-benar tidak menyangka bahwa negara seperti Kamboja ternyata memiliki beberapa merk bir lokal yang bersaing ketat di pasar dengan baliho-balihonya yang besar di sudut-sudut Phnom Penh dan Siem Reap serta terpasang di banyak sekali toko. Salah satu yang saya nilai juara adalah Cambodia, meski nilainya kalah dibandingkan tiga nama di atas oleh karena aromanya yang tidak kuat, rasanya yang agak berair dan tingkat kepahitannya yang rendah. Namun saya tetap dapat menikmatinya. Harganya kurang-lebih sama dengan merk-merk lain di Kamboja.

Cambodia (sumber: thesoutheastasiaweekly.com)

***

Selain keempat nama di atas, masih ada lagi beberapa yang saya coba, terutama di Kamboja, seperti Angkor, Anchor, Kingdom, dan satu-dua nama lain yang saya lupa. Ada pula merk Thailand lainnya yakni Chang yang langsung menempati posisi terbawah. Bagi saya, Chang seperti air putih dengan cita rasa bir. Ketika mampir ke Vietnam, saya sempat mencoba Saigon Red dan sangat enak meski katanya bir terenak di Vietnam adalah Saigon Green yang sayangnya hanya tersedia di bar-bar eksklusif. Ada lagi beberapa merk lokal seperti Zagnarok dan 333, namun saat itu saya sudah muak dengan bir sehingga kaleng-kaleng itu dibeli saja untuk kemudian ditinggal di hotel. 😦 Filipina juga katanya punya bir San Miguel yang sangat enak dan sepertinya pernah saya lihat di hypermarket di Jakarta. Saya mesti mencobanya kapan-kapan.

Bagaimana dengan Bir Bintang dari Indonesia? Oke, daripada dituduh tidak nasionalis baiklah saya coba juga ya. Bir yang diproduksi berdasarkan lisensi Heineken ini cukuplah saya nilai setara dengan Tiger; tidak terlalu kuat namun sangat enak dan sepertinya memang satu-satunya pilihan di Indonesia karena saya tidak sudi menyentuh merk lokal yang satu lagi. 😀

Sekian laporan beer tasting kali ini. Siapa mau coba Beerlao?

Yeah baby!