Category Archives: My Days

sumber: kapanlagi.com

Yasmine: Tarung Tekad si Anak Brunei

Dengan jumlah penduduk hanya di kisaran ratusan ribu jiwa dan hampir tak terdengar kabar beritanya di kancah hiburan Asia Tenggara, tiba-tiba menyeruaklah sebuah karya film arahan anak bangsa Brunei yang seolah mencelikkan mata para tetangga, bahwa negeri kecil ini punya sesuatu yang berbeda dan unik daripada sekadar hutan belantara dan masjid-masjid berkilau keemasan saja. Yasmine menjadi pertarungan tekad sang pencetus merangkap sutradaranya, Siti Kamaluddin.

Continue reading Yasmine: Tarung Tekad si Anak Brunei

sumber: lookatmyhappyrainbow.com

Kecewa!

Sejak seminggu terakhir ini saya dikesalkan oleh blog indobrad.com yang naik-turun, kadang bisa diakses kadang tidak. Kalau tidak salah sudah tiga kali saya berbicara dengan teknisi penyedia hosting-nya dan dibantu dengan berbagai cara. Namun setiap kali pula blog saya sulit diakses setelah beberapa jam dan hal ini dikonfirmasi pula oleh beberapa teman.

Sebenarnya saya paham bahwa perusahaan tersebut sedang bermasalah pada salah satu server-nya di Amerika sehingga banyak situs internet yang terkena dampaknya dan saya merasa masih bisa bersabar. Namun pada akhirnya kesabaran saya habis di malam tadi: blog saya tiba-tiba kembali ke tampilan seminggu lalu di mana tampilan blog masih yang lama, dan, yang terparah: LIMA TULISAN TERAKHIR HILANG! Termasuk di dalamnya dua buah tulisan yang nangkring di draft. Jerih-payah menulis lenyap sudah. Bahkan saat ini pun halaman yang tampil hanya yang depan sedangkan tulisannya sendiri tidak bisa di-klik.

Kecewa, tentu. Ucapan maaf dari teknisi, meski santun dan tulus, tidak mampu menyejukkan hati yang sedang marah, apalagi memikirkan buah pemikiran yang lenyap begitu saja tanpa pemberitahuan dari yang dititipkan.

Otak saya buntu! Sekarang ini yang ada di pikiran pendek saya hanya meneruskan menulis di blog gratisan yang sudah dua tahun saya tinggalkan ini, mungkin untuk seterusnya. Saya sudah tidak peduli lagi dengan usaha mendatangkan uang dengan cara membangun blog berbayar agar pemasang iklan tergerak datang. Saya percaya bahwa tulisan yang baik akan berbicara dengan sendirinya dan, tetap berpikir cerah bahwa masih ada pihak-pihak yang bijak untuk mengajak bekerja sama meski saya menggunakan blog gratisan.

Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan semangat menulis dahulu yang terus-terang hampir punah akibat insiden semalam. Terima kasih atas dukungan teman-teman semua. Ditunggu kunjungan berikutnya ke blog bersahaja ini ya. :-(

sumber: lookatmyhappyrainbow.com
sumber: lookatmyhappyrainbow.com

Seni yang Hilang di Olimpiade

Seni apa memangnya yang hilang?

Ya, seni.

Maaf atas usaha melontarkan lelucon yang cukup gagal di atas. :D Nyatanya memang ada seni hilang dari ajang Olimpiade. Sesuatu yang hilang itu adalah cabang seni yang sempat dipertandingkan pada masa Olimpiade 1912 – 1948. Loh, bukankah seni tidak berhubungan dengan olahraga? Di sinilah letak keunikannya.

Adalah Baron Pierre de Coubertin, bangsawan Perancis yang memiliki visi-misi modern tentang manusia yang dididik secara jasmani dan rohani serta bertanding pada perlombaan dan bukannya perang. Coubertin yang kini dijuluki Bapak Olimpiade Modern setelah menyelenggarakan Olimpiade modern untuk pertama kalinya di Athena, Yunani, pada tahun 1896, memiliki obsesi menggabungkan aspek estetika dan atletika pada sebuah kompetisi yang merupakan perwujudan visinya tadi, sekaligus melahirkan gagasan adanya kompetisi seni di Olimpiade yang mulai bergulir pada sebuah pertemuan di Paris pada tahun 1906. Setelah sempat tertunda pada Olimpiade 1908 di London, akhirnya cabang seni mulai resmi dipertandingkan pada Olimpiade Stockholm 1912 dalam lima kategori: seni arsitektur, seni lukis, seni pahat, sastra, dan musik. Ketentuan khusus dalam ajang Olimpiade cabang seni adalah ‘karya seni harus memaparkan hubungan yang jelas dengan konsep Olimpiade’. Komposisi musik, misalnya, haruslah ‘memuliakan idealisme olahraga, baik kompetisi maupun para atlet, yang diciptakan khusus untuk dipertunjukkan sesuai hubungannya dengan ajang olahraga.’

Cabang seni pahat di Olimpiade Berlin 1936 (sumber gambar: theatlantic.com)

Selain peraturan tentang konsep, ada pula beberapa peraturan teknis lomba, antara lain jumlah kata minimal 20,000 untuk karya sastra yang masuk penilaian (yang dibagi lagi menjadi sub-kategori drama, lirik, dan puisi epik) dan durasi pertunjukan untuk kategori musik minimal 1 jam. Aturan tambahan lainnya adalah para seniman yang berkompetisi haruslah amatir; tidak ada seniman profesional yang diizinkan ikut serta.

Awal keikutsertaan cabang seni di Olimpiade kurang menggembirakan: hanya 35 karya seni yang diperlombakan. Meski demikian jumlahnya terus merangkak naik hingga mencapai puncaknya pada Olimpiade Amsterdam 1928 dan Los Angeles 1932 dengan sekitar 1,100 karya seni sebelum jumlahnya menurun drastis hingga London 1948. Berikut saya bagikan beberapa karya seni yang berhasil memenangkan medali emas:

Rugby, sketsa karya Jean Jacoby dari Luxembourg pada Olimpiade Amsterdam 1928 (sumber: Wikipedia)
An American Trotter, seni pahat karya Walter Winans dari Amerika Serikat pada Olimpiade Stockholm 1912. Pahatan ini menggambarkan atlet lomba balap kuda dengan kereta trotter (sumber: decoubertin.info)
Farpi Vignoli, pemahat Italia dalam karya seni pahat sub-kategori seni patung “Sulky Driver” pada Olimpiade Berlin 1936 (sumber: wikipedia.org)

Cabang seni di ajang Olimpiade ini menarik perhatian banyak peminat seni dan masyarakat umum pada setiap penyelenggaraannya. Ada sebuah rekor yang tidak terkalahkan sampai saat ini, yaitu rekor peraih medali tertua dalam sejarah Olimpiade, yakni John Copley, pemahat asal Inggris yang memenangkan medali perak pada Olimpiade London 1948 dalam usia 73 tahun. Copley masih lebih tua dari atlet yang berkompetisi di bidang olahraga, yakni Oscar Swahn  dari Swedia yang memenangkan medalinya pada usia 72 tahun dari cabang menembak.

Sayangnya cabang seni senantiasa menuai kontroversi. Titik perdebatan utama terletak pada persyaratan amatir bagi seniman yang memasukkan karya ke panitia Olimpiade karena beberapa cabang olahraga mulai menerima atlet profesional. Lalu hasil karya para seniman amatir ini seringkali dipandang tidak memenuhi syarat oleh para juri sehingga tak jarang sebuah nomor tidak menghasilkan medali apapun karena para juri menganggap tidak ada yang pantas menerimanya. Hal ini tak ayal menimbulkan protes banyak pihak yang kemudian menggugat keputusan juri yang terdiri dari para kritikus elit tersebut. Olimpiade London 1948 akhirnya menjadi ajang terakhir perlombaan seni yang memberikan medali. Meski demikian, cabang seni masih tetap diadakan sebagai eksebisi atas amanat Piagam Olimpiade dan berlangsung hingga kini.

Saat ini sangat sulit untuk mendokumentasikan kembali sisa-sisa karya seni yang pernah diperlombakan di Olimpiade akibat pergantian masa dan peperangan yang berlangsung di Eropa. Koleksi yang terbilang lengkap hanya berasal dari Olimpiade Berlin 1936. Sisanya lenyap termakan usia dan ideologi kolaborasi olahraga dan seni yang pernah mendunia namun kini tercatat di atas secarik kertas lusuh sejarah.

===

Sumber-sumber artikel dapat dibaca lebih lanjut di sini:

1. Remember When the Olympics Used to Have an Art Competition? No?

2. Olympic Art Competitions

3. Art competitions at the Olympic Games

Jakarta Masih Punya Hati

sumber: antaranews.com

Entah karena apa saya memutuskan melangkahkan kaki ke bioskop pada Senin siang lalu dan menonton film. Setelah kecewa karena film ‘The Lady’ ternyata belum diputar di Bekasi, akhirnya saya memandang poster film ‘Sanubari Jakarta’ yang diproduksi Lola Amaria dan Fira Sofiana ini. Tergelitik dengan posternya yang hanya berupa sederetan simbol orang dengan beberapa icon berwarna dan berbentuk beda, saya pun membeli tiketnya. Lalu, film apakah itu sebenarnya?

Continue reading Jakarta Masih Punya Hati

American Idol Diserbu Remaja Tanggung

Perhelatan American Idol kembali digelar untuk kesebelas kalinya pada musim ini. Setelah sukses menelurkan artis-artis berbakat seperti Kelly Clarkson, Carrie Underwood, David Archuleta, Bo Bice, Chris Doughtry, dan Casey Abrams, pergelaran musim ini sudah menghasilkan finalis Top 13 dan beberapa nama sudah mulai bersinar seperti Phillip Phillips, Heejun Han, Jessica Sanchez, dan Joshua Ledet. Namun ada satu-dua catatan khusus yang menonjol pada tahun ini dan tahun lalu, yaitu penurunan batasan umur. Sadar dengan fenomena Justin Bieber dan kenyataan bahwa remaja berumur 15 tahun mampu menggebrak dunia, batas umur terbawah untuk ikut serta diturunkan menjadi 15 tahun dari yang sebelumnya 16 tahun. Pertanyaannya, siapkah para remaja tanggung ini meramaikan panggung musik Amerika dan dunia?

Continue reading American Idol Diserbu Remaja Tanggung

Keong Racun, Oh Keong Racun

Fenomena ‘Keong Racun’ memang telah memudar setelah tahun lalu lagu ini menerima serangkaian puji-puji dan caci-maki. Namun seperti halnya lagu-lagu cheesy lain yang kemudian dibuatkan versi baru dengan genre musik berbeda (lihat klip ‘I Heart You’ SM*SH di sini), Keong Racun juga mengalami transformasi. Versi jazz-nya tidak sengaja saya simak ketika menonton sebuah acara bincang pagi hari ini. Versi jazz yang dibawakan oleh The eXtraLarge dengan vokalis Davina sangat memukau, benar-benar mentransformasi Keong Racun menjadi sesuatu yang berbeda. Lagu ini sepertinya telah lama juga mereka kreasikan; sebuah klip di Youtube menunjukkan lagu ini diunggah pada Januari 2011. Wah, saya terlambat sekali dong mengetahuinya!

Anyway, saya bagikan lagu Keong Racun versi The exTraLarge untuk Anda. Get ready to be blown away :D