Candi Angin, Sekali Lagi

Kangen Jepara!

Pemikiran itu tercetus begitu saja kala saya sedang dilanda kesibukan kerja dan hati serta badan ini seolah berontak ingin kabur. Ya, kebiasaan saya jika kalut melanda adalah kabur, utamanya ke pegunungan. Teman-teman saya sudah paham akan kebiasaan ini. Nah, kali ini yang menjadi sumber kerinduan adalah Jepara, sebuah kabupaten tempat saya pernah bertugas selama 6 bulan dan selalu memanggil-manggil dalam mimpi. Ya sudah, pokoknya saya harus ke sana lagi! Maka setelah membeli tiket kereta api secepat kilat via aplikasi online, saya pergi dengan kereta malam Tawang Jaya yang berangkat jam 23.00 dari Stasiun Pasar Senen dan tiba di Semarang Poncol jam 05.52 pagi hari. Perjalanan lalu dilanjutkan dengan layanan travel Bejeu yang menjemput saya di Masjid Agung Simpang Lima Semarang. Jepara, here I come!

Mengapa Candi Angin?

Saya pernah mendaki Candi Angin pada tahun 2014 lalu dan perjalanan itu adalah salah satu yang terberat bagi saya yang tidak siap mendaki merayap-rayap di tebing dan melintasi bekas longsor. Apalagi saat itu saya masih berbobot 89 kilogram dan dinobatkan sebagai peserta pemegang rekor dengan berat badan paling maksimal! Perjalanan yang seharusnya ditempuh 4 jam pulang-pergi molor menjadi 8 jam. Walhasil saya pulang dalam keadaan sudah gelap-gulita. Meski demikian, sambutan hangat penuh kekeluargaan dari warga Dukuh Duplak, Desa Tempur, Jepara, tersebut membuat saya merasa memiliki rumah kedua di Jawa Tengah.

Meski perjalanan pertama mendaki candi tidak menyenangkan, saya tetap terpesona dengan alam dan misteri Candi Angin dan Candi Bubrah yang membuat saya ingin datang lagi. Kalau pun tidak sanggup ke candi, paling tidak saya bisa menyusuri perbukitan kebun kopi milik warga atau ikut panen labu dan lainnya. Hmmmmm.

“Pulang” ke Duplak

Siang itu saya datang bersama rombongan peneliti dari Jakarta dan penjaga pusaka situs Gunung Padang yang hendak studi banding ke situs-situs purbakala yang ada di seputar Desa Tempur; utamanya Candi Bubrah dan Candi Angin. Perjalanan dengan mobil dan sepeda motor relatif lancar, kecuali macet yang sempat menghambat perjalanan di daerah Keling oleh karena perbaikan jalan. Sedangkan jalan masuk ke atas dari Tayu relatif mulus untuk ukuran jalan desa, meski badan jalan tampak rusak di sana-sini akibat longsor. Perjalanan selama 90 menit dari pusat kota Jepara akan membuat mata tidak bosan-bosannya membelalak. Jalan raya selepas kantor kecamatan Kembang melintasi hutan karet yang tertata rapi di sisi kanan-kiri jalan yang memancarkan aura keteduhan. Sementara itu, pemandangan pegunungan di jalur ke Desa Tempur dari Tayu akan menyapa kita. Bukit dan lembah hijau yang rimbun dengan ngarai-ngarai yang spektakuler dan angin segar semilir akan menemani kita sampai ke atas.

Tidak sulit untuk mencari Dukuh Duplak. Dukuh ini adalah dukuh tertinggi di wilayah pegunungan Muria di Jepara, dan jalan beraspal akan berakhir di desa ini. Jadi kita tinggal terus saja mengikuti jalan ke atas. Biasanya kita akan dapat langsung berkendara hingga masuk ke dukuh dan mencari beberapa kawan warga yang sudah saya anggap saudara. Namun, siang itu rupanya kami diberhentikan di pos masuk untuk mengisi buku tamu sekaligus berkenalan dengan kawan-kawan yang akan memandu kami ke atas. Mas Ali langsung menjabat tangan saya erat-erat sambil tersenyum lebar.

Mas Ali (berkaos putih)

Setelah berkenalan dengan warga, kami pun diajak ke sebuah rumah yang kini diperuntukkan sebagai rumah singgah para tamu. Oleh karena rombongan ini hendak mengadakan studi banding, pertemuan berlangsung cukup formal dan diselingi makan siang dengan sayur-mayur segar hasil panen kebun sendiri. Baiklah, setelah cukup mengobrol, tiba-tiba Mas Ali langsung mengajak kami berdiri dan cepat bergerak karena hari sudah lewat jam 1 siang.

Jalur Pendakian Baru

Sejak tiba di rumah singgah, saya sudah dibisiki bahwa ada jalur pendakian baru yang dibangun beberapa bulan lalu dan bisa memangkas sedikit waktu perjalanan. Sebenarnya saya kuatir, namun akhirnya rasa penasaran mengalahkan kekuatiran itu. Ditambah lagi saya sudah cukup percaya diri karena berat badan sudah turun hingga 80 kilogram dan sepertinya tidak perlu bersumpah-serapah lagi seperti dulu untuk naik. 😀

Dan ternyata benar, jalur pendakian kali ini berbeda dengan sebelumnya. Saya juga ternyata pernah melaluinya. Jalur ini sama dengan jalur saya turun bukit (lebih tepatnya merosoti punggung bukit) pada perjalanan terdahulu. Oleh karena jalurnya yang tidak terlalu terjal, para warga kemudian membuat jalur semi-permanen dengan cor dan pagar bambu sehingga motor bisa lewat sampai hampir mencapai Pos 2. Hal ini sangat menghemat tenaga. Namun saya bertekad ingin mencoba jalur baru tersebut dengan berjalan kaki. Benar saja, jalur itu sangat membantu para pengunjung dan peziarah karena tidak terlalu berat medannya. Hanya saja tetap dibutuhkan kehati-hatian karena badan lelah akan melemahkan keseimbangan kita. Namun secara umum perjalanan mendaki ke Bubrah dan Angin bisa dibilang lancar dan kami mampu menyelesaikannya dalam 2 jam.

Termangu dan Terdiam

Setelah perjalanan hampir 2 jam menyusuri badan dan punggung bukit, tiba-tiba pemandu mengingatkan bahwa kaki sudah mencapai kaki candi Bubrah. Sejenak itu pula seorang kawan rombongan berhenti dan berdoa memohon izin berziarah. Dan ketika kaki ini melangkah ke tanah datar, ekspresi selanjutnya adalah terdiam.  Selanjutnya biarkan gambar saja yang bercerita.

This slideshow requires JavaScript.

Perjalanan pulang sebenarnya relatif lancar, cuma masalah kami pada saat itu adalah waktunya sudah terlalu sore dan gelap lebih cepat turun di hutan. Ketika kami sampai di Pos 2, matahari sudah sepenuhnya tenggelam dan kami harus bermodalkan senter untuk turun. Kali ini saya sangat bersyukur karena jalur tangga tersebut sangat memudahkan kami menapaki jalan dan, tak lama kemudian, beberapa motor dari Duplak datang menjemput kami.

Kopi Petik Merah

Desa Tempur sejak lama terkenal dengan hasil kebun kopinya yang menjadi sumber penghidupan warga. Setelah beberapa kali saya berkunjung, oleh-oleh yang selalu ditenteng adalah kopi. Biasanya warga menjual kopi hasil gilingan sendiri yang kadang dicampur dengan jagung dan kapulaga. Hal ini menjadikan kopi Tempur memiliki aroma dan rasa yang khas. Saya pribadi menyukai kopi jagung, meski ternyata belakangan saya baru tahu kalau campuran itu justru akan menjatuhkan kualitas kopinya.

Oleh karena itulah, Mas Ali, seorang petani yang juga telah menjadi kawan akrab kami, memutuskan untuk memperkenalkan produk kopi dengan brand ciptaannya sendiri yang ia beri nama Kopi Duplak Petik Merah. Filosofi nama ini sederhana saja: biji kopi yang ia giling benar-benar pilihan yang seksama. Hanya buah kopi berwarna merah yang akan diambil dan penyeleksian ini menjadikan kopi olahan tradisional ini justru bercita-rasa unik dan berkualitas baik.

Kopi Duplak Petik Merah dijual dalam ukuran sachet 25 gram; atau bisa juga dipesan dalam ukuran lebih besar. Ya, kopi ini hanya dapat dipesan langsung ke petaninya oleh karena jalur distribusinya baru terbatas hingga ke Jepara saja. Namun jangan kuatir, Mas Ali dapat dihubungi langsung untuk keperluan pemesanan. Sila catat nomor ponselnya Mas Ali ya: 0858-7632-1561.

Informasi Umum

Dukuh Duplak, Desa Tempur, Jepara berada di sisi utara kota Jepara dan dapat ditempuh dengan mobil dan motor melalui jalan kabupaten dan desa yang relatif baik. Tidak ada kendaraan umum yang langsung ke Duplak, meski ada bis dari Jepara yang bisa mengantar sampai Keling dan Tayu. Opsi angkutan satu-satunya adalah menyewa mobil dan motor dari Jepara. Untuk sewa mobil pulang-pergi, siap-siap merogoh kocek sebesar 250-300 ribu rupiah (tarif tahun 2016).

Rute perjalanan: Jepara – Bangsri – Kembang – Keling – belok kanan di pertigaan desa Sirahan (Tayu, Pati) – ikuti jalan ke atas. Papan penunjuk ke Desa Tempur cukup jelas. Untuk ke Duplak, terus saja ke atas hingga desa terakhir.

Akomodasi yang tersedia di sana berupa rumah warga yang cukup bersih. Meski tarifnya berdasarkan kesepakatan bersama, biasanya pengunjung membayar 200 ribu rupiah per orang yang sudah termasuk biaya menginap dan makan selama tinggal di desa. Hubungi Mas Ali untuk pengaturannya.

Kita wajib didampingi oleh pemandu yang akan menunjukkan jalan termasuk memberitahu rambu-rambu perilaku selama di gunung. Patuhi apa pun yang mereka peringatkan! Tapi tidak ada yang aneh kok. Asalkan kita berbicara dan berperilaku sopan dan tidak mengambil sebongkah batu pun dari candi, maka kita akan aman. Namun ada larangan khusus untuk selfie; mungkin karena banyak lokasi di puncak bukit yang berbahaya. Disarankan untuk meminta bantuan orang lain mengambil gambar narsis kita.

Untuk meminta jasa pemandu, silakan hubungi Mas Ali di nomor telepon yang tertera di atas. Oh iya, sinyal yang diterima di sana hanyalah Indosat. Sinyal provider lain hanya akan terbaca jika kita di atas bukit dengan penerimaan yang cukup baik. Buktinya, kartu Smartfren 4G LTE saya berfungsi baik dan saya bisa langsung mengunggah foto candi ke Instagram secara live di depan objeknya. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s