Sekolah Lagi

Sejak tahun 2014 lalu saya mulai merenungkan kembali beberapa pencapaian pribadi yang sudah diraih ataupun yang belum terwujud. Salah satunya adalah meraih gelar sarjana dan lalu meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Sekilas memang tampak eksklusif. Namun ketika saya berpikir secara makro, nyatalah bahwa pergumulan saya tersebut selaras dengan pergumulan dan perjuangan anak bangsa lainnya yang sedang diterpa arus globalisasi dan membutuhkan pegangan untuk berpijak dan bergerak maju ke arah masyarakat Indonesia yang madani.

Media online Berita Satu mencatat bahwa pada tahun 2012, Indonesia hanya memiliki 30.000 orang doktor; sangat jauh dari angka ideal 160.000 doktor yang seharusnya kita miliki jika kita bandingkan dengan populasi. Padahal Tiongkok sudah memiliki 800.000 doktor dan India 650.000 doktor. Sementara itu Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Dirjen Pendidikan Tinggi menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa Indonesia aktif hanya sekitar 4,2 juta orang. Nyatalah bahwa jargon “mahasiswa adalah kaum elit” masih belum bisa terlepaskan dan bahwa pendidikan tinggi masih menjadi harapan semu bagi banyak orang. Padahal Masyarakat Ekonomi ASEAN akan diberlakukan pada akhir tahun 2015 ini dan kita masih disibukkan dengan kurangnya Sumber Daya Manusia berkualitas yang mampu menjadi pagar bangsa yang berfungsi menjaga ketahanan nasional di tengah derasnya arus globalisasi dan bebasnya pekerja asing terampil keluar-masuk.

Ketika sedang merenungkan keadaan tersebut dan menimbang-nimbang langkah apa yang selanjutnya akan saya ambil, saya menemukan sebuah video di mana Dr. M. Gorky Sembiring, M.Sc. mengemukakan alasan untuk sekolah lagi. Dalam rekaman tersebut Pak Gorky mengatakan bahwa ledakan populasi, pergeseran nilai, dan kemajuan teknologi menimbulkan ketidakpastian yang kita sebut globalisasi atau kompetisi. Di dalam kompetisi, lapangan pekerjaan akan rentan terhadap perubahan dan ilmu pengetahuan akan cepat usang. Oleh karena itulah satu-satunya cara untuk menyerap ilmu pengetahuan yang terbaru adalah dengan bersekolah lagi.

Fakta-fakta tantangan yang ada di lapangan dan ditambah dengan kalimat motivasi dari dosen senior di UT itulah yang memantapkan hati saya untuk meneruskan sekolah lagi. Universitas Terbuka (UT) menjadi pilihan saya setelah melihat berbagai opsi yang ada. UT adalah perguruan tinggi negeri ke-45 yang dididirikan pada tahun 1984 guna memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi warga negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan tinggi tanpa halangan waktu dan tempat. Seseorang yang berdomisili di pulau terdepan NKRI, misalnya, dapat saja menempuh pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan tempat tinggalnya yang bisa jadi belum memiliki sarana pendidikan tinggi apapun. Hal ini sesungguhnya menunjukkan bahwa UT adalah sarana yang tepat bagi negara untuk mewujudkan ketahanan nasionalnya melalui pembangunan manusia Indonesia madani secara merata di seluruh daerah dalam rangka membangun pagar bangsa di tengah tantangan regional dan global.

Semester Pertama

Setelah membaca dengan seksama situs internet Universitas Terbuka dan menelaah informasi perkuliahan serta kurikulumnya di katalog, saya merasa lega karena UT membuka kesempatan seluasnya kepada masyarakat dari segala umur dan lapisan untuk menempuh pendidikan tinggi dan tanpa batasan latar belakang pendidikan serta bahkan tanpa ujian masuk. Satu-satunya syarat yang ditetapkan adalah calon mahasiswa harus sudah memiliki ijazah SMA atau sederajat. Maka mendaftarlah saya pada awal tahun 2015 di Program Studi Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan di FISIP UT lewat UPBJJ-UT Jakarta.

Sadar bahwa pendidikan tinggi membutuhkan komitmen sepenuh waktu sementara waktunya masih harus dibagi antara kuliah, kerja, dan aktivitas lainnya, dengan hati-hati saya mengikuti tips-tips perkuliahan di UT dan membaca testimoni beberapa mahasiswa dan alumni UT yang sukses lewat tulisan di blog mereka. Namun dari semuanya itu, video materi OSMB UPBJJ-UT Jakarta yang dibawakan oleh Dr. M. Gorky Sembiring, M.Sc. adalah yang menjadi pemicu semangat saya belajar.

Dari sekian banyak panduan belajar yang saya baca, yang saya patuhi kemudian adalah memperpanjang waktu belajar yakni belajar sejak awal semester dengan cara membaca seluruh modul dengan target selesai pada waktu tutorial online mulai berjalan. Bahkan di semester 2 ini saya sudah mulai membaca sejak UAS 2015.1 usai dengan harapan saya dapat benar-benar memaksimalkan waktu selama 4 bulan untuk memahami semua kegiatan belajar. Dengan jangka waktu 4 bulan, saya dapat maju dengan mantap namun dengan kecepatan sedang agar setiap pelajaran dapat diserap dengan baik. Kalau pun ada beberapa kali tuntutan pekerjaan yang memaksa saya berkonsentrasi ke sana atau bahkan rasa malas sedang melanda, saya tidak perlu merasa bersalah karena masih berada pada koridor waktu yang ditentukan.

Modus Belajar

Seiring dengan perkembangan teknologi, saya bersyukur bahwa UT menjadi salah satu perguruan tinggi terdepan di Indonesia dalam pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran jarak jauh. Selain modul cetak yang dapat saya beli melalui situs Karunika, saya juga dapat mengunduh modul di perangkat telepon genggam/tablet saya melalui aplikasi Toko Buku Digital UT.

Sumber gambar: https://play.google.com/store/apps/details?id=buqu.ut.android
Sumber gambar: https://play.google.com/store/apps/details?id=buqu.ut.android

Dengan aplikasi ini saya dapat membaca modul-modul UT di mana saja saya berada tanpa harus terbebani beratnya modul-modul fisiknya.

Satu lagi modus belajar yang saya manfaatkan semaksimal mungkin adalah UT Online; yakni layanan tutorial online yang berkontribusi 30% terhadap nilai akhir semester jika kita aktif membaca inisiasi, berdiskusi, dan mengerjakan tugas.

Sumber gambar: http://elearning.ut.ac.id/
Sumber gambar: http://elearning.ut.ac.id/

Lalu bagaimana hasil belajar setelah satu semester berlalu? Saya bersyukur bahwa nilai akhirnya bisa maksimal. Jika beberapa teman ada yang bertanya tentang tips belajar atau meraih nilai A, maka jawaban saya sederhana: jangan menganggap enteng materi perkuliahan. Jika setiap materi sejatinya kita pelajari dengan seksama dan setiap latihan soal dikerjakan dengan baik, niscaya hasilnya akan baik pula. Nilai maksimal tersebut juga tidak menjadikan saya berpuas diri; justru saya semakin gentar menghadapi materi semester 2 yang pasti tingkat kesulitannya lebih tinggi lagi. Saya berdoa semoga saya tetap semangat dan lancar sampai akhir.

Ketika hari telah berakhir, terkadang saya merenungkan kalimat bijak yang pernah diucapkan oleh Anies Baswedan, Ph.D.: “Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.” Jumlah ilmuwan dan mahasiswa tidak bisa didongkrak dalam semalam dan SDM kita tidak bisa dibangun jadi megah dalam satu generasi, namun masing-masing kita dapat menyalakan lilin untuk menerangi kegelapan itu. Bagi saya, menyalakan lilin berarti membekali diri dengan pendidikan tinggi yang baik di Universitas Terbuka untuk selanjutnya menginspirasi orang lain melakukan hal yang sama guna membangun masyarakat Indonesia madani sebagai pagar bangsa; di pulau mana pun ia berada.

Dirgahayu Universitas Terbuka ke-31.

UT-31-PNG

===

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-31. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s