Yasmine: Tarung Tekad si Anak Brunei

Dengan jumlah penduduk hanya di kisaran ratusan ribu jiwa dan hampir tak terdengar kabar beritanya di kancah hiburan Asia Tenggara, tiba-tiba menyeruaklah sebuah karya film arahan anak bangsa Brunei yang seolah mencelikkan mata para tetangga, bahwa negeri kecil ini punya sesuatu yang berbeda dan unik daripada sekadar hutan belantara dan masjid-masjid berkilau keemasan saja. Yasmine menjadi pertarungan tekad sang pencetus merangkap sutradaranya, Siti Kamaluddin.

sumber: kapanlagi.com
sumber: kapanlagi.com

Sinopsis

Yasmine (Liyana Yus), adalah seorang gadis remaja yang tak jauh berbeda dengan rekan–rekan sebayanya: tampil dengan dandanan trendy dan berkepribadian terbuka meski cenderung urakan. Impian cinta monyetnya pun sederhana: berpacaran dengan pemuda populer bekas teman sekolahnya sekaligus atlet pencak silat kebanggaan negara, dan rela menempuh berbagai cara termasuk bergabung dengan klub silat sekolah hanya demi mengejar cinta.

Bersama kawannya Ali dan Nadia, Yasmine mempelajari ilmu silat di bawah bimbingan seorang guru nyentrik dan lalu pelan-pelan berlatih demi mengikuti kejuaraan pencak silat nasional. Tentu saja olahraga kontak fisik yang berbahaya ini disembunyikan rapat-rapat dari ayahnya, Fahri (Reza Rahadian), yang lalu melarang dengan keras keinginan anaknya berlomba dengan alasan menjaga keselamatan putrinya, meski sebenarnya Fahri sendiri menyimpan rahasia yang membuat dirinya dihantui rasa bersalah bertahun-tahun.

Pengembangan Alur Cerita

Saya datang ke bioskop tanpa pretensi apapun dan menikmati film berdurasi hampir 2 jam ini tanpa berpikir dalam-dalam tentang proses kreatifnya. Namun setelah merefleksikan kembali, saya merasa bahwa alur cerita film ini sesungguhnya tidak berbeda dengan film-film Karate Kid atau Kungfu Kid yang jalan ceritanya dapat ditebak, meski konteksnya yang sangat dekat dengan budaya Indonesia membuatnya menjadi nyaman. Opini ini pun juga saya temukan di salah satu blog ulasan film yang saya baca. Terlihat sang penulis skenario, Salman Aristo, dan sutradaranya Siti Kamaluddin banyak bermain aman dalam pengembangan cerita.

Ada beberapa adegan yang membuat mata saya berkaca-kaca, khususnya hubungan ayah dan anak perempuan yang dimainkan dengan apik oleh Liyana dan Reza. Keduanya tampil kuat dan saling mengimbangi meski tak dipungkiri Reza bermain dengan sangat cemerlang melalui ekspresi minimalnya yang sering sangat bermakna. Saya pun menyukai perkembangan karakter Yasmine yang tidak ‘sesuci’ tokoh protagonis biasanya dan mampu tampil dengan ‘makna ganda’ sehingga mengernyitkan dahi penonton yang tidak menyangka perubahan emosinya.

Gambar-gambar alam Brunei dengan hutan hijau, masjid-masjid berkubah emas, dan Kampong Ayer yang berkilau cahaya senja tampil mengesankan. Alunan musik terutama soundtrack yang dibawakan oleh Nidji mampu mengangkat perkembangan emosi yang kadang malah menjadi kontras dengan karakter beberapa pendukungnya yang kagok dan agak terbata.

Selebihnya, alur cerita film ini biasa saja. Ada beberapa adegan yang masuk dengan kesan dipaksakan dan tidak berpengaruh ke jalan cerita keseluruhan. Belum lagi permainan beberapa tokoh yang terkesan datar dan ‘tanggung’ menghiasi cerita di sana-sini.

sumber: indiewire.com
sumber: indiewire.com

Bahasa apakah itu?

Salah satu yang saya tunggu adalah dialog-dialog pemain yang berasal dari tiga negara (Brunei, Indonesia, dan Malaysia) yang tentunya harus menyesuaikan dengan aksen Melayu Brunei yang khas meski kurang dikenal. Namun di sini saya cukup kecewa. Saya paham bahwa sejatinya aksen Melayu Brunei berbeda dengan Melayu Standar yang digunakan di Semenanjung Malaysia, meski nampaknya Melayu Standarlah yang diajarkan di sekolah dan menjadi bahasa resmi yang digunakan dalam kegiatan bernegara di Brunei Darussalam.

Akan tetapi bukannya kosakata dan frasa khas Melayu Brunei seperti ‘kitani’, ‘biskita’, ‘awda’, dan lainnya yang dominan. Kalimat-kalimat yang terdengar mengandung logat ‘normal’ dan ‘aman’ untuk sekiranya dimengerti oleh para penutur Melayu dan Indonesia di Nusantara. Saya menduga apakah masih ada kecanggungan sebagian aktor Indonesia dalam mengadaptasi aksen Brunei atau memang logat khasnya yang sengaja ‘ditahan’ demi meraih apresiasi kalangan penonton yang lebih luas? Entahlah.

***

Terlepas dari beberapa hal yang saya sebut canggung, kehadiran film Brunei yang menceritakan pertarungan tekad gadis remaja dan bernafaskan pencak silat ini mampu membawa angin segar perfilman di Nusantara yang sudah sangat jenuh dengan film bertema konflik remaja yang lebay. Nah, mumpung pemutarannya di Indonesia baru berjalan seminggu, film ini sangat menarik untuk ditonton semua kalangan. Penasaran? Simak trailer-nya di bawah ini ya. 🙂

Advertisements

One thought on “Yasmine: Tarung Tekad si Anak Brunei

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s