Benteng Pendem Cilacap: Mistis atau Romantis?

Setelah satu setengah jam berkendara dari kota Purwokerto, sampailah saya di hamparan pantai selatan Jawa yang terkenal dengan ombak bergelora. Namun tidak dengan Cilacap, kota yang saya kunjungi kali ini. Keunikan posisinya yang berada tepat di balik Pulau Nusakambangan membuatnya relatif terlindungi dari gempuran laut Samudera Hindia, termasuk potensi tsunami yang membuat saya merinding.

Terserah Anda mau sebut saya apa, tapi saya cenderung menilai suatu daerah dari kesan pertama yang saya tangkap untuk kemudian mengubahnya bila perlu setelah mengenal daerah itu lebih jauh. Kesan pertama tentang Cilacap saat itu adalah panas dan jorok meski lalu-lintasnya lancar. Apalagi setelah Baha, sobat blogger asal Cilacap, justru mengarahkan motornya menuju pelabuhan; area yang saya benci karena kekotorannya yang sudah pasti.

Baha memacu motornya melewati kompleks perumahan dinas pemerintah lalu sampai di pelabuhan yang relatif sepi. Dari jauh saya sudah melihat betapa tenangnya laut sekitar yang berlatarkan perbukitan tinggi hijau yang sontak mengingatkan saya pada gambar-gambar kota Jayapura. Setelah sampai di dermaga pelabuhan perusahaan semen saya lalu menatap lekat-lekat deretan perbukitan itu. Awalnya saya menyangka itu adalah Pulau Jawa sampai akhirnya Baha tersenyum menyadari kepolosan saya, “Bukan Oom, itu Pulau Nusakambangan.”

Saya termangu-mangu sambil menatap lekat detail pulau itu. Pepohonannya tinggi dan rimbun dari ujung ke ujung tanpa terlihat bekas-bekas penebangan atau pertanian seperti lazimnya kita lihat pada perbukitan di Jawa. Saya mencoba memicingkan mata untuk melihat tanda-tanda bangunan lembaga pemasyarakatan yang katanya ada beberapa di sana, termasuk yang sudah dikosongkan. Tidak kelihatan. Oh mungkin menghadap laut lepas ya? Meski demikian samar-samar terlihat deretan pagar tinggi yang mengitari lereng bukit tak jauh dari pantai. Ada perasaan damai namun bergidik menyergap saat memandangi pulau yang terkenal sebagai hunian para penjahat kelas kakap ini.

Lanjut menyusuri pantai ke arah timur dan melewati kompleks pelabuhan milik Kementerian Kehakiman, Bea Cukai, dan pangkalan TNI AL, tangki-tangki minyak milik Pertamina mulai terlihat. Di balik kompleks penyimpanan BBM inilah terdapat Pantai Teluk Penyu yang sekaligus menghadap ujung timur Pulau Nusakambangan. Di sini laut selatan mulai menunjukkan karakter aslinya yang ganas meski masih cukup aman di kondisi surut siang itu. Pada akhir pekan pantai ini adalah tujuan wajib bagi warga Cilacap yang membawa serta anggota keluarga, termasuk si kecil yang baru pertama kali belajar berenang dan sontak menangis begitu dilepas ayah-ibunya di tepi laut. Pantai ini juga menjadi spot memancing favorit karena ketersediaan ikan yang banyak.

Namun Pantai Teluk Penyu tidak hanya dilihat dari keindahannya saja. Posisi strategis yang menghadap laut lepas dipandang Belanda sebagai tempat ideal untuk membangun benteng. Tersembunyi di perbukitan seputar pantai, Belanda membangun benteng yang tersamar dari laut namun terlihat bak kompleks perkotaan dari darat. Dibangun selama delapan belas tahun pada 1861-1879, Benteng Pendem dibangun khusus untuk menahan laju musuh dari laut dan darat. Dari laut musuh akan sulit berkelit karena para prajurit dapat mengawasi area perairan dan pulau seberang yang luas namun sebaliknya tidak tampak dari kapal. Sedangkan dari darat, parit sedalam 18 meter yang mengelilinginya akan menghambat serangan musuh.

Meski samar dilihat dari luar, Benteng Pendem sesungguhnya pernah menjadi saksi kegiatan pertahanan Belanda yang sibuk dan dilengkapi ruang-ruang untuk kantor, kamar tidur perwira, ruang amunisi, perbekalan, hingga kamar-kamar penjara. Bahkan beredar kabar bahwa benteng ini juga memiliki jaringan terowongan yang menembus ke lokasi lain bahkan hingga ke Nusakambangan. Namun sampai kini kabar tersebut belum bisa dibuktikan kebenarannya. Yang kita ketahui adalah, beberapa ruang di terowongan pernah dijadikan tempat penyiksaan dan eksekusi para tahanan dengan cara ditembak menggunakan pistol.

Tak heran jika aura mistis menyelimuti kawasan ini dan ditegaskan oleh sebuah program televisi yang pernah mengadakan acara uji nyali di sini. Memang tak salah. Benteng ini sempat digunakan oleh Belanda selama hampir tiga perempat abad untuk kemudian diteruskan penggunaannya oleh Jepang pada masa Perang Dunia II. Setelah Jepang menyerah kalah, tentara laut Indonesia pernah pula menggunakannya sebagai tempat latihan perang sebelum kemudian ditinggalkan hingga akhirnya terpendam di tanah. Digali lagi oleh pemerintah daerah Cilacap pada tahun 1986, aura mistis yang menyeruak dari kamar-kamar tahanan serta terowongan penyiksaan memang mampu membuat saya merinding. Ah, tapi itu hanyalah perasaan para turis.  Buktinya banyak warga Cilacap yang rela membayar tiket masuk seharga Rp 5,000.- sekadar untuk bersantai dan, pacaran! Oh ya, setelah pemerintah daerah menata kompleks benteng dengan taman-taman asri bahkan melengkapinya dengan sarana permainan anak-anak, aura lain yang menyeruak dari sini adalah romantika. Barisan rusa yang sengaja dibiarkan berkeliaran pun menambah ceria suasana siang itu.

Bagaimana, apakah menurut Anda Benteng Pendem Cilacap menyimpan aura mistis atau romantis? Coba saksikan sendiri slide berikut:

Powered by TripAdvisor

Kunjungan saya siang itu sangat menyenangkan, meski foto-foto benteng yang saya sebar lewat social media malah mengundang tanggapan penuh rasa takut dari beberapa kawan. 😀

Persepsi awal saya tentang Cilacap ternyata menyesatkan. Di balik suasana panas dan gersang, kota ini menyimpan sejarah kolonialisme dan perjuangan yang panjang dan membangkitkan inspirasi para pengunjung. Lagipula kegersangan kotanya mampu disejukkan oleh senyum ramah warga yang tulus menyapa saya tiap kali berpapasan.

Benteng Pendem Cilacap: mistis atau romantis? Silakan mengunjunginya dan Anda sendiri yang tentukan.

Advertisements

33 thoughts on “Benteng Pendem Cilacap: Mistis atau Romantis?

  1. Wah aku pernah kesana malah puasa. Walah panasnya mintak ampum. Tapi demi eksistensi dunia maya . Tetep dilibas.

    Sempat naek kapal juga. Hehe. Kalo dulu aku lewat menuju dermaga lewat kayak pabrik semn atau apa gitu deh…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s