Batik Nongkrong

Malam sudah semakin larut ketika kami menyelesaikan diskusi spontan tentang sejarah dan budaya Lasem di teras rumah kecil di desa Sumbergirang yang masih ramai di hari pertama Festival Lasem itu. Namun meski angin mulai menggigit, sebagian besar di antara kami masih belum mau tidur. Alih-alih pulang ke hotel, ‘kepala genk’ alias Mas Pop justru mengarahkan motornya ke utara jalan raya Pantura menyusuri tambak-tambak garam desa Dasun yang kala itu cuma tampak hitam saja. Serombongan motor yang melaju di jalan rusak membelah malam mengesankan seolah-olah ada sesuatu yang penting hendak terjadi.

Setelah menembus tambak, kami pun tiba di sebuah kampung kecil dan berhenti di sebuah rumah yang tak jauh letaknya dari bibir pantai. Ah, warung kopi rupanya! Pemiliknya yang sudah terlelap dibangunkan dan segera menyiapkan minuman hangat. Warung kopi ini super sederhana. Hanya ada gubuk kecil di depan rumah yang menyediakan kebutuhan melek seperti minuman dan makanan kecil beserta bangku-bangku panjang di depannya; lalu ada juga etalase BBM di sampingnya. Namun karena jumlah kami yang banyak, kami lebih memilih lesehan di teras rumah. Ngalor-ngidul pun berlanjut seolah malam tidak akan pernah berakhir.

Ketika kopi telah dihidangkan, pemilik rumah lalu mengeluarkan beberapa peralatan yang tampak aneh.

Kira-kira untuk apa disediakan tisu, sebotol susu kental manis, benang, dan tatakan kayu itu ya? Kombinasi yang aneh, namun tidak bagi para pemuda Lasem. Dengan gembira mereka menyambut peralatan itu lalu menuangkan cairan kopi di piring kecil. Lalu apa yang berikutnya dilakukan?

Beberapa lembar tisu diletakkan di atas cairan kopi
Biarkan tisu tersebut menyerap semua cairan
Tuangkan susu kental manis, sedikit saja.
Aduk rata susu kental manis dengan ampas kopi

Benang-benang lalu dipotong dan sebatang korek api dinyalakan dan ujungnya dibiarkan hangus sehingga membentuk semacam ujung pensil. Kemudian mereka pun siap beraksi. Percobaan pertama:

Ampas kopi yang sudah lengket itu di’lelet’kan alias dioleskan di batang rokok

Ooooh, itu fungsinya. Katanya sih sebagai penambah aroma dan rasa bagi rokok itu. Buat saya yang tidak merokok mungkin tidak paham. Namun bagi yang mengerti, kopi memang bisa menambah sensasi lain pada rokok. Eh, tapi gambar di atas adalah contoh orang yang malas. πŸ˜›

Mereka lalu MEMBATIK!
Rokok yang sudah selesai dibatik lalu diletakkan di tatakan kayu
Ayo, Mas. Jangan mau kalah!
Benang pun bisa jadi alat membatik

Jadi itu rupanya fungsi alat-alat aneh tadi. Perkenalkan: Batik Rokok yang khas Lasem. Inilah cara para pemuda desa menghabiskan waktu di warung kopi yang tak jarang menjadi berjam-jam. Mungkin berawal dari masyarakat Lasem yang mengembangkan budaya batik, para warga yang sedang bersantai pun ketularan daya kreatifitas dari para pembatik atau bisa jadi justru menjadikan warung kopi sebagai sarana latihan untuk kemudian melamar kerja pada pengusaha batik. Bisa jadi!

Konon katanya hanya kopi Lasem yang bisa di’ikat’ oleh susu kental manis dan tidak pecah ketika dikeringkan di atas rokok. Mereka sudah mencoba berbagai jenis kopi lain dan selalu gagal. Kreatifitas para pemuda ini tidak bisa dibilang asal-asalan; hasil karya batik rokok mereka benar-benar artistik dan mereka pernah menang di kompetisi batik rokok yang diadakan oleh perusahaan rokok terkemuka dari Kudus.

Saya jadi ingin coba, deh.

That’s it, boy!
Coba terka yang mana hasil karya saya? *tutup muka*

Ternyata bagi pemuda Lasem, cara terbaik menghabiskan malam di kampung samping tambak garam adalah membatik, meski bermodalkan kopi lelet, seperangkat tisu dan susu kental manis serta dilukiskan di media rokok. Batik Rokok, meski tidak bisa dipakai dan justru kemudian habis dihisap, adalah contoh lain tentang kekayaan budaya Lasem, dulu dan kini.

Pengen nongkrong di Lasem? Yuk, sekalian kita membatik. πŸ˜€

 

 

Advertisements

45 thoughts on “Batik Nongkrong

  1. eh lucu mas……

    ini bisa dijual nih, agak mahal tapi. Jadi iklannya bakal gini:

    DIJUAL: rokok gudang garam motif batik pekalongan

    Industri cigarette art bakal jadi fenomena baru di dunia per-rokok-an #daydream

    Like

  2. Wah ini pengetahuan baru nih.

    Setau saya cuma dioles ampas sisa minum kopi aja di rokok dan itupun katanya sih merk Gudang Garam or Djarum Super yang enak. Ga tau sih, kata teman lebih melayang dan gurih. (ga bisa ngebayangin).

    Boleh juga reportasenya, salut buat Brad, kunanti terus hal-hal yang kayak gini.

    Like

  3. Wah kreatif level satu nih. Dulu ada sih temen yang hobi nyelupin batang rokok ke dalam kopi trus dikeringin dulu sebelum dihisap. Kalau ini lebih kreatif lagi, kopinya buat mbatik rokok. Keren!

    Like

  4. waaahhh…menarik bgt, memang kota lasem, kota batik, sungguh pengen ke lasem lagi, tidak sekedar belanja batik, tapi menjelajah ke kampung2nya…

    Like

  5. Dulu waktu masih aktif di radio sama teman-teman, sering nongkrong sampai pagi. Nah kalau ngobrol kita ditemani kopi, rokok (buat teman-teman cowok), dan haha hihi nggak juntrung. Nah itu teman-teman cowok suka olesin batang rokoknya dengan ampas kopi (tanpa susu) terus dihisap deh rokoknya. Ternyata di Lasem lebih keren lagi πŸ˜€ ampas kopi buat ngebatik di batang rokok! Keren euy! πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s