Jepara: Bukan Sekadar Karimunjawa

“Ke Karimunjawa yuk!”

Begitu kalimat pertama yang saya lontarkan kepada seorang kawan lama semasa kuliah yang mengajar di sebuah sekolah di Jepara ketika saya tiba di kota ini beberapa hari yang lalu. Tak disangka, ajakan bersemangat ia jawab dengan mendengus seraya menukas, “Ombak lagi tinggi, kapal penyeberangan lagi dikandangin semua.” Lalu ia pun mengirimkan sederet daftar tempat-tempat menarik yang dapat dikunjungi di seputar Kabupaten Jepara.

Maka jadilah pada akhir pekan lalu saya membatalkan rencana kabur ke Semarang dan menghabiskan 3 hari untuk mengenal kabupaten yang akan saya tempati selama beberapa bulan ke depan. Sejak awal memasuki daerah ini ada satu kata yang melintas di benak saya: Sepi. Hal itu tidak sepenuhnya salah; Jepara tidak dilintasi oleh jalur utama Pantura dan kita harus melewati wilayah Demak dahulu sebelum berbelok kiri menuju kabupaten yang termasuk ujung utara pulau Jawa ini. Belum tersedia pula jalur langsung dari Semarang yang padahal akan memangkas waktu perjalanan jika tidak harus melewati Demak. Namun kontur wilayah timur Semarang yang berbukit-bukit memang menjadi hambatan utama membangun infrastruktur jalan yang lebar.

Kabupaten Jepara (ejaan Inggris/Belanda: Japara) dihuni oleh sekitar 1,1 juta jiwa (data tahun 2008) dan tidak memiliki kotamadya. Sehingga jika kita menyebut Jepara, maka warga lokal akan mengasosiasikannya dengan kota/kecamatan Jepara. Wilayah kota lama terletak di pesisir pantai dengan kawasan pasar dan rumah-rumah warga keturunan Tionghoa yang khas. Namun tujuan pertama kunjungan saya adalah ke ketinggian 85 meter di kota Jepara yang sekaligus pernah menjadi benteng pertahanan VOC yang dibangun di abad ke-16: Fort Japara.

Gerbang utama Fort Japara

Benteng ini sangat mudah dicapai karena letaknya hanya sekitar 500 meter sebelah utara alun-alun kota dan tinggal menaiki bukit yang jalannya sudah beraspal dan dipenuhi oleh rumah-rumah penduduk di kanan-kiri sebelum akhirnya kita mencapai sebuah daerah terbuka di atas bukit sekaligus gerbang benteng. Di sisi kanan terdapat lokasi makam Belanda dan Taman Makam Pahlawan Giri Dharma serta sebuah taman buah yang terlihat belum lama dibangun sehingga pohon-pohonnya terlihat masih muda.

Gerbang bentengnya sendiri terlihat baru dibangun untuk kepentingan pariwisata dan bentuknya megah dilabur cat putih dengan tulisan Fort Japara XVI. Namun bentuk asli bentengnya sendiri tinggal reruntuhan tembok dan kawasan onggokan batu-batu kapur yang diduga bekas bangunan. Melihat luasnya bukit yang tidak seberapa dan rendahnya tembok, saya menduga ini dulunya hanyalah sebuah benteng kecil.  Dari atas sini pemandangan ke arah kota Jepara sangat jelas terlihat, termasuk pula pemandangan ke arah laut sehingga memudahkan Belanda mengawasi perairan sekitarnya.

Masih di kompleks yang sama namun terletak di sisi luar gerbang utama terletak makam Kapten Francois Tack, seorang perwira senior VOC yang berjasa bagi Belanda dalam menumpas perlawanan Trunojoyo dan Sultan Ageng Tirtayasa namun mati dibunuh oleh Pangeran Puger dengan tombak milik Kyai Plered. Sayangnya kondisi makam ini sudah tinggal ‘seadanya’ tanpa penanda.

Pantai Teluk Awur

Terletak di sebelah barat kota Jepara dan cukup ditempuh selama 15 menit saja dari pusat kota, Pantai Teluk Awur adalah salah satu kawasan wisata populer di Jepara yang terkenal dengan ombaknya yang tenang sehingga cocok menjadi tujuan wisata keluarga. Terdapat pula beberapa resort yang kerap dikunjungi wisatawan asing sebagai titik transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Karimunjawa. Tempat ini juga populer untuk menyaksikan matahari terbenam dan sepanjang pantai (termasuk pantai sebelahnya: Tegalsambi), akan diramaikan oleh warga yang duduk-duduk di kafe tenda sambil ngobrol santai melewatkan senja hingga malam hari.

Ternyata Jepara bukan sekadar tempat mebel ukiran atau titik transit ke kepulauan Karimunjawa saja. Jika Anda berhenti sejenak di perjalanan untuk mengamati lebih dekat kota ini, Anda akan menemukan banyak hal menarik. Dua tempat di atas hanyalah perkenalan, masih ada beberapa tempat lagi yang hendak saya ajak Anda ke sana. Nantikan di waktu-waktu mendatang ya. 😀

===

Anda pernah ke Jepara? Ditunggu ceritanya di kolom komentar.

Advertisements

17 thoughts on “Jepara: Bukan Sekadar Karimunjawa

    1. musim kemarau gini sebenarnya pas. tapi kadang cuaca berubah krn angin ya. selebihnya, kalo kata temenku, tinggal perbanyak niat dan ibadah 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s