Refleksi: Aku dan Komunitas

Dalam tulisan tentang refleksi #miladeBlogger2 tahun lalu, saya menulis bahwa persahabatan yang kental belum teruji sampai para anggotanya ‘diceburkan’ ke dalam sebuah proyek bersama yang salah satu tujuannya adalah untuk menguji komitmen. Mengapa harus ada proyek? Karena sebuah pertemanan yang berjalan begitu saja tanpa ada sesuatu yang menjadi ketertarikan bersama biasanya akan berlalu tanpa kesan. Ya, kesan memang ada sih, namun tidak mendalam. Salah satu cara mengembangkan jaringan pertemanan yang mengasyikkan adalah bergabung dengan komunitas. Itulah yang saya lakukan, sebenarnya tidak sengaja, ketika ‘ditarik’ masuk ke Komunitas Blogger depok ‘deBlogger’ pada tahun 2010 silam, lalu mengembangkan pula jaringan ke dua komunitas lain, yakni Komunitas Blogger Makassar ‘Anging Mammiri’ dan Komunitas Blogger Maluku ‘Arumbai’. Perjalanan selama 2 tahun terakhir ini boleh dikata luar biasa. Untuk menjaganya tidak terlalu melantur, saya akan membaginya dalam 3 fase utama:

1. Fase Bulan Madu

Pada fase ini seseorang yang baru bergabung ke dalam komunitas akan merasakan layaknya bulan madu bersama rekan-rekan baru; saya menyukai segala tradisi deBlogger yang belum pernah saya temukan di tempat lain dan menikmati segala dinamika pergaulan di dalamnya. Saya mengembangkan minat menulis di blog dengan beragam variasi topik, blogwalking ke banyak blog, dan aktif berkontribusi sedapat mungkin ke dalam kepanitiaan deBlogger. Kritik? Tidak ada. Blogger Depok adalah kumpulan orang-orang yang sempurna di mata saya.

Pada fase ini pula saya diajak berkomitmen untuk mengembangkan komunitas dalam kepengurusan periode 2010-2011 dan prosesnya berjalan mulus. Komitmen saya ambil dengan riang dan pikiran positif bahwa segala masalah dalam komunitas pasti akan terselesaikan dengan baik. Apalagi teman-teman di deBlogger semuanya sangat terbuka dan cair dalam bergaul.

2. Fase Neraka Dunia

Masa bulan madu tadi berlangsung cukup lama; dari Maret 2010 sampai akhir tahun. Nah, di awal tahun 2011 sampai kira-kira pertengahan tahun segalanya berubah. Berawal dari sebuah kritikan terhadap sang ketua yang tidak berujung baik, akhirnya saya apriori terhadap segala sesuatu yang ada di deBlogger dan mengalami ketidakpuasan akan banyak hal. Puncaknya adalah sekitar pertengahan tahun di mana segala persiapan sebuah acara dirasa tidak mulus dan terjadi beberapa konflik yang akhirnya membuat tidak nyaman. Masa ini saya sebut ‘Neraka Dunia’. Yah, tidak seekstrem itu juga sih. Buktinya kami yang menjadi panitia event dapat bekerja secara profesional dengan mengesampingkan persoalan pribadi yang ada dan ujung-ujungnya semua berjalan baik kembali. Namun sempat saya mempertanyakan apakah perlu saya meneruskan komitmen di sana.

Jika pada fase lalu komitmen adalah sesuatu yang ringan, kali ini komitmen terasa berat dan hampir tidak kuat dipegang. Setelah menikmati masa-masa manis, saya menghadapi kenyataan pahit bahwa teman-teman memiliki sisi karakter lain yang tidak dapat saya terima dan konflik tidak dapat terelakkan. Anda tentu paham kalau kita sedang berselisih dengan teman; konflik itu akan terus menjadi beban pikiran dan menghantui hari-hari kita selanjutnya, bukan?!

3. Fase Berdamai dengan Situasi

Setelah menikmati ‘madu’ dan ‘racun’ dalam kegiatan deBlogger, pada akhirnya konflik selesai dan saya mulai menyerap dan merenung secara jujur. Tidak ada komunitas yang sempurna, begitu batin saya. Dengan menimbang segala kebaikan dan kekurangan yang ada, komitmen dapat diteruskan dengan lebih realistis dan saya belajar untuk berdamai dengan situasi. Praktisnya adalah: saya menghiraukan letupan emosi yang mungkin ada di sekitar saya dan fokus pada pesan yang orang itu sedang sampaikan. Segala perbedaan dapat dibicarakan dengan seksama dan dicari jalan tengahnya. Yang timbul dari fase ini adalah saling percaya yang kuat di antara sesama aktivis dan anggota komunitas.

Lalu apakah semuanya baik-baik saja setelah itu? Oh, tidak. Justru sekarang saya bisa terbuka menuliskan hal ini setelah baru-baru ini sebuah konflik yang cukup dalam terjadi di antara kami berempat (Aris, Iman, Luvie, dan saya) dan baru selesai tadi malam. Keempatnya sempat menyatakan diri hendak melepas komitmen sebelum akhirnya situasi kembali mencair dan komitmen kembali dipegang. Debat dan sharing berlangsung alot namun berkat pengalaman sebelumnya yang membuat kami sudah saling mengerti karakter masing-masing, konflik itu dapat diselesaikan dengan baik meski implementasinya dalam deBlogger tetap harus dijaga dengan hati-hati.

Pelajaran Apa yang Dapat Diambil?

1. Di komunitas mana pun Anda bergerak atau ingin berkomitmen, ketiga fase di atas tidak dapat dihindari meski jenis dan periodenya situasional.

2. Kesiapan hati untuk menyelami ketiga fase itu ketika di awal berkomitmen akan membantu Anda menjalani masa-masa selanjutnya dengan lebih baik dan konflik yang akan terjadi tidak berujung fatal.

3. Pikiran terbuka dalam memahami karakter rekan-rekan Anda menjadi kunci keberlangsungan komunitas.

Kesimpulannya: komunitas mengubah karakter saya dan itu adalah pelajaran hidup yang sangat berharga. Jadi janganlah ragu dalam mengambil komitmen untuk komunitas hari ini. Percayalah bahwa apa yang Anda kontribusikan masih jauh lebih sedikit daripada maslahat yang akan diterima.

“Before you assume, learn the facts. Before you judge, understand why. Before you hurt someone, feel. Before you leave, commit to staying.”

sumber tidak diketahui namun kutipan ini terbaca lewat akun Twitter Risa Amrikasari

Sumber gambar: Silmina Ulfah

Advertisements

45 thoughts on “Refleksi: Aku dan Komunitas

  1. Komunitas memang demikian, namun saya lebih beruntung di Bali Blogger sepertinya cukup damai dan minim konflik – bahkan saya belum melihat ada hal-hal seperti itu langsung di komunitas.

    Like

    1. Justru konflik akan memperkuat komunitas, kalau menurut saya sih. Jadi maaf, saya merasa lebih beruntung karena komitmennya sudah tahan uji, hehe.

      Selamat Hari Raya Nyepi ya, bli πŸ™‚

      Like

  2. Saat tiap individu dalam sebuah kelompok atau komunitas bisa menampilkan identitas ” telanjang apa adanya” dan kemudian kelompok atau komunitas tsb bisa lapang hati terus membuka diri, maka itulah komunitas terbaik sesungguhnya ^_^

    Like

  3. TErimakasih kak Brad, gara-gara postingan tempo hari membuat saya yakin masuk komunitas di blogger depok. Dan maaf, baru sekali ikut kopdar. Pengen setiap ada kopdar ikutan. Insya allah satu hari nanti setiap deBlogger ngadain kopdar dan acara-cara, saya 100% ikut terlibat di dalamnya πŸ™‚

    Like

  4. Swear…Gw terharu baca artikel ini. Kurang lebih sama dengan yang gw alami saat berkomunitas. Dan memang kita harus banyak belajar memahami berbagai macam karakter orang di komunitas.
    Qoutes di akhir artikel ini gw pilih sebagai Qoutes of the Month πŸ˜€

    Like

  5. suka ama tulisan ini… πŸ˜‰
    komunitas itu ada riuh rendahnya, tapi bila sudah satu hati, yakinlah apapun tidak akan tergoyahkan πŸ˜€

    btw itu kalian meeting sempat2nya minta tolong difotoin gitu? hahaha…

    Like

    1. eyh sori ya, itu foto waktu Dihital Media Planning hari pertama. Kayaknya salah satu dari kita berempat punya stalker gitu deh sampe difoto candid pas meeting =))

      Like

  6. Berkomunitas / berorganisasi emang ada manis pahitnya, Om.
    Saya pun pernah merasakan hal yang sama saat berorganisasi di kampus.
    Tapi buat saya justru itu adalah momen dimana solidaritas kita diuji.
    Kalau bisa melewatinya, saya jamin komunitas / organisasi yang terbentuk akan semakin kokoh.
    Mohon dukungannya ya om buat komunitas blogger papua yang masih belajar ngerangkak πŸ˜€

    Like

  7. Masuk dalam komunitas dan bergaul dengan banyak orang tentu tidak mudah ya pak. Banyak karakter yang mesti kita kethui untuk bisa mengembangkan komunitas itu. Tapi kalau dalam komunitas itu timbul intrik yang tidak sehat (biasanya yang terjadi dibanyak komunitas dan kelompok adalah berawal dari uang) tentunya akan membuat kita tidak nyaman, atau sengaja dibuat ngak nyaman agar kita dengan santun keluar.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Like

    1. nah itu dia sumber intrik yg biasanya menyebabkan perpecahan. aduh jangan sampe di komunitas saya terlibat yg itu deh 😦

      Like

  8. wah mantep pembagian fasenya om brad, tapi saya blom merasakan dua fase terakhir di atas, maklum masih nubie di deblogger πŸ˜€ tapi saya suka tulisan ini, bikin saya lebih bisa bersiap menghadapi kemungkinan yang ada…. πŸ™‚

    Like

  9. Hoaaa, kereen. Sepertinya semua komunitas ada fase seperti ini yah. Ketemuan, sayang-sayangan, gontok-gontokan, sayang-sayangan lagi. Karena mereka adalah tempat kesekian yang bisa saya sebut “rumah”.

    Like

  10. hmm … mbaca ini membuat saya terkenang pada satu masa yang rasanya memang nano2 πŸ˜€
    persis yang digambarkan di atas.
    hubungan antar personil di dalam komunitas, jika mereka BILANG bulan madu terus, biasanya mereka tidak benar2 nyebur ke dalam. Karena biasanya konflik memang timbul dan keseringan bertemu.
    pait manisnya berkomunitas, jatuh bangun … semua deh.

    terus apakah saya kapok? gak kapok sih. cuma merasa butuh jeda. menata hati kembali, sebelum nyebur lagi πŸ˜€ abis bukan tipe orang yang mampu jadi penonton atau ikut2 aja sih hehehe …

    Salut saya sama 4 manusia yang ada di gambar itu πŸ˜€ yang kemudia mengambil keputusan STAY! Hihihi persis banget sih, kami pun dulu ber4, dan i’m the only princess among those ‘bad buys’ hahahaha …. j/k

    Semoga kalian tetap bersama dan membesarkan komunitas yang sudah besar ini yah! *doa tulus ini*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s