Ikatan Kontrak Guru & Murid

Di dinding kelas atau sekolah, lazimnya tertempel pengumuman yang berisikan sederet peraturan untuk para siswa di sekolah tersebut yang menyangkut banyak hal, mulai dari ketepatan waktu, kebersihan, perilaku, sampai soal membawa ponsel. Deretan aturan yang panjangnya 5-10 poin tersebut umumnya dibuat secara sepihak oleh sekolah tanpa melibatkan siswa dan tau-tau langsung tertera di dinding dan otomatis mengikat semua siswa. Siswa yang tidak dilibatkan juga cuma bisa bengong saja membaca peraturan itu. “Semua demi ketertiban dan nama baik sekolah kita,” demikian seorang ibu orang tua siswa berkomentar.

Memangnya para siswa, terutama setingkat SMA, belum paham aturan umum di sekolah ya? Perlukah sedetail itu? Atau bagaimana jika para siswa diajak terlibat dalam menentukan peraturan yang baik untuk mereka sendiri?

Dalam topik diskusi Obligation & Permission yang dibahas di kelas tadi sore, terungkap bahwa sederetan peraturan tersebut dianggap membatasi gerak para siswa sehingga sebagian merasa hari-harinya di sekolah flat saja, datar dan membosankan. Membaca nuansa itu, saya lalu memutar keadaan dan mengajak para siswa untuk ‘gila-gilaan’ membuat sederet peraturan sendiri untuk mereka. Tidak berhenti sampai di situ, saya menantang para siswa untuk membuat peraturan untuk guru sehingga dunia sedikit lebih adil (!). Reaksi para murid awalnya ragu dan bertanya, “No boundaries? Is anything possible?” Saya jawab: “Everything is possible. Share the craziest rule you can think of.” Berbekal kalimat itu mereka langsung bekerja dan tak lama keluarlah sederetan peraturan yang ternyata memang gila.

source: unomaha.edu

Berikut saya bagikan terjemahannya di sini. Sebenarnya sayang kalau cuma terjemahan karena makna aslinya yang menggelitik dalam Bahasa Inggris tidak dapat diterjemahkan dengan baik. Namun kita coba saja dulu ya.

Kontrak untuk Murid

1. Murid harus tetap terjaga di kelas. Jika murid mengantuk mereka boleh tidur namun jangan sampai mendengkur.

2. Telepon genggam adalah sarana penting untuk belajar dan terhubung dengan dunia luar sehingga tidak boleh disita.

3. Tidak boleh mengunyah permen karet di kelas, namun jika dapat membantu dalam latihan pengucapan, diizinkan.

4. Murid dilarang menggunakan alasan-alasan berikut apabila lupa mengerjakan PR seperti: “PR saya dimakan anjing” atau “Jatuh dari tas.”

5. Mengobrol dalam kelas adalah bagian integral dari perkembangan sosial remaja.

Sudah cukup pusing? Tunggu, masih ada lagi.

Kontrak untuk Guru

1. Guru wajib memberi waktu istirahat 30 menit setiap sesi pelajaran.

2. Guru wajib menandai daftar kehadiran murid agar tidak ada bukti absen.

3. Guru dilarang memberi hukuman dalam bentuk apa pun meski tujuannya untuk mendisiplinkan siswa.

4. Guru wajib menghadiahkan coklat, minimal Silver Queen, setiap kali murid berhasil menjawab pertanyaan.

5. Guru wajib mentraktir murid-murid di restoran, minimal American Grill, pada akhir semester.

Betapa senangnya menyaksikan murid-murid saya membebaskan diri dari ‘belenggu’ norma sosial untuk sementara dan menghasilkan karya unik dan kreatif. Namun ketika saya ‘mengajak mereka kembali ke bumi’, suara-suara realistis mulai keluar. Beberapa setuju sebagian poin terlalu naif, sementara lainnya ngotot mempertahankan kalimat favorit. Pada akhirnya diskusi terpaksa dihentikan oleh karena keterbatasan waktu dan ikatan kontrak ditunda formalisasinya. Namun paling tidak pengalaman ini sungguh menarik bagi para murid dan saya.

Menurut Anda, seperti apa seharusnya peraturan sekolah? Adakah ide-ide kreatif namun tetap mendidik?! Ditunggu sharing-nya. πŸ˜€

source: cartoonstock.com
Advertisements

25 thoughts on “Ikatan Kontrak Guru & Murid

  1. Sepertinya pernah baca dimanaaaa gitu…seorang murid yang lupa PRnya terus beralasan pada si guru kalau PRnya dimakan anjing ;D
    memangnya seperti itu pernah beneran terjadi ya?

    Eh? tiap berhasil jawab pertanyaan bisa dapat minimal satu cokelat? waaaa…enaknya itu O.o

    Like

    1. soal PR dimakan anjing itu emang sering dibaca di banyak cerita kok. hehe. coklat? yg ada bangkrut kalo mintanya silver queen mulu πŸ˜›

      Like

      1. rejeki itu kan udah diatur sama Tuhan
        mosok njatahin SQ buat murid bisa bangkrut hahaha

        jadi inget film apa ya kemarin
        satu kelas muridnya buandel pwollll
        sampai ya itu tadi
        gurunya pake sogokan coklat bagi yg bisa menjawab dengan benar
        dan murid2nya jadi rajin semua
        dan akhir semester ya gitu tadi ada budget dari sekolah wat nraktir murid2 ntu makan di resto huehuehue
        kebetulan juga sih students nya emang dari golongan tak mampu

        Like

  2. hehe, boleh boleh saja tuh tiap siswa bisa jawab pertanyaan dikasih silver queen. alternatifnya tinggal kasih pertanyaan yang sangat sulit untuk murid (1) dan naikan naikkan biaya bulanan para murid untuk meningkatkan gaji guru dan biaya traktir traktiraan (2)

    hehe, alih alih memang keren mas brad

    Like

  3. dulu pas saya masih sekolah, gk ada sistem kayak gini om.. tapi seru kali ya kalo guru ngasih coklat atau nraktir di restoran tiap akhir semester.. dan untuk masalah hukuman, saya juga setuju.. guru gk boleh ngehukum murid, apapun alasannya karena itu hanya akan bikin murid jadi nambah nakal.. apalagi yang sampe nempeleng (nabok), mukul pake kayu, disuruh ngerokok berpuluh2 batang di lapangan.. toh yang kena hukum, mereka tetep aja nakal dan masih aja ngerokok..

    Like

    1. nooo, hukuman yg dimaksud bukan fisik, melainkan berupa tugas, atau kalau misalnya lagi main game trus kalah, disuruh nyanyi. gitu aja kok

      Like

  4. Waktu kuliah sih biasanya pada saat awal semester. Dosen selalu membuat kesepakan bersama mahasiswa. Kesepakatan salah satunya adalah ninggalin dosen jika telat datang lebih dari 20 menit πŸ˜€

    Like

  5. gw pernah menerapkan peraturan gini di kelas..

    “boleh makan dan bawa makanan ke dalam kelas, asal berbagi dengan yang lain..”

    hasilnya…..

    tiap pertemuan, semua anak bawa berbagai macam makanan.. dari makanan ringan, buah2an, sampai makanan berat semacam mie goreng, nasi padang dan bakso..
    dan itu terjadi hingga mereka lulus.. =))

    Dasar pemikirannya kesepakatan ini simpel.. “kelas dingin banget dan klo laper gak bisa mikir..” =))

    Well.. siapa dulu gurunya.. #jumawa

    Like

  6. Wah, kalo pengalaman saya waktu jadi guru, saya hanya berusaha mengerti kondisi dan kebutuhan mereka. Mengajar di selingin diskusi dan sesekali canda supaya tidak ngantuk. Mereka berhak mendebat saya jika memang saya salah dan karena itu kelas menjadi hidup πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s