Memecat Orang

Dalam kehidupan kaum profesional, pemutusan hubungan kerja alias pemecatan dapat terjadi pada siapa saja dan memang lazim dialami oleh orang-orang di sekitar saya bahkan saya sendiri. Beragam cerita tentang suka-duka pasca dipecat dari kantor sering terdengar; umumnya para pengangguran tersebut menyalahkan kantor yang tidak berperikemanusiaan dan rata-rata memendam rasa jengkel terhadap atasan yang bertatap mata dengan mereka saat putusan pemberhentian itu dilaksanakan. Wajar kan?!

Ya memang wajar. Namun sadarkah Anda bahwa sesungguhnya tidak Anda saja yang menderita? Si atasan yang memecat Anda juga tidak merasa bahagia, dan meski mungkin tidak sampai jatuh ke dalam kondisi (hampir) depresi seperti Anda, dia juga pastilah merasa ada yang ‘janggal’. Sekarang coba saya tanya: Pernahkah Anda ditugaskan oleh kantor untuk memecat karyawan? Saya pernah.

Waktu itu tahun 2005, kantor saya sedang mencari karyawan baru di divisi kami dan pilihan terakhir jatuh pada 2 orang yang memiliki kualifikasi yang sama baiknya. Setelah lama berunding tanpa kesepakatan, akhirnya atasan memutuskan menerima saja kedua karyawan baru tersebut untuk masa percobaan 3 bulan. Berhubung posisi yang tersedia cuma satu, maka salah satu dari mereka akan dipecat setelah masa percobaan berakhir.

Setelah tiga bulan berselang, kedua karyawan percobaan ini ternyata sama-sama menunjukkan dedikasi tinggi mereka untuk mempertahankan posisi masing-masing karena sadar bahwa salah satunya akan dipecat setelah 3 bulan. Lagi-lagi perusahaan berunding cukup sengit untuk membahas ini. Karena posisi yang lowong tetap hanya satu, maka mau-tidak-mau pemecatan harus dilakukan terhadap satu orang. Dan sayalah yang ditugaskan untuk memberi kabar buruk tersebut.

Sedari pagi saya sudah berkeringat dingin. Kedua orang yang berada langsung di bawah supervisi saya ini adalah orang-orang hebat dan hubungan kami bertiga sudah akrab setelah sekian minggu bekerja sama. Adanya kedekatan emosi inilah yang justru memberatkan saya ketika harus memberitahu bahwa si X itu akan dipecat. Kedua karyawan tersebut, yang tahu bahwa saya akan menjatuhkan putusan siang itu, tampak cerah ceria sementara saya yang malah gemetaran. Benar saja, ketika si X saya ajak masuk ke ruang meeting untuk berbicara empat mata, secara serabutan saya mencoba merangkai kata untuk menjelaskan kembali kebijakan perekrutan yang memang akhirnya hanya memerlukan satu karyawan dan yang lain harus dilepaskan. Setelah berputar-putar tak keruan di latar belakang, dengan suara bergetar hampir tercekat saya berucap, “Maaf, kamu terpaksa saya berhentikan.”

Reaksinya hanya diam. Tampaknya dia jauh lebih siap mental menerima berita itu daripada saya yang justru terbata-bata sebagai penyampai berita. Bagaimana tidak uring-uringan, coba? Ini menyangkut nasib orang; saya menjadikan seseorang pengangguran. Meski si X masih muda dengan masa depan cerah, tak urung kejadian itu membuat saya murung selama 2 hari.

***

Enam bulan lebih berselang setelah peristiwa itu, sebuah telepon datang dari sebuah shipping company yang mengabarkan bahwa si X hendak melamar di perusahaan mereka dan mencantumkan nama saya sebagai referensi. Saya dimintai pendapat pribadi dan profesional tentang kinerja si X selama 3 bulan di perusahaan kami dan dengan segera saya sampaikan bahwa X adalah pemuda cerdas yang akan sangat menguntungkan si perusahaan. Ah, sepertinya saya juga memberi bumbu sedikit untuk sekadar menaikkan derajat si X. Entah mengapa alasannya, yang jelas sesudah telepon itu ditutup saya merasa lega, seolah impas rasanya.

Semoga si X baik-baik saja. πŸ˜€

Pernahkan Anda memecat orang? Ditunggu ceritanya!

===

Sumber gambar: asianjobportal.com

Advertisements

45 thoughts on “Memecat Orang

  1. Alhamdulillah.
    Saya beberapa kali sering di-challenge atasan saya di beberapa t4 kerja sblmnya, apakah mau menjadi spesialis saja atau mau menjajaki diri di jenjang management (supervisory level). Dengan tegas saya selalu menjawab, saya tak biasa dan merasa tak sanggup utk bekerja mengurus manusia. Lebih baik saya mengurus benda mati saja πŸ™‚

    Alhamdulillah, dan itu saya pegang hingga kini. Tak mau sekalipun me-manage orang lain krn tak mampu mmbuat org lain terpengaruh oleh keputusan sayah.

    Eh, maap komen kepanjangan…:)

    Like

  2. pernah berada di posisi itu, dilema, ga enak banget, tapi gimana lagi, sudah ditugasi yah mau tak mau toh. tapi biar gimana pun engga enaknya untuk menyampaikan berita buruk itu, tetap saja yang paling tidak enak ya bagian yang dipecat. untungnya saya sudah pernah merasakan ke2nya hehehe … eh saya sudah pernah cerita tentang saya dipecat tidak ya? lupa πŸ˜€ tapi klo diposting sepertinya menarik. tp klo dobel post, membosankan ya hahahhaa

    Like

  3. Saya sih tidak pernah, tapi menyampaikan kabar buruk sudah bisa dibilang menjadi keseharian dalam profesi saya. Dan saya rasa perasaan melilit itu tak jauh berbeda.

    Like

    1. waduh mas, sehubungan dengan profesi dokter ya? saya pernah sekali melakukan itu ketika menerjemahkan seorang dokter Amerika kepada pasiennya. Pas sampai di kalimat, “hidup Anda tinggal 6 bulan lagi”, saya lemes 😦

      Like

  4. Saya membayangkan kk brad seperti (dan seganteng, serta se-menawan) George Clooney di Up in the Air. πŸ˜€ yang justru bekerja di firma jasa pemecatan orang.

    Kalo memang seperti itu posisinya, berarti kk brad ganteng sekali waktu duduk di hadapan si X, dan mengatakan “kami harus memberhentikan Anda”, karena George Clooney keren, ganteng, dan dingin sekali waktu itu.

    Hihihihi…

    Like

  5. belum dan jangan pernah memecat lah klo saya…karena memecat berati memutuskan sendi perekonomian suatu keluarga…
    diperingatkan-ditgeur dan paling parah di turunkan jabatan nya saja hehehe

    Like

  6. berhubung eks HR, pernah lah ngurusin exit karyawan :p negur karyawan juga pernah. Grogi banget jelas, soalnya rasa kemanusiaan kita kan pasti tersentuh, apalagi saat itu casenya si karyawan bermasalah baru punya baby n butuh duit banget.
    Tapi ya mau gimana lagi, life must go on, perusahaan juga harus running, dan berhubung dari awal saya selalu warning ke calon-calon yang akan diberhentikan, menurut saya ya harus terima konsekuensinya.
    Biasanya sih habis ngasih tau yang ngga enak itu, saya langsung ndoain yang baik-baik dalam hati buat orang tersebut, sambil berharap orangnya gak doain yang jelek buat saya πŸ˜€

    Like

  7. Saya rasa itu etika baik anda kepada si X
    dan anda harus melakukannya kalau perlu bukan sekadar rekomendasi lagi heheh ..
    karena si X maw menerima pemecatan dengan lapang dada dan tetap berhubungan baik dengan anda.
    Sulit lho hal yang begitu

    Like

  8. hihihihi….jantung deg-degan, keringat dingin, lidah kelu, otak tiba tiba macet, suara tercekat di tenggorokan, musik backsound a la musik thriller menuju klimaks..

    saya belum pernah mecat orang sich Oom. Fiuh. kalau bisa jangan deh. kalau bisa yg dipecat yang emang sudah keterlaluan. jadi mecatnya nggak ada rasa bersalah.

    semoga hubungan baik Oom Brad dan Mr. X ini tetap terjaga dan siapa tahu jadi mutualisme di masa yang akan datang yaaa… Amin.

    Like

  9. saya biasanya mendengar cerita dari sudut pandang yang dipecat, kebanyakan ya frustasi dan membawa dendam ingin membalas menghancurkan yang memecat, malah ada yang membuat skenario untuk mencelakakan si pemecat πŸ˜€

    Like

  10. Wah, gak kebayang kalo saya ada di posisi mas.
    Mungkin bukan keringat dingin lagi, tapi udah kencing celana πŸ˜†
    Semoga aja si X mendapat pekerjaan yang lebih pas πŸ™‚

    Like

  11. PErnah, namun untungnya (kalau mau dibilang untung) dalam kasus saya kenyataannya memang yang akn dipecat itu gak perform dan gak menunjukan dedikasi yang baik. Jadi meskipun berat juga namun tidak separah kasus di atas πŸ˜€

    Like

  12. Memberhentikan orang lain memang tak pernah mudah untuk dilakukan.
    Mikir ini mikir itu. Tapi kalau pada akhirnya tidak ada lagi keserasian, memang harus segera ambil keputusan walaupun tetap yang dipecat itu gak akan merasa lebih baik.

    Like

  13. Saya tidak pernah dipecat oom,malahan saya yang memecatkan diri sendiri πŸ˜†
    Oooh ya,dulu saya pernah mengalami situasi persis sama yang terjadi dengan kedua karyawan dalam cerita di atas,dan saat itu sayalah yang terpilih masuk ke perusahaan,saat itu ada sedikit perasaan tidak enak kepada rekan yang tak terpilih masuk jadi karyawan,saya galau karena kami pernah sama-sama melamar, bersama ikut training kerja selam 3 bulan…Hidup terkadang memang kejam..

    Like

  14. kalo saya terus terang ngga akan tega mecat orang…bisa2 malah saya yang nangis waktu ngasi tahu akan dipecat hihihih……

    klo bos saya lain lagi….dia ngga pernah mecat kary…klo ada kary yg kinerjanya udah buruk…malah ngga dikasih kerjaan sama sekali…tp gaji tetap jalan…nanti kan lama2 dia ngga enak hati sendiri trus mengundurkan diri…..tp kalo saya pikir hal ini ngga bagus juga krna kary. tsb nanti malah jd racun bagi kary. yg lain. Pasti kan kary. itu bakal jelek2in bos krna dia ngga dianggap di kantor heheh….

    Like

  15. Kalo saya sih bukan memecat orang, tapi sengaja memposisikan keadaan agar mereka mengundurkan diri.

    maklum saya sekarang berada di posisi manajemen yang melihat kualitas anak buahnya sudah tidak dapat berkembang lagi, daripada menunggu mereka untuk sadar dan mengundurkan diri lebih baik sengaja membuat keadaan yang tidak kondusif.

    alasannya sih memisahkan karyawan yang baik dan yang kurang baik dalam perusahaan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s