Genjer-Genjer: Korban Tebasan Pisau Sejarah

Sumber: zisaja.blogspot.com

DISCLAIMER: tulisan ini adalah bentuk apresiasi terhadap seni budaya rakyat Jawa Timur dan BUKAN untuk menilai, apalagi mendukung, ajaran komunisme.

Ada sebuah peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia yang baru saja kita lewati seiring berlalunya bulan September 2011: pemberontakan PKI pada 30 September 1965 yang membekas dalam bagi sejarah Indonesia dan kontroversinya masih bergaung hingga kini; masih tersimpan cerita kelabu yang penyelesaiannya tak kunjung usai dan pro-kontra yang tak pernah habis diperbincangkan. Jika kita mengamati kembali lalu-lintas percakapan di twitter dalam dua hari terakhir, pemaparan tentang PKI dan komunisme cukup marak. Daeng Rusle, misalnya, mengupas tuduhan atheisme yang melekat pada kaum komunis yang cukup menyentak saya yang sampai saat ini awam soal komunisme dan label atheis itu memang selalu saya lekatkan pada aliran pemikiran tersebut. Nah, berhubung saya tidak sempat menyelami percakapan tersebut, ada baiknya saya diam saja daripada bersuara namun salah. πŸ˜€

Kali ini saya ingin menyoroti lagu Genjer-GenjerΒ yang menjadi kontroversi selama puluhan tahun akibat terseretnya secara tidak sengaja ke dalam politik Indonesia era 60-an.Β Sebagai manusia didikan Orde Baru, bayangan saya ketika lagu Genjer-Genjer terdengar melalui film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ adalah seramnya paham komunisme dan tindakan biadab yang mereka lakukan terhadap para pahlawan revolusi. Aransemen yang menyeramkan tersebut menghantui para penonton sehingga dengan cepat lagu Genjer-Genjer menjadi tabu dan takut untuk dipelajari dan dinyanyikan.

Jadi bagaimana sebenarnya kisah Genjer-Genjer?

Nama ‘Genjer’ mengacu pada tanaman genjer yang banyak ditemukan di sawah dan perairan dangkal. Tanaman ini tumbuh liar dan sekilas tidak jauh berbeda dengan eceng gondok. Tanaman liar ini ternyata dapat dimakan dan menjadi salah satu sumber pangan masyarakat miskin di Jawa pada masa lalu ketika tidak ada lagi sayuran yang dapat dipanen. Kemudian nama ini diambil menjadi salah satu bentuk kesenian angklung pada era 1940-an dan lalu diberi syair baru sebagai pelengkap. Syair lagu ini diciptakan oleh M. Arif dan berbahasa Osing, bahasa yang masih satu rumpun dengan Bahasa Jawa dan memiliki penutur sekitar 300 ribu orang di seputaran Banyuwangi, Jawa Timur. Syair lagu ini memiliki pesan sindiran terhadap pendudukan Jepang yang menyengsarakan rakyat sehingga menyebabkan penduduk miskin harus mencari tanaman genjer untuk menyambung hidup.

Mari kita simak syair lagu Genjer-Genjer dalam Bahasa Osing serta terjemahannya dalam Bahasa Indonesia seperti dimuat di situs Wikipedia Indonesia.

Versi asli

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emake thulik teko-teko muputi genjer
Emake thulik teko-teko muputi genjer
Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tulih-tulih
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar
Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar
Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar
Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar
Emake jebeng podho tuku nggowo welasah
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Setengah mateng dientas yong dienggo iwak
Setengah mateng dientas yong dienggo iwak
Sego sak piring sambel jeruk ring pelonco
Genjer-genjer dipangan musuhe sego

Terjemahan Bahasa Indonesia

Genjer-genjer di petak sawah berhamparan
Genjer-genjer di petak sawah berhamparan
Ibu si bocah datang memunguti genjer
Ibu si bocah datang memunguti genjer
Dapat sebakul dia berpaling begitu saja tanpa melihat ke belakang
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Ditata berjajar diikat dibeberkan di bawah
Ditata berjajar diikat dibeberkan di bawah
Ibu si gadis membeli genjer sambil membawa wadah-anyaman-bambu
Genjer-genjer sekarang akan dimasak

Genjer-genjer masuk periuk air mendidih
Genjer-genjer masuk periuk air mendidih
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Nasi sepiring sambal jeruk di dipan
Genjer-genjer dimakan bersama nasi

Syair yang sederhana namun indah dan menyentil, bukan?! Lagu ini kemudian merebak kepopulerannya sehingga disiarkan di radio-radio dan turut direkam oleh beberapa penyanyi, di antaranya Bing Slamet dan Lilis Suryani. Kekuatan lagu ini terutama terletak pada syairnya yang menggambarkan penderitaan rakyat miskin sehingga akhirnya menarik perhatian PKI dan mengangkat lagu ini sebagai salah satu lagu kampanye yang marak dinyanyikan. Lambat-laun lagu ini pun melekat pada identitas PKI dan simpatisannya. Sudah tidak mungkin lagi untuk berbalik arah; lagu ini akhirnya terseret ke kancah politik.

Setelah PKI ditumpas dan para simpatisannya dipenjarakan atau dibunuh, lagu ini masuk dalam daftar terlarang oleh pemerintah Orde Baru dan orang lalu mengasosiasikannya sebagai lagu seram. Pelarangan tersebut baru berakhir setelah Orde Baru tumbang dan lagu ini kembali ramai diperdengarkan meski kontroversinya masih seru dan tidak semua orang nyaman mendengarkannya. Hasil indoktrinasi puluhan tahun nampaknya belum mampu dihapus sampai hari ini sehingga ada semacam perasaan miris dan kuatir ketika mendengarkannya. Saya pun memilih bersikap hati-hati dan tidak mau terlihat terlalu menikmati meski saya akui musiknya sangat enak didengar. Butuh waktu bagi kita untuk kembali nyaman mendengarkan lagu ini dan tampaknya respon atas lagu ini semakin hari semakin baik meski penerimaan masyarakat terhadap PKI tetap sangat rendah.

Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa lagu Genjer-Genjer telah menjadi korban tebasan pisau sejarah. Makna aslinya yang mengisahkan penderitaan rakyat pada masa Perang Dunia II telah digeser oleh PKI dan diremukkan oleh Orde Baru sehingga pada saat ini kita mendengarkannya dengan perasaan risih.Β Oleh karena itu saya ingin mengajak Anda untuk menyelami lagu ini apa adanya dan melepaskan asosiasi terhadap PKI. Hayati dulu syairnya dan uraikan pesan apa yang Anda tangkap dari lagu tersebut. Saya sisipkan lagu Genjer-Genjer yang dinyanyikan oleh Bing Slamet untuk ‘pemanasan’.

Alunan musik dan syair yang indah, bukan?! Sekarang saya ingin berbagi kepada Anda sebuah video lagi yang direkam oleh kelompok musisi Dengue Fever asal San Francisco, Amerika Serikat, yang menerjemahkan lagu Genjer-Genjer ke dalam Bahasa Khmer (Kamboja) dan menyanyikan dengan sangat powerful. Hampir semua kata diterjemahkan ke bahasa tersebut kecuali beberapa kata Osing yang tetap dipertahankan. Perhatikan juga lafal si bule ketika mengucapkan kata ‘Genjer-Genjer’ dalam sambutan perkenalannya. πŸ˜€

Bagaimana? Masih terasa risih mendengarkan lagu ini? Ditunggu tanggapannya. πŸ™‚

Advertisements

44 thoughts on “Genjer-Genjer: Korban Tebasan Pisau Sejarah

  1. penyanyinya sexy πŸ˜€
    suaranya enak didengar
    terus itu orang kambodia nyanyiin lagu itu dlm bhs mereka, ada royalti nya ga tuh ya buat pengarangnya πŸ˜€

    btw, bapa pun masih terkenang tuh sama lagu genjer2 ini,
    dan ya selalunya dikaitkan dengan orang2 PKI 😦
    padahal mah itu 2 hal yg berbeda bukan?

    Like

    1. iya itu 2 hal berbeda. posisi saya jelas, saya bukan pendukung PKI atau paham komunisme. akan tetapi lagu ini terlalu indah untuk dilarang dan harusnya dilepaskan dari citra PKI πŸ™‚

      Like

    1. memang saya juga. kemaren waktu di jalan sempat terngiang lagu ini dan gak sadar bersenandung. malah jadi takut sendiri wakakakakak

      Like

  2. Dalam suatu kesempatan sekitar 3 tahun lalu,saya pernah tidak sengaja memperdengarkan lagu ini dalam ruang kerja.hasilnya semua orang melihat dengan mata sinis dan ada yang nyeletuk ” PKI nih bos ? ”

    Saya setuju bahwa tidak ada yang salah dari lagu itu hanya paradigma PKI yang begitu kuat sehingga menjadikan lagu itu seolah tabu.

    Like

    1. coba baca artikel Wikipedia tentang lagu ini bro. di situ disebut bahwa Ki Narto Sabdo hanya mengaku-aku sebagai pencipta. CMIIW. Ditunggu bantahan dan pencerahannya πŸ˜€

      Like

  3. tahun lalu saya pernah menyenandungkan lagu genjer-genjer saat naik bis kota. saat itu saya pakai headset. baru sebait, “Genjer-genjer nong kedokan pating keleler” penumpang di sebelah saya langsung menunjukkan ekspresi aneh. mungkin ia mengira saya orang PKI.

    saya beritahu, “ini lagu Bing Slamet” sambil nyengir. dan akhirnya iapun berdiri, dan pindah ke bangku lain yg masih kosong. hehehe

    itulah fakta, betapa rakyat kita memang banyak yang menjadi korban keganasan sejarah! tak bisa membedakan mana karya seni dan mana propaganda

    Like

  4. Lha, partai komunis kita dulu kan termasuk golongan nasionalis yang dapat banyak dukungan rakyat. Jadi tidak aneh jika banyak lagu-lagunya membangkitkan semangat juang rakyat untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan.

    Karena upaya pengkultusan para pemimpin orde baru dan menyelenyapkan lawan politik terbesar mereka selama orde lama untuk selamanya, maka terplintirnya sejarah mungkin termasuk pada nasik lagu ini.

    Yah, mau bagaimana lagi.

    Like

  5. Saya baru ini membaca syair dan mendengar lagu genjer-genjer. Syairnya jelas menceritakan kepedihan rakyat. Lagunya bagus, lebih bagus lagi kalo dinyanyiin orang osing. Stigma yang dilekatkan orde baru melekat begitu dalam, tapi generasi yang lahir 1990-an saya pikir tidak akan peduli dengan cap jelek yang ditanamkan orba.

    Like

  6. Saya baru ini membaca syair dan mendengar lagu genjer-genjer. Syairnya jelas menceritakan kepedihan rakyat. Lagunya bagus, lebih bagus lagi kalo dinyanyiin orang osing. Stigma yang dilekatkan orde baru melekat begitu dalam, tapi generasi yang lahir 1990-an saya pikir tidak akan peduli dengan cap jelek yang ditanamkan orba.
    Kalo saya sih denger lagu ini enjoy aja, cuy…

    Like

  7. Keren Opa!

    mungkin saya lahir di era 80an dan besar di 90an. walaupun sudah tidak seseram mereka yang besar di generasi sebelum saya, namun “citra” seram PKI masih terasa pada jaman saya itu. Kalau anak-anak yang hidup di jaman skrg rasanya ngga terlalu mengalami indoktrinasi tersebut kali yah?

    saya kemarin baru baca lagi Naked Traveller 2 by Trinity yang mengisahkan kaos dengan lambang arit khas komunis yang dia beli di Vietnam namun dia ketakutan setengah mati untuk mengenakannya di Indonesia. Katanya sih lambang itu bikin resah masyarakat. hmm..entah yah. kayaknya cuci otak OrBa cukup berhasil pada jaman itu kepada masyarakat kita. yang salah sih sebenernya orang2nya, bukan fahamnya bukan? sama kayak agama, fahamnya semua baik. yang ngaco biasanya orang2nya. eits…komen saya sampai sini aja, nggak usah diterusin. hahahaha

    Like

  8. jadi ommm… lagu genjer-genjer ini asalnya dari mana? maap kalau saya kurang konesen bacanya tapi saya nggak nemu asala lagu ini hhe…

    baru pertama saya tau ada lagu seperti ini dan punya nilai sejarahnya. πŸ˜€

    Like

  9. baru tahu sejarah lagu ini,,dan tentu bukan lagunya yg salah..kasihan lagu ini.. 😦
    kayaknya, lagu ini cocok utk menggambarkan kondisi rakyat kita saat ini ya,.. 😦

    Like

  10. Untunglah Praktisi Seni Musik di Indonesia tidak terpengaruh dengan ‘racun’ paham Orde Baru akan lagu ‘Genjer-Genjer’ …ini terbukti dengan diakuinya lagu ‘Genjer-Genjer’ sebagai 150 lagu Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia (GG ada di peringkat 105)

    Like

  11. Jujur Mas, saya adalah anak kecil di masa “film itu” layak eh atau wajib tayang sehingga jelas masih kebayang apa yg dilihat saat lagu ini diputar. So, supaya tidak mengungkit “luka lama” maka menurut saya lagu ini menjadi korban dari kecanggihan seni film yang notabene dijadikan alat politik. Ibarat senjata bambu runcing dilawan dengan senapan mesin, tentu berdarah-darah bukan?

    Like

  12. sejarah memang punya mereka yg berkuasa, termasuk lagu gendjer2 ini. orang kalo sudah ketakutan ya semua yg berbeda harus dilarang.

    anehnya, sekarang jg muncul pola sama oleh milisi berkedok agama. semua yg dianggap berbahaya harus dimusnahkan. oalah. sejarah pun kembali berulang. kali ini beda korbannya.

    Like

  13. saya melewatkan diskusi menarik di sini…

    ya, pisau seram orde baru sudah merusak banyak hal. terutama karena pisau itu meninggalkan luka stigma yang parah.

    30 tahun bukan waktu yang cepat untuk mengembalikan gerbong sejarah ke rel yang semestinya, termasuk sosok, organisasi, paham dan kebudayaan sebagaimana lagu genjer-genjer ini.

    anyway, sudah sewajarnya kita, generasi sekarang ini yang berusaha mengembalikan pemahaman sejarah pada tempat yang layak. bukan bermaksud menghapus kotoran, tapi hanya memberikan ‘kaca mata’ yang jernih biar kita bisa melihat dengan lebih baik, tanpa dikeruhkan oleh pretensi macam-macam…

    thanks

    Like

  14. Waktu saya mendengarkan lagu genjer-genjer dgan teman saya,,
    Kemudian kita juga ikut nyanyi
    Eh tiba-tiba ayah teman saya datang tanpa bicara apaun hp teman saya langsung aja di banting sampe rusak sama ayahnya
    Wah kenangan lagu ini ternyata sangat melekat di hati mereka

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s