My Life as Nazaruddin

Sumber: tribunnews.com

Nazaruddin adalah nama yang paling banyak disebut, dipuji dan dicaci dalam beberapa bulan terakhir, namun utamanya seminggu terakhir setelah ditangkap di Kolombia dan selamat dipulangkan ke Indonesia. Namun sejumlah pertanyaan dan dugaan masih bertebaran dan membuat masyarakat umumnya meragukan keadilan akan berlaku dalam kasus ini dan juga pesimis bahwa pihak-pihak terkait akan diseret ke pengadilan.

Saya bukan Nazaruddin dan tidak mampu menerka dan menyelami kegalauannya saat ini. Namun sebuah ide blog yang tak sengaja saya temukan akhirnya memacu saya juga untuk menuliskan ‘terawangan’ saya. πŸ˜€ Mari kita coba memahami dunia dari sudut pandang yang bersangkutan.

1. Saya Tahu Saya Salah

Bahwa saya memang menyesal telah melakukan korupsi di Wisma Atlet di Palembang tersebut; namun penyesalan itu lebih karena terlanjur ketahuan.

2. Saya Merasa Dibuang

Utamanya oleh partai saya sendiri yang tadinya merupakan kawan seperjuangan dan (sebagian) juga ‘kawan sepermainan’, kini menghujat saya ramai-ramai. Mereka menganggap diri mereka suci dan sayalah kambing hitamnya. Saya sakit hati. Oleh karena itulah saya bernyanyi menuding kanan-kiri sewaktu di luar negeri. Biar tahu rasa mereka semua!

3. Saya Takut

Oleh karena itulah saya lari ke luar negeri. Saya sudah tahu bahwa tidak akan pernah saya mendapatkan keadilan di negeri sendiri dan saya akan tenggelam sendirian sementara orang lain yang menjadi kawan sepermainan saya tetap tampil suci dan akan menang di Pemilu 2014. Saya takut pulang ke tanah air dan memilih menghabiskan uang di luar negeri sambil berharap ada negara kecil yang bersedia menampung saya.

Namun malang tak dapat ditolak dan untung tak dapat diraih, saya ditangkap ketika sedang berlibur, diborgol dan dipertontonkan ke publik, lalu dipulangkan ke tanah air secara paksa. Kini saya takut menyentuh makanan dan minuman yang tersedia karena bisa saja mengandung racun yang ditaruh oleh kawan a.k.a. lawan politik saya. Saya cemas menanti pemeriksaan; apakah saya akan dianiaya? Apakah saya boleh didampingi pengacara? Apakah keadilan akan ditegakkan? Apakah Tuhan masih mau bersama saya?!

4. Saya Mencintai Keluarga

Saya terbayang akan wajah istri dan anak-anak saya, serta keluarga besar yang lain. Saya bersyukur Neneng tidak sempat ditangkap dan berdoa agar perempuan itu cukup lihai untuk tetap bersembunyi di luar negeri. Saya berdoa kiranya anak-anak saya tetap sehat walafiat dan suatu saat dapat dipersatukan kembali dengan ibunya. Biarlah saya menanggung beban ini sendirian, tidak perlu melibatkan mereka. Mereka layak hidup tenang meski tidak dapat lagi kembali pulang.

Ah, saya rindu mereka.

===

Disclaimer: ‘My Life as …’ adalah sebuah ide blog yang (sayangnya saya lupa ketemu di mana) mengajak kita untuk menempatkan diri pada posisi orang lain, misalnya selebriti terkenal atau tokoh yang hangat dibicarakan masyarakat dan mencoba menggali pemikiran dari sudut pandang orang tersebut apa adanya; jujur meski bertentangan dengan norma.

Apakah Anda mau mencobanya juga? Tinggalkan link postingan Anda setelah selesai ditulis ya. πŸ˜€

Advertisements

26 thoughts on “My Life as Nazaruddin

  1. Entah kenapa saya melakukan keisengan ini, Mas Brad. Maafkan saya ya … jujur terkadang otak ini tak bisa berhenti mencari-cari ide “brilian” seperti ini. Perkenankan saya menyampaikan kata-kata …
    Buat keluarga besar saya: Maaf lahir batin ya … kan mau lebaran. Sampai ketemu di kampung πŸ˜›
    Buat teman-teman partai: Sabar ya … keadilan pasti tegak. Harapan itu masih ada πŸ™‚
    Buat musuh-musuh saya: Bertobatlah … masih ada 13 hari Ramadhan. Ampunan-Nya selalu terbuka.
    Buat para penegak hukum: Berlakulah adil … karena adil lebih dekat dengan takwa.
    Buat Mas Brad: … hmmm saya pinjam URL-nya biar ada link posting tentang “My Life is as …” πŸ˜€

    Like

    1. wakakakak kok malah link blog saya sendiri ya? emang bisa berguna buat SEO gitu?

      Eh iya, selamat berlebaran ya. Sabtu ini tetap ditunggu di #bukberdeBlogger

      Like

  2. hm, saya setuju tentang dibuang partai. Kalau saya:
    saya memang bersalah dan korupsi, untuk itu saya berupaya melakukan pengalihan isu. Sambil saya mencari langkah-langkah agar saya dan aset saya tidak menjadi sitaan negara. Saya takut pulang ke Indonesia, bagaimana masyarakat tahu apabila saya adalah pembual besar. Apalagi masyarakat mulai geram dengan kelakuan saya.

    Saya ingin mengikuti jejak Edi Tansil, yang hingga kini tidak diketahui keberadaannya, dan tentu saja luput dari hukum yang siap menjeratnya. Tapi sayang kini saya tertangkap, sungguh hal memalukan untuk mengakui kesalahan saya, apalagi yang memfitnah orang partai.

    Kini saya merasa berjuang sendirian, padahal waktu korupsi mereka mengetahui nya…

    Like

    1. wow, menarik sekali pemaparannya. ya, alasan yg dikemukakan valid juga.

      ah semua juga valid, orang namanya imajinasi. hehe. thanks for sharing ya πŸ˜€

      Like

  3. jyaaahh kirain apaan ternyata brader lagi berimajinasi to.. hahahahaha πŸ˜€

    saya juga suka berimajinasi brad, mencoba membayangkan untuk menjadi orang lain. tapi sama sekali belum kepikiran untuk berimajinasi menjadi seorang politikus kayak brader.. haaaahh, aya-aya wae..

    Like

  4. mencoba menempatkan diri agar bisa berkomentar dengan baik untuk tulisan ini ternyata tidak mudah kawan, tapi
    setelah membaca postingan ini
    yang muncul dikepala saya adalah sebuah pertanyaan…

    kalau Tuhan saja bisa memaafkan lalu kenapa saya tidak bisa?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s