Melepas Jilbab

“Brad, gak salah lu bikin judul tulisan?!”

Nggak, saya sedang tidak meracau ketika mengetik judul tulisan tersebut. Seorang teman karib saya memutuskan untuk melepas jilbab yang telah dikenakannya selama hampir 20 tahun. Saya masih ingat ketika berkenalan dengannya di SMA dan bersama tergabung di unit marching band sekolah. Sebenarnya saya tidak terlalu mengenalnya ketika itu dan hanya sebatas ‘Hi-Bye’ Friends saja. Tak lama setelah berkenalan di kegiatan sekolah tersebut, sang gadis memutuskan mengenakan jilbab. Pergumulan yang tidak mudah.

Sebenarnya saya tidak terlalu dekat dengannya karena masing-masing terlibat kesibukan berbeda. Baru di tahun terakhir sekolah kami sering mengobrol lagi karena secara tidak sengaja saya masuk ke lingkaran pergaulan teman-teman di mana sang gadis pun ada. Di situlah sedikit demi sedikit saya mendengar cerita bahwa keputusannya mengenakan jilbab bukanlah sesuatu yang mudah. Mind you, kesadaran tentang beragama dan penampilan yang menegaskan identitas agama seseorang, dalam hal ini jilbab yang jauh lebih menutup aurat ketimbang kerudung, masih sesuatu yang belum lazim. Orang tuanya pun mencoba bernegosiasi, “Gimana kalau sewaktu kuliah saja? Atau setelah menikah saja?” Namun akhirnya orang tuanya mengizinkan. And how she looked happy when she wore it for the first time to school. Saya hanya melihat sekilas waktu itu karena kelas kita berbeda, pergaulan kita berbeda, dan yah, agama kita berbeda sehingga berpengaruh pula pada lingkaran yang berbeda. Mind you, saya pun masih belum celik benar soal agama dan tata krama pergaulan antarumat sehingga secara tidak sadar memilih menjauh.

Lama sesudah itu baru kami sering mengobrol lagi dan saya berkesempatan bertanya mengapa dia memilih berjilbab. She looked so outgoing and it didn’t fit her to wear such closeting headscarf (begitulah kira-kira komentar saya waktu itu). Saya agak lupa dengan jawabannya, namun pastilah hal itu berhubungan dengan keyakinan beragama yang menuntut totalitas dalam keseharian. Meski hal itu berarti bertentangan dengan banyak orang dan membukakan mata terhadap batasan, dan sampai taraf tertentu, diskriminasi. Hal itu terutama terjadi setelah ia berkuliah di luar negeri. Namun ia menjalani semuanya dengan ikhlas dan rela. Hanya satu yang ia minta: untuk dimengerti.

Setelah hampir 20 tahun berlalu. Dia tumbuh menjadi seorang perempuan dengan dua anak yang mengagumkan. Ketika fisik menjadi dewasa, maka pemikiran pun demikian. Pandangan SMA yang sebagian besar naif tergantikan oleh pertimbangan-pertimbangan dewasa yang lebih jauh jangkauannya, apalagi dengan faktor keluarga yang membuatnya mesti hati-hati melangkah. Somewhere along the way, tiba-tiba ia tersadar bahwa jilbab itu ternyata mengurung kepribadiannya. Bahwa ketaqwaan kepada Tuhan YME tidak berhubungan dengan pakaian yang ia kenakan namun hati yang ikhlas dan rela. Namun perjuangannya kali ini lebih berat nampaknya. Dunia sudah jauh lebih toleran dengan pakaian tertutup dan ada semacam norma tidak tertulis bahwa perempuan yang beragama Islam, apalagi setelah menikah, selayaknya menutup kepalanya. Kepada keluarganya pun ia mesti butuh waktu menjelaskan. Sedangkan kepada dunia, ah, hanya ketakutan akan celaan yang membayang. Di luar inner circle-nya, sayalah yang pertama kali berani ditemuinya dengan pertimbangan karena saya beragama yang berbeda maka kadar keterkejutannya tidak akan besar. Hmm, rupanya saya dijadikan kelinci percobaan. πŸ˜€ Saya memang tidak terkejut namun saya bertanya, mengapa?! Jawabannya yang panjang bisa saya sarikan di sini:

“Saya ingin nyaman, saya ingin menjadi diri sendiri. Jilbab itu bukan saya. Hubungan pribadi dengan Yang Mahakuasa tidak bergantung pada hal-hal fisik. Agama saya mementingkan kenyamanan pengikutnya juga.”

Siapakah saya yang bisa menghakiminya dalam bentuk apapun? Siapa yang bisa mengaku lebih benar di dunia ini? Seorang pun tidak. Pada hari-hari ini ia sedang menjalani hidup barunya dengan cukup berat: dicemooh banyak orang dan bahkan dijadikan objek penderita oleh teman-temannya di beberapa social media. Meski demikian ucapan-ucapan dukungan pun tidak kalah riuh yang datang yang menunjukkan bahwa masyarakat kita sudah jauh lebih dewasa dalam menghargai pandangan pribadi masing-masing dan bahwa perbedaan dapat mengalir dalam setiap sendi kehidupan kita yang berwarna. Semuanya dijalani dengan ikhlas dan rela.

Ilustrasi (sumber: Facebook)

===

DISCLAIMER: Tulisan di atas adalah pandangan pribadi saya terhadap kisah ini. Saya membuka seluas-luasnya kesempatan bagi para pembaca untuk berkomentar. Namun demi alasan untuk tidak menyakiti perasaan yang bersangkutan, maka komentar yang bersifat menghakimi akan saya moderasi (tidak sama dengan dihapus, hanya yang kasar akan langsung dicoret). Saya mohon maaf sebelumnya atas keputusan ini. Terima kasih.

Advertisements

43 thoughts on “Melepas Jilbab

  1. hmmm…secara pribadi saya menyayangkan, memang sekarang banyak orang yang memilih jalan yang dia rasa nyaman, soal itu bertentangan dengan norma agama yang dianutnya justru dia merasa tidak ada yang salah selama masih merasa nyaman, sebenernya aturan tetep aturan, mau g enak juga pasti ada baiknya, seperti klo sedang buru ke kantor ato sekolah karena udah hampir telat, di jalan malah kena macet, lampu merah lagi, makin g nyaman rasanya, dan rasanya pengen nerabas aja tu trafic light, tapi jika itu dilakukan, pun klo selamat sampe seberang apakah itu artinya baik? g juga, mungkin dia lolos dari tabrakan, lolos dari tilang, tapi next time hasilnya bisa beda, ya jelas ini karena ada aturan yang dilanggar, aturan yang dibuat bukan untuk mengekang sebenernya, cuma orangnya aja yang salah memahami

    Like

      1. Itulah kehidupan di dunia yg penuh dgn logika tapi dlm aturan agama mau tau mau kita tetap mengikuti ketetapan ALLAH SWT jika ingin hidup selamat di akhirat nanti .

        Like

  2. yup..memang kembali kepada kitanya sih.
    menutup aurat memang diperintahkan, hanya soal bagaimana bentuknya kembali kepada kepribadian masing2

    dalam pikiran saya, beragama memang harus nyaman meski tentu saja tetap pada koridor yang digariskan ajaran agama itu, bukan nyaman dengan standar manusia aja.

    persoalan menggunakan jilbab dan kemudian membukanya, pasti kembali kepada masing2 orang yg menjalaninya. di lingkungan saya juga banyak koq yg seperti itu, dan saya kira pelakunya sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri, jadi kembali kepada mereka

    Like

  3. hmm ….. *berdehem dulu biar jarinya tidak kepleset*

    ehem ehem …. *kok makin seret ya*

    xixixi …. om bRad jadi gregetan sendiri tuh

    begini, klo dia merasa melepas jilbab lebih nyaman, ya sudah, toh yang ngejalanin dia πŸ™‚ lagipula bagaimana proses dia berjilbab kan tidak kita ketahui juga seperti apa. ga ada masalah kan? ga? ya udah, mari kita makaaan hahahaha

    *dimoderasi ga nih? :P*

    Like

  4. cuman info nih om, saya mau bikin rumah bau eh baru maksud nya hhe blog ke 2 saya nanti datang ya waktu acara gunting pita hihi bantuin tepuk tanggan oke
    bulan 7 tanggal 23 tahun 2011 πŸ˜€

    Like

  5. Hmm (β€•Λ›β€•β€œ).no comment Ζ—ΖšΞ΅ β€Žβ€‹ΩΌ Ζ—ΖšΞ΅ β€Žβ€‹ΩΌ Ζ—ΖšΞ΅ΒΊΒ°ΛšΛš kalo mslh agama mah.tapi yg pasti.. Jilbabin hati lebih bagus..hoho
    Tapi berjilbab memang Islam punya hukum…itu tergantung orgnya..mo dosa apa nggak..
    Tapi kalau buat saya…be my self aja..keinginan pasti ÅÐΒͺ..dan Islam itu indah..

    Like

  6. Komen saya klise sih. Tergantung keyakinan masing-masing. Dan kenyamanan. Kalo udah gak nyaman buat apa dipaksakan? Agama itu urusan pribadi dengan Tuhan kok. Kalo orang lain ikut campur, itu mungkin karena orang2 pada rese+kurang kerjaan kali ya sampe ngurusin pakaian orang laen. Kita gak berhak menghakimi orang lain hanya berdasarkan penampilan luarnya. Emangnya kita siapa sampe bisa ngejudge orang lain? Kaya’ diri sendiri udah paling bagus aja.

    Like

  7. Jilbab sering disalah artikan sebagai kekangan terhadap wanita, mungkin memang dalam agama Islamlah aturan berpakaian itu lebih ketat, wanita Muslim memang diwajibkan menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan yang masih boleh terlihat oleh orang lain, bukan tidak ada maksud dibalik perintah Tuhan itu, jika Tuhan yang memerintahkan pastilah karena Dia yang lebih tau apa yang terbaik bagi manusia, secerdas-cerdasnya nalar manusia, tetap tidak bisa menandingi kesempurnaan pengetahuan Tuhan.

    Semua manusia, baik laki2 atau perempuan semua punya ujian dan godaan yang masing2 berbeda, jilbab dan menutup aurat merupakan salah satu ujian dari Tuhan untuk menguji sejauh mana ketaatan hambanya, entah laki2 maupun perempuan, adanya muslimah yang berjilbab tapi kelakuannya buruk bukanlah alasan dia harus melepas jilbabnya, Jilbab juga jangan hanya dipandang sebatas pakaian saja atau menutup aurat luar saja, yang paling baik adalah jilbab diluar dan jilbabkan hati juga, itu baru sempurna

    Like

  8. arghhhh bodoh sekali dia.. dia pasti akan dilaknat oleh Allah itu.. kafir itu! *komen setandar orang esmosi*

    Menurut saya pribadi Om Brad, samalah dengan orang yg ga pernah berjilbab bertahun2 kemudian memilih berjilbab, proses mereka akan pun seperti itu dengan beliau yg melepas jilbabnya, ada banyak jalan untuk menuju ke yang 1, setiap orang punya jalan yang berbeda untuk menuju-Nya.

    Like

  9. eemm, nganu, eee,…..duh komentar gak ya?? *ditimpuk empunya blog*
    etapi bener kok kenyamanan itu juga penting, dan artinya memang dy belum menemukan kenyamanan dalam berhijab… dan yap, gak perlu komentar yg kagak2.. wong yg njalanin dy, dan yg nerima segala efek dunia dan post-dunia juga dy kan?…
    cuma bisa doain, semoga diberikan kenyamanan yang hakiki oleh Tuhan…

    saya juga gak nyaman sih kalo pas pake jilbab, jadi mendingan gak saya pake #eh πŸ˜›

    Like

  10. Memakai jilbab atau tidak adalah hak setiap orang (perempuan, kalau laki2 sih lain lagi ceritanya, hehehe), bukankah memeluk agama adalah hak setiap orang?, semua keputusan yang diambil tentu saja adalah hak ia juga. Masalah kenyamanan adalah masalah pikiran, jika dalam pikiran alam bawah sadarnya menyatakan jilbab itu enak dan nyaman, tentunya ia tidak risih mengenakannya, malah tentu akan mencari bahan2 pakaian yang sangat empuk dan enak. Jadi intinya berdasar pada apa yang diyakini & apa yang dipikirkan. Pikiran juga mempunyai kekuatan merubah sesuatu, contohnya seperti cerita tadi.

    Ngomong2 tentang jilbab, jilbab juga digunakan di peradaban sebelum islam ada, menurut pendapat saya, islam memilih jilbab untuk perempuan karena begitu berharganya perempuan, begitu mulianya perempuan maka memakai jilbab adalah sesuatu yg mulia, seperti kado yg istimewa untuk seseorang tentu saja bungkusnya pasti indah.

    Jadi kembali lagi pada yg mau atau tidak mengenakan jilbab, itu adalah haknya. Dan agama adalah masalah keyakinan bukan masalah kenyamanan, seperti puasa, tentu saja tidak nyaman apalagi yg kalau siang suka makan coto, tapi karena puasa adalah ajaran yg diwajibkan maka seseorang yang meyakini dengan senang hati melakukannya, Belum lagi ternyata puasa mendatangkan efek yang baik bagi kesehatan, atau yg lagi mau diet juga baik juga lho. πŸ™‚

    keyakinan ternyata juga berkaitan erat dengan cinta, cobalah tengok seseorang yang sedang jatuh cinta, ia yakin dan percaya akan janji2 yang diucapkan oleh pasangan cintanya. walau pada akhirnya ada bentrok. :).

    SO…mau pake atau tidak?, terserah, aku cuma mau ucapkan SADAMDA BASEMEN, salam damai dan bahagia selalu menyertai, amin. πŸ™‚

    Like

  11. Aah, membaca cerita ini saya jadi ingat seorang teman yang baru saja menikah beberapa minggu yang lalu. Pada saat dia sedang fight dengan kerjaannya di Jakarta, dia memutuskan untuk memakai jilbab. Which is membuat saya terkejut dengan keputusannya. Satu kata, dia tampak cantik! Tapi setelah menikah katanya sih sang suami menyuruh untuk melepas jilbab tersebut. Entah dengan alasan apa. Bagaimana hukumnya? Seorang teman menjelaskan bahwa seorang istri wajib menjalankan apa yang diperintah oleh suaminya. Lantas bagaimana dari posisi teman saya tadi? Akhirnya dia sekarang beraktifitas dengan tidak menggunakan jilbab lagi. Beberapa teman bercerita di belakang, tapi itu tidak merisaukannya. toh siapalah kita mau menilai hubungan seseorang secara vertikal dengan TuhanNya? Apakah kita merasa lebih baik? Nice sharing opa!

    Like

  12. sedemikian jauh juga perjalanan ini, semakin bertanya apakah kebenaran itu hanya satu, terlalu banyak mendengar pembenaran diri dari orang orang yang belum juga tentu benar, setiap manusia memutuskan jalannya sendiri menuju sang semesta…
    #true story from my fam: salah satu anggota keluarga besar kami, laki laki, menikahi seorang gadis, juga jilbaban, om kami ini ternyata pemahaman islamnya sangat kolottt, bahkan tidak mau kb, hingga anaknya 7, sementara urusan dunia, parah sekali pengetahuannya, jadilah kerjanya nggak jelas, susah, dll, dengan posisi anak sangat banyak dan harta sangat kurang serta pemikiran yang kolot, setresss… dan akhirnya istrinya minggat dari rumah… saat kita ketemu dia di luar kota, mantan anggota keluarga kami ini sudah tak berjilbab, rambutnya dicat merah dan tampak bahagia… it’s your choice tante, but, every decision have its consequenses…

    Like

  13. Ass.
    Om, saya mau nanya. Kalau misalnya melepas jilbab karena tuntutan dari sekolah. misalnya kalau sekolah biasa pake jilbab, terus kitanya ikut paskibra. dan saat tampil paskibra kita harus buka kerudung, itu berdosa tidak? atau sebaiknya kita mundur saja dari Paskibra? Terima Kasih
    Wass. πŸ™‚

    Like

  14. Mau pake, mau lepas atau enggak sama sekali, kalau pun dia tau itu salah, itu tanggungan sendiri. Tergantung pribadi masing-masing. Yang bisa menghitung amal baik atau buruk seseorang itu hanya Tuhan πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s