The Greatest Team Work: Refleksi #miladeBlogger2

Saya percaya bahwa persahabatan yang kental dalam sebuah komunitas belum teruji sampai mereka ‘diceburkan’ dalam sebuah proyek bersama yang menguji komitmen para anggotanya. ‘Komitmen’ adalah kata yang selalu terngiang-ngiang di kepala dalam 1-2 bulan terakhir ketika Komunitas Blogger Depok ‘deBlogger’ mendapat kepercayaan melaksanakan sebuah acara seminar tentang blog dan ditandemkan dengan miladeBlogger2, sebuah perayaan ulang tahun deBlogger yang ke-2. Sebuah pekerjaan yang ternyata membuat saya kembali harus mendefinisikan arti komunitas yang sebenar-benarnya.

The Beginning

Semua berawal di bulan Mei 2011, tepat setelah riuh-rendah Firefox 4 Launch Party usai. Keempat punggawa di komunitas ini: Aris, Iman, Brad, dan Luvie, tadinya ingin merayakan miladeBlogger2 secara sederhana berhubung kondisi keuangan yang sedang pas-pasan dan tidak ada waktu lagi untuk mencari sponsor. Akhirnya terjadi kesepakatan bahwa acara tersebut akan dilangsungkan di sebuah kafe dengan format menonton film Linimas(s)a. Namun sayangnya setelah itu kita terlena dalam kesibukan pekerjaan masing-masing sehingga follow-up keputusan itu lambat dijalankan. Pada pertengahan bulan Mei itulah Mbak Ajeng melemparkan tawaran menarik: menjadi panitia lokal sebuah acara seminar blog dan sebagai imbalannya diberikan ruang pada seminar tersebut untuk mengadakan miladeBlogger2 dan disupport dalam konsumsi dan berbagai printilan lain. Gayung bersambut, kami menerima tawaran itu.

Sadar bahwa acara ini patut mendapat perhatian ekstra oleh karena tanggung jawab profesional terhadap pihak ketiga, saya sudah dari awal memperhatikan perkembangannya, termasuk merutuki kelambanan kerja kita. Oleh karena semua tenggelam dalam kesibukan masing-masing, praktis tidak ada kemajuan apapun dalam satu minggu dan ketika bertemu lagi di akhir pekan, saya merasa seakan-akan kita kembali ke titik nol. Di sinilah saya melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak patut dicontoh: flipping out alias naik darah. Saya memaparkan dengan jelas bahwa cara kerja seperti ini tidak mungkin saya ikuti oleh karena tanggung jawab terhadap pihak ketiga dan komunitas yang tidak kenal kompromi dan ‘mengancam’ untuk mundur. Akibatnya langsung terasa; atmosfer memanas meski tidak meruncing pada konflik. Entah teman-teman saya memang tidak terpengaruh atau pandai menyembunyikan emosi, nyatanya atmosfer panas itu cepat mereda. Okay, saya memang sengaja menciptakan atmosfer seperti itu dengan harapan bahwa kita semua akan sadar bahwa pekerjaan ini bukan main-main dan jika tidak dipikirkan persiapannya sejak awal, maka minggu terakhir kita akan pontang-panting mempersiapkan segalanya. Selepas itu saya melihat progress kita membaik meski tetap pula terbentur dengan kesibukan masing-masing dan kesulitan waktu bertemu. Jam-jam rapat selalu berlangsung di atas pukul 8 malam dan tentunya menguras tenaga.

Sekitar seminggu sebelum hari H, tampaknya persiapan kita sudah mantap dan segala kemungkinan sudah dipertimbangkan meski berbagai detail pekerjaan belum selesai, atau lupa, atau mentok. 😀 Di sinilah saya menyaksikan mana saja anggota komunitas yang teguh dengan komitmennya. Selain keempat orang yang disebut di atas, masih ada Irma, Iful, Vallen, sampai Syesya yang rela pula meluangkan waktu menjangkau Jakarta dari Depok demi rapat persiapan. Hari-hari menjelang pelaksanaan adalah saat-saat kritis dan di sinilah mental dan kesabaran semua orang diuji. Mulai dari hari Senin saat email sponsor yang sebelumnya tidak ada woro-woro soal koordinasi dan meminta hal-hal yang sebelumnya tidak diperkirakan, sampai komunikasi dengan pihak ketiga yang, well, penuh miskomunikasi, 😀 semuanya memakan energi yang tidak sedikit.

The D-Day

Hari pelaksanaan tanggal 25-26 Juni 2011 pun tiba. Terlepas dari acara yang berjalan cukup lancar di hari pertama, panitia dipusingkan dengan konsumsi makan siang yang datang terlambat dan hal-hal lain sehingga sebagian besar dari panitia tidak bisa duduk diam sepanjang hari. Namun ujian baru benar-benar datang pada hari kedua ketika flow acara dari seminar ke miladeBlogger2 berlangsung tidak mulus karena molor waktu dan persiapan acara yang meski sudah hampir selesai, masih ada hal-hal kecil tapi ribet yang perlu diselesaikan. Di sinilah saya melihat betapa kreatifnya rekan-rekan deBlogger ketika kepepet. Keputusan diambil cepat bahkan oleh anggota yang langsung mengeksekusinya dengan lincah, tanpa perlu persetujuan dari atas. Memang ada beberapa yang bertanya ke saya, “Ini gimana?” dan umumnya saya jawab dengan, “Terserah kamu aja.” Dan voila, it worked! 😀

Pada akhirnya saya tidak bisa mengucap kata apapun selain: SALUT. deBlogger sudah membuktikan diri bahwa kita sanggup bekerja di bawah tekanan apa pun dengan seirama dan komitmen yang baik meski ada catatan kekurangan di sana-sini. Tingkat emosi terpanas pun tidak sampai merasuki hati dan melunturkan komitmen. Pun ketika disangsikan oleh orang lain, kita tetap satu suara. Tidaklah berlebihan jika saya menjuluki mereka: The Greatest Team Work.

Happy anniversary, bloggers. 😀

Advertisements

27 thoughts on “The Greatest Team Work: Refleksi #miladeBlogger2

  1. Terimakasih atas seluruh komitmen panitia
    Benar2 sebuah Tim yang hebat..
    Maafkan kalau saya yang suka merusuh dan yang paling susah disuruh ketemuan…

    Like

  2. selamat buat deblogger luarbiasa…
    kemaren terlihat capeknya opa, sabtu jadi hitam, minggu jadi putih *eh maksudnya warna bajunya* hehehe

    Like

  3. Salut atas kerja keras dan kerja sama tim yg padu dalam kepanitiaan Blogilicious Jakarta serta Miladeblogger2. Acaranya berlangsung lancar dan sukses. Terimakasih kawan-kawan Deblogger! Selamat Milad kedua Komunitas Blogger Depok.
    Kapan2 bikin lagi ya Blogger Idol, saya mau nyanyi lagi nih…hehehe

    Like

  4. om braaaaaaadddd… aku terharu membaca tulisanmuuu.. tumben dirimu menulis sesuatu yang menyentuh begini.. *tersedu*
    efek dirimu yang sedang galau kah? #eaaa

    *lari ngumpet di belakang opa iman*

    Tapi ada sesuatu yang lupa di tulis.. berkat kebijaksini-an om brad.. kita semua pun jadi lebih dewasa dan jadi belajar menghadapi berbagai masalah yang ada untuk kepentingan bersama..

    (so far) it’s the best team work ever! *peluk dan cium semuanyaaaaaa*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s