Monthly Archives: April 2011

Film ‘Tanda Tanya’: Pluralitas atau Pluralisme?

Dear friends,

Menyambung tulisan terakhir bertajuk ‘?’: Para Pembawa Damai di Jantung Kota lalu, saya kemudian menerima banyak sekali tanggapan yang masuk ke kolom komentar yang isinya beragam. Saya mengucapkan terima kasih atas semua tanggapan teman-teman. Yang saya kagumi dari tanggapan teman-teman sekalian adalah bahwa semua respon itu bernada sangat bersahabat meski tidak dipungkiri sarat dengan argumentasi yang mencerminkan pemahaman iman masing-masing, apapun agamanya. Saya menyambut baik dialog terbuka ini.

Namun saya juga memandang perlu menambahkan beberapa poin agar maksud saya menulis review film tersebut tersampaikan. Saya sendiri juga adalah penonton, sehingga pemaparan yang saya tuliskan di blog juga merupakan pendapat orang ketiga; alangkah baiknya jika beberapa hal prinsip ditanyakan langsung ke pembuat filmnya, Hanung Bramantyo. Berikut refleksi saya setelah membaca komentar-komentar Anda:

Continue reading Film ‘Tanda Tanya’: Pluralitas atau Pluralisme?

‘?’: Para Pembawa Damai di Jantung Kota

Apa jadinya bila Yesus itu Muslim?

Bila Muslimah melepas jilbab menggenggam salib?

Bila Tionghoa membersihkan dapur mengucap syahadat?

Bila laskar Islam mempertaruhkan nyawa menjaga gereja?

Fakta-fakta (sebagian menyebutnya ironi) ini tersaji di film baru besutan Hanung Bramantyo yang berjudul singkat ‘?’ (baca: Tanda Tanya / Question Mark). Dengan mengambil tempat di sebuah kampung di Semarang, film ini mengisahkan para penduduk sebuah kampung padat yang di dalamnya berdiri tiga buah tempat ibadah: gereja, masjid, dan klenteng.

Sebelumnya mohon maaf apabila saya ‘melompati’ bagian sinopsis dan langsung merambah refleksi. Film ini sendiri beredar serentak di Indonesia mulai kemarin (7/April) sehingga tidak elok bila saya memaparkan ceritanya sekarang. Yang terbaik adalah agar Anda menyaksikannya dulu. Yang dipaparkan berikutnya adalah refleksi versi saya. Silahkan terus disimak.

Continue reading ‘?’: Para Pembawa Damai di Jantung Kota

Ranking Alexa yang Menggemaskan

Sejak mempublikasikan blog gratisan ini pada tanggal 13 Januari 2011 lalu, saya memasang widget Alexa di blog untuk memantau perkembangan peringkat dari hari ke hari. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan peringkatnya namun lama-lama gemas juga. Di awalnya sih asyik ya. Saya memulai dari ranking 26 jutaan alias paling bawah sekitar tanggal 20 Januari. Awalnya progress peringkat sangat mengesankan; dalam dua hari bisa naik ke 21 juta. Namun setelah itu angka-angka yang dicapai semakin sempit intervalnya sehingga kadang membuat gigit jari. Kalau terus begini, kapan bisa mencapai peringkat di bawah 1 juta dong. 😦

Eh tapi dua hari ini saya melihat sesuatu yang mencengangkan: peringkat saya sudah di bawah 1 juta! Yeay! Raihan ini dicapai dalam waktu dua bulan setengah, namun saya tidak yakin pada pertengahan Juni nanti peringkat saya mampu menempus seratus ribu. Sekarang pertanyaannya:

1. Berdasarkan pengalaman Anda, berapa lama waktu yang diperlukan untuk menaikkan peringkat Alexa dari 900ribuan ke 100ribuan?

2. Trik yang saya lakukan sangat sederhana: ngeblog dan blogwalking. Ada saran tambahan?

Mohon pencerahannya. πŸ˜€

Arumbai Tomma

image: daenggassing.com

Judul di atas adalah semboyan bersemangat yang diteriakkan oleh rekan-rekan Komunitas Blogger Maluku ‘Arumbai’ yang hari ini merayakan hari jadinya yang ke-2. ‘Arumbai’ adalah nama perahu tradisional masyarakat Maluku yang berbentuk unik berupa kepala dan ekor naga pada haluan dan buritan. Sedangkan ‘Tomma’ adalah teriakan untuk maju, utamanya oleh para pedayung di perahu tersebut. Semboyan inilah yang lalu digunakan oleh blogger Maluku agar dapat maju bersama sebagai sebuah komunitas demi kemajuan daerahnya.

Continue reading Arumbai Tomma

Kelas Favorit Saya

Geography class (image from langwitches.org)

Kembali saya akui bahwa Dailypost paling jago memecahkan kebuntuan ide blogger yang sedang tidak tahu hendak menulis apa. Hari ini saya mengangkat topik Kelas Favorit Saya di SMA, sesuai topik yang diberikan Dailypost per tanggal 15 Maret 2011 lalu (sudah cukup lama memang). Sudah lama juga saya meninggalkan bangku SMA namun berbagai kenangan manis masih tetap segar di ingatan. Namun kenangan-kenangan itu umumnya di luar kelas, sedangkan kenangan tentang pelajaran adalah sesuatu yang mesti dipikir dan digali kembali. Nah, kelas favorit saya sewaktu SMA apa ya?

Saya tau banyak yang langsung menebak: Bahasa Inggris. πŸ˜€ Yah, itu memang tidak dipungkiri menjadi salah satu favorit saya. Namun sebenarnya yang benar-benar menjadi favorit bukan itu, melainkan kelas Geografi. Entah mengapa saya selalu merasa excited setiap kali pelajaran Geografi tiba. Entah karena gurunya masih muda dan cantik plus sedang berpacaran dengan seorang guru olahraga berbadan tegap dan berotot incaran para siswi, atau karena materi pelajarannnya sendiri yang menarik. Namun sepertinya faktor keduanya cukup seimbang. πŸ˜€ Berikut beberapa highlight pelajaran Geografi SMA yang masih saya ingat:

Continue reading Kelas Favorit Saya