Film ‘Tanda Tanya’: Pluralitas atau Pluralisme?

Dear friends,

Menyambung tulisan terakhir bertajuk ‘?’: Para Pembawa Damai di Jantung Kota lalu, saya kemudian menerima banyak sekali tanggapan yang masuk ke kolom komentar yang isinya beragam. Saya mengucapkan terima kasih atas semua tanggapan teman-teman. Yang saya kagumi dari tanggapan teman-teman sekalian adalah bahwa semua respon itu bernada sangat bersahabat meski tidak dipungkiri sarat dengan argumentasi yang mencerminkan pemahaman iman masing-masing, apapun agamanya. Saya menyambut baik dialog terbuka ini.

Namun saya juga memandang perlu menambahkan beberapa poin agar maksud saya menulis review film tersebut tersampaikan. Saya sendiri juga adalah penonton, sehingga pemaparan yang saya tuliskan di blog juga merupakan pendapat orang ketiga; alangkah baiknya jika beberapa hal prinsip ditanyakan langsung ke pembuat filmnya, Hanung Bramantyo. Berikut refleksi saya setelah membaca komentar-komentar Anda:

1. Tonton dulu filmnya

Sebagian komentar mencoba menganalisis film ini tanpa terlebih dahulu menonton filmnya. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya sarankan Anda menyaksikan dulu filmnya agar pemikiran Anda tidak berdasarkan informasi “katanya” atau spekulasi. Toh apabila hasil dari menonton film itu menguatkan spekulasi, paling tidak Anda mempunyai pemikiran yang valid. πŸ˜€

2. Tonton filmnya dengan filter

Filter itu adalah pemahaman iman agama masing-masing dengan kuat agar dapat memilah-milah mana yang baik ditiru dan mana yang tidak. Beberapa adegan mungkin akan menggoncangkan alam pikiran Anda karena seakan meruntuhkan pemahaman selama ini.

3. Fakta atau Fiksi?

Hanung sendiri dalam berbagai kesempatan berkata bahwa film ini diambil dari realita, sementara sebagian komentar di blog saya lebih suka menganggapnya fiksi. Tanggapan saya: tidak terkejut apabila ini diangkat dari realita masyarakat, sebab persinggungan agama di beberapa wilayah di negeri kita begitu santainya sehingga antarumat beragama kadang masuk terlalu jauh ke ranah ibadah masing-masing. Terbukti bahwa kultur masyarakat kita, meski satu pulau dan bahkan hanya berjarak beberapa kilometer saja, berbeda-beda pemahamannya.

4. Penggambaran karakter orang/organisasi tak sesuai dengan realita

Menanggapi ini saya lebih sepaham dengan kritik yang masuk. Nampaknya Hanung perlu melakukan riset lebih mendalam sebelum mengangkat sebuah organisasi (dalam hal ini Banser NU).

Di samping soal Banser, ada beberapa hal teknis dalam film ini yang tidak sesuai (dengan selera saya), misalnya pencahayaan di dalam ruangan yang suram dan yellowish. Mungkin memang ini gayanya Hanung ya, sebab beliau sudah menerapkan ciri yang sama sejak film ‘Ayat-ayat Cinta’.

5. Apakah perlu ditiru?

Wah, ini kembali terpulang pada Anda. Saya percaya bahwa ajaran semua agama adalah baik namun masing-masing eksklusif: semua mengklaim bahwa tidak ada jalan kebenaran lain di luar agamanya. Meski demikian setiap agama memiliki tafsiran yang beragam pula spektrumnya, mulai dari ekstrem liberal sampai ekstrem fundamentalis. Oleh karena itu kita akan mempunyai batasan yang berbeda-beda pula dalam memandang persinggungan dengan agama lain di pergaulan.

Catatan akhir: Pluralisme atau Pluralitas?

Sebelumnya perlu digarisbawahi dulu bahwa definisi kedua kata ini sering rancu dan diperdebatkan di banyak forum. Namun saya memahami pluralitas sebagai kondisi kemajemukan masyarakat Indonesia yang berusaha hidup bertoleransi satu sama lain sehingga tercipta keharmonisan dalam hidup bernegara. Sedangkan pluralisme mengacu pada paham bahwa semua agama adalah baik dan mengandung kebenaran.

Saya sendiri mengakui bahwa pemahaman iman saya cukup fundamental, yaitu bahwa saya mengakui firman bahwa Yesus Kristus adalah jalan kebenaran sehingga dengan sendirinya paham pluralisme rontok. Namun melihat fakta bahwa kita hidup di negara yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan kesamaan derajat apapun latar belakangnya, maka pluralitas masyarakat dengan segala keunikannya patut dijaga tanpa diganggu sambil tetap menjaga kemurnian iman sendiri agar tidak lari dari koridornya.

Terima kasih sekali lagi telah meluangkan waktu membaca tulisan ini dan tetap terbuka pada perbedaan prinsip serta mengedepankan semangat keharmonisan hidup bertetangga, bahkan bersaudara. πŸ˜€

===

Sumber gambar: zawaj.com

Advertisements

35 thoughts on “Film ‘Tanda Tanya’: Pluralitas atau Pluralisme?

    1. nah sekarang mau berkomen dl…
      terlepas saya udah liat film nya ato belum, ijinkan sy berpendapat.
      diluaran sana, hanung berpendapat bahwa dia udah melakukan riset untuk membuat film, ntah apa yg di riset sy pun blm tau jawabnya, sy jg lg merisetnya *halah*

      sebenrnya intinya itu untuk apa mempermasalahkan perbedaan, klo semua agama mengklaim merupakan jalan kebenaran.
      menurut pandangan Islam, sikap menghargai dan toleransi kepada pemeluk agama lain adalah mutlak untuk dijalankan(Pluralitas). Namun bukan berarti beranggapan bahwa semua agama adalah sama (pluralisme), artinya tidak menganggap bahwa Tuhan yang kami sembah adalah Tuhan yang kalian sembah.

      jadi perbedaan itu memang ada tapi tidak perlu diperbincangkan.lagi pula untuk apa juga dibuat undang2 yg mengatur kebebasaan memeluk agama #eh.

      *maaf ini hanya sekedar pandangan dari saya πŸ™‚
      maaf jika tidak berkenan πŸ™‚

      Like

  1. Cuman mau mengutip komentar KH. Kholil Ridwan

    β€œSetelah menyaksikan langsung film yang disutradarai Hanung secara utuh, saya mendapatkan kesan, aroma pluralisme agama yang sangat menyengat dalam film ini,”

    Menurut Cholil, pluralisme yang dibolehkan dalam Islam adalah pluralisme sosiologis. Itulah yang dikenal dengan pluralitas. Misalnya saja umat Islam sudah semestinya hidup berdampingan dengan orang Kristen dan umat agama lain, tanpa harus mengorbankan keyakinannya.

    β€œJadi yang namanya kerukunan dan toleransi itu tidak boleh mengorbankan keyakinanya,” tukas Kiai Cholil mengingatkan.

    Like

  2. well, sejauh ini komentar2 yang muncul banyak yang telah merangkum apa yang mau gua omongkan… film ini sarat pluralisme yang terlalu dikacaukan…

    pertanyaan menggelitik saya adalah, kenapa tidak ada wakil dari protestan? πŸ™‚ apakah karena katolik lebih “toleran”?

    diluar kalimat sang pastor bahwa “sejarah membuktikan kalau iman dihancurkan oleh kebodohan” tapi bukankah ignorance adalah hal yang paling utama? sinkretisme tidak jelas yang mencampur adukkan hal prinsip dan tidak prinsip adalah hal yang sangat menakutkan, ketika batasan yang harus ada dilanggar dan dianggap tidak ada atas nama pluralitas, then apa kata dunia?

    but, at the end, terlepas dari perbedaan ini, spt biasa Hanung berhasil mengemas film ini dengan “keberanian-keberanian” dan “ketakaburan” yang mengundang provokasi dan perdebatan. marketing mindnya sgt ok.

    apakah sudah sms soal judul film ini? hadiahnya sebuah mobil kalo tidak salah… πŸ™‚ GBU

    Like

    1. wohohohoho, komentar yg saya tunggu akhirnya muncul. sangat menarik menyaksikan bahwa resistensi lebih besar datang dari kalangan protestan, khususnya gereja-gereja ‘seazas’ dengan kita (ini konteks internal antara saya dgn Haucuen). πŸ˜€ ini sekaligus membuktikan bahwa kritik bukan hanya datang dari pihak Islam namun juga oleh agama lain yang kisahnya terpampang di sini (tinggal menunggu yg Konghucu angkat bicara) πŸ˜€

      dan sekali lagi terbukti, menonton film ini tanpa filter adalah sesuatu yang tidak disarankan πŸ˜€

      Like

  3. Kayaknya mesti segera nonton film ini deh, biar bisa berkomentar dengan pas dan tidak berandai2 or katanya2 or mungkin begini dan begitu.

    Tapi, kenapa ya orang Indonesia, kalau bikin film yang menyinggung agama, negara, seseorang yang dikultuskan, pasti jadi rame aja πŸ˜€

    Buat saya sih kembali lagi ke individu masing2, namanya film ya film, klo emang ada yang tidak pas ya tidak apa2, paling tidak kalau satu hari berada dalam kondisi yang digambarkan di film itu jadi ngeuh gitu πŸ˜€

    *hlO? saya kok berkomentar ya? Hahaha lari lintang pukang*

    Like

  4. Oke, om, saya numpang koment pada tulisan ini, memang hal ini sangat menarik, dan itu perbedaan sudah berlangsung lama, bahkan pada saudara kembar pun ada perbedaan keduanya. Jadi itu sudah harga mati. semua perbedaan itu pasti ada makna dan kebijakzanaan. dan tak ada manusia yg bisa hidup sendiri saja, maka dari itu ada yang namanya pembeli ada pun penjual. Jadi perbedaan itu sungguh nyata. perbedaan bukan untuk bertikai, agama manapun itu kekerasan adalah kebatilan. Jadi, saya hanya ingin mendendangkan. SADAMDA BASEMEN, artinya, salam damai dan bahagia selalu menyertai, amin. πŸ˜€

    Like

  5. Brad, berhubung gue belon bisa nonton filmnya, gue cuma ngasi tanggapan atas tulisan elu aja:) Rasanya dari semua opini ttg film ini yg gue baca, 2 tulisan elu di blog ini emang paling obyektif dan proporsional, wajib share nih, boleh ya? hehe. Penekanan tentang definisi pluralitas dan plurarisme emang penting banget, sering aku cermati orang berdebat kusir tentang pluralisme padahal awalnya mereka tidak mempunyai definisi yang sama. I like your quote : “Semua agama pada hakekatnya eksklusif: kebenaran sejati hanya ada pada agama itu yang diyakini segenap pengikutnya” .

    Like

  6. Pokoknya, dalam Islam, ada perintah benar2 dari Nabi Muhammad SAW, janganlah sebagai umat muslim mengejek atau mempermalukan keyakinan orang lain (non-muslim), karena nanti mereka akan membalas mengejak kaum muslim. Ada jelas perintah itu, dan ini menjelaskan bahwa sejak jaman dulu Nabi Muhammad udah ada toleransi beragama. 😐

    Islam garis keras di Indonesia yang menjelekkan nama Islam… 😑

    *lah gak nyambung ya komentar saya*

    Like

  7. Mau quote ah :

    “pluralitas masyarakat dengan segala keunikannya patut dijaga tanpa diganggu sambil tetap menjaga kemurnian iman sendiri agar tidak lari dari koridornya”

    Kereeeen banget deh tulisan ini, saya acungkan 4 jempol #serius

    Suka tulisan ini sebenarnya sih karena nama saya sering disebut-sebut di sini #blush

    Like

  8. Dengar-dengan film ini dikatakan haram oleh salah satu organisasi… Jika ini dilakukan maka kreatifitas insan perfileman ditanah air ngga akan berkembang dengan baik…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s