‘?’: Para Pembawa Damai di Jantung Kota

Apa jadinya bila Yesus itu Muslim?

Bila Muslimah melepas jilbab menggenggam salib?

Bila Tionghoa membersihkan dapur mengucap syahadat?

Bila laskar Islam mempertaruhkan nyawa menjaga gereja?

Fakta-fakta (sebagian menyebutnya ironi) ini tersaji di film baru besutan Hanung Bramantyo yang berjudul singkat ‘?’ (baca: Tanda Tanya / Question Mark). Dengan mengambil tempat di sebuah kampung di Semarang, film ini mengisahkan para penduduk sebuah kampung padat yang di dalamnya berdiri tiga buah tempat ibadah: gereja, masjid, dan klenteng.

Sebelumnya mohon maaf apabila saya ‘melompati’ bagian sinopsis dan langsung merambah refleksi. Film ini sendiri beredar serentak di Indonesia mulai kemarin (7/April) sehingga tidak elok bila saya memaparkan ceritanya sekarang. Yang terbaik adalah agar Anda menyaksikannya dulu. Yang dipaparkan berikutnya adalah refleksi versi saya. Silahkan terus disimak.

1. ‘Yesus’ itu Muslim? Kok bisa?!

Perhatikan tanda petik satu yang mengurung kata Yesus. Ini menandakan bahwa yang dimaksud bukanlah Yesus yang kita kenal dan percaya, namun mengacu pada tokoh Yesus dalam drama Paskah yang diperankan oleh seorang Muslim. Agus Kuncoro Adi memerankan kegalauan Surya, seorang aktor figuran yang akhirnya mendapat peran Yesus pada perayaan Paskah di gereja dengan sangat baik.

Surya mewakili kegugupan sebagian Muslim saat bersentuhan dengan simbol agama lain, apalagi ketika harus memasuki tempat ibadah mereka dan bahkan mengambil peran dalam ibadah meski hanya dalam wujud drama. Meski hati sudah berdamai dan istiqomah tetap terjaga, selanjutnya sudah bisa ditebak: reaksi menentang dari kedua pihak sama ramainya. Meski demikian, Surya memainkan fragmen dengan sangat apik ketika adegan penyaliban dilakukan. Persentuhannya dengan beberapa pokok ajaran Kristen diserapnya dengan alamiah meski semuanya masuk dalam wacana kognitif; iman Islamnya tidak goyah oleh apapun.

2. Muslimah menggenggam salib? Kok bisa?!

Rika yang tersakiti oleh suaminya yang memilih poligami kemudian mencari penyembuhan pada Yesus dan mengambil langkah berani dengan mengakui keimanan barunya secara formal di gereja dalam bentuk baptisan. Di sisi lain ia harus tetap mengajarkan anak lelaki semata wayangnya menjadi Muslim yang taat.

Peran yang diisi oleh Endhita yang centil namun jujur ini menggambarkan pergumulan seorang Muslimah yang memilihkan meninggalkan agamanya dan memeluk Katholik. Statusnya janda pula, bersahabat dengan pemuda aktor film figuran bertampang serampangan. Lengkap sudah! Bukan hanya pergumulan akan arti Tuhan yang masih ambigu, tentangan dari keluarga dan cibiran ‘murtad’ dari tetangga menyiratkan bahwa perjuangan seorang Islam untuk berpindah agama akan menyulitkannya dari berbagai segi. Perjuangannya berdamai dengan diri sendiri, keluarga, dan Tuhan sungguh menggugah keimanan mereka yang menikmati ‘kemewahan’ dibesarkan dalam ajaran agama yang kuat sejak kecil.

3. Tionghoa mengucap syahadat? Kok bisa?!

Wah, ironinya tidak hanya di situ saja. Bayangkan: sebuah keluarga Tionghoa dimana sang ayah (Hengky Solaiman) yang mengelola restoran Canton Chinese Food dengan daging babi gurih plus kepala babinya yang digantung di depan etalase namun membagi dapur dan segala peralatannya menjadi dua: ‘sisi babi’ dan ‘sisi non-babi’ agar para Muslim yang menyantap hidangan di restoran itu tidak tersandung keimanannya. Pada hari besar agama lain keluarga ini pun dengan ikhlas membagikan makanan. Namun sikap yang berbeda justru ditunjukkan oleh anak lelaki satu-satunya Ping Hen (Rio Dewanto) yang sangat anti terhadap segala sesuatu yang berbau Islam meski belakangan ketahuan alasannya: patah hati.

Keluarga ini mewakili kelompok masyarakat Tionghoa yang harus membentengi budaya di tengah kepungan dua kelompok masyarakat dan agama berbeda. Perhatikan betapa santainya toleransi terhadap agama Islam memasuki restorannya dalam bentuk pemisahan dapur, menyediakan ruang sholat, menyayangi karyawan berjilbab sampai menetapkan libur Lebaran lima hari.

4. Laskar Islam menjaga gereja? Kok bisa?!

Soleh adalah seorang pemuda pengangguran yang bergumul menjadi manusia berarti di mata istri dan anaknya. Sementara istrinya bekerja di restoran Tionghoa yang menyediakan daging babi, Soleh justru menemukan panggilan hidupnya menjadi anggota Banser NU. Meski awalnya ia memahami Banser sebagai pekerjaan yang menghasilkan uang, lambat laun ia menyadari bahwa tugas Banser adalah melindungi keselamatan umat, termasuk yang beragama lain. Itulah jihadnya.

Karakternya yang meledak-ledak seringkali menimbulkan masalah, termasuk menjadi biang keladi penyerangan bermotif agama meski alasannya sepele. Soleh mungkin dapat disejajarkan dengan Ping Hen, putra keluarga pemilik restoran yang juga sama berapi-apinya namun sesungguhnya belum mengerti esensi yang mereka perjuangkan.

Bagaimanakah interaksi individu-individu ini di mata Anda? Melihat gadis berjilbab memasuki gereja membagi-bagikan makanan atau Pastur Katholik yang terbuka menerima kehadiran si pemuda Muslim memerankan tokoh sentral dalam drama gereja? Atau melihat pengunjung dari segala kalangan makan dengan santainya di rumah makan Tionghoa yang menyajikan daging babi? Saya percaya bahwa film ini akan menuai komentar dan kritikan dari agama manapun terutama yang tersaji gambaran umatnya. Mulai dari pandangan paling liberal sampai yang ekstrem fundamentalis akan bersuara sebab memang setiap agama memiliki spektrum luas dalam penafsiran kitab sucinya. Namun sepertinya kita semua sepaham bahwa tabrakan budaya dan agama dalam film ini nampak ekstrem sehingga memancing keterkesimaan banyak orang. Mau tidak mau, suka tidak suka, contoh-contoh ini memang realita yang ada di bawah meski situasional.

Semua agama pada hakekatnya eksklusif: kebenaran sejati hanya ada pada agama itu yang diyakini segenap pengikutnya. Meski ada sebagian orang yang mencoba menyebarkan pesona inklusivisme atas dasar harmoni keberagaman, ia akan tersandung kembali pada ayat “Akulah jalan kebenaran dan hidup” (di Alkitab), atau ayat-ayat sejenis di kitab suci lain. Dengan demikian bagaimanakah kita mendudukkan pemahaman toleransi umat beragama? Ataukah itu hanya jargon semu agar kita tidak diserang?

***

Seperti judul filmnya: semua ironi ini akan terus menjadi pertanyaan dan bahan diskusi tiada habisnya. Namun sepertinya kita lupa bahwa pemahaman religi adalah pribadi dan hanya kita sendiri yang mampu melogikakan dan menjalankan sesuai tafsir sendiri. Satu hal yang saya amini: kita tidak mungkin memahami orang lain dengan kasih dan menganggapnya setara tanpa lebih dahulu memahami Sang Pencipta. Fanatisme tanpa basis hanya membuahkan petaka, sementara kedalaman jiwa menuai tenggang rasa.

Jadi, jalan mana yang kau pilih? Apa pun prinsipmu, semoga perdamaian tetap membungkusmu. πŸ˜€

===

Sumber gambar: tabloidbintang.com & filmtandatanya.com

Advertisements

59 thoughts on “‘?’: Para Pembawa Damai di Jantung Kota

  1. Filem ini bagus, mengkritisi pemahaman general yg ada di benak masyarakat Indonesia yg secara de facto beragam, tp malah banyak yg anti terhadap keberagaman.
    Dalam tataran perenial, semua agama menuju TUHAN yang sama. Anda menyembah apapun itu, bagaimanapun ritual yang anda lakukan, sejatinya ditujukan pada sosok yang mengatasi kelemeahan kita sebagai Manusia, sosok supra natural, kita kemudian mengidentifikasinya sebagai Allah, Tuhan, Yang Esa dan lain-lain.
    Thanks for sharing Om Brad, meski tak bisa nonton, tp saya membayangkan akan sangat menikmati filem ini.

    Like

  2. Wah.. Kalau saya melihatnya justru film ini cerminan kegagapan terhadap perbedaan. Memahami bhineka tunggal ika, bukan berarti kita harus berbaur hingga tak jelas sama sekali perbedaan antara kita. Tapi bhineka tunggal ika adalah menawarkan kesatuan langkah oleh jiwa yang berbeda agama, suku, ras, dll.

    Ketidak setujuan terhadap perbedaan itu disikapi dalam dua hal:
    1. Kekerasan dan pemaksaan agar orang lain mengikuti pendiriannya.
    2. Peleburan identitas sehingga identitas asal sudah tak jelas lagi.

    Yang terbaik adalah membiarkan perbedaan itu ada tanpa kekerasan atau pun peleburan (yang penuh kepura-puraan)

    CMIIW

    Like

    1. dibilang gagap mungkin juga nggak. tapi pun saya akui paham pluralisme yg dianut film ini ekstrem, meski argumen yg lain cukup valid juga: toh keterlibatannya hanya fisik, dari segi spiritual mereka tetap jalan pada keyakinan masing2. makanya terserah pada batasan masing2 orang.

      saya paham hal ini luar biasa, namun sebenarnya kalau kita melirik setting di Jawa Tengah, singgungan2 seperti ini lazim adanya. dan itu realita, bukan pura-pura πŸ˜€

      Like

  3. Keberagaman/perbedaan adalah sebuah keniscayaan, menjadikan hidup mejadi berwarna dan melahirkan simfoni yang indah. Inilah yang biasa dikenal sebagai pluralitas.

    Perbedaan ini dapat benar2 menjadi indah jika ada sikap toleransi. Toleransi yang saya pahami adalah kita bersabar/berlapang hati/menerima keberadaan orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita, berinteraksi secara sosial dan kemanusiaan dengan wajar.

    Dengan demikian kita tetap teguh akan mutlaknya kebenaran masing-masing keyakinan, sambil kita juga menghormati iman yang berseberangan dengan kita.

    Sayangnya film “?” ini tidak menggambarkan toleransi yang indah. Justru pencampur adukan keyakinan dan pemaksaan pembauran atas perbedaan yang ada. Di sini Hanung dengan gegabah banyak menggambarkan kisah yang sangat menyakiti banyak pihak, termasuk saya sebagai muslim.

    Contoh nyata kegegabahan Hanung adalah yang menggambarkan banser sebagai pekerjaan, padahal jelas2 ini adalah aktifitas sosial yang tidak digaji. Hanung menyatakan ia telah melakukan riset untuk film ini, namun dengan kenyataan ini saya sama sekali meragukannya.

    Like

    1. soal banser ok-lah, saya sepaham dgn argumen teman2 NU, ini lebih kepada ketidaksempurnaan Hanung dalam memahami banser. soal adegan2 lain memang membuat kita terperangah dimana keleluasaan toleransi menjadi seolah-olah bablas. Namun sekali lagi spt yg saya ungkapkan pada Zico, ini adalah realita yang lazim terjadi di Jawa Tengah meski situasional (karena itu saya tetap menganggap film ini fiksi). πŸ˜€

      Like

  4. saya belum nonton filmnya, jadi belum bisa berkomentar panjang.
    tapi sepertinya saya setuju dengan komentar Iman di atas.

    menghargai perbedaan tidak lantas berarti menyamakan semuanya kan ?
    pegangan saya selama ini ada dua..
    satu, ayat suci Al-Quran yang berbunyi : untukmu agamamu, untukku agamaku
    kedua, sunnah nabi yang kira2 isinya : barangsiapa yang mengganggu kaum yahudi dan nasrani yang mau hidup damai berdampingan dengan kaum muslim maka artinya sama saja kalau mengganggu saya.

    so far sih itu yang saya pahami.
    setidaknya saya menghargai perbedaan meski saya juga menolak kalau semuanya dileburkan..
    biarkanlah semua berbeda dengan pemikirannya masing2, toh inti dari semua agama adalah perdamaian.

    Like

    1. saya berpikir film ini tidak sampai mempromosikan peleburan, cuma memang batasan pergaulannya kabur sehingga sebagian orang tidak terima, termasuk saya juga. namun sekali lagi, film itu adalah penggambaran realita di daerah itu meski situasional dan jarang.

      paling tidak, kita bersyukur karena Hanung membuat kita berdialog terbuka hari ini. πŸ˜€

      Like

      1. oke, mungkin gambaran saya memang kurang jelas karena belum lihat filmnya langsung πŸ˜€

        dan setuju, Hanung membuka sebuah ruang diskusi baru, tapi saya masih belum berani diskusi lebih jauh. pengetahuan saya cetek banget..:D

        Like

  5. sama-an ama daeng ipul, blom nonton, jadi tidak pantas berkomentar berdasarkan opini orang lain yang membedah atau menonton film ini.

    tapi, berbicara tentang keberagaman dan perbedaan yang semestinya memang indah karena membuat hidup lebih berwarna itu, seringkali dalam prakteknya tidak semudah membicarakannya.

    dan salut buat Hanung yang berani bikin film yang seperti ini, pastinya dia sudah siap dengan segala konsekuensinya, biasanya di Indonesia kan hal2 seperti ini kan rada sensitif hehehe

    Like

  6. belum nonton, Opa..
    walaupun penasaran tapi menurut saya kok film ini kayak enggak mungkin, isu agama buktinya sangat sensitif..
    Hanung sepertinya ingin melewati batas-batas ini…

    Like

  7. sumpah penasaran pengen nonton film ini
    film sepertinya tak seperti film biasanya
    istiemawalah espektasi Rusa

    tapi sayang gak bisa nonton dalam waktu dekat ini
    *nangis di pojokan*

    Like

  8. Baru bisa membayangkan isi film ini dengan baik setelah diulas sama om brad πŸ˜€

    Adegan keluarga Tionghoa bikin saya teringat beberapa hari lalu sempat bikin banner2 buat Ibu2 yg jualan makanan2 cina di halaman gereja katolik, banner2 yg dibuat adalah logo Halal dlm bahasa inggris, cina dan indonesia. karena menurut beliau makanan2 yg dibuat semua Halal, dan saya pun sempat nongkrong disana, tempatnya asyik.. *halah malah promo terselubung*

    Tapi sama dengan yg lain karena belom nonton juga.. jadi yah belom bisa kasih komen2 lain..

    Like

  9. Ketika dia (dan kita), generasi “butir-butir Panca****” memanen pemahamannya dan menebarkan benih di berbagai aspek kehidupan. Entah kita sadar atau tidak, penghayatan kita atasnya sudah demikian dalam (mungkin karena waktu itu kita masih sangat muda) sehingga ketika kemapanan ‘religius’ yang cenderung eksklusif itu menyapa (sesuai umur kita yang semakin tua) maka terjadilah benturan ini … boom seperti bom waktu yang meledak dalam pemikiran dan hati kita semua. Batasan toleransi sudah semestinya diletakkan secara kokoh dalam suatu undang-undang, sehingga masing-masing penganut bisa menjaga kemurnian ajarannya. Wallahu a’lam πŸ˜€

    Like

  10. wah saya belum nonton filmnya
    tapi kalau membaca dari apa yang kau tuliskan, sepertinya film ini terlalu memaksakan.

    Toleransi adalah aku dan kau
    kita saling menghargai dan ini kenyataan πŸ™‚

    Like

  11. Oom Brad.

    Lama sudah saya tak bertandang ke tempatmu. Maaf sebelumnya yach, bukannya saya sombong nich, tapi memang sedang ada sejumlah kesibukan aja nich sampai ngga bisa buka blog temen-temen *cari cari alasan buat nyelamatin muka* hihihihi

    Oom Brad, saya tergelitik untuk membuka reviewmu setelah melihat newsfeed id facebook saya. Well, saya tertarik mau nonton film ini πŸ™‚ Waktu itu saya sempat melihat poster iklannya di salah satu 21. Salut buat Oom Hanung, berani keluar dari pakem standard yg berlaku sekarang *bahkan Rizal Mantovani bikin film horor plus bikini-bikini di Pantai Selatan…ampuuun dech*

    Yap, Indonesia butuh banged film yang menginspirasi seperti ini *saya belum nonton tapi saya bisa tebak ini film bagus*. Indonesia harus dicelikkan matanya agar bisa menerima perbedaaan lebih mudahnya. Saya rasa, film ini wajib banged ditonton oleh semua kalangan, kalau perlu gratis, agar sandungan horisontal antar pemeluk agama yg berbeda tuh ngga ada lagi. Sudah saatnya, kita maju dan ngga melulu ngomongin SARA. Masih ada hal hal yang lebih penting, bukan?

    oh, pertama waktu melihat ‘?’, saya pikir ini ada kaitannya tentang Achmadiyah. Ternyata tidak diceritakan dalam film ini yach?

    Like

    1. kebetulan bukan tentang Ahmadiyah. Saya setuju agar akses ke film ini lebih dibuka ke masyarakat agar lebih banyak yg menonton. tapi para penonton perlu diingatkan agar menyerap setiap adegan dengan filter pemahaman iman masing2 agar tau batasan: mana yg bisa diterapkan dan mana yg lebih baik dibiarkan sebagai fiksi.

      soalnya, meski semua adegan itu nyata adanya dan terjadi di sejumlah daerah meski dalam skala personal dan situasional, secara umum singgungan antarumat yg ada di film ini masih terlalu ekstrem πŸ˜€

      Like

  12. Hm.. mungkin ada sedikit kekeliruan tapi saya cuba komen berdasarkan pemahaman saya dari Malaysia..
    Kalau di Malaysia,isu agama yang dipaparkan dalam filem mungkin sensitif terutama melibatkan Muslim. hal seperti Muslim sebagai Yesus (adakah Jesus dlm Krisitan?) boleh menimbulkan kemarahan kerana dirasakan Islam dipermainkan. tentang muslim memegang salib juga boleh dijadikan isu. tentang tionghua mengucap syahadah tidak besar isunya, tentang askar Muslim jaga gereja pada pendapat saya tidak menjadi isu kerana Islam tidak melarangnya. tapi tak pasti pandangan orang lain.. rasanya terlalu byk kalau saya nak beri ulasan..
    tapi kalau filem sebegini ditayangkan di Malaysia, saya yakin ia akan jadi kontroversi…

    Like

    1. first of all, situasi politik dan pertukaran budaya antara Indonesia dan Malaysia berbeda. jadi sudah pasti film ini akan menimbulkan kontroversi di Malaysia.

      kalau Zool berminat, boleh saya kirim filmnya kalau DVD-nya sudah keluar, tapi harap menonton dengan filter agama sendiri ya πŸ˜€

      Like

  13. Sudah nonton makanya baru berani komentar πŸ™‚

    Karena menghargai perbedaan itulah maka saya kurang setuju dengan alur cerita film ini yang mengemas pluralisme dengan mencampur adukkan fiqih dan akidah agama. Menghormati tidak harus memaksakan aturan yang salah, pluralisme memang tidak akan pernah bisa diterapkan.

    Like

  14. Hai! Akhirnya udah nonton film ini. Dan ada beberapa hal yang mengganjal bagi gue tapi mungkin belum diungkap sama yang lain:

    – Ucapan salam “Assalamualaikum” cuma boleh diucapkan untuk sesama muslim. Dan non-muslim juga gak perlu jawab “Wa’alaikum salam” (bahkan gue berasumsi non-muslim gak tahu artinya. Dan gak harus tahu juga sih^^). Jadi agak aneh kalo non-muslim jawab begitu. Sebagai orang yang katanya muslim, seharusnya Hanung tahu itu.

    – Dialog si pemilik rumah makan, “Untuk menghormati umat muslim, selama bulan puasa, kita enggak jualan babi” bikin gue agak bingung. Emangnya kenapa kalo jualan babi? Toh di luar bulan puasa, umat muslim juga gak makan. Menurut gue, ini toleransi yang gak nyambung.

    – Trus bagian si Hen yang pengen rumah makannya buka di hari kedua lebaran, tapi ibunya protes dan bilang, biasanya lima hari. Menurut gue, gak apa-apa lah, buka di hari kedua. Harusnya gak jadi masalah. Toh mall aja udah rame di hari kedua lebaran. Hehehe. lagian, siapa tahu ada yang pengen ngerayain lebaran, makan-makan di situ. Bisa aja kan?! ^_^

    Ada hal lain yang juga terasa aneh bagi gue, tapi enaknya entar aja gue tulis di blog gue. Takut kepanjangan di sini. Hehehe.

    Intinya sih kesimpulan gue: Hanung males riset dan males mikir!

    Oh! Terakhir, endingnya lebay banget, bo!

    Like

    1. Thanks atas komentar Anda. Berikut respon saya:

      1. Anda sepertinya harus belajar budaya Timur Tengah non-jazirah Arab. Bangsa Arab pun ada yang beragama Kristen dan mereka mengucapkan ‘Assalamualaikum’ dan menjawab ucapan salamnya layaknya umat Islam. Kata itu universal di sana layaknya kita berucap ‘Selamat pagi’ di sini. Jadi bagi saya juga tidak aneh meski saya memilih tidak menggunakannya jika berhadapan dengan Muslim di Indonesia

      2. Dialog pemilik rumah makan: itu pendapat pribadi si pemilik resto. Saya akui itu dialog yang gak nyambung dengan tema film meski tidak bisa disalahkan juga jika ada yg berpendapat begitu

      3. Sama dgn poin 2, ini bagian dari fiksi yg tidak mempengaruhi tema film

      ditunggu postingan di blognya ya πŸ˜€

      Like

      1. Kalo gitu, yuk sama-sama belajar^^. Budaya belum tentu benar. Bahkan dari Timur Tengah sekalipun. Mungkin di sana memang akhirnya menjadi kebiasaan. Saya juga tahu ada non-muslim yang suka mengucapkan itu di sana. Karena itu, ada juga aturan dalam Islam bagaimana menjawabnya. “Assalamualaikum” bukan cuma sekadar ucapan, tapi juga doa. Jadi berbeda dengan ucapan “Selamat pagi” atau semacamnya. Terlebih lagi, dalam kata “Assalamualaikum” terdapat salah satu nama Tuhan bagi umat Islam, yaitu “As-salam”. Jadi seharusnya memang untuk sesama muslim.

        Like

  15. Saya sependapat dengan pikiran bang Brad : “Semua agama pada hakekatnya eksklusif: kebenaran sejati hanya ada pada agama itu yang diyakini segenap pengikutnya. Meski ada sebagian orang yang mencoba menyebarkan pesona inklusivisme atas dasar harmoni keberagaman, ia akan tersandung kembali pada ayat β€œAkulah jalan kebenaran dan hidup” (di Alkitab), atau ayat-ayat sejenis di kitab suci lain. Dengan demikian bagaimanakah kita mendudukkan pemahaman toleransi umat beragama? Ataukah itu hanya jargon semu agar kita tidak diserang?”

    Jika mmg ini realita, smg menjadi teguran, klo mmg tdk setuju Menuk kerja di resto koh Tan ya kasih pekerjaan lain, klo mmg tdk setuju Surya jadi Yesus dlm sebuah drama, kasih lowongan pekerjaan. Sayangnya, hanung menggambarkan ustadz Wahyu sosok yg masa bodo dan terkesan membiarkan Surya mengambil tawaran Rika yg keluar dr Islam.

    Jika mmg ini realita, mari jaga diri dg keimana yg kuat thdp tuhan yang maha Esa, dn saling menghargai keyakinan agama lain.

    Sekian, salam kenal πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s