Coto Makassar vs. Sroto Banyumas

Hmm, kali ini saya mengambil langkah cukup berani dengan menulis review kuliner. Sebenarnya saya ini boleh dibilang penggemar kuliner juga meski masih kelas ‘cetek’. Makanan favorit saya yang utama adalah soto dan nasi goreng dan saya gemar mencicipi aneka nasi goreng atau soto di berbagai tempat sekadar untuk membanding-bandingkan rasanya. Namun saya belum pernah membagikan hasil pengamatan tersebut di blog. Baiklah, doakan semoga sukses ya kakak! #eapasih πŸ˜€

Saya ingin membagikan pengalaman mencicipi Coto Makassar dan Sroto Banyumas, dua jenis makanan berkuah yang saya coba baru-baru ini. Saya akhirnya dapat mencicipi Coto Makassar langsung di tempatnya yang paling terkenal di Jakarta, yaitu Daeng Memang, berkat serangkaian sesi ‘penculikan’ oleh teman-teman Anging Mammiri. πŸ˜€ Sedangkan Sroto Banyumas baru dicoba kemarin ketika mengunjungi sebuah rumah makan yang terletak tidak jauh dari tempat saya mengajar. Baiklah, mari kita mulai dengan menu pertama.

1. Coto Makassar

Makanan berkuah ini awalnya saya sebut dengan nama ‘Soto Makassar’ sebelum kemudian dikoreksi oleh seorang teman yangΒ menekankan bahwa huruf depannya ‘C’ dan bukannya ‘S’. Lalu kenapa pula disebut Coto? Ia tidak menjawab. Tebakan saya mungkin namanya berubah menjadi Coto dikarenakan lidah orang Makassar yang sering ‘kepeleset’ sehingga menjadi Okkots (klik link-nya untuk mencari tahu lebih lanjut).

Makanan berkuah keruh ini sekilas menggunakan santan yang agak pecah, namun ternyata dugaan saya itu salah. Kuah coto mendapatkan kepekatannya dari air cucian beras pertama yang memang paling keruh. Kemudian warnanya yang coklat didapatkan dari bumbu kacang. Ada beberapa jenis bumbu dan rempah lain yang dimasukkan ke dalam kuah coto namun saya tidak jago mengenalinya. Yang jelas, lauk utama yang dimasukkan ke dalamnya adalah daging sapi atau jeroan; boleh dicampur atau pilih salah satunya. Coto dimakan bersama dengan ketupat atau buras dan sudah jamak bagi para pelanggan untuk menambah mangkuk coto kedua atau ketiga dan beberapa potong ketupat (“Dua mangkok itu standar,” kata seorang punggawa AM dari Bogor).

Selain rasanya memang juara, ada satu lagi keunikan orang Makassar: jeruk nipis menjadi bumbu penyedap yang wajib. Daeng Gassing dari Makassar pernah menulis tentang kedudukan jeruk nipis pada kuliner Makassar di blognya dan memang saya menyaksikan sendiri beberapa potong jeruk nipis habis diperas ke dalam mangkuk Coto serasa minum jus jeruk nipis. πŸ˜€ Ah, meski katanya Coto Makassar di Daeng Memang paling terkenal se-Jakarta, rekan-rekan AM itu selalu menyombongkan kedahsyatan Coto bila dicicipi langsung di beberapa tempat terkenal di Makassar sana. Hiks, pengen. 😦

2. Sroto Banyumas

Ini dia satu lagi makanan berkuah yang berasal dari Jawa Tengah. Nama ‘Sroto’ ini bagaikan pelesetan lain lagi;Β sebenarnya ini adalah varian lain dari makanan yang sama: soto. Entah mengapa sampai huruf ‘R’ bisa terselip di sana. Saya mencicipi Sroto Banyumas ini secara tidak sengaja ketika sedang makan siang di dekat tempat saya mengajar.

Yang membuatnya unik dan jadi mirip dengan Coto Makassar adalah bumbu kacang yang dimasukkan ke dalamnya. Namun beda dengan Coto Makassar yang kacangnya dimasak bersama dengan bumbu lain sehingga menjadi kuah yang menyatu sejak awal, bumbu kacang Sroto Banyumas disajikan terpisah dan teksturnya mirip saus kacang dari sate. Bumbu kacang yang disajikan di mangkuk terpisah ini membuat saya leluasa menaruhnya banyak-banyak sehingga aroma dan cita rasa kacang sangat kuat di lidah saya.

Kekhasan lainnya adalah taburan dua jenis kerupuk di dalamnya. Yang pertama adalah kerupuk kuning yang di Jakarta lazim disebut ‘Kerupuk Mie’; satunya lagi kerupuk merah yang berbahan baku tepung sagu. Tak lupa ketupat dan bihun dimasukkan ke dalam mangkuk Sroto meski tidak banyak dan pelanggan harus memesan lagi. Yang menjadi teman utama makan Sroto adalah Tempe Mendoan panas.

Lalu Mana yang Lebih Enak?

Apa menurut lo gue berani jawab? Sekali saya sebut mana yang lebih enak, saya akan digebukin either oleh blogger Banyumas atau blogger Makassar. πŸ˜€ Yah biar semuanya senang, kedua jenis varian soto ini betul-betul juara dalam citarasanya tersendiri yang tidak dapat dibanding-bandingkan.

===

Sumber gambar: casavina.com, kaskus

Advertisements

48 thoughts on “Coto Makassar vs. Sroto Banyumas

  1. Saya baru tahu soal ini “Kuah coto mendapatkan kepekatannya dari air cucian beras pertama yang memang paling keruh.”
    Thanks inpo nya, gan..

    Btw, soal jeruk nipis memang acessories wajib di kuliner makassar, semua makanan berkuah semisal coto, konro, pallubasa, kapurung, barobbo, mie kering, bakso dll mesti menyertakan jeruk nipis sebagai pelezat..(Kecuali bassang, hehehe, mampus lo klo pake jeruk nipis juga)…

    Btw, soal asal nama coto, sy kok gak yakin itu pelesetan soto…tp mgk karena coto mengandung daging Capi…hehhehe

    Like

  2. Dikongsi resepinya.

    Makanan jawa memang banyak di malaysia. Ramai orang jawa di sini.

    Tapi kalau macam makanan makassar, lain-lain daerah yang penduduknya tidak ramai merantau ke malaysia, memang kami tidak berpeluang merasainya.

    Like

  3. Wah, nasi goreng udah jadi makanan yang merakyat. Saya juga suka, mi goreng juga. πŸ˜€

    Dulu pas saya SMA, di Surabaya, ada restoran bernama “Kraton”. Ada mi goreng jawa nama menunya. Wuuiiih, enaaaaak banget. Itu menu kesukaan saya. Setiap minggu pasti ke sana. πŸ˜€

    Like

  4. nyesel baca postingan ini tengah malam *langsung kelaparan lagi*

    walaupun di dekat sini ada yang jualan Coto 24 Jam, dah malas keluar kamar 😦

    Coto Dg. Memang memang gk seberapa dibanding yang di Makassar *serius, pernah nyoba* πŸ˜€

    *tarik om brad ke makassar*

    Like

  5. Pengen ngeliat brad digebukin siy :p *evil smirk* hihihi
    Aku gak bisa makan coto makassar 😦 huhuhu
    Buatku santannya terlalu pekat… Yah namanya selera siy ya..

    Nah bagaimana kalo kita makan babik saja? :mrgreen:

    Like

    1. itu hiperbola say, tampang dan badan kayak preman gini mana ada yg berani. hehehe.

      nah ada yg salah tuh, coto makassar gak pake santan lohhh, kuahnya keruh karena air cucian beras dan kacang πŸ˜€

      Like

  6. seingat gua kuah coto itu kehitaman gara2 pemakaian kluwak yang mirip seperti rawon dari surabaya…
    lagian harusnya ada ulasan sedikit soal ketupat atau bu’rasa (lontong legit dari Makassar itu), O O O aku rindu…..

    Like

  7. lapaaaaaaaaaaaar……………….:D

    dari tadi cuma mampu menelan air liur yang rasanya hambar inih
    wuaduh …
    jadi kapan saya ditraktir coto makassar? πŸ˜›

    Like

  8. sampek sekarang pun Rusa belum pernah nobain Coto Makassar
    kalo Sroto Banyumasini juga baru denger

    gegara sampeyan makin penasaran pengen nyobain πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s