Maturing with Kahitna

AXIS Java Jazz Festival 2011 telah selesai digelar. Perhelatan tahunan yang berlangsung pada tanggal 4, 5, 6 Maret 2011 ini menghadirkan seabrek musisi jazz Indonesia dan internasional dari total 14 negara. Bintang-bintang di dunia musik jazz yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya antara lain Santana, George Benson, Fourplay, Kilimanjaro, dll. Namun ternyata tidak semua yang tampil adalah musisi jazz. Panitia memberikan ruang yang cukup bagi para musisi dari genre lain untuk menunjukkan kebolehannya di panggung. Tercatat nama-nama seperti RAN, Java Jive, dan Kahitna yang sukses menarik perhatian penonton.

Salah satu penampilan yang memukau adalah Kahitna yang akan saya soroti di sini.

Grup musik yang didirikan di Bandung pada tahun 1986 dan digawangi sembilan orang ini tampil pada hari Minggu petang dan langsung menggebrak dengan beberapa nomor jazz (Yovie memang komposer yang handal) dan beberapa nomor asing yang tidak saya kenal. Barulah setelah itu ketiga vokalisnya menyanyikan sebagian lagu-lagu hits mereka yang total sudah mencapai delapan album.

Warna

Bagaimana ya saya mendeskripsikan warna musik Kahitna? Secara umum warnanya adalah pop namun di sana-sini nuansa jazz sangat terasa, terutama dalam beberapa komposisi instrumental yang Yovie ciptakan. Dalam sejarah ‘evolusi’nya, Kahitna mengeksplorasi genre musik yang beragam dari pop, jazz, sampai musik-musik tradisional Indonesia. ‘Lajengan’ adalah salah satu nomor dari Kahitna yang kental dengan nada pentatonis Jawa/Bali dan dipentaskan di Budokan Hall, Tokyo, pada tahun 1991.

Namun dari sekian banyak genre yang coba dieksplorasi oleh Yovie dkk., emosi adalah salah satu unsur yang kuat mewarnai setiap lagu Kahitna. Tema umumnya sudah pasti cinta, namun dari setiap lagu akan terpancar kadar cinta yang berbeda seperti kasih sayang, kekecewaaan, sampai kerelaan melepas kekasih.

Penampilan

Saya masih ingat pertama kali menyaksikan penampilan Kahitna secara langsung. Waktu itu tahun 1995 di Balairung UI, Kahitna datang ke sebuah acara musik dan tampil sekitar setengah jam membawakan lagu-lagu hits terutama ‘Cerita Cinta’ yang saat itu sedang ngetop-ngetopnya. Aksi panggung yang atraktif dengan kolaborasi musik yang ciamik membuat para mahasiswa jejingkrakan meski Kahitna tampil terakhir di malam hari. It was fun fun fun. πŸ˜€

Kali kedua saya menyaksikan Kahitna secara langsung, ya kemarin itu di AXIS Java Jazz Festival 2011. Masih tetap atraktif namun aura yang saya rasakan sudah berbeda, yaitu kedewasaan dalam bermusik. Dengan para personil yang sudah jauh lebih dewasa, karya-karyanya pun lebih mencerminkan pergumulan cinta yang sesuai dengan umurnya. ‘Tak Sebebas Merpati’ misalnya, mencerminkan romantika seseorang yang baru menikah meski diam-diam ia menyayangkan kondisi yang tidak lagi terlalu bebas dalam bergaul. Aksi panggung mereka kali ini pun tampak lebih matang; tidak lagi meledak-ledak namun menghanyutkan.

Evolusi Kahitna, Evolusi Penonton

Rentang waktu yang panjang bagi Kahitna dalam berkarya secara tidak langsung telah mengajak pula para penggemar untuk berevolusi bersamanya. Sekilas saya melihat para penonton di ruang pertunjukan petang itu. Tampak para pasangan muda (sebagian kecil membawa anak) atau para orang tua yang membawa serta anak-anak mereka yang berusia remaja. Lima belas tahun lalu mereka mungkin pernah berada di Balairung UI dan jejingkrakan, sedangkan sekarang mereka duduk di karpet dengan santai bersama keluarga. Namun kecintaan mereka terhadap musik Kahitna masih nyata. Tanpa disadari, mereka tumbuh bersama dengan musik dan personil Kahitna. Pergumulan cinta mereka tetap seirama dengan transformasi musik pujaan mereka. Saya jadi berandai-andai, bagaimana nanti suasananya kala kumpulan penggemar yang hadir di JIExpo ini menonton Kahitna dua puluh tahun mendatang.

Catatan Akhir

Secara umum, saya salut pada AXIS Java Jazz Festival 2011 yang memberi ruang bagi musisi non-jazz untuk berekspresi dengan genre musik masing-masing atau bereksperimen dengan jazz. Hasilnya: setiap tahun festival ini dipadati penonton dengan rentang usia yang lebar dan bahkan didominasi penonton remaja; sebuah pemandangan yang jarang bahkan di North Sea Jazz Festival sekalipun. Ditambah lagi dengan promosi yang baik dan manajemen acara yang dari luar tampak apik, ajang tahunan ini sudah ditandai di kalender oleh banyak orang sejak tahun sebelumnya. Ini ditandai dengan ramainya penjualan tiket online dan sepinya bisnis para calo tiket di pintu masuk JIExpo. πŸ˜€

Namun sepulangnya kita dari festival, yang teringat tentu saja: penampilan Roberta Gambarini yang menawan, Fourplay yang inspiratif, Β RAN yang energik, New York Voices yang jernih, serta Kahitna yang menghanyutkan. Bayangan awal saya tentang AXIS Java Jazz Festival menjadi kenyataan: It WAS a feast to the soul. πŸ˜€

Ah, saya sudah tidak sabar menanti konser Kahitna di AXIS Java Jazz Festival, dua puluh tahun lagi…

===

Sumber gambar: kapanlagi.com & Samuel Edward

Advertisements

18 thoughts on “Maturing with Kahitna

  1. Ngak nonton GIGI opa? itu band favoritku… itu tentunya sangat atraktif… sayang banget blum ada kesempatan waktu terutama duit sih utk jadi penonton Java Jazz, kemaren mau ikut kuis2nya udah ketinggalan πŸ˜€ hehe

    Nice JJF kali ini, semoga bisa nonton selanjutnya

    Like

  2. hafal lagu – lagu kahitna yang dulu, yang masih jaman kaset (kaset? berasa jadul abis ga sih? haha)
    kalau album yang baru gak ngeh lagu – lagunya, paling di dengar hanya sepintas saja πŸ˜€

    Like

  3. lepas dari image “galau” yang kerap disematkan publik pada Kahitna, grup musik dengan punggawa cukup banyak ini adalah salah satu band bermutu. Awal lahirnya Kahitna adalah Indonesia 6 yang sangat kental jazz dan idealismenya di tahun 80an, meski akhirnya Kahitna memilih jalur komersil tapi musik-musiknya tetep berkualitas dan punya nilai jual lhoooo….

    Like

  4. waktu masih ABG ( ciee..ABG)
    Kahitna saya anggap sebagai band unyu, gak pernah mencoba menikmati lagunya. maklumlah, waktu itu sedang membangun pencitraan sebagai rocker..halah..

    tapi lama2 baru nyadar kalo ternyata band ini gak main2..keren..!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s