Menangis Semalam (2)

Depok, 15 September 1999.

Matanya sembab. Sudah dua minggu ini Rina terjebak gundah memikirkan kekasihnya yang entah ke mana dan hanya tergantikan oleh sebaris puisi.

Tahukah kamu semalam tadi aku menangis mengingatmu?
Tahukah kamu bahwa gapaianku tinggi untuk meraihmu
namun pupus oleh kungkungan tangan-tangan itu?

Di kaki Rina masih tergelak koran pagi bertanggal sepuluh hari sebelumnya: “Rakyat Timtim memilih merdeka.”

***

3 September 1999

Pintu kamar kosku tiba-tiba digedor dengan keras. “Cepat, kemasi barang-barang. Malam ini juga kamu harus keluar dari tempat ini!” perintah Manuel, seniorku di kampus dengan suara tegas dan deretan kalimat pendek. Agaknya ia mencium sesuatu.

“Kenapa, hasil referendumnya sudah diumumkan?”

“Belum. Tapi sepertinya skenario akan jauh di luar dugaan. Sebaiknya kita menghindar dulu sampai suasana reda.”

Demikianlah untuk beberapa hari berikutnya aku dan beberapa rekan mahasiswa asal Timtim menggelandang dari satu rumah ke rumah lain, bahkan sempat menumpang tidur di warung. Suasana sudah memanas, hasil referendum sudah diumumkan dan rakyat Timtim memilih merdeka. Kota Dili dengan cepat menjadi lautan api dan kontak pun terputus.

Barulah saat ini aku benar-benar merasakan konsekuensi pilihan yang kuambil di bilik suara hari itu: aku terpaksa berpisah dengan tanah air yang disebut Indonesia ini dan tiba-tiba menjadi orang asing. Di tengah kekacauan ini opsinya hanya satu: bagaimana kembali pulang untuk menyelamatkan keluarga dan benda apa saja yang masih tersisa sebelum mengambil langkah lain, yaitu bertahan di kota atau mengarah ke Atambua.

Aku menangisi kamu, manisku.
Menyesali mentari yang kini terbit jauh di timur dan bukan lagi di hatimu
Mengutuki bulan yang bergeser ke barat dan bukan lagi ke relungku

***

20 Mei 2002

Kole lele mai rade kokodele, kolele mai.
Kole lele mai rade kokodele,
Kole hele laloi kolele mai.

Mengapa jagungmu tidak tumbuh?
Mengapa padimu tidak berbulir dengan baik?
Mengapa perutmu lapar?
Mengapa peluhmu tak pernah berhenti mengalir?
Katanya engkau malas dan bodoh.
Katanya engkau malas dan miskin.
Apa sebabnya? Siapa yang melakukannya?

Lagu dengan syair bagai mantra ini mengalun memenuhi ruanganku yang turut gelap dan syahdu.

Timor Leste resmi merdeka.

Dan aku menangisimu, sayangku.

***

Aku berdiri mematung di depan pintu kamar yang hanya terisi seonggok tempat tidur, meja belajar dan lemari. Tidak terlalu besar namun cocok untuk keperluan saat ini. Dengan langkah gontai aku menaruh barang-barang lalu menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Pikiranku melayang kembali pada percakapan beberapa minggu lalu.

“Halo”

“… Rina?!”

Hatiku yang remuk langsung berteriak. Suaranya masih lembut terdengar, dengan nada yang sama. Namun tidak kurasakan hangat di sana.

Malam itu kami menghabiskan waktu berjam-jam di telepon mengejar semua ketertinggalan yang hilang. Hujan-panas politik telat berlalu dan abu lautan api di Dili telah berganti dengan debu-debu proyek konstruksi pembangunan. Keputusan Mario waktu itu meninggalkan Indonesia dan kembali ke tanah kelahirannya merupakan konsekuensi yang logis.

Namun logika memang kejam terhadap perasaan. Bahkan kini pun masih ada pertanyaan menggantung di udara: Masihkah kau mencintaiku?

***

Denpasar, 2011

Sudah setengah jam aku menunggu di pintu kedatangan internasional bandara Ngurah Rai menunggu pesawat dari Dili mendarat. Hati merutuki baju yang terburu-buru dikenakan sehingga tidak tampak serasi dengan sepatu. Atau rambut yang tak sempat lagi diatur-atur.

“Rina”

Senyumnya masih sama. Lebar dan hangat. Sorot mata yang teduh memancarkan kebahagiaan.

“Maafkan aku yang terpaksa memintamu datang ke bandara. Waktuku transit hanya satu jam saja.”

“Oh nggak apa-apa, ini kan bukan Jakarta. Tempat kosku cuma sepelemparan batu dari sini, naik motor.”

Kami duduk di sebuah kafe. Mario tersenyum namun aku tahu ia menyembunyikan sesuatu.

“Tak disangka kita malah bertemu di sini, Rina.”

“Memang sudah digariskan begitu. Aku juga tidak menyangka kepindahanku ke Bali membawaku menemuimu.”

“Ya, sayangnya aku cuma transit sebentar di sini.”

“It’s OK. Berapa lama kamu akan pergi ke Portugal?”

….

Segera aku paham maksudnya. Kepergiannya ke Eropa bukan sekadar menerima beasiswa.

“Rina, maafkan aku.”

“Aku sudah memaafkanmu sejak dulu.”

Tangannya maju hendak menggenggam tanganku namun cepat-cepat kutarik. Wajah ini, yang sudah sekian lama menghantui mimpiku kini hadir sekilas untuk pergi lagi. Begitu dekat namun begitu jauh.

Kami tenggelam dalam percakapan tentang rencana-rencana kami; aku dengan niatku membuka usaha di Bali dan Mario dengan cita-citanya menuntut ilmu setelah kuliahnya di UI terputus. Sejenak aku merasa kehangatan itu kembali tercipta sebelum panggilan boarding terdengar.

“Aku harus pergi. Antrian imigrasi pasti sudah panjang.”

“Tidak apa, terima kasih kamu sudah mau repot-repot mengurus visa hanya untuk keluar bandara satu jam menemuiku.”

“It’s, OK, …” kata-kata berikutnya seakan tercekat di ujung mulut.

“Selamat tinggal, Rina.”

“Selamat jalan, Mario.”

Tangannya terulur lagi. Aku tidak menyambutnya namun merentangkan tanganku untuk merengkuhnya. Lama kami berpelukan. Air mataku mengalir. Ketika akhirnya aku melepas pelukanku, tampak matanya pun berkaca-kaca.

“I pray for your happiness,” ucapku lirih. Ia tersenyum sekali lagi dan menganggukkan kepalanya. Aku berdiri mematung setelah Mario berbalik pergi menuju antrian imigrasi. Dengan lirih, tercetuslah kalimat yang selama ini kutahan-tahan.

Tahukah kamu semalam tadi aku menangis
Mengingatmu mengenangmu
Mungkin hatiku terluka dalam
Atau selalu terukirkan terukirkan
Kenangan kita

Dengarkan di sini:

Aku menatap ke arah Ngurai Rai dari seberang Teluk Jimbaran. Kupicingkan mata melihat pesawat yang hendak lepas-landas. Sejurus kemudian aku mengalihkan pandanganku ke depan, lalu melarungkan cintaku ke laut.

===

Terinspirasi oleh syair “Menangis Semalam”, Audy.

Cerita ini dibuat karena saya ingin bereksperimen dengan genre tulisan yang lain: prosa. Dibuat terburu-buru tanpa memikirkan alur cerita, penokohan, pengembangan konflik, dan aspek-aspek lainnya. Murni keluar begitu saja dari kepala. Oleh karena itu saya mohon sumbang sarannya terhadap cerita ini dan cerita sebelumnya. Terima kasih banyak. 😀

Advertisements

21 thoughts on “Menangis Semalam (2)

  1. wah.. so sad.. *mewek2 di sudut kamar*

    sol ovely stoy, tadi kirain di mario ini sudah punya istri di portugal sana 😦

    cerita menarik opa, lovely story 🙂

    Like

  2. Cukup menarik Opa, saya jadi ter-‘dorong’ utk melanjutkan ceritanya dgn versi saya tentu.
    He he he, hijacker datang P) … #sambil kabuuuur
    Nah kalo posting ‘prosa’ di blog, enaknya editing di word trus langsung deh posting as draft, sudah dicoba belum, Opa? 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s