Pajak: Antara Benci dan Rindu

Setelah melirik kalender pagi ini tiba-tiba saya terkejut sendiri: sudah tanggal 2 Maret. Itu berarti ada kewajiban yang sebentar lagi jatuh tempo. Yup, kewajiban mengisi dan melaporkan SPT Tahunan Pajak Penghasilan. Setiap tahun harus mengisi namun setiap tahun pula lupa caranya! πŸ˜€ Sebenarnya saya agak menyesal mendaftarkan NPWP (jujur boleh dong?! ini kan blog sendiri). Pertama kali saya mendaftar untuk mendapat NPWP adalah akhir November 2008 ketika ada Sunset Policy dari Dirjen Pajak. Iming-iming waktu itu adalah: bebas fiskal luar negeri mulai 1 Januari 2009 untuk para pemegang NPWP. Jadilah saya mendaftar. Eh sekarang sudah tahun 2011 dan saya belum pernah ke luar negeri lagi, sementara mulai 1 Januari 2011 semua WNI sudah dibebaskan dari fiskal ketika hendak ke luar negeri. Jadi buat apa dong saya repot-repot memiliki NPWP?! Hehe.

Lalu apa gunanya memiliki NPWP?

OK, sebelumnya saya mau kasih shock therapy dulu: NPWP tidak ada gunanya secara langsung bagi kita. πŸ˜€ Berikut fungsi dari NPWP yang didapat dari situs pajak.go.id:

* Untuk mengetahui identitas Wajib Pajak;
* Untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan administrasi perpajakan;
* Untuk keperluan yang berhubungan dengan dokumen perpajakan;
* Untuk memenuhi kewajiban perpajakan, misalnya dalam pengisian SSP;
* Untuk mendapatkan pelayanan dari instansi-instansi tertentu yang mewajibkan pencantuman NPWP dalam dokumen yang diajukan. Misal: Dokumen Impor (PPUD, PIUD). Setiap WP hanya diberikan satu NPWP.

See?! Semuanya memiliki kegunaan bagi instansi pemerintah, bukan?! Lantas untuk apa kita ikut serta? Jawabannya: karena kita memperoleh manfaat tidak langsung berupa fasilitas dan kesejahteraan umum yang Pemerintah berikan atas dana pajak yang kita bayar. Kalau kita menelaah lagi hakekat membayar pajak dalam arti non-kewajiban: ini adalah kesempatan bagi setiap warga berkontribusi dalam pembangunan dan sekaligus ‘memiliki saham’ dalam pembangunan tersebut. Membayar pajak juga menimbulkan rasa percaya diri warga ketika berhadapan dengan pemerintah, yaitu bahwa pembangunan ini adalah andil kita juga sehingga kita berhak menyuarakan pendapat dalam kebijakan pembangunan tersebut. Ini bukan omong-kosong: pada waktu Amerika Serikat dilanda krisis keuangan pada tahun 2008-2009, rakyatnya berhasil memaksa Presiden Barrack Obama untuk mengenakan pajak atas bonus bagi para bankir kelas atas yang di-bail out oleh pemerintah hingga 90%. Rakyat AS tidak rela uang pajak yang mereka bayarkan mengalir ke kantong-kantong para bankir tersebut.

Jadi, membayar pajak berartiΒ  memiliki alat dalam memberikan pendapat yang sahih sebagai warga negara. Manfaatkan!

Apa pula itu SPT?

SPT adalah singkatan dari Surat Pemberitahuan Tahunan, yakni seberkas laporan yang wajib disampaikan oleh Wajib Pajak tiap tahunnya. Kewajiban ini berlaku sama rata, terlepas dari ada-tidaknya penghasilan seseorang pada saat itu. Masih ingat waktu sederet artis meminta keringanan pajak pada tahun 2009 dengan alasan waktu kerja yang tidak menentu atau kasihan pada artis-artis tua yang sudah tahunan tidak memiliki penghasilan? Si artis senior justru terlihat tambah bodoh ketika tambah lantang bersuara (saya tidak mau sebut nama, tapi beliau dikenal sebagai Duta Besar Versace untuk Indonesia). πŸ˜€ Yang jelas: kewajiban membayar pajak tidak ada kaitannya dengan pilihan profesi seseorang. Kemudian pelaporan dan pembayaran adalah dua kewajiban yang berbeda. Artis tua yang memang tidak ada penghasilan tidak diharuskan membayar pajak; ia hanya diharuskan melapor saja.

Cara pengisiannya?! Rempong bo! πŸ˜€ First of all, formulirnya saja tidak sama untuk setiap orang karena tergantung jenis pekerjaannya. Bagi karyawan prosedurnya lebih mudah, sementara bagi pengusaha atau pekerja bebas formulirnya lebih banyak. Saya yang terdaftar sebagai pekerja bebas harus mengisi tipe formulir yang paling panjang layaknya pengusaha: Formulir 1770. Total ada 5 halaman lampiran yang mesti diisi sebelum kita mengisi formulir induknya. Saya tidak akan menjabarkan cara pengisiannya di sini. Silahkan rujuk kembali ke situs pajak.go.id.

Setelah mengisi SPT, apa lagi prosedurnya?

Laporkan. Kita harus bertandang ke Kantor Pajak untuk menyerahkan formulir SPT beserta kelengkapannya sebelum tanggal 31 Maret setiap tahunnya. Kantor Pajak juga berinovasi ‘jemput bola’ dengan mendatangi perusahaan-perusahaan besar agar karyawan tinggal menyerahkannya di kantor, atau membuka Drop Box di beberapa mall dan tempat umum dengan jadwal kerja ekstra agar masyarakat lebih mudah mengatur waktu sekaligus menghindari antrian. Jika memang setelah mengisi SPT kita ada kewajiban pajak, kita harus lebih dulu menyetorkannya via bank.

Bagaimana kalau kita malas atau pura-pura lupa melapor? Kantor Pajak akan menelepon atau mengirim surat peringatan. Saya kurang paham juga bagaimana proses selanjutnya. Namun ada juga kasus yang menimpa teman saya. Dia sudah melaporkan SPT namun terselip di Kantor Pajak sehingga disangka belum melapor. Parahnya lagi, tanda bukti pelaporannya disimpan teman saya entah di mana. Jadi jangan lupa: slip tanda terimanya disimpan terus di tempat aman.

***

Pajak: antara benci dan rindu. Kita ‘benci’ membayar pajak karena teringat akan kewajibannya, apalagi kalau mengingat ada ‘faktor Gayus’ di dalam sistemnya. Namun jika kita memahami hakekat pembayaran pajak dan hubungannya dengan hak-hak istimewa sebagai warga negara, kita tentu akan melaksanakannya dengan lapang dada.

Selamat pusing mengisi SPT. πŸ˜€

Advertisements

31 thoughts on “Pajak: Antara Benci dan Rindu

        1. hehe, prinsipnya ayahmu tetap bayar cuma mekanismenya beda. setiap beliau digaji per bulan kan ada potongan pajaknya. nah, pajaknya itu yg dibayarkan oleh perusahaan ke Kantor Pajak. Nanti ayahmu tinggal lapor tahunan aja, tapi gak perlu bayar cash lagi πŸ˜€

          Like

  1. satu lagi kegunaan NPWP, saat berurusan dengan bank dan mau KPR kita wajib punya NPWP.
    terus, memang ada untungnya juga kalau jadi pegawai kantoran. pajaknya diurusin kantor semua, jadi tinggal terima slip potongan pajak tiap bulan dan semua SPT segala macam diurus kantor.

    Like

    1. memang, pekerja bebas seperti saya lebih repot kalo berurusan dengan pajak. padahal katanya tahun ini sistem perpajakan akan full online. Yah kita nantikan saja inovasinya πŸ˜€

      Like

  2. Bravo, Opa.
    Nambah dikit boleh kan (padahal banyak :D), kebetulan di kantor kemarin ada sosialisasinya.
    SPT ini ‘kan laporan ke Kantor Pajak saja, pembayaran untuk karyawan sudah diurus oleh kantornya baik pegawai negeri maupun swasta (terdaftar), nah untuk yang wirausaha pembayarannya mandiri lho. Nah dari penjelasan itu memang lengkapnya rujuk ke pajak.go.id tapi ada langkah yang perlu ditambahkan yaitu membayar pajak (untuk yang tidak NIHIL) atau kurang bayar melalui bank sebelum melaporkan SPT ke Kantor Pajak. Semoga menjadi lebih jelas, Opa.
    “Kata Bapak T*** kalo tidak mau bayar pajak, kabuuuuur ……”

    Like

    1. hehe saya sudah menjelaskannya kok di kalimat: “Jika memang setelah mengisi SPT kita ada kewajiban pajak, kita harus lebih dulu menyetorkannya via bank.” πŸ˜€

      Like

      1. Ngeles ah, kalo begitu jadi bolak-balik Opa. Mending ngisi SPT di rumah/kantor, bayar pajak di bank trus baru lapor SPT ke kantor pajak. Jadi sekali jalan πŸ˜›

        Like

  3. sebenernya bingung, mo buat apa sih npwp itu, klo yang dilaporkan pun nihiiiiiiiiil terus, cuma bikin tambah urusan saja *ngomel mode on*
    semua2 dipajakin, lama2 k****t pun dipajakin :((

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s