Talk: Business

Tak terasa Maret sudah tiba. Kalau di Jepang, Maret berarti sudah mulai memasuki masa-masa akhir musim dingin dan tepat sebulan lagi anak-anak sekolah akan memulai tahun ajaran baru dan mengenakan seragam musim semi – musim panas. Datangnya musim sendiri sendiri bervariasi: Kyushu sudah menyaksikan Sakura sementara Hokkaido masih diselimuti salju hingga bulan Mei.

Musim semi di Jepang tidak hanya dipahami sebagai pergantian suasana, namun juga jam alarm yang mengubah aktivitas kerja, khususnya bagi para petani. Ini saatnya mereka mempersiapkan bibit, membajak sawah, dan menanam. Masa pertanian dimulai dari musim semi. Di dunia usaha pun, rata-rata orang Jepang memiliki semangat baru. Ini saatnya berinovasi.

Eh, tapi saya tidak ingin melulu berbicara tentang Jepang.

Beberapa minggu terakhir ketika saya bertemu dengan orang atau berinteraksi lewat internet, pembicaraan pasti akan menyinggung soal peluang usaha, utamanya peluang usaha online. Tidak seperti sebagian orang yang menggunakan internet sebagai sumber pemasukan, saya cenderung menginginkan internet sebagai sarana untuk mencari pemasukan dari usaha dan kerjasama dengan orang lain. Untuk itu opsi membuat e-book, memasang seabrek iklan dan PTC gak jelas sudah saya buang jauh-jauh. πŸ˜€ Yang saya inginkan adalah menjual barang atau jasa secara real dan menggunakan internet sebagai media komunikasi dan pemasarannya.

Lalu konkretnya mau ngapain?! Damn, you hit the wall there. Saya punya banyak ide namun bingung mau melangkah ke mana. Ini ada beberapa opsi yang sedang dipikirkan. Saya bagikan sebagian ya.

1. Kursus Bahasa Inggris, Komputer, Bimbingan Belajar

Saya melihat permintaan yang selalu stabil di bidang ini meski skalanya bervariasi di setiap daerah. Jakarta misalnya, kursus Komputer mungkin sudah tidak begitu laku namun Bimbingan Belajar justru ramai. Sementara di daerah pinggiran, Bahasa Inggris dan Komputer menjadi primadona. Namun seiring dengan permintaan, pesaing di bidang ini juga tak kalah banyaknya. Lihat saja kursus-kursus Bahasa Inggris bertebaran sampai di pojok-pojok perumahan terpencil.

Saya yakin sekali dapat mengembangkan kurikulum yang baik serta menggunakan tenaga pengajar berkualitas (saya sendiri pun ingin terjun sebagai pengajar), masalahnya saya tidak terlalu paham seluk-beluk pemasaran kursus.

2. Warnet

Ide aneh? Oh nanti dulu. Para pembaca blog ini saya yakin lebih banyak mempunyai laptop dan koneksi internet sendiri, minimal numpang bandwith di Mc Donald’s *dibekap*. πŸ˜€ Namun tak dipungkiri sebagian besar masyarakat kita masih menggunakan warnet sebagai sarana terkoneksi ke internet dan permintaannya tidak pernah surut, meski skalanya tetap bervariasi di tiap daerah. Kalau anak-anak umumnya ke warnet untuk main online games, orang dewasa umumnya berinternet. Di Bogor, misalnya, warnet baru terus bermunculan dan yang satu akan berusaha menarik pelanggan lainnya. Kompetisi semakin sengit.

Saya tertarik dengan bisnis ini karena melihat peluang. Selain itu, komputer dapat disulap menjadi fasilitas kursus komputer pada jam-jam tertentu sehingga ide nomor 1 di atas dapat berjalan bersamaan. Namun sengitnya persaingan bisnis warnet membuat saya ketar-ketir juga.

3. Jual-Beli Barang

Kalau ini lebih konvensional sifatnya. Sebenarnya saya masih tergiur membuka toko online lagi seperti tahun 2008 dan menjalankan pemasaran sepenuhnya via internet. Namun sekarang ini persaingannya sudah sangat ketat, mungkin bisa dibilang jenuh, sehingga tidak banyak lagi inovasi yang terlihat. Selain itu keraguan konsumen terhadap pembelanjaan online membuat toko-toko online jatuh-bangun setiap hari. Bagi saya, penjualan online itu ‘biasa’.

Namun lain ceritanya kalau jenis barang yang kita jual betul-betul niche dan menarik: konsep online bisa jalan. Atau jika kita mengkombinasikan konsep online itu dengan pemasaran offline, yaitu melempar barang ke toko-toko di pasar atau mall. Konsep ini sangat layak untuk dijalankan. Kendalanya adalah: Barang apa yang menarik dan menjadi hot cake? Di mana mencari supplier yang baik? Ke mana harus menjual? Berapa modal yang dibutuhkan?

***

Masih ada ide-ide lain namun tampaknya akan mengerucut ke tiga opsi di atas. Masing-masing ada untung ruginya. Bagaimana teman-teman? Adakah sumbang saran atau kritik? πŸ˜€

===

Sumber gambar: japaneseartfurniture.com, simple-heny.blogspot.com, cartoonstock.com, nytimes.com

Advertisements

20 thoughts on “Talk: Business

  1. dari beberapa tahun yang lalu hingga detik ini masih mimpi punya toko buku diskon.
    mimpi yang ntah kapan terwujud hihihihi #kudukerjarodibuatmodal

    Like

  2. Warnet yang dipandang sebelah mata masih bisa jalan dipinggiran apalagi kalau ditambah dengan penjualan aksesoris komputer,pulsa atau voucher game. Titik utama perdagangan online mnrt gw hampir sama dengan perdagangan online : punya barang umum, modal loe kudu rendah sehingga loe bisa jual murah, kalau mau jual barang yg marginya gede….kudu punya barang yg unik. CMIIW!
    Mau buka usaha? DO NOT ACT by the book but ACT NOT by the book.!!!

    Like

  3. Mas kalo boleh saran…
    giemana kalo mas buka bisnis online menjual barang” tradisional has makasar mungkin,,,
    cnto y kya tas batik,baju batik deng model anak muda,sepatu batik,yaa tapi has makasar gitu…
    hhe #sekedaropini

    Like

  4. saya punya bisnis online yang bisa dijalankan dimana saja di seluruh indonesia, dan banyak teman2 cowok yang sudah punya penghasilan bulanan lebih dari 30 juta dari bisnis onlinenya. dan produknya ada dan bukan barang murahan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s