Monthly Archives: February 2011

Malas Ngeblog = Tidak Ngeblog?

Saya terinspirasi oleh diskusi yang berseliweran di milis Anging Mammiri sore dan malam hari ini tentang perasaan malas untuk mandi. Mungkin merasa takut dituduh malas mandi, seorang blogger menuliskan pembelaan dirinya “Jarang mandi sama malas mandi itu beda arti lho. Kalo jarang itu mandinya tiap beberapa periode baru mandi, kalo males itu setiap hari tetap mandi tapi diawali rasa malas.” Tidak jelas juga apakah saat ini dia sudah mandi atau belum.

Continue reading Malas Ngeblog = Tidak Ngeblog?

Blogger Indonesia Timur Merapatkan Barisan

Siapa bilang blog hanya tren sesaat? I will argue vehemently for that. 😀

Fenomena Facebook dan twitter boleh-boleh saja melanda kita, namun nyatanya para blogger hingga kini tetap bertahan dengan idealismenya menulis di blog dengan alasan media yang tak dibatasi jumlah karakter dan kebebasan berekspresi yang terjamin 100% di rumah sendiri. Demikian halnya dengan komunitas blogger yang terus bermunculan bak jamur di musim hujan dan menambah keanekaragaman masyarakat online Indonesia.

Para narablog di Indonesia bagian Timur pun tidak ketinggalan. Berangkat dari ‘kehausan’ berkumpul mendiskusikan blog dan semangat berbagi sesama blogger serta berkontribusi bagi masyarakat lokal, satu-per-satu komunitas blogger di Indonesia Timur berbenah diri. Dari hasil pencarian di internet, setiap provinsi di kawasan timur Indonesia sudah memiliki komunitas blogger meski tingkat perkembangannya berbeda-beda. Ada yang pernah eksis namun sudah hilang, ada yang baru bangkit dan memelihara portal dan jaringannya, dan ada pula yang sudah mapan dengan berbagai aktivitas komunitas yang keren. Namun semangat yang terlihat umumnya sama dengan para narablog lain di seantero Indonesia: mereka merapatkan barisan. Izinkan saya mengulas tiga komunitas di antaranya:

Continue reading Blogger Indonesia Timur Merapatkan Barisan

George

George namanya. Kuingat kulitnya begitu putih seperti melati merekah dan wajahnya menyungging senyum. Ia datang pagi itu diiringi serombongan pria dan wanita yang kukenal sebagian dari gereja kami. Sedari pagi aku sudah siap menyambutnya, hati tidak sabar ingin melihat wajahnya.

George rupanya. Dia mengenakan baju putih bersinar dan digendong oleh Papa. Wah, keretanya mana? Biasanya anak kecil akan didudukkan di kereta bukan? begitu pikirku. Namun yang tersedia adalah sebuah meja kayu beralaskan bantal kecil dan selimut. Ini bukan cara yang biasa untuk menyambut tamu! Lalu kenapa semua terbalut warna hitam muram menyandang duka? Ah, aku yang masih berusia 9 tahun rasanya belum paham benar apa artinya duka. Yang kulihat adalah banyak orang yang menangis, terutama Papa. Aku menunggu-nunggu Mama namun ia tidak kelihatan. Sakitkah?

Continue reading George

Membentur Tembok: Belajar dari Randy Pausch

Randy Pausch (1960-2008) adalah seorang profesor ilmu komputer dari Carnegie Mellon University, Pittsburgh, Amerika Serikat. Pada tanggal 18 September 2007 beliau memberikan kuliah umum di kampusnya yang lazim disebut ‘The Last Lecture’ dalam kondisi badan yang menderita kanker stadium lanjut dan tinggal memiliki harapan hidup beberapa bulan lagi. Kuliah umum tersebut menjadi salah satu sesi kuliah yang paling fenomenal dan inspiratif di Amerika dan juga di dunia. Dalam sesi yang berlangsung sekitar 1 jam tersebut, Pausch menceritakan impian-impian masa kecilnya dan usaha untuk memampukan orang lain bermimpi pula. Kuliah tersebut sarat petuah dan saya hanya akan membagikan beberapa catatan yang penting sesuai refleksi pribadi.

Continue reading Membentur Tembok: Belajar dari Randy Pausch

Memilih Jurusan

Beberapa waktu terakhir ini ada topik pembicaraan yang mulai mengemuka di rumah. Adik bungsu saya yang duduk di kelas 3 SMA sebentar lagi akan mengikuti Ujian Nasional dan tentunya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Memandang adik dalam posisi demikian mengingatkan kembali pada masa saya sendiri lulus SMA belum lama ini (huek, belum lama?!). 😀 Ada semacam kebingungan yang dulu saya rasakan, yakni saya akan kuliah di mana dan mengambil jurusan apa. Di sinilah biasanya orang tua dan anak-anak remaja kerap berselisih paham. Contoh argumentasi orang tua:

  • “Oom, Tante, dan semua kakakmu sudah menjadi dokter. Jadi kamu juga harus jadi dokter!”
  • “Masuk Teknik Perminyakan aja. Nanti kamu bisa kerja di Qatar dan duitnya banyak!”
  • “Pokoknya kamu harus kuliah di universitas itu.”
  • “Apa? Sastra Jawa?! Mau makan apa kamu nanti!”

Anak-anak pun tidak mau kalah:

  • “Aku mau masuk Jurusan Politik. Titik!”
  • “Eeuwwh, Matematika. Pokoknya aku gak mau masuk jurusan yang ada Matematikanya!”
  • “Kayaknya lucu juga ya Ma masuk sekolah model.”
  • “Ah, aku gak mau kuliah. Maunya nge-band aja!”

Kalau sudah begini, bagaimana solusinya?

Continue reading Memilih Jurusan

Sawat & Tifa Totobuang

 

Hari ini saya ingin berbagi musik tradisional Maluku kepada Anda. Dalam musik yang berdurasi sekitar 2 menit ini Anda akan mendengar suara tetabuhan yang disebut Tifa – Totobuang. Tifa adalah alat musik gendang dari kulit hewan dan bentuknya mirip dengan alat musik sejenis yang tersebar di seantero Nusantara, sedangkan Totobuang adalah jajaran gong kecil yang terbuat dari perunggu dan mengeluarkan nada berbeda-beda setiap kali dipukul.

Suara tetabuhan dan gong ini menemani alunan melodi yang disebut Sawat. Awalnya Sawat diperkenalkan oleh para pedagang dari Timur Tengah yang datang ke Kepulauan Maluku sambil menyebarkan agama Islam. Suara yang Anda dengar adalah perpaduan indah dari musik Maluku dan Timur Tengah. Memang musik yang saya persembahkan ini sudah terdengar electric; melodi aslinya berasal dari alat musik tiup seperti seruling.

Masyarakat Maluku yang terdiri dari dua kelompok agama besar, yaitu Kristen dan Islam, saling mewarnai budaya dengan kekhasan masing-masing golongan sehingga tercipta sebuah harmoni yang grand. Semoga kerukunan umat beragama dan bersaudara ini tetap terjaga.

Terima kasih kepada Almascatie dari Komunitas Blogger Maluku Arumbai yang telah mengirimkan musik indah ini. Tabea! 😀

Valentine’s Day: Dogmatika atau Romantika?

Hari ini adalah hari yang boleh jadi diperingati oleh banyak orang, terutama para ABG yang baru belajar jatuh cinta. 😀 Ah, saya masih ingat sewaktu saya pertama kali merayakan pesta Valentine sewaktu kelas 1 SMP dulu. Beberapa teman sekelas merencanakan sebuah pesta kecil-kecilan dan saling tukar kado. Pada akhirnya pesta itu berjalan cukup baik meski kami semua tampak kikuk, tidak tahu mesti bagaimana karena belum pernah pergi ke pesta lain selain ulang tahun, atau ke pesta-pesta bersama orang tua. Namun semua rasa kikuk itu hilang ketika menginjak kelas 2 SMP. Yang datang ke pesta sudah lebih banyak, tuan rumah menyewa DJ dengan lampu berwarna-warni, dan ada pula games yang seru. Kami pun mulai berani mengekspresikan perasaan suka (belum bisa dibilang cinta bukan?) kepada lawan jenis seperti berpegangan tangan. Gosh, zaman saya sekolah dulu, berpegangan tangan saja sudah bikin merinding tau! 😀

Yah, itulah romantika perayaan Valentine sewaktu SMP. Pesta waktu itu sangat berkesan sampai sekarang karena mungkin baru pertama kali saya mengikutinya dan tampil dengan malu-malu pula. Namun setelah menginjak SMA dan kuliah, saya harus menghadapi kenyataan lain setiap 14 Februari menjelang: poster dan selebaran Anti-Valentine bertebaran di mana-mana dan mengharamkan perayaan itu dengan alasan Valentine adalah perayaannya orang Kristen. WHAT?! OK. Mari kita tinjau kembali.

Continue reading Valentine’s Day: Dogmatika atau Romantika?

Catatan Setelah 6 Tahun Ngeblog

Malam ini saya browsing kembali blog lama saya dan menemukan postingan yang saya tulis tepat setahun lalu, tanggal 13 Februari 2010 bertajuk Catatan Setelah 5 Tahun Ngeblog. Tidak ada salahnya saya kembali merefleksikan pengalaman 1 tahun terakhir dalam beraktivitas tulis-menulis di dunia maya ini.

Setahun telah berlalu sejak saya menuliskan postingan itu, dan banyak perubahan yang terjadi dan tak disangka-sangka. First of all, saya sama sekali tidak mengira bahwa dunia blog akan mengubah diri dan membawa saya sejauh seperti sekarang. Blog yang tadinya hanya tempat menumpahkan curahan hati dan penuh dengan coretan-coretan nirmakna, kini justru membuka dunia baru di depan mata. Saya mencatat beberapa di antaranya:

Continue reading Catatan Setelah 6 Tahun Ngeblog