Membentur Tembok: Belajar dari Randy Pausch

Randy Pausch (1960-2008) adalah seorang profesor ilmu komputer dari Carnegie Mellon University, Pittsburgh, Amerika Serikat. Pada tanggal 18 September 2007 beliau memberikan kuliah umum di kampusnya yang lazim disebut ‘The Last Lecture’ dalam kondisi badan yang menderita kanker stadium lanjut dan tinggal memiliki harapan hidup beberapa bulan lagi. Kuliah umum tersebut menjadi salah satu sesi kuliah yang paling fenomenal dan inspiratif di Amerika dan juga di dunia. Dalam sesi yang berlangsung sekitar 1 jam tersebut, Pausch menceritakan impian-impian masa kecilnya dan usaha untuk memampukan orang lain bermimpi pula. Kuliah tersebut sarat petuah dan saya hanya akan membagikan beberapa catatan yang penting sesuai refleksi pribadi.

It is OK to dream…

Pausch mengajarkan saya bahwa bermimpi tidak dilarang dan bahkan menunjukkan bahwa kita memiliki keinginan yang mesti dicapai. Mimpi terkadang tidak logis dan harus disinkronkan dengan realita, namun kebebasan bermimpi tidak perlu dilarang dan dibatasi.

Sewaktu kecil saya pernah bermimpi untuk menjadi pilot karena dapat memacari pramugari cantik terbang di angkasa dan terlihat gagah dengan seragamnya. Buku gambar saya penuh dengan pesawat terbang dan saya merancang tempat-tempat mana saja yang akan saya datangi nanti dengan pesawat tersebut. Menjadi pilot adalah tujuan utama.

… until you hit the brick walls

Namun impian tidak selamanya berbanding lurus dengan kenyataan. Menginjak SMP saya mulai lemah dalam pelajaran Matematika dan sulit mengikuti pelajaran Fisika. Hal ini kemudian berlanjut sampai SMA di mana saya tidak pernah benar-benar ‘bangkit’ dalam kedua mata pelajaran tersebut. Sungguh sayang, oleh karena syarat utama menjadi pilot adalah lulus SMA dengan nilai Matematika dan Fisika yang baik. Saya sudah menyadari hal ini sejak awal masuk SMA sehingga kemudian pelan-pelan melepaskan impian itu. Di situlah pertama kali saya membentur tembok.

Lessons learned

Kita sadar bahwa segala sesuatu belum tentu berjalan sesuai maunya kita. Ada saat di mana kita akan membentur tembok. Nah, di sinilah sikap kita berperan. Ada dua hal penting yang saya dapatkan dari Randy Pausch:

  • Brick walls are there for a reason: they let us prove how badly we want things
  • Brick walls let us show our dedication

Wah, kalau menghadapkan kedua poin ini dengan sikap saya dahulu sewaktu gagal meraih nilai tinggi di pelajaran Fisika, saya kalah telak. Yang saya lakukan pada waktu itu adalah menyerah pada keadaan dan langsung memilih jalan lain. Mimpi tersebut tidak pernah diuji kembali dan kekurangan dalam bidang eksakta tidak menjadikan saya berjuang mengatasinya. Dengan demikian tembok itu tetap berdiri dan dedikasi saya punah sebelum bertanding.

Namun saya menerima pelajaran yang sangat berharga dari ‘kegagalan’ tersebut, yaitu pengalaman itu sendiri. Pengalaman menemui kegagalan dalam eksakta membawa saya menemukan duniaΒ  humaniora dan penulisan yang membuka jalan hingga seperti sekarang.

***

Tulisan ini hanyalah sebagian kecil hikmah yang saya ambil dari sesi kuliah tersebut dan saya percaya Anda dapat mengambil pelajaran sendiri yang sama berharganya. Saya pasangkan video tersebut di bawah, namun jika Anda kesulitan menyaksikannya, maka artikel di Wikipedia yang berisi ringkasan kuliahnya dapat dibaca di sini.

Advertisements

15 thoughts on “Membentur Tembok: Belajar dari Randy Pausch

  1. memang… semua berawal dari mimpi dan impian. tergantung bekerja dengan kera. mimpi adalah awal yang baik. Pausch adalah salah tokoh inspiratif pendidikan modern….

    Like

  2. wahaha saya malah baru kenal Randy Pausch di sini om..
    weleh weleh kebentur tembok, benjol benjol πŸ˜€
    jangan2 tanpa sadar sekarang aku lagi mbentur tembok juga hihi..

    engg harusnya aku jadi pilot kali ya om..

    *lanjutin kerja.. kerja… πŸ™‚

    Like

  3. Ya! Saya mengakui bahwa yang paling mudah untuk dilakukan adalah menghindari tembok, bukan berusaha untuk menembusnya. Malah jadi kebiasaan πŸ˜€ Jelek ya? Hehehe …

    Like

  4. jadi ingat lagu yang sering dibawain Pearl Jam, Brick on The Wall

    intinya sama, ketika mengahadapi sebuah masalah jangan selalu menyerah atau mencari jalan lain, cobalah untuk membenturkan diri dulu, untuk tahu sampai mana batas kekuatan kita..

    above of all, pidatonya sangat inspiratif..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s