Memilih Jurusan

Beberapa waktu terakhir ini ada topik pembicaraan yang mulai mengemuka di rumah. Adik bungsu saya yang duduk di kelas 3 SMA sebentar lagi akan mengikuti Ujian Nasional dan tentunya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Memandang adik dalam posisi demikian mengingatkan kembali pada masa saya sendiri lulus SMA belum lama ini (huek, belum lama?!). πŸ˜€ Ada semacam kebingungan yang dulu saya rasakan, yakni saya akan kuliah di mana dan mengambil jurusan apa. Di sinilah biasanya orang tua dan anak-anak remaja kerap berselisih paham. Contoh argumentasi orang tua:

  • “Oom, Tante, dan semua kakakmu sudah menjadi dokter. Jadi kamu juga harus jadi dokter!”
  • “Masuk Teknik Perminyakan aja. Nanti kamu bisa kerja di Qatar dan duitnya banyak!”
  • “Pokoknya kamu harus kuliah di universitas itu.”
  • “Apa? Sastra Jawa?! Mau makan apa kamu nanti!”

Anak-anak pun tidak mau kalah:

  • “Aku mau masuk Jurusan Politik. Titik!”
  • “Eeuwwh, Matematika. Pokoknya aku gak mau masuk jurusan yang ada Matematikanya!”
  • “Kayaknya lucu juga ya Ma masuk sekolah model.”
  • “Ah, aku gak mau kuliah. Maunya nge-band aja!”

Kalau sudah begini, bagaimana solusinya?

Saya bukan psikolog sehingga tidak memiliki kompetensi dalam memberi saran. Namun pengalaman membuktikan bahwa kebebasan seluas-luasnya yang diberikan orang tua kepada anak akan berujung baik. Bahwa kita ingin anak kita meraih cita-cita yang ‘wah’ tentu wajar, namun kita sering kali lupa bahwa yang akan kuliah adalah anak kita, bukan ayah-ibunya.

Sewaktu lulus SMA saya dihadapkan pada kebingungan yang menurut saya luar biasa. Alasannya adalah karena saya merasa tidak memiliki kemampuan yang menonjol. Nilai di ijazah rata-rata sama (bagus semua maksudnya *ditiban massa*) dan saya merasa tidak sanggup masuk Fakultas Kedokteran, MIPA, atau Teknik. Akhirnya tanpa berpikir panjang saya masuk ke Jurusan Bahasa Jepang dengan pemikiran, “kayaknya lucu juga kuliah di situ.”

Apakah itu pilihan yang dewasa? Tentu tidak. Namun setelah dipikir-pikir lagi, latar belakang keputusan itu adalah karena saya menyukai belajar bahasa dan tulis-menulis sehingga pilihan ‘lucu’ tersebut merupakan keputusan yang tepat di kemudian hari. Entah apa jadinya kalau waktu itu saya masuk Kedokteran. Mungkin masuk kamar mayat saja sudah pingsan duluan. πŸ˜€

Jadi pada prinsipnya saya berpihak pada anak (dalam hal ini adik saya) dalam menentukan jurusannya. Kalau memang orang tua kita kekeuh anaknya harus sekolah di universitas elite itu, misalnya, mungkin ada kompromi yang bisa dipikirkan: “Papa-Mama yang pilih sekolahnya, kamu yang pilih jurusannya.” Semua senang, kan?! πŸ˜€

By the way, adik saya ingin masuk jurusan Sejarah. Alasannya: Pengen aja! (doh).

Advertisements

38 thoughts on “Memilih Jurusan

  1. pertama : abis ganti template apa dibenerin aja nih..?
    kedua : memilih jurusan memang membingungkan. makanya sebaiknya orang tua tuh sudah mempersiapkan anak-anaknya ketika baru saja masuk ke SMU.
    dari situ bisa kelihatan minatnya di mana. buka ruang diskusi sebesar-besarnya dengan si anak supaya pas tiba masanya si anak tidak sampai bingung harus meneruskan ke mana..

    **kek pengalamana aja, padahal aslinya aq juga masih bujangan..hahaha

    Like

    1. ganti template bro. biar lebih fresh menyambut tamu #apasih
      soal memilih jurusan memang saya sepaham. makanya kalo di kelas murid2 SMA saya selalu menantang mrk berpikir ttg jurusan apa yang mau mereka pilih pas kuliah nanti. namun sayang hampir semua menjawab tidak tahu 😦

      Like

      1. Jika hampir semua siswa memberi jawaban tidak tahu, kira-kira kalau dikasi solusi begini mungkin akan membantu.

        Saya pernah mengajak teman2 yang profesinya berbeda2, mungkin satu sesi 3profesi, berkumpul bersama anak2 lalu diajak sharing. 3 orang tersebut menceritakan profesi dan apa yang mereka kerjakan, dari situ kita lihat feedback dari anak2.

        Tujuannya siy agar anak2 punya bayangan pekerjaan seperti apa sih yang akan mereka hadapi nanti? Soalnya kan setiap ditanya cita2 pasti jawabnya standard tuh.

        Cumaaaaaa emang ga gampang ngumpulin orang2 yg mau dengan sukarela diajak roadshow hehehe …

        Like

          1. Klo di BEM UI, ngadain bedah kampus. Di acara itu, ada stand dari setiap jurusan. Nah, anak” SMA bisa nanya” deh dijurusan itu apa aja yang dipelajari, trus prospek kerja setelah lulus.

            Setidaknya siswa SMA punya gambaran.

            Like

          2. xixixi maunya juga sering2, tapi sesuatu yang gratisan, dilakukan pada saat weekend pula, hmm … agak sulit mencari pekerja profesional untuk diminta kesediaannya.

            Gimana kalau pak guru seperti om ini juga ikut proaktif untuk mengadakan pertemuan langsung dengan mengatur kehadiran para profesional itu untuk berdiskusi langsung dengan anak didiknya? πŸ˜€

            Like

  2. Karena gue pemberontak yg punya 5 saudara,jadi dulu selalu bebas memilih (toh masih ada 5 orang lainnya yg bisa dijadiin korban diktator ortu :P). Alhasil gue memilih sipil dan manajemen bersamaan (karena ga bisa milih :D), dan sekarang bekerja sebagai supply chain analyst yg lebih berkecimpung di business analyst… selama belajar di sipil, membantu otak gue bekerja dengan angka dan mengartikan angka angka itu… jadi apakah gue salah pilih? Gue rasa pilihan gue tepat πŸ˜€

    Like

  3. 1st, cantik theme baru ni, simple dan senang nak faham…

    Nak pilih jurusan tu bukan sesuatu yang mudah, bila kita dah habis belajar, kadang2 bila kita dah habis belajar, pekerjaan kita tidak sama dengan apa yang kita belajar, ada masanya tiada kaitan langsung. macam jai dulu belajar multimedia, sekarang kerja jawab talifon, takde kaitan langsung..he3

    Like

    1. thanks, Jai. ini theme terbaru dari WordPress. Baru kemarin diluncurkan πŸ˜€

      oh ya, idealisme saat di universitas memang sering berbenturan dengan kenyataan di dunia kerja. tapi bukan berarti kita rugi mengambil jurusan itu in the first place, kan?! πŸ˜€

      Like

  4. TIDAK SETUJUUU!!!!
    eh, maaf. ngga perlu teriak ya. memang orang tua tau yang terbaik. tapi menurut saya, kita tau yang lebih baik dari yang terbaik. jadi lebih baik, kita ambil yang lebih baik dari yang terbaik itu.

    Like

  5. Terus terang, Brad, aku seolah dulu pilihan abangku. Gak ada passionku disana, buktinya waktu sekolah menengah atas paling tinggi masuk tiga besar di kelas.
    Kuliahpun, opss…aku juga kuliah πŸ™‚ , bukan universitas/institut pilihan, sehingga lulus dengan IP cukup buat makan (dua koma lima sekian). Aku jalani itu semua karena mereka yang punya dana, wekekeke….(campur sedih sebenarnya).
    Dan sekarang kerja jauh panggang dari api, hiks….
    Tapi aku harus jalani dengan ikhlas.

    Like

  6. klo dulu saya ga tergantung pada siapa aja, ortu demokratis, pacar belum punya ;'(
    makanya dulu pas pertama kuliah, ortu kasih kesempatan kalo saya ga betah, silahkan keluar n coba lagi ikut spmb. tapi setelah dirasa kok sayang umur yah…hehhe…trus dah males belajar lagi. just to know cita-cita awal pengen masuk dunia kesehatan, tapi kecebur di dunia batuan…hehehe :p

    Like

  7. bukan dokter…otak saya tak mampu…cuman pgn di apoteker, kprawatan atau kesmas…tadinya pengen maen yg bersih2…sekarang maen kotor2…tapi alhasil i love my job…hehehe

    Like

  8. saya pilih jurusan saat kuliah yang berbau biologi gara-gara pas SMA guru biologinya baik banget om.. jadi suka belajarnya
    padahal dalam buku rapor, nilai biologi selalu kalah dari fisika, entah kenapa..
    pas kuliah di fak. biologi, mata kuliah fisika juga selalu dapat nilai A, biologi malah ada yang ngulang hihi
    harusnya saya milih jurusan fisika kali yaa..

    tapi tak apa, saya juga menikmati biologi kok..
    lah wong biologi sama fisika kan tetanggaan πŸ˜†

    Like

  9. Wah, saya pilih jurusan kimia karena suka sama pelajarnnya pas SMA kelas 2, padahal pas kelas satu ga suka banget sama kimia, karena nilai kimia paling rendah daripada niliai pelajaran ipa yg lain seperti math, fisika, dan biologi.
    *yg jelas ga ada pikiran milih jurusan IPS, karena emang ngerasa ga bakat*
    tapi saya suka belajar bahasa, menurut saya, belajar bahasa sama sulitnya dengan belajar science. (baru tau klo opa lulusan bahasa jepang)

    Untung aja, orang tua tidak memaksakan kehendak, orang tua hanya kasih saran saja. Klo kamu masuk ini, nanti prospek kerjanya begini dan begini.

    Klo menurut saya yah,klo di Indonesia mah, S1 itu kan melatih untuk membentuk pola pikir agar lebih terstruktur. Makanya banyak juga yang pindah haluan ketika lulus kuliah.
    Seperti senior saya di kimia, banyak yang bekerja di bank dan asuransi, karena kemampuan analisis nya dipakai disana.

    Temen saya ada loh yang memilih jurusan arkeologi karena arkeologi sering jalan” ke goa, dan tempat dimana fosil berada.

    Like

    1. “Klo menurut saya yah,klo di Indonesia mah, S1 itu kan melatih untuk membentuk pola pikir agar lebih terstruktur. ”

      Selama ini saya selalu berpendapat, jika kemampuan otaknya biasa2 saja mendingan ga usah kuliah deh, karena cuma buang. Tapi membaca statement di atas saya kok jadi berubah pikiran ya πŸ™‚ Mulai hari ini saya akan bilang kuliah aja deh walo kemampuan pas2an. Thanks!

      *pantesanpolapikirkutidakterstrukturabisgakelarS1sih* LOL

      Like

  10. pada satu sisi ekstrim, dipaksa masuk a b c d dst oleh ortu. Di satu sisi ekstrem lain, ortu GAK PEDULI mau masuk apa hehe.. semuanya problem. Sebab bakat anak sebenarnya terlihat. Guru sekolah sebenarnya mampu mengarahkan.

    Dulu, memang suka seperti itu. Mudah2an skrg sudah nggak lagi. Korbannya? Saya. Suka banget sama menggambar waktu SD. Suka baca komik. Suka cerita detektif dan suka Indiana Jones, Lara Croft, Crocodile Dundee, Alan Quartermain, dan seri-seri petualangan. Harusnya saya jadi petualang atau di desain grafis.

    Here I am. Lulus Administrasi Negara. By accident juga krn bingung milih, jadi ngeliatnya hanya dari PASSING GRADE jurusan tersebut, kalau ga salah ada rumusnya kapasitas berbanding pendaftar dst, lupa.

    Like

  11. hehehe.. sudah banyak buku desain dibeli, termasuk How to Draw Manga, tapi kenapa ngga sempat2 “ngoprek” jadinya sampai sekarang saya selalu coret coret pakai pensil dan pulpen di kertas, baru dikerjakan oleh orang lain grafisnya hehe..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s