Valentine’s Day: Dogmatika atau Romantika?

Hari ini adalah hari yang boleh jadi diperingati oleh banyak orang, terutama para ABG yang baru belajar jatuh cinta. πŸ˜€ Ah, saya masih ingat sewaktu saya pertama kali merayakan pesta Valentine sewaktu kelas 1 SMP dulu. Beberapa teman sekelas merencanakan sebuah pesta kecil-kecilan dan saling tukar kado. Pada akhirnya pesta itu berjalan cukup baik meski kami semua tampak kikuk, tidak tahu mesti bagaimana karena belum pernah pergi ke pesta lain selain ulang tahun, atau ke pesta-pesta bersama orang tua. Namun semua rasa kikuk itu hilang ketika menginjak kelas 2 SMP. Yang datang ke pesta sudah lebih banyak, tuan rumah menyewa DJ dengan lampu berwarna-warni, dan ada pula games yang seru. Kami pun mulai berani mengekspresikan perasaan suka (belum bisa dibilang cinta bukan?) kepada lawan jenis seperti berpegangan tangan. Gosh, zaman saya sekolah dulu, berpegangan tangan saja sudah bikin merinding tau! πŸ˜€

Yah, itulah romantika perayaan Valentine sewaktu SMP. Pesta waktu itu sangat berkesan sampai sekarang karena mungkin baru pertama kali saya mengikutinya dan tampil dengan malu-malu pula. Namun setelah menginjak SMA dan kuliah, saya harus menghadapi kenyataan lain setiap 14 Februari menjelang: poster dan selebaran Anti-Valentine bertebaran di mana-mana dan mengharamkan perayaan itu dengan alasan Valentine adalah perayaannya orang Kristen. WHAT?! OK. Mari kita tinjau kembali.

Saint Valentine

St. Valentine, berlutut (Wikipedia)

Santo Valentinus adalah seorang pastor Katolik di kota Roma yang mati martir pada tahun 269 atas perintah Kaisar Claudius Gothicus. Valentinus kemudian ditetapkan sebagai santo pada tahun 496. Masih ada dua orang lagi yang bernama Valentinus; satu orang hidup pada tahun 197 di Terni, lainnya mati martir di Afrika. Tanggal kematian Valentinus diketahui pada tanggal 14 Februari.

Legenda Romantika

Kematian Valentinus dan penetapannya sebagai Santo sama sekali tidak berhubungan dengan romansa. Hal ini baru terungkap pada sekitar tahun 1260 dalam Legenda Aurea di mana Valentinus disebut-sebut diinterogasi oleh Kaisar Claudius dan dibujuk untuk meninggalkan ajaran Katolik agar jangan sampai dieksekusi. Namun Valentinus menolak dan justru berusaha mengajak Claudius memeluk Katolik.

Legenda Aurea ini juga tidak mengaitkan Valentinus dengan romantisme. Akhirnya legenda ini berkembang sedemikian rupa di kalangan rakyat. Alkisah Valentinus diceritakan menentang Kaisar Claudius yang memaksa semua prajurit Romawi tidak menikah agar dapat menjalankan tugas tanpa kehilangan fokus akan keluarga. Santo Valentinus kemudian secara diam-diam menikahkan banyak prajurit tersebut dengan pasangan masing-masing. Ketika aksinya ketahuan, ia dijebloskan ke penjara dan dihukum mati. Pada malam sebelum eksekusinya, ia disebut-sebut menuliskan surat cinta pada sebuah kartu kepada ‘gadis yang diam-diam dicintainya’. Kartu itu bertanda “From your Valentine.” Dari sinilah legenda itu berkembang menjadi cerita romantika.

Ada beberapa milestone yang mengaitkan St. Valentinus dengan kasih sayang; salah satunya tercantum dalam Parlement of Foules karya Geoffrey Chaucer yang menyebut Hari St. Valentine sebagai hari burung-burung memilih pasangannya. Ia merujuk kepada Valentine untuk menyambut pertunangan Raja Richard II dan Anne dari Bohemia meski tidak secara spesifik menyebut tanggal 14 Februari.

St. Valentinus dan Kalender Perayaan

Sesuai tradisi Gereja Katolik Roma, orang-orang suci yang ditetapkan sebagai santo dirayakan secara liturgis sesuai tanggal penetapannya. Sejalan dengan Calendar of Saints, Hari Santo Valentinus diperingati setiap tanggal 14 Februari. Namun pada revisi Kalendar Umum tersebut tahun 1969, perayaan Santo Valentinus pada tanggal 14 Februari dihapus dengan pertimbangan bahwa informasi mendetail tentang Valentinus tidak diketahui selain bahwa ia meninggal pada tanggal 14 Februari dan dimakamkan di Via Flaminia. Meski tanggal peringatannya dihapus, itu tidak serta-merta menghilangkan statusnya sebagai Santo dan liturgi perayaannya masih diperbolehkan meski tidak lagi diadakan secara resmi.

Dogmatis atau Romantis?

Dari sini kita dapat melihat apa sesungguhnya hubungan Hari Valentine dengan gereja. Memang jelas bahwa perayaan Valentine ada dalam liturgi Katolik; akan tetapi sifat perayaan itu agamawi berupa peringatan akan hidup dan karyanya di dunia. Penetapan sebagai santo dan penghapusan tanggalnya kemudian tidak berkaitan dengan romantika.

Bahwa romantika yang berkembang sejak Abad Pertengahan berawal dari sebuah legenda rakyat dan menjadi bentuk perayaan umum yang berkaitan dengan kasih sayang. Namun sifat perayaan itu hanyalah sampingan dan tidak berkaitan dengan gereja.

Kesimpulan

Jelas bagi saya bahwa perayaan Valentine’s Day tidak ubahnya dengan legenda Santa Claus atau Kelinci Paskah; ketiganya adalah ekspresi perayaan yang tidak berhubungan dengan esensi.

***

Dengan demikian nyatalah bahwa perayaan Valentine yang kita kenal sekarang merupakan hura-hura dan ekspresi kasih sayang pasangan-pasangan tersebut rentan godaan nafsu meski tidak semua; ada pula suami-istri dan orang tua – anak yang merayakannya dalam konteks pernikahan dan keluarga. Kegiatan seperti ini tentu perlu disikapi dengan arif dan kaum muda perlu diberi pemahaman yang benar tentang esensi kasih sayang.

Namun di sisi lain, upaya sebagian orang memblokir Valentine’s Day dengan alasan bahwa itu adalah perayaan kristiani tentunya salah alamat. Argumentasinya: sebagian kecil pemeluk Katolik yang merayakannya secara liturgi tidak mengasosiasikannya dengan kasih sayang eros. Sedangkan agama Kristen pada umumnya tidak pernah merestui perayaan besar-besaran Valentine yang kita kenal sekarang. Contoh di gereja saya saja: ucapan “Happy Valentine’s Day” pun tak terdengar.

Semoga ini menjadi perenungan kita bersama. Selamat menyambut hari libur (besok tanggal merah kan?!). πŸ˜€

===

Lebih jauh tentang Valentine’s Day dapat dibaca di Wikipedia.

Sumber gambar: couponsaver.org, wikipedia.org

Advertisements

32 thoughts on “Valentine’s Day: Dogmatika atau Romantika?

  1. ohhh….
    aku hanya prihatin, valentine day menjadi pembenaran utk melakukan sesuatu diluar batas atas nama kasih sayang
    dan valentine day sudah menjadi komoditas…

    artikel komprehensif mas!

    Like

  2. Hahaha.. Ya males banget, tiap menjelang 14 feb, selalu ada beredar berita kayak gini. Hanya karena ini katanya budaya luar lah, bukan budaya kita lah.

    Kalo kata komen di atas, valentine jd pembenaran utk melakukan hal yg berlebihan atas nama kasih sayang, itu mungkin hanya terjadi di sebagian orang. Tapi tanpa ada kata “valentine”-pun, kasus melakukan hal2 yg berlebihan atas nama kasih sayang juga marak dilakukan hohoho.

    Sampai SMU saya suka sekali dgn valentine krn itu adalah hari di mana saya dpt coklat, trus tukeran kado di rumah. Antar saudara, ke nyokap, ke keponakan2. Saat udah kuliah, saya kaget, suasana dikampus seakan2 “mengharamkan” hari valentine. *sigh*

    Ini orang2 kebanyakan buka situs yg udah diblokir nawala sih, makanya pikirannya kalo valentine = seks bebas. Hihihi.
    **kaburr

    *eaaa panjang banget komen di sini :))

    Like

  3. dapet tambahan pencerahan nih tentang apa itu valentine. saya tidak merayakan valentine karena memang gak suka aja, kalo soal budaya sih sama aza mu budaya barat kek, timur kek, yang baik kita ambil, yang jelek jangan. kadang ironis ya melihat perilaku sebagian dari kita yang ketika budaya luar dipake bilangnya “jangan woi, itu bukan budaya kita itu budaya anu..” tapi pas budaya kita dipake orang (misal ada bule jadi penyanyi dangdut) kita bangganya bukan maen… ya, begitulah kalo masyarakatnya blm cerdas..
    ya… pokoknya gitu deh hehe blepotan dah..

    Like

  4. Wah… Om, kalo ada yang bilang Valentine itu hari raya Umat Krsitiani suruh belajar lagi gih πŸ˜€
    heheh
    Lha wong Gereja aja sempat menghapus perayaan Valentine dari kalender gereja serta melarang umat kristen merayakannya.

    Kalau saya menolak pesta hura-hura dan hal – hal yang ga jelas. Ada yang ngasih cokelat? Saya tidak menolak. Hihihih

    Like

  5. Tadinya gak pingin baca eh malah komen, menarik juga.
    Saya jadi dapat clue bahwasanya untuk ketiga agama (tanpa menyebut yang ketiga utk alasan kebaikan) tidak mengenal ‘Valentine’s Day’.
    So, membiarkan hari itu di-‘support’ oleh banyak pihak sedemikian hingga terjadi praktik-praktik yg ‘kelewat batas’ terutama utk yg blm menikah adalah hal buruk. Sepakatkah kita utk melakukan ‘kampanye anti seks bebas’ di hari kasih sayang, Opa?

    Like

  6. apa sih untungnya fanatik terhadap agama? kenapa harus membedabedakan ini perayaan orang islam yang itu orang kristen dsb dsb. Nggak ada gunanya kan….akan lebih baik kita nikmati semua perayaan yg identik dengan hari libur…..yg penting kan bisa libur…… istirahat nggak mikir itu hari libur agama apa …….

    Like

  7. Bahasanya yang bagus, saya juga dari dulu tak pernah mengaitkan ini dengan agama. Ada tuh pendapat yang saya setuju, esensinya asalkan hari Valentine itu jadi pembenaran utk hura-hura dan seks bebas (gak tau sih gw lum tau ada penelitian apa kok dikatakan klo hari V itu jadi orang pada mau ML? Bingung nih..)

    Coba kalau Hari KEMERDEKAAN RI diartikan sebagai hari kemerdekaan seks bebas hehe.. sama aja kan bahayanya? Jadi don’t judge the day by the title of the day (apaan sih).. yang penting, Libur boo…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s