Guru Terparah

Oh bukan, saya bukan ingin menjelek-jelekkan guru secara umum (secara saya juga bisa dibilang guru). πŸ˜€ Ide ini berawal dari topik yang diberikan oleh Dailypost yang mengajak kita bercerita tentang guru terparah yang pernah mengajar kita di sekolah. Maka saya langsung teringat akan dua orang guru di sekolah dan kampus dulu. Dengan tidak bermaksud ‘menyerang’ guru-guru tersebut secara personal, saya harap perilaku mereka dapat menjadi pelajaran bagi kita bersama.

Siap? Kita mulai.

Guru SMA

Ilustrasi

Di sekolah saya dulu ada tiga orang guru olahraga yang mengajar siswa yang jumlahnya cukup banyak. Yang pertama adalah seorang guru paling senior yang sudah mengajar di sekolah itu dua puluh tahun. Meski dia senior, kondisi badannya masih prima dan sanggup mengejar murid-murid bengal yang mencoba bolos sekolah dengan cara memanjat pagar. Kedua adalah guru yang relatif baru; badannya yang fit dan atletis ditambah wajah ganteng membuat para siswa dengan rasa ‘sayang’ menjulukinya ‘Pak Tegep’. πŸ˜€ Ketiga adalah seorang guru yang cukup senior dengan badan bongsor.

Nah, si guru bongsor ini dikenal suka menggoda murid-murid perempuan apalagi yang ‘bening-bening’. Awalnya sih kita tidak menghiraukan karena kita pikir, ah itu godaan biasa, toh kita sendiri kalo godain cewek lebih parah kan! πŸ˜€ Akan tetapi lama-lama mulai ada keluhan dari teman-teman kalau Pak Guru Bongsor itu sering mencolek-colek mereka di luar kelas. Mulai dari mengajak ngobrol lama-lama, bertanya soal-soal pribadi, sampai pura-pura tidak sengaja menyentuh bahu dan punggungnya. Teman-teman umumnya cuma marah-marah dan menghindar. Namun sekali waktu Pak Guru ini kena batunya. Ketika dia berusaha mendekati seorang siswa dan memegang-megang bahu dan tali behanya, siswa itu mengamuk dan menampar si guru. Dari mulut si siswa keluarlah rentetan dampratan yang gelegarnya tak ampun didengar oleh seluruh sekolah. Celakanya lagi, kejadian itu berlangsung tepat di balik tembok ruang kepala sekolah. Akhirnya… si guru bengal itu dipecat.

Dosen Kampus

Dosen Bahasa Jepang kami (sebut saja namanya Arman) terbilang sudah berumur hampir empat puluhan ketika kami masih duduk di tahun pertama. Pada waktu itu kami masih belajar tulisan dan ungkapan-ungkapan Bahasa Jepang yang sederhana. Nah, si Arman Sensei ini sering kali menyisipkan kosa kata ‘jorok’ agar kami dapat mempelajarinya. Tak jarang pula ia menggoda para mahasiswi untuk diajak kencan. Karena semua itu dilakukan dalam Bahasa Jepang, tentu kami tertarik untuk mencatatnya sekalian belajar ‘How To Flirt in Japanese’.

Kami paham bahwa sang dosen melakukan itu salah satunya agar cepat akrab dengan kami. Namun meski semua itu hanya verbal dan di depan kelas, tidak pernah terjadi skandal di luar kelas, lama-lama para mahasiswa jadi muak juga dengan kelakuannya. Walau tidak pernah protes, akhirnya teman-teman memilih untuk tidak menegur beliau ketika di luar kelas dan bahkan sampai lulus. Pada akhirnya, sang dosen tidak mendapatkan respek dari mahasiswanya.

***

Menjadi guru adalah pekerjaan yang sarat tanggung jawab moral. Para murid akan selalu memperhatikan gerak-gerik kita karena memang sudah nature si murid untuk menangkap pelajaran dari sang guru melalui perkataan dan perbuatannya. Ada semacam tuntutan tidak tertulis bahwa guru haruslah manusia sempurna sepanjang waktu. Sayangnya sebagian kecil guru tidak menyadari konsekuensi ini.

Tapi ah, kebanyakan guru saya adalah orang-orang yang menyenangkan, kok. Semoga mereka sejahtera. πŸ˜€

===

Sumber gambar: Youtube, cartoonstock

Advertisements

37 thoughts on “Guru Terparah

  1. Hohohoho.. memang ada guru yang menyampaikan pengajaran dalam ayat yang kurang enak. mungkin sekali dua kali ianya jadi kelakar tapi lama kelamaan menjadi meluat. dari segi moralnya memang tak patut sekali guru-guru menggunakan perkataan kotor. mereka sepatut jadi contoh..

    p/s :- dulu penah jadi cikgu ganti tapi murid2 yang goda saya. huhuhuhuhu

    Like

  2. hmm…
    susah jadi pengajar 😦
    di awasin mulu ama puluhan mata
    kadang2 salah omong diketawain sekelas
    udah gitu anak2nya juga bandel
    diajarin bener malah mereka yang nyeletuk ga bener 😦
    nasib.. nasib..
    #curhat

    Like

  3. semoga guru yang punya perilaku parah semakin berkurang, diganti sama guru2 yang bener2 mumpuni dalam memberi pemahaman keilmuan…

    hmm hedernya asoooyy… πŸ˜€

    Like

  4. :ngakak

    jadi keinget jaman kuliah, ada salah satu dosen yang pengen deketin mhswanya via saya
    haghag

    Btw makin banyak yang guru-guru yang bermoral bejat kek gitu,,,
    bagaimana moral anak remaja dikemudian hari klo guru yang harusnya digugu lan ditiru tapi kek gitu πŸ˜₯

    Like

  5. ih untungnya ga pernah punya guru yang nyebelin kayak gitu
    yang ada kayaknya guru yang di-abuse muridnya deh hahaha
    maklum anak SMK perempuan semua …
    ah si om jadi bikin terkenang masa skul dulu hohoho

    Like

  6. Oh jadi maksudnya parah di sini adalah “cabul” ya??? Tadinya saya pikir parah dalam artian lain #wink2

    Alhamdulilllah sejauh ini saya belum pernah diajar oleh guru dalam kategori seperti ini (atau saya yang nggak tau ya?). Apa pun, ini hanyalah oknum. malahan saya banyak bertemu dengan guru/dosen yang luar biasa mengabdikan hidupnya untuk mengajar, sepenuh hati… luar biasa.

    Tetaplah mereka adalah orang2 yang paling berjasa untuk mencerdaskan kita. *menjura kepada para guru yang tulus*

    Like

  7. Kalo Opa termasuk guru (pengajar maksudnya) yang ‘parah’ atau tidak? Hi hi hi, sesama ‘guru’ dilarang saling mengganggu …
    Apa kabar, Opa? Masih … menghabiskan waktu di jalan sampai jam 2 pagi …? Semoga masalah trayek yang dijanjikan Foke cepat terrealisasi, kan beliau ahlinya bukan?

    Like

  8. saya jg pernah punya cerita ttg guru, tp bkn sisi negatifnya,. lebih ke hal yg menginspirasi saya, yg saya abadikan di tulisan “Lihat, senyum dan dapat” di weblog kangabid.com

    oh ya om, jgn lupa mampir ke rumah baru saya ya, di gegeriyadi.wordpress.com
    ditunggu kedatangannya dan jgn lupa tinggalkan jejak,. πŸ™‚
    salam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s